
Aku pikir malaikat maut akan menjemputku ketika aku berada di ruang perawatan intensif ketika itu. aku merasa di bawa dua orang berbaju putih menuju kesebuah ruangan dengan cahaya yang sangat terang, hingga menyilaukan setiap mata yang melihatnya. Satu langkah lagi kakiku akan masuk Sebelum ahirnya aku mendengar suara Rania memanggilku.
Aku menoleh. Yah benar, Rania melambaikan tangan ke arahku dengan suara yang semakin kencang. Aku berbalik ingin memeluknya. Aku ingin melepaskan rindu yang menyiksaku selama ini. entah mengapa tiba-tiba aku merasa cahaya itu menjadi gelap dua orang yang membawaku tadi hilang.
Tubuhku tersedot disebuah lorong panjang tak berujung, terhempas di sebuah ruangan tempat tubuhku dirawat dengan berbagai alat menempel. Aku ingin berteriak memanggil Rania, apalah daya aku tidak punya tenaga. Seluruh tulangku seolah lemas seperti jelly. Aku panggil anakku tapi yang keluar hanya suara lirih.
Tuhan memberikan aku kesempatan kedua, untuk memperbaiki kesalahanku pada orang yang aku cintai yang tanpa sengaja aku sakiti hatinya bahkan aku lukai perasaannya.
Ku beri nama klinik AZ-ZAHRA. Yang artinya cantik, berseri-seri bersinar dan keindahan. semua itu menggambarkan tentang Syafira istriku. Dia cantik berseri-seri dan melambangkan keindahan bagi siapa pun yang melihatnya. Akan aku hadiahkan ini padanya sebagai permintaan maafku untuk istriku. Sebagai bukti kesalah pahaman selama tiga tahun. Dan sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya.
Semoga dia bahagia dengan ini semua, aku akan menjemput setelah tiga tahun kepergiannya dari hidupku. Menebus semua kesalahanku padanya apapun yang terjadi nanti. Keputusan penuh ada di tangannya apakah dia akan menerimaku kembali atau semakin menjauh karena kebenciannya padaku.
Aku kira aku akan menghabiskan masa tuaku sendiri. meratapi nasib dengan penyesalan hingga di penghujung usiaku.
Lagi-lagi Tuhan begitu baik padaku memberikan kesempatan kedua.
setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik kurasakan jantungku berdebar indah. Senyumnya mampu melumpuhkan akal sehatku. Dialah wanita yang sama yang aku jumpai sepuluh tahun lamanya. Wanita yang mampu membuat hatiku berbunga hanya mendengarnya ketika dia memanggilku “sayang”. Suaranya, wangi tubuhnya adalah candu bagiku.
Aku ingin membawanya kemanapun aku pergi. Tak ingin aku lewatkan satu menitpun tanpa memandang wajah cantik pembawa kedamaian dalam hatiku. Aku jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada ibu dari anak-anakku. Aku gila se gila-gilanya pada wanita yang telah mengambil seluruh bagian dalam hatiku.
Seperti hari ini, aku bahagia melihatnya tertawa lepas mengejar Adam anak ke dua kami yang masih berusia satu tahun, baru belajar jalan dan sedang aktif-aktifnya. Wajah bahagia itu terpancar dengan jelas tatkala menyaksikan buah hatiku berjalan lima langkah.
“sayang,,, Adam sudah bisa jalan” suara kerasnya penuh dengan binar kebahagiaan. Mengangkat tubuh mungil Adam tinggi mencium pipinya gemas kemudian memeluknya erat. Tanpa sadar aku ikut tertawa bahagia melihat kebahagiaan terpancar dari wanita kebanggaanku.
Aku bersumpah tak akan aku ciptakan lagi kesedihan diwajahnya. tak akan ada air mata luka lagi setelah ini, dan kalaupun ada air mata, akan aku pastikan itu adalah air mata bahagia dan akulah penyebabnya, aku akan ciptakan surga dirumah tanggaku selamanya.
“Sini gantian ayah yang pegangin Adam, bunda duduk saja nanti capek” aku mengambil alih Adam dari tangannya. Dia cemberut. Ah, lucu sekali wajah itu. aku mencium keningnya
“bunda duduk dulu temani Rania minum es buah” kami menoleh ke arah Rania, dia melambaikan tangan. Memanggil bundanya disebuah restoran di piggir pantai. Sebuah tempat yang mendapat julukan pulaunya para dewata.
Yah, kami berlibur ditempat ini. tiga hari yang lalu aku memboyong mereka karena ada pertemuan dengan investor yang berasal dari Jerman.
Sudah kutakan aku tidak ingin berpisah dari mereka walau hanya satu jam. Aku tidak kuat menahan rindu. Mungkin Dilan benar. Rindu itu berat bahkan aku tidak mampu untuk menanggungnya.
Wanitaku berlari menutupi kepala dari panasnya matahari pantai yang sangat menyengat. Sekarang giliranku menemani adam berjalan. Anak lelakiku paling suka bermain air. Butuh tenaga ekstra untuk merayunya berhenti bermain air. Tawanya renyah ketika kaki mungil itu menyentuh air, tawa bahagia sebahagia hatiku melihat perkembangan buah hati kami yang sehat.
Terkadang aku cemburu dengan anak-anakku, waktu istriku lebih banyak dengan mereka dari pada aku ayahnya. Tahukah kamu istriku aku ingin memelukmu sepanjang hari mencium dan menjahilimu. Aku gemas ketika melihat wajahmu cemberut. Aku ingin mendekapmu sepanjang malam. Aku tak ingin berpisah lagi cukup sudah aku menderita karena itu.
Maka nikmat mana lagi yang ku dustakan, alangkah sombongnya aku kalau sampai lupa untuk bersyukur. Tak akan ada kata yang mampu menggambarkan bahagianya hatiku sekarang dan mungkin selamanya.
Aku berjanji pada diriku sendiri akan bekerja keras demi orang-orang yang aku cintai hingga ke sengsaraan seperti kami di awal pernikahan dulu tidak terjadi pada anak-anakku.
Mengontrak rumah, makan seadanya karena uang hanya cukup untuk membeli lauk sederhana. Dulu, waktuku habis untuk bekerja. Sekarang akan aku bagi waktuku untuk mereka, sebelum anak-anakku beranjak dewasa hingga mempunyai kehidupan sendiri.
ketika hamil Adam dulu,
Akulah orang yang paling bahagia dengan kehamilannya. Namun hatiku hancur di saat yang sama. Karena ternyata keberadaan janin itu tidak berpengaruh apapun pada hatinya, aku yang bahagia dia yang semakin menderita.
Kesekian kalinya aku membuatnya terluka. Aku tidak meyalahkan ibu dari anak-anakku sepenuhnya. Kehadiran anak keduaku bukan atas kehendaknya.
Aku telah mengikhlaskan hatiku untuk kehilangan istriku ketika itu, janjiku untuk membebaskannya setelah kelahiran Adam harus aku penuhi. Kebahagiaannya adalah tujuan hidupku. Aku tidak akan memaksa seandainya dia tidak bahagia disampingku.
Tapi seandainya boleh aku memohon kepada Tuhan, tidak ingin waktu cepat berlalu. Aku seolah menghitung mundur kehancuranku sendiri. Aku tidak ingin menangis dalam kubangan duka. Aku ingin menikmati tiap detik yang indah bersama istri dan anakku sebelum ahirnya waktunya tiba.
Apapun akan aku lakukan demi membuatnya bahagia, bahkan sekalipun wanita itu ingin menghancurkan harga diriku aku terima asalkan itu bisa membuatnya bahagia.
Dengan senang hati aku memasak walaupun awalnya mendapat penolakan dari bundanya Rania. Namun kesabaranku berbuah manis hingga lama kelamaan dia tidak bisa makan kecuali masakanku. Dadaku membuncah, aku bangga pada diri yang bisa menaklukkan hatinya.
__ADS_1
Melihat bayi dalam kandungan wanitaku semakin besar, semakin sedih pulalah hatiku. Itu artinya waktuku bersama mereka semakin berkurang. Aku ingin membawa istriku kemanapun aku pergi, tak ingin aku lepas pandanganku darinya walau hanya sedetik.
Kekantor, kerumah ibu, aku membawanya kemanapun dia mau. Dan menuruti semua keinginannya adalah kewajiban yang menyenangkan untukku.
Usia kandungan memasuki sembilan bulan semakin sesak dadaku. Waktuku bersamanya hanya tinggal satu bulan. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa mereka setelah ini.
Tidur ahir dan bangun awal adalah rutinitasku. Setiap malam mataku sulit terpejam, mengingat janjiku sendiri pada istriku. Bangun awal sebelum istriku terbangun.
Aku akan kekamarnya, mencium keningnya. Sebelum ahirnya aku kembali kekamarku. Menangis di dalam sujud menumpahkan segela laraku. Berharap ada keajaiban hingga membalikkan hati wanita yang ku cintai agar tidak pergi dari hidupku.
Semakin kandungannya membesar bertambah pula kesengsaraan wanitaku. Jalannya tertatih, bahkan untuk memasang sepatu pun harus di bantu. Nafasnya semakin berat, aku tidak tega melihatnya.
Dan yang lebih parah dari itu dia tidak bisa menahan diri ketika akan kebelakang. Dengan senang hati aku akan menggendongnya, walaupun sering mendapat penolakan.
Aku membawanya kekantor, dengan mata berkaca-kaca dia mengatakan ingin buang air kecil. Aku melihat basah diujung gamisnya. Aku tersenyum dia menangis tidak enak katanya.
Ketahuilah istriku aku mencintaimu apapun keadaanmu. Semakin kau bergantung padaku aku semakin bangga. Artinya Kau semakin membutuhkanku. Aku ingin kamu bergantung padaku saat terahir kebersamaan kita. hingga ketika nanti waktunya kita berpisah akan banyak kenangan indah yang akan aku kenang. Sebagai hadiah bahwa aku pernah menjadi berharga dimatamu.
Hingga tiba saat istriku akan melahirkan. Jam 3 pagi terdengar ketukan di pintu. Wanita hamil itu berdiri diambang pintu dengan menahan sakit. Aku tidak tega melihatnya. Seketika aku ikut merasakan, otakku buntu tidak bisa berpikir. Ku ambil tas yang sudah disiapkan jauh hari sebelumnya. Menggendongmu ke mobil, mengambil Rania dalam keadaan masih terlelap, aku seperti orang gila ketika itu. aku tidak sadar apa yang aku lakukan. Bahkan kunci mobil aku lupakan padahal sudah siap berada di depan kemudi.
Konyol memang, tapi otakku tidak berfungsi dengan baik ketika melihat istriku kesakitan. Keringat di dahi. Gigitan bibir bahkan suaranya menahan sakit membuatku tidak bisa berfikir jernih.
Aku mengemudi sangat kencang, takut terjadi apa-apa sebelum kita sampai di Rumah sakit. Menguatkannya dengan menggenggam tangannya erat adalah salah satu caraku meredakan penderitaannya.
Aku laki-laki tidak pernah mengalami susahnya hamil dan sakitnya melahirkan. Tapi, melihat gambaran kesakitan dan kesengsaraan di wajahmu aku sedikit mengerti bahwa tidak mudah menjalani ini semua.
Aku pikir aku tidak akan bersama lagi setelah kelahiran anak keduaku, aku sudah ikhlas melepasnya demi kebahagiaanya. Aku yakin semakin aku mengikatnya akan semakin menyiksanya. Aku tidak punya pilihan lain. Tujuanku adalah melihatnya bahagia. Aku tidak ingin menyiksanya dengan egoku.
Aku berdoa semoga kelak Tuhan mempertemukannya dengan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. yang bisa membuatnya bahagia. Cinta memang membutuhkan pengorbanan dan inilah pengorbanan terbesarku.
Cintaku memang segila itu. semakin aku mencintainya semakin aku ingin melepaskannya. Karena aku tahu cintaku hanya akan menyakitinya.
Rania turun dan melambaikan tangan ke arahku sebelum ahirnya masuk ke gerbang sekolah.
Aku diam di dalam mobil menangisi hari terahirku bersama dengan orang yang aku cintai. Aku bulatkan tekad sekaranglah saat yang tepat, aku bawa mobilku pelan. Pulang dengan hati hancur menuju detik perpisahan dengan istriku. Sedihku semakin menyiksa mengingat waktuku dengan Adam terlalu singkat.
Dua bulan aku bersamanya aku melakukan semuanya, memandikan Adam, melayani Rania, memasak untuk mereka kulakukan dengan bahagia setidaknya aku telah melakukan yang terbaik. Di detik terahirku aku menorehkan cerita indah di setiap kebersamaan kami.
Aku masuk kamar dengan perasaan hancur, melihat dua orang yang aku cintai bergelung di bawah selimut. Aku ingin memeluknya tapi aku cegah. Hingga aku hanya mampu menepuk bahu istriku menanyakan jam tangan yang aku sendiri yang menaruhnya di nakas. Konyol bukan caraku berpamitan, aku memang bukan laki-laki terbaik untuknya.
Seketika wajahnya bingung melihat koper dikamarku. Istriku terdiam ketika aku mengutarakan niatku untuk menuntaskan janji yang terlanjur ku ucap. Aku kira mudah ternyata aku tak kuat. Aku menangis seperti orang bodoh dihadapannya. Aku tidak bisa membendung air mataku, aku terluka. Dia pun menangis.
Aku kira ini hanya kesedihan biasa, dua orang yang pernah saling mencintai kemudian berpisah selanjutnya bertemu, kemudian akan menjadi dua orang asing kembali. Ternyata Tuhan menjawab doaku, wanita itu memintaku untuk tidak meninggalkannya demi anak-anak, istriku memintaku untuk merawat dan membesarkan mereka bersama.
Selesai memasukkan baju ke koper, aku berpamitan. Berat memang tapi aku bisa apa. Aku memeluknya, mencium keningnya. Aku ingin dia tahu bahwa aku benar-benar mencintainya. Dulu sekarang dan nanti dialah penguasa di hatiku. Aku tarik koperku perlahan menuju pintu. Istriku memelukku dari belakang.
Tiba-tiba dia menarik leherku, mempertemukan bibir kami cukup lama. Aku melepaskan ciuman itu. aku tidak ingin khilaf, dan melakukan kesalahan lagi dengan membawanya kekasur mengungkungnya hingga menuntaskan gairahku yang sudah lama tak tersentuh.
Aku bahagia? tidak, aku yakin dia melakukan itu hanya demi sebuah status. Istriku akan semakin tersiksa jika mempertahankanku demi status. Hingga kalimat indah itu meluncur dari bibirnya.
“aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada laki-laki yang bernama Amir syarifudin” suaranya merdu sampai ketelingaku.
Tuhan, secepat itu Engkau menjawab doaku. Dadaku membuncah, bahagia tidak bisa aku gambarkan. Ku bisikkan kata terima kasih yang tak terhitung jumlahnya.
kuucap Syukur yang tak terhingga, wanita yang paling aku cintai memberikanku kesempatan kedua, aku berjanji akan mempergunakan ini sebaik-baiknya aku tidak ingin mengecewakannya lagi. aku tidak ingin melukai hatinya kesekian kalinya.
“sayang, ibu mau bicara penting katanya” suara merdu itu membuyarkanku dari lamunan. Wanitaku berlari dengan gawai di tangannya.
__ADS_1
“assalamualaikum bu” menjawab panggilan ibu setelah menerima benda segi empat itu dari tangannya.
“waalaikum salam nak, kamu kapan pulang? kalau bisa dipercepat ya. Pernikahan Nisa di majukan minggu depan” suara ibuku dari seberang membuatku terkejut.
“koq bisa bu, katanya masih tiga bulan lagi nunggu Nisa siap. memang Nisa sudah mau?” tanyaku. Aku tidak berbohong nisa tidak ingin menikahi laki-laki yang sombong dan arogan itu katanya aneh sekali adikku itu.
“Fatih yang minta dipercepat, soalnya mantannya Nisa minta balikan lagi dia minta maaf atas kesalahannya kemarin. Bahkan laki-laki itu datang sendiri menghadap ibu ingin berbaikan dengan Nisa” lucu sekali adikku.
“ibu sendiri bagaimana, jangan paksa Nisa kalau tidak mau sama fatih bu. biarkan Nisa bahagia dengan pilihannya” kasihan juga kalau nisa harus menikah karena terpaksa.
“kalau ibu setuju sama fatih, apa kurangnya dia. Tampan, mapan baik, sholeh. Bukan ibu silau akan hartanya, ibu hanya berharap nisa mendapatkan suami yang bisa menjaga dan membimbingnya. Lagi pula fatih bukan orang baru. kita semua sudah mengenalnya” ibuku benar juga.
“alasan Nisa tidak mau kenapa” aku memegang tangan Adam yang ingin berjalan ketengah.
“karena fatih seorang CEO, nisa inginnya yang sederhana saja. adikmu kan guru. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, bebas seperti orang umum tanpa peraturan tanpa pengawal. Sekarang saja fatih menyuruh anak buahnya menjaga Nisa disekolah takut mantannya itu datang lagi menemui Nisa katanya” aku ingin tertawa tapi ku tahan.
“kamu cepetan pulang ibu sudah kangen Rania sama Adam, kalau ada Rania paling tidak nisa mau keluar kamar. Sudah dua hari dia mengurung diri malu sama teman-teman gurunya karena ulah fatih katanya. Ibu sampai bingung membujuknya” kisah yang aneh. Nisa dan fatih
“saya usahakan ya bu” pembicaraan kami tutup
“ibu kenapa” tanya istriku
“abangmu meminta untuk menikahi Nisa minggu depan” matanya terbelalak, lucu sekali wajah geramnya. Aku ingin menciumnya sekarang sumpah aku tidak berbohong, gemas sekali. Aku tarik dia kepelukanku.
“jangan menampakkan wajah menggemaskan itu di hadapanku sayang aku takut tidak tahan”bisikku ditelinganya. Dia memukul dadaku aku tarik lehernya aku menunduk. Kupertemukan bibir kami.
Indahnya, angin pantai menambah syahdunya suasana hatiku, aku bahagia sungguh sangat bahagia.
“emang kamu mau apa lagi, tanda yang kamu buat di badanku sudah terlalu banyak” jawabannya seolah menantangku
“belum , disini, disini. Dan disini” aku meraba perut, pinggang dan pahanya.
“jangan banyak-banyak tuan nanti dikira orang aku korengan” kami terpingkal bersama tawa bahagia. Ku kecup bibirnya singkat tanganku masih memeluk erat pinggangnya.
“mau kamu tunjukkan pada siapa tubuhmu. Ini semua hanya kau yang boleh melihatnya” ku eratkan pelukanku di tubuhnya.
“ayah sama bunda lupa sama Adam” suara Rania mengagetkanku
“astaghfirullah...” kami tersadar aku menoleh. Ternyata Adam sudah digendong Rania
“tadi Hampir ketengah” anakku kesal, kami memeluknya bersamaan.
“kita disuruh pulang cepat sama ibu” membuka pembicaraan setelah istriku selesai membersihkan diri di villa yang kami sewa.
“koq aku jadi ingin menjewer kupingnya bang fatih ya, sudah ku bilang pelan-pelan jalani dulu sampai nisa luluh. Kenapa jadi maksa gitu” wajah istriku kesal.
“sebenarnya abangmu itu bisa tidak caranya menaklukkan cewek” tanyaku sambil menariknya kepangkuanku. Rania dan Adam sudah terlelap. Kelelahan mungkin setelah bermain diluar tadi.
Aku hirup aroma tubuhnya yang hanya tertutup handuk, rambutnya basah aroma shampo yang sampai kehidung terasa menyegarkan.
“sayang turunin aku mau pakai ganti baju dulu”katanya protes hendak turun dari pangkuanku aku semakin aku mengeratkan pelukanku.
“begini dulu sebentar saja” aku tidak melepasnya
“aku tidak percaya, nanti kejadian lagi. aku lelah sayang” yah, dia tidak salah. Aku tidak akan pernah bisa tahan dengan istriku.
“oke, cium pipi sebentar habis itu mas lepas” penawaran yang bagus bukan
__ADS_1
“pipi saja, jangan yang lain lagi” hahaha...lucu sekali bukan. siapa yang bisa tahan kalau sudah begini maafkan aku sayang aku hilaf. Hilaf yang indah...aku mengangkatnya ke kasur, kamar kami bersebelahan dengan kamar anak-anakku. Hari masih sore memang, tapi mau bagaimana lagi. aku sudah bilang aku jatuh cinta setiap hari pada wanita yang sama.
Note: ada yang tertarik dengan kisah Fatih dan nisa. Mau dibuat Ekstra part atau cerita lain. Kasih masukan ya... terima kasih semua...