
Ternyata hidup tanpa dendam dan kebencian itu sungguh ringan, segala yang terjadi dalam hidupku dijalani dengan santai tanpa beban.
keinginan untuk menyengsarakan hidup ayahnya Rania aku tepis jauh. tidak ada gunanya hanya akan menambah kerasnya hatiku.
berdamai dengan masalalu adalah tujuan hidupku saat ini.
"bunda ikut ayah ada kejutan" suara ayahnya Rania pulang kantor sore ini.
dia menarik tanganku kuat, sekarang aku sudah tidak benci lagi mendengar suaranya.
kami berjalan keluar , sebuah mobil baru terparkir cantik di garasi. mobil keluaran terbaru berwarna maroon produk terkenal asal Jepang.
aku terkejut, kututup mukutku yang membuka tidak percaya. bagaimana bisa secepat ini dia mendapatkan nya.
"Terima kasih", tanpa sadar aku melompat dan memeluk ayah Rania. dia mendekapku erat mencium pucuk kepala ku lama.
" apa adiknya Rania tidak kaget kamu melompat begini". tanyanya tepat ditelingaku. entah kenapa suara larangan ayahnya Rania lebih terdengar merdu ahir-ahir ini. tidak semenyebalkan dulu.
aku menggeleng. berjalan mendekat ke arah mobil, membuka pintu mencoba semua fitur yang tersedia, cukup canggih juga. harganya lebih mahal dari mobil suamiku.
ups, sekarang pun aku sudah bisa menyebutnya suamiku, meskipun dalam hati.
jangan salah, untuk masalah tempat tidur kami masih sendiri-sendiri. aku dikamar ku dia kamar calon adiknya Rania.
"sudah lihatnya, suka tidak?" tanyanya. aku duduk di jok depan bagian setir. Mas Amir hanya kepalanya yang masuk. melihatku menekan berbagai tombol disana.
aku keluar, setelah puas melihat isi dalamnya mobil baru ini.
" berkat doa kalian mas memenangkan tender besar, mengalahkan ratusan pesaing pesaing yang jauh lebih punya nama dari pada perusahaan kita. " ucapnya bangga. pantaslah sia sering pulang lebih sore dari biasanya.
menggandeng tanganku untuk masuk, menutup pintu dan tidak lupa mengunci. kami berjalan ke atas tangga.
semua bajunya masih ada dikamar ku jadi. kami hanya berpisah kalau urusan tidur saja. entah mengapa urusan yang satu ini aku belum siap.
Hari ini Rania di bawa nisa, diajak jalan-jalan katanya.Aku merasakan sepi dari tadi tidak mendengarkan celoteh nya.
ayah Rania sudah selesai, dia bergegas turun kebawah. seperti biasa dia akan memasak makan malam untuk kami. baru kali ini aku ikut turun kebawah berniat ingin membantunya. tidak enak juga terus menerus di layani.
"mau kemana?" tanyanya.
"bantuin, capek juga tidak melakukan apa-apa dirumah ini" jawabku
"tidak usah, mas bisa melakukan sendiri. kamu duduk saja di sini" cegahnya ketika aku hendak berdiri dari ranjang.
__ADS_1
"biarkan aku turun, paling tidak nanti aku makan di bawah. biar tidak capek naik turun ngantar makanan ku. " itu sudah penawaran ahir.
Tidak tega melihat dia pulang kantor, masih harus masak buat makan malam. melayani ku.
aku seperti ratu di rumahku sendiri. ini bukan mauku. aku tidak terbiasa seperti ini. tapi maunya bayi dalam perutku ini.
kalau bapak ibuku tahu habis aku dimarahi. seharusnya istri yang melayani suami. lah ini kebalik.
usia kandungan ku masih mau ke 3 bulan. mungkin kalau sudah besar aku sudah bisa memasak tanpa harus mual setelah memakan hasil masakanku.
"apa kamu merasa terbebani dengan ini semua" tanyaku, dia di dapur sibuk dengan alat-alat memasak. aku duduk manis di meja makan yang hanya berjarak tiga meter.
"terbebani untuk apa" tanyanya sambil melihatku sekilas selanjutnya dia fokus lagi dengan pekerjaannya.
"semuanya, melayani ku melayani Rania, bekerja" jawabku lagi. dia melihatku lama. senyum manis terbit dari bibirnya.
"apakah suamimu terlihat seperti itu" aku menggeleng. aku tidak bohong memang itu kebenarannya. dia melakukan semua dengan senang hati.
"aku ingin melakukan yang terbaik untuk kalian, menebus semua kesalahan di masa lalu. dari kejadian itu aku jadi tahu bahwa hidupku hancur tanpa kalian. suamimu ini tidak punya tujuan hidup. oleh karenanya mas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua ini". jawabnya penuh keyakinan.
"apakah tidak keberatan mas menceritakan 3 tahun selama kepegianku?" pintaku., sungguh aku penasaran. bagaimana dia bisa sampai koma.
"tidak ada yang menarik dari hidupku. laki-laki lemah yang harus bertarung nyawa karena ditinggal orang-orang yang dicintainya" jawabnya. dari wajahnya terlihat ada luka yang terpendam
setelah beberapa saat menglirlah cerita.
"selesai lembur, ijin cuti satu minggu di setujui. bahagia rasanya ahirnya mas bisa bersama kalian. tanpa pikir panjang mas keperusahaan, bertemu Edo" terjedah. dia menarik nafas panjang
"aku melihat semua berkas sudah kamu tanda tangani. mas belum bepikiran buruk.
sampai ahirnya Edo cerita kalau uang yang diminta perusahaannya angga sudah di transfer ke rekening Andara. karena setelah batas waktu yang diminta perusahaan itu belum mengirimkan rekening yang lain.
pulang kerumah ibumu sudah tidak menemukanmu, hancur rasanya hati ini. aku tidak mungkin menyalahkan Edo karena dia melalaikan pesanku. dia tidak tahu permasalahan rumah tangga kita.
kembali lagi kerumah aku masuk ke kamar, badan ku lemas. melihat semua berkas yang kamu tinggalkan termasuk surat cerai yang sudah kamu tanda tangani. aku merasa hidupku hancur seketika. tidak tahu kemana aku akan mencarimu.
badanku ada ditempat kerja tapi pikiranku melayang mencoba menebak kemana kiranya tujuan hidupmu.
hingga mas sakit dan tidak ingat apa-apa. sampai ahirnya mendengar suara Rania memanggil. seolah terbangun dari tidur mas mencari Rania. keinginan untuk memeluknya sangat kuat. tapi badan ini rasanya lemah.
aku ingin meminta maaf bersimpuh di kakimu kalau itu bisa membawamu pulang.
ketika keadaan sudah membaik mas datang kerumah kita. aku melihat Andara merawat bapak dan ibu yang bahkan keberadaannya ku lupakan karena kondisi ku. aku bersimpuh di hadapan mereka memohon maaf karena telah melalaikan tugas ku sebagai seorang suami.
__ADS_1
tapi bapak menyuruhku menikah lagi tidak usah mencari keberadaanmu, dia sebagai orang tua kecewa kepergianmu tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu" sampai dibagian ini aku terkejut. begitu kecewanya bapak atas kebodohan anaknya sampai menyuruh menantu nya menikah lagi.
" aku tolak. bagi mas kamu tidak akan bisa tergantikan dengan wanita manapun. aku akan menunggu sekalipun semua orang menentang"
"karena hatiku tidak ada tempat untuk perempuan lain. dari dulu sampai sekarang kamu dan Rania penguasa disana"
"setelah itu mas membawa separuh bajuku kerumah ibu, aku tinggal disana sampai kamu datang"
pantas saja mbak Tini bilang laki-laki ini setia.
aku masih setia mendengar ceritanya
"ahirnya aku tahu keberasaanmu, lewat pelacakan GPS di HP Rania. aku ingin segera terbang kesana menyusulmu. membawa kalian pulang. tapi abangmu mencegahku. biarkan kamu menyelesaikan S2 dulu. dan aku memperbaiki kondisi perusahaan yang porak poranda karena kejadian itu.
tidak ada perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita. karena mas dianggap gagal dalam rumah tangga. ditambah lagi surat pemecatan dari kantor BUMN tempat mas bekerja.
abang mu menawarkan diri untuk membantu tapi mas tolak, kalau berhasil karena bantuannya kamu tidak akan bangga padaku"
bahkan sampai sejauh itu laki-laki ini memikirkan perasaan orang yang tidak memikirkannya.
"kerja kerasku berbuah manis, ahirnya perusahaan itu bisa bangkit lagi setelah dua tahun kepergianmu"
"malam itu pertama kalinya kita berbicara via video call. aku melihat dimatamu cinta itu masih ada tapi tertutup kebencian yang begitu besar. mas bahagia bahkan sangat bahagia. istriku masih menyimpan rasa itu meskipun sedikit".
"yang aku takutkan rasa itu sudah tidak ada. kita akan berbicara layaknya dua orang asing. ternyata dugaanku salah. bahkan kepada teman-tamanmu kamu masih mengatakan kita suami istri meskipun secara tidak langsung.
mas tidak terlambat hadir diwisuda ketika itu. bunga yang diberikan penjual bunga waktu itu dari aku. sempat terbit keraguan apakah muncul di hadapanmu atau tidak.
yang ditakutkan kamu tidak marah padaku kita berbicara layaknya teman seperti biasa. maka aku akan mengalah karena yakin rasa itu sudah benar-benar hilang dari hatimu. tapi kenyataan bahwa kamu masih marah karena kejadian itu mas semakin yakin bahwa hatimu masih untukku"
dari pada menceritakan kesalah pahaman kita. aku lebih sibuk merayumu. mas tidak mau ketika kita membahas tentang bukti transfer itu kamu akan berlari semakin menjauh. ketakutan itu nyata.
Ahirnya bang fatih menemukan ide gila di hotel itu. awalnya mas menolak. takut kamu semakin membenci ku. ternyata benar dugaanku. kamu semakin membenciku bahkan mengancam akan menggugurkan bayi itu mas ceritakan ke bang fatih dia sama kecewanya denganku.
" makan dulu cerita nya sudah usai" memberikan piring berisi nasi lengkap dengan lauknya
"hah" aku terperangah. aku manatapnya iba wajah lelah, badannya lebih kurus dari waktu terakhir kami berpisah.
"mau mas suapin?" aku menggeleng. bukan aku tidak suka tapi karena aku tahu dia juga belum makan.
"kita makan barengan ya" kataku. dia mengusap kepala ku sambil tersenyum.
kami makan dalam diam. sibuk dengan pikiran masing-masing. masakan suamiku rasanya sama seperti masakanku, enak.
__ADS_1
aku akan mencoba memasak mulai besok. semoga adiknya Rania tidak bertingkah.