
Kenyataan bahwa andara yang merawat bapak dan ibu selama ini sudah membuatku malu, ditambah lagi alasan wanita itu melakukannya hanya untuk mendapat maaf dariku. Sungguh aku tidak tahu harus berkata apalagi. Jujur aku terharu mendengar cerita bapak.
Mereka tidak punya pertalian darah, tapi aku bisa melihat begitu tulusnya andara mengurus bapak, mengingatkan jadwal minum obatnya. Dengan ibu pun sama. Setahuku bapak tidak pernah punya penyakit gula darah, tapi hari ini aku baru tahu tentang itu. Demikian juga dengan penyakit darah tinggi yang diderita ibuku.
Ya, Allah...ampuni hambamu yang terlalu egois, bahkan orang tua sakitpun hamba tidak tahu justru wanita yang paling aku benci, rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk merawat mereka.
Sudah seminggu aku disini, sampai sekarang aku masih tidak melakukan apapun bahkan semua keperluan bapak dan ibu, masih wanita itu yang mengurusnya. Aku merasa sangat malu sudah perpikiran buruk tentang wanita hamil itu. Aku sedang mencari tahu bagaimana caranya aku berterima kasih padanya.
“mbak mikir apa?” ku arahkan pandangan kesumber suara, orang yang aku pikirkan ada dihadapanku sekarang, dia duduk di kursi sebelahku. Ditaman belakang rumah. Aku diam bibirku terkunci rapat. Tidak tahu harus berkata apa.
“mbak, ini obat bapak sudah saya pisahkan perhari”, memberikan bungkusan tas kecil yang berisi plastik klip kecil berisi obat. Aku lirik sekilas, wanita itu meletakkan di meja samping ku.
“ibu tidak perlu minum obat rutin, hanya cukup vitamin saja. jangan biarkan beliau terlalu banyak perpikir, jaga perasaannya. Demikian juga dengan bapak. Semoga kedatangan mbak membuat mereka semakin sehat” ucapnya.
Bahkan dia lebih banyak tahu tentang orang tuaku dari pada aku anaknya sendiri
“mengapa kamu melakukan ini” nadaku datar, tanpa menoleh, tatapanku lurus kedepan.
“maaf kalau saya lancang, saya hanya ingin menebus kesalahan saya untuk mbak fira. Asal mbak fira tahu semua kekacauan di keluarga mbak, sayalah penyebabnya. Kepergian mbak, sakitnya bapak dan ibu. sakitnya mas amir. Itu semua atas kesalahan saya. Jalan-satu-satunya saya harus membuat semua kembali seperti semula. Saya sadar, saya hanya manusia biasa yang tidak bisa memutar waktu. Hanya ini yang bisa saya lakukan”.
Entah mengapa ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku, Mendengar penuturan wanita ini. bagaimana dia bisa berubah secepat ini. rasa haru yang menyeruak masuk membuat nafasku sesak.
Air mata tak dapat ku tahan. Kuusap pelan
“bagaimana kalau aku tidak memaafkanmu” tanyaku lagi masih dengan tatapan lurus kedepan.
“itu hak mbak fira, saya sadar kesalahan saya terlalu besar dan tidak pantas untuk dimaafkan” jawaban macam apa itu. Siapa yang merubah wanita ini menjadi perempuan yang berhati tulus seperti ini. rasa malu ini semakin besar, aku yang membencinya dia yang tulus mencari maafku.
Aku pikir akulah wanita yang paling menderita, ternyata kepergianku pun membuat penderitaan yang sama dengan mereka yang aku tinggalkan.
“seharusnya mbak fira bersyukur, mbak meninggalkan orang-orang yang sangat mencintai mbak, suami, orang tua, mertua, bahkan bang fatih pun melakukan segala hal untuk melindungi mbak fira. Beda dengan saya” diam sejenak kulirik wanita itu. Bahunya bergetar.
“saya dijauhi orang yang saya cintai, saya butuh kasih sayang dari papa dan mama, tapi mereka tidak menginginkan saya” tangisnya semakin menjadi.
Apa-apaan dia, mengapa ceritanya membuat mataku panas.
“saya mendapatkan kasih sayang bukan dari orang tua kandung saya sendiri, justru dari orangtua wanita yang saya sakiti. Mereka dengan tulusnya menyayangi saya. Saya tidak tahu bagaimana cara berterima kasih untuk orang tua mbak fira” kata-kata wanita ini. semakin meyakinkanku bahwa setiap orang pasti berubah. Bahunya berguncang. Aku bangkit berdiri dihadapannya.
Wanita ini terperangah, dia berdiri dengan wajah takut.
“diamlah, seharusnya aku yang berterima kasih sudah merawat bapak dan ibu sampai mereka sehat. Menggantikan tugasku sebagai anak selama ini”ku usap bahunya pelan, untuk meredakan tangisnya.
“setelah ini biar aku yang menggantikan tugasmu, perutmu sudah besar seharusnya banyak istirahat”lanjutku
“apa mbak fira memaafkan saya? ”pertanyaan macam apa itu.
“apa kamu mengharapkan itu setelah semua kebaikan yang kamu lakukan”tanyaku
“jujur iya mbak, saya akan sangat bahagia kalau mbak dapat memaafkan saya”
Masih pantaskah aku membenci wanita ini, rasanya terlalu egois kalau aku masih bertahan dengan hatiku. Pengorbanannya telah mencairkan kebencianku.
tidak ada alasan untukku membenci wanita ini. setelah pengorbanan besar yang dia lakukan untuk keluargaku. Sebenarnya aku ingin bertanya masalah transfer uang itu. Angka yang terlalu besar hanya untuk seorang Andara. Melihat kehidupan wanita ini sekarang sangat jauh berbeda dengan Andara ketika menjadi maduku dulu.
kami sama- sama terdiam beberapa saat.
“sayang, aku cari kemana-mana ternyata ada disini. Di panggil bapak”
itu suara perusak suasana. Entah mengapa sampai saat ini aku masih kesal mendengar suara laki-laki ini. tunggu,,, semenjak aku kembali, laki-laki ini hilang sifat buayanya. Baguslah setidaknya kepalaku ringan tidak mendengar bualannya.
Aku berjalan mendahului Mas Amir, menghampiri bapak di ruang keluarga
“Rania kapan diantar kesini, bapak sudah kangen”tanya bapak. Rania ada dirumah mertuaku, sejak kedatanganya anisa menjemputnya di bandara, mertuaku kangen katanya.
“fira tidak tahu pak, bagaimana keadaan bapak sekarang?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“bapak semakin merasa sehat sejak kedatanganmu, mungkin perasaan bahagia bisa mempercepat penyembuhan” katanya lagi, sambil mengusap kepalaku.
“pak, ini tehnya” suara ibu memberikan secangkir teh hangat untuk bapak
“lho, jangan bu nanti gula darahnya...”cegahku
“tenang, tidak pakai gula” jawaban ibu membuatku lega. Aku hanya ingin mereka sehat, aku tidak ingin kehilangan mereka. Selalu kupanjatkan doa semoga mereka diberikan umur panjang.
__ADS_1
“Bunda,,,Rania kangen” gadis kecil itu berlari kearahku. Tuhan seminggu kami tidak bertemu. Kupeluk erat kuciumi wajahnya.ini waktu yang paling lama aku berpisah dengan Rania.
“Bunda juga kangen banget sama Rania”jawabku
“Assalamualaikum...”dua orang dibelakang Rania,
Kami menjawab serempak, nisa dan ibu. kuhampiri mereka kupeluk ibu mertuaku.
“maafkan fira bu” aku benci anaknya tapi tidak dengan ibunya. Aku menyayangi nya seperti aku menyayangi ibuku sendiri
“tidak apa-apa, fira pulang itu sudah membuat ibu bahagia sekali” katanya tulus wanita ini mencium keningku. Ada rasa nyaman disana.
“maaf kak, nisa baru bawa Rania kesini. Nisa kangen, tau-tau sudah besar saja Rania”
“tidak apa-apa yang penting Ranianya seneng, iya kan nak” tanyaku mengalihkan tatapanku pada Rania
“Rania seneng bunda, diajak jalan-jaalan terus sama ounty nisa”binar bahagia tepancar dari wajah putriku.
“bang, ini bajunya, sekarang kan kakak fira sudah pulang, jadi abang tidak perlu tidur dirumah lagi, sempit rumah kalau ada abang” menyerahkan koper besar ke ayah Rania.
Jadi selama ini?
“abang itu kalau dirumah kayak bocah kak,
“ibu masak apa,?”
“ nisa ambilkan abang minum”
“bu baju yang kemarin taruh dimana”
“terus apalagi ya, menyebalkan!!!” tangan nisa menggaruk kepalanya yang tertutup hijab seolah sedang berpikir. Semua yang ada diruangan ini terbahak.
Tak terkecuali aku, buaya darat ternyata anak mama.
***
Sebulan berlalu, aku tidak lagi membenci Andara. Kenyataan bahwa suamiku tidak tinggal satu rumah dengan Andara semakin menguatkan aku bahwa, Andara sudah benar benar berubah. Aku melihat setiap hari dia selalu bangun pagi menyiapkan sarapan untuk kami sebelum mbak tini datang.
Aku yang awalnya hanya melihat saja sekarang sudah turun tangan, aku membantunya menyiapkan sarapan setiap pagi. Sekarang andara sudah pintar memasak adalah kenyataan lain yang membuatku terperangah. Dulu hanya membuat susu hangat saja tidak bisa sekarang jangankan susu hangat menu makan yang sulit saja dia bisa. Kalau Tuhan berkehendak, Dia bisa membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendakiNya.
Aku berniat setelah kesehatan ayah dan ibu benar-benar pulih aku akan kembali ke kalimantan. Meneruskan hidup disana. aku akan pastikan sebelum kembali aku tidak ingin membawa dendam. Apapun yang terjadi nanti aku akan belajar mengikhlaskan. Agar kehidupanku berjalan normal tanpa beban.
Suara bel rumah terdengar,
“biar saya yang buka, mbak fira lanjutin saja kasihan bapak takut terlambat sarapan” perhatian wanita ini untuk bapak tidak amin-main.
Andara mencuci tangannya diwastafel. Mengeringkan dengan lap bersih. Kemudan bergegas ke ruang tamu. Aku melanjutkan memasak sayuran dan membuat susu hangat untuk bapak
“koq pulang g bilang dulu, katanya masih minggu depan” suara Andara terdengar sampai keruang makan. Aku penasaran siapa yang diajak bicara suaranya terdengar manja.
"apa aku tidak boleh memberikan kejutan untuk istriku tercinta”jawaban dari seorang pria.
“ayah....”anak laki-laki yang baru bisa berjalan itu lari tertatih. Namanya kenzy. Umurnya baru 2 tahun. Anaknya lucu. Anak yang sempat aku benci karena ku pikir anak Mas Amir. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin kasih sayang Rania terbagi.
Aku melihat mereka, keluarga harmonis. Sang pria merentangkan tangan meyambut anak laki-laki yang dari tadi sibuk dengan mainannya.
Suami andara aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Wajahnya asing.
“Anak ayah nakal tidak” bocah itu menggeleng.
“hmmm...selama ayah tinggal ngerepotin mama g” lagi-lagi bocah itu menggeleng. Aku gemas melihat kenzy menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan. Pipi chubbynya matanya bulat sempurna serupa mata Andara. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya.
“mbak ini dr. Angga suami saya” Andara menghampiri aku di ruang makan. sudah kuduga. Laki-laki ini benar suami Andara.
“apa kabar, saya Syafira senang bertemu” kataku menelungkupkan tangan di depan dada.
“senang bertemu dengan mbak syafira, kepulangan saya ingin menjelaskan semuanya mbak. maafkan saya” kata laki-laki ini menunduk dalam.
Ada apa ini, dia baru datang minta maaf. Bahkan kami belum pernah bertemu atau punya hubungan apapun sebelumnya.
“hai, apa kabar. Bagaimana seminarnya sukses?”ayah Rania tiba-tiba turun dari atas. Menyela pembicaraan kami.
“sukses, alhmadulillah. Harusnya masih minggu depan. Tapi saya percepat kangen sama kenzy. Iya kan sayang” laki-laki mencium putranya gemas.
__ADS_1
“cih, kangen sama kenzy apa mamanya. Bucin g ngaku” ledek Ayah Rania.
“dua-duanya lah”. Merangkul bahu Andara dan mencium kepala istrinya yang tertutup hijab.
Aku melihat ketulusan di matanya.
“kamu g kekantor?” tanya laki-laki yang berperawakan bersih dan tinggi ini. badannya tegap, tampan juga suami Andara.
Entah mengapa ada bahagia membuncah di dada melihat keluarga kecil ini.
“sarapan dulu dong. baru berangkat” mau berangkat kemana, bukankah laki-laki ini sudah dipecat. Entah mengapa aku merasa iba mengingat mas Amir udah dipecat. Bekerja ditempat itu adalah cita-citanya sejak dulu.
“nak angga kapan datang" Bapak keluar dari kamar
"baru sampai pak" suami Andara menghampiri bapak dia mencium tangan bapak dengan takzim. Allah,,,sungguh pemandangan yang sangat mengharukan.
“kenzy gendong kakek. Biar ayah mandi dulu” bapak mengambil bocah itu dari ayahnya. Memeluk erat ayahku, seolah mereka ada pertalian darah. Kebaikan Andara sudah mengambil hati kami semua, aku setuju perempuan ini berhak mendapatkan karena ketulusan nya.
“mbak, saya permisi mau nyiapin keperluan Mas Angga” Andara berpamitan. Aku mengangguk seraya tersenyum. Hilang benciku untuk mantan maduku itu.
***
Selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga. Rania dan kenzy sibuk dengan mainannya. Bapak dan ibu istirahat di kamar setelah minum obat tadi. Kamarnya terletak disebelah kamar Andara.
“kedatangan saya dipercepat, karena Andara memberi kabar kalau mbak Syafira pulang.” suami Andara membuka pembicaraan. Aku terperanjat apa hubungannya denganku.
“jadi semua pangkal permasalahan itu awalnya dari saya mbak, saya merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan semuanya” diam sejenak
“saya dan mas Amir diperkenalkan Andara, saya sudah menikah dengannya waktu itu, enam bulan setelah statusnya menjanda. saya tertarik dengannya karena Wanita ini begitu tulus membantu orang yang menderita penyakit yang sama dengannya. Jarang ada wanita apalagi masih muda mau melakukan itu”
Dari ceritanya mengalir.
Rumah sakit tempat andara di rawat adalah punya keluarga angga, jadi keinginan terbesar angga adalah ingin membuat papanya bangga atas pencapaianya karena usahanya sendiri tanpa bantuan orang tuanya.
Suami Andara seorang dokter psikiater atau dokter kejiwaan kebetulan Andara adalah pasiennya.
Dia bertekad untuk membangun klinik khusus anak dengan gangguan OCD seperti yang dialami andara. Dari situlah dia tahu mas Amir karena Andara memberikan kontaknya.
Setelah konsultasi dengan Ayah Rania ini, dana perusahaan Angga tidak mencukupi untuk pembangunan gedung baru itu sampai selesai. ahirnya mas Amir mengajukan diri untuk menenamkan modalnya diperusahaan Angga. Betapa bahagianya Angga ketika itu.
Selain pekerjaan konstruksi bangunannya dikerjakan, perusahaan itu juga bersedia menjadi investor untuk klinik itu.
Angga memberikan rekening Andara karena rekening perusahaan masih dalam proses di bank yang bersangkutan.
Angga tidak ingin meminta bantuan ayahnya. karena dia ingin membangun perusahaan baru tanpa bantuan orang tuanya.
“saya kira tidak akan menimbulkan masalah besar mbak” kata ayah kenzy.
“mas berpesan pada edo kalau sudah transfer bilang mas dulu jangan bilang kamu, takut salah paham, mas masih lembur sampai ahir tahun. Kantor pusat minta laporan semua rampung sebelum berganti tahun.” Itu pesan ku pada edo ketika itu.
“kedatangan mas kekampung waktu itu juga ingin menjelaskan semuanya” ternyata sudah terlambat, kamu sudah pergi”dia menunduk.
“kamu sudah pergi menjauh sebelum aku mengatakan kebenarannya. Sebagai suami mas merasa tidak berguna” suamiku semakin menunduk dalam. Nadanya lirih penuh penyesalaan
“Mas pulang mencarimu seperti orang gila, sampai ahirnya datang kekantor GLOBAL, bukan jawaban yang mas dapat”
“yah, abang menghajarnya sampai dia hampir meregang nyawa. Kalau tidak dihalangi Reno. Mungkin sekarang kamu akan melihat batu nisan suamimu” suara bang fatih yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.
“tidak akan ada penghianatan lagi mbak, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. kepergian mama entah kemana sudah membuat saya mengikhlaskan tentang hidup saya, berbekal mukenah hadiah dari mbak syafira. Saya lebih mendekatkan diri pada sang pemilik hidup” penjelasan Andara.
“tidak ada laki-laki yang lebih mencintai mbak syafira selain mas amir. Jadi berbahagialah. Dia hampir kehilangan nyawa dua kali demi cintanya.” wanita ini memohon
Betapa bodohnya aku, setelah mendengarkan penjelasan mereka semua. aku sudah melibatkan banyak orang dalam kemelut rumah tanggaku
“berbahagialah syafira, karena setelah ini abang juga ingin bahagia memiliki keluarga bahagia seperti kalian, kasihanilah abang yang jomblo ini. abang dikejar-kejar umur ”
kata-kata bang fatih membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terbahak.
Semua orang bahkan berkumpul disini untuk memberikan penjelasan padaku. Betapa baiknya Tuhan padaku. aku dikelilingi orang yang mencintaiku.
tak perlu aku ragukan kebenarannya, karena ada bang fatih yang tidak mungkin menipuku.
Ahirnya kesalah pahaman selama tiga tahun terurai sudah.
__ADS_1
Note : untuk yang bekerja di kantor swasta maupun kantor pemerintah, pasti tahu betapa sibuknya ahir tahun. semua laporan harus rampung sebelum pergantian tahun.