
“Ragamu ada bersamaku tapi tidak dengan hatimu, kau telah membuat tembok pemisah yang sangat kokoh. Bagaimana aku bisa memperbaiki semuanya sementara hatimu sudah tak ingin lagi. Kau hanya menjalankan kewajibanmu sebagai istri, tidak lebih. Aku tidak tahu apa yang membuatmu masih bertahan sementara hatimu ingin menjauh. Akan aku perbaiki semuanya, karena hatiku tidak bisa menjauh darimu”
AMIR
Hari minggu, seharusnya aku dirumah menghabiskan waktu bersama Rania, dan suamiku. Tapi hari ini aku ingin bertemu kirana. Rasa penasaranku tentang monica atau sri tidak bisa dibendung lagi.
“sini bunda, lihat tuh” putriku mengajakku masuk kedalam kamar yang biasa ditempatinya dirumah kirana. Aku terpana, melihat bentuk kamarnya sudah berubah dari pertama kali aku lihat. Kirana mengikuti kami dibelakang. Sementara suamiku ada di ruang tamu bersama Bang Raihan.
“segala mainan ada disini ki,,,banyak lagi. kamu tidak sayang uangnya dihabiskan Cuma buat beli mainan Rania”tanyaku pada kirana. sungguh aku tidak berbohong. Kasur yang bagus dengan karakter hello kitty kesukaan Rania. Semua boneka tertata rapi di rak besar yang ada sudut kamar. Boneka dengan beraneka karakter dan bentuk. Dari mulai yang paling kecil sampai yang paling besar sekali. Ini tidak seperti kamar tidur, tapi lebih mirip toko boneka.
“nggak apa-apa mbak, nanti kan bisa di pakai anakku. Sekalian buat pancingan juga biar cepat hamil,,,doain ya mbak.”tidak ada hal yang perlu dicurigai dari kirana dia tetap santai seperti biasa.
“amin...”kataku
“tapi kalau anakmu nanti laki-laki gimana, mainan ini kan serba pink” jawabku lagi, penasaran. Bukan meremahkan. gaji suaminya kirana berapa ya,,sampai dihabiskan buat beli mainan Rania apa tidak dimarahi sama bang raihan.
“mudah-mudahan anakku cewek biar lucu kayak Rania. Tapi kalau tidak, kan bisa dibawa pulang Rania” jawab kirana.
Kenapa hatiku masih menolak jawaban kirana.
“sini bunda ikut Rania...”putriku menarik tanganku kelantai atas di rumah Kirana. Rania membawaku kesebuah ruangan yang luas dengan ukuran 4x5. Mataku melotot tidak percaya ku tutup mulut yang hampir berteriak. Bagaimana tidak ini seperti taman bermain yang ada di mall tapi versi kecil. Mandi bola, trampolin mini. Rumah balon mini, ayunan, dan yang lain.
“Ini yang antar tante monica, sama om,,,sapa ya namanya Rania lupa bunda” Belum selesai keterkejutanku pengakuan anakku benar-benar membuatku curiga kalau Kirana tahu tentang monica. Ku tatap wajah kirana penuh selidik. Anehnya dia santai tersenyum manis ke Rania. Aku pikir dia akan gugup atau ketakutan karena menyembunyikan hal sebesar ini.
“Namanya monica, perawakannya seperti sri, awalnya Rania manggil sri. Yang punya toko mainan ini, dia yang antar sendiri kesini karena saya pelanggan setia katanya mbak. Semua mainan ini saya yang beli. Apa yang mbak fira curiga sesuatu?” hah, dia balik bertanya. Tidak ada yang aneh dari wajahnya.
Apakah ada dua monica, yang satu penjual mainan yang satu orang GLOBAL GROUP.
Cerita suamiku dan Kirana siapa yang bisa dipercaya. Terus sri, siapa sebenarnya?
“sudah sayang,,, yuk, pulang dulu katanya Rania mau beli eskrim” suara lembut suamiku, menyadarkanku dari lamunan tentang sri dan dua monica.
“sudah, makasih ya ki...jangan bosan kalau dititipi Rania” aku belai bahunya lembut. Entahlah, pikiranku masih diliputi banyak pertanyaan. Tapi wajah kirana seperti tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Tatapannya jujur ketika menjelaskan tentang monica.
“oiya, ARTmu mana ki...?” tanyaku penasaran. SambIl melangkah menuruni tangga.
“ini hari minggu mbak. Dia libur. Masuknya senin sampai sabtu, kalau minggu kan bang Raihan ada dirumah, dan Rania juga enggak disini” aku mengangguk membenarkan
Kami turun kebawah. Mas amir menggendong Rania. Terdengar suara tawanya yang lucu.
“ayah geli...”aku melihat mereka, pantas saja Rania geli, ayahnya mencium gemes leher belakangnya.
“baru mandi, anak ayah acem lagi” suamiku mencium Rania sampai keluar suara decakan. Aku tersenyum miris.
__ADS_1
Membayangkan kalau pada ahirnya nanti aku harus berpisah, ketika aku tidak mampu lagi bertahan. Anakku akan kehilangan sosok ayahnya. Nyeri kembali menjalar di dada. Bisakah aku egois memisahkan mereka yang saling sayang.
“sepertinya Mas Amir, sudah berubah mbak, saya melihat ketulusan dimatanya. Mudah-mudahan kedepannya lebih baik, kalian bisa seperti dulu lagi” kata-kata kirana yang penuh harapan terasa hambar masuk ke telingaku. Perubahan suamiku tidak berdampak apapun bagiku.
“entahlah ki...mbak masih belum bisa terima. Hati ini masih tidak percaya perubahan Mas Amir. Seolah aku masih dibohongi” kataku pada kirana setengah berbisik mas amir sudah didekat mobil dengan bang Raihan. Mereka masih terlihat mengobrol entah apa. Aku tidak mendengar nya.
“wajar mbak tidak ada perempuan yang bisa langsung percaya setelah dihianati. Kecurigaan itu pasti ada. pelan-pean saja jangan dipaksa”
“makasih ya...”jawabku sambil berpamitan. Rania yang duduk dipangkuanku melambaikan tangan ke Kirana. Mobil melaju lambat.
Kami terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlebih suamiku dia mengusap usap dagunya berulang seolah sedang memikirkan sesuatu entah apa.
“mas mikir apa sih, kayak orang bingung gitu”tanyaku. Dia melirikku sekilas, setelahnya fokus lagi melihat kedepan.
“Bang raihan tidak tahu lho, kalau kirana beli mainan sebanyak itu buat Rania, bahkan mengenai pembantu dirumah kirana katanya istrinya juga yang mutuskan. Aneh nggak sayang?” lah, terus uang darimana kirana beli mainan kalau suaminya tidak tahu.
“kirana bilang pembantu itu idenya bang Raihan. Gimana sih bingung aku”jawabku pada suamiku.
“Mas curiga sesuatu tapi apa?, sepertinya ada orang dibalik ini semua yang mengatur kirana, dan Sri. Tapi siapa, terus tujuannya apa?”. laki-laki disebelahku berpikir keras dengan tatapan masih lurus kedepan.
Ah, benarkah kecurigaan suamiku. Aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh fokus saja pada usahaku. Kalau orang yang dicurigai suamiku memang ada, tidak ada niat jahat sepertinya. Kami sekeluarga masih baik-baik saja.
“hari ini kita makan diluar, Rania mau makan apa sayang?”tanya suamiku pada Rania
“ayam goreng pake tepung, kayaknya enak yah” jawab putriku.
“oiya, sayang, mau nyoba cafe baru tidak. Katanya menunya enak. Temenku sudah nyoba. Ada arena bermain buat anak-anak juga, Rania pasti suka” kata suamiku, wajahnya terlihat berbinar.
Kami berjalan masuk kedalam. Rania digendong ayahnya. Kami seperti keluarga harmonis pada umumnya. Begitulah yang terlihat dari luar.padahal ada hati yang sudah tawar dengan segala keharmonisan ini. Aku merasa bahwa ini hanya pencitraan untuk menutupi betapa rapuhnya pondasi rumah tangga kami.
Aku tahu suamiku memang benar-benar berubah, tapi hati ini sudah hambar tidak bisa merasakan manisnya rumah tanggaku sendiri.
Kami mengambil duduk di meja dekat mainan anak. Biar bisa mengawasi Rania bermain. Suasana cafe ini begitu luas meja dan kursi terbuat dari kayu. Ada ornamen dan lukisan situs budaya indonesia yang terpahat cantik terpasang di dinding cafe. Mainan anak-anak juga lengkap.
Kulihat wajah putriku tersenyum lepas berlarian mengejar anak-anak seusianya. Ah, anakku memang cepat sekali akrab.
“setelah ini kita cari perabotan yang rusak kemarin ya, yang lama kita buang saja yang masih layak kita berikan orang. siapa tahu msih bisa dipakai.” suara suamiku, menyadarkanku dari lamunan. Ku alihkan pandanganku padanya. Dia tersenyum.
Entah mengapa aku tidak bersemangat melakukannya. Kepahitan, dan bayangan andara mengamuk memecahkan barang-barang dirumahku berputar bagai slide-slide film. Pelukan suamiku ketika menenangkan maduku itu masih terasa menyakitkan. Ku pejamkan mata karena tak mampu menanggung rasa sakit yang seperti nyata menghentak dadaku, perih. Sungguh aku tidak berbohong.
“kenapa sayang, apa kamu sakit?”usapan lembut Mas Amir ditanganku menyentak kesadaranku. Ku buka mata menggerakkan kepala kekanan dan kekiri berulang.
“kalau sakit kita pulang saja. Atau makan dulu. Cari perabotannya lain kali saja. Mas tidak mau maksa kamu” katanya lagi. jangan lupakan wajah cemas ayah Rania ini.
__ADS_1
Aku akui sikapnya memang benar-benar manis ahir-ahir ini. Dia lebih memanjakanku lebih dari sebelum tragedi perselingkuhan itu. Aku tahu ini salah satu usahanya mengembalikan kepercayaanku.
Menu makanan terhidang dimeja sesuai pesanan kami. Dari tampilannya sepertinya menggugah selera.
“makan yang banyak sayang, mau mas suapin?” aku menggeleng, sebenarnya selera makanku masih berantaka. Tapi mau bagaimana lagi aku butuh tenaga ekstra untuk mengurus ushaku.
“Rania sini....maem dulu nanti main lagi ya” ucap suamiku tangannya melambai memanggil Rania. Dengan telaten dia menggendong Rania ketempat cuci tangan. Dekat dengan VIP room.
Putriku tertawa bahagia,dia dengan jahil menciptratkan air ke muka ayahnya.
Duduk kembali di meja. Menghadapi hidangan yang sudah siap.
Tapi tunggu, tatapan Rania hanya fokus pada satu tempat. Aku ikuti arah pandang anakku. Tidak ada apa-apa.
“om...” Rania menggumam aku ikuti pandangannya lagi. aku dan Mas Amir saling bertatapan bingung
“om, siapa nak” tanya ayahnya Rania ini
“tuh...” tangannya menunjuk pada pandangannya tadi.
Beberapa orang keluar dari ruangan VIP dengan memakai baju rapi dan setelan jas berwarna hitam. Tidak ada yang ku kenali satupun karena yang terlihat hanya punggungnya saja.
Kutatap Rania dia seolah ingin melambai tapi ragu. Aku yang ikut bingung tidak mengerti, Hanya bisa menatap putriku.
“om siapa sayang” tanya suamiku lagi
“enggak tahu”wajah polosnya menggeleng ikatan dirambutnya ikut bergoyang kekeiri dan kanan pipi chabbinya begitu lucu. Ada-ada saja Rania. Kuusap kepalanya gemas.
***
Banyak yang tidak suka hari senin. Tapi hari senin ini aku bersemangat, karena akan bertemu beberapa orang yang direkomendasikan Sri, untuk bagian input data. Dan bagian administrasi. Sementara bagian keuangan Sri yang pegang dan aku sebagai pimpinan disini. Tidak akan menyebut manajer karena terlalu formal untuk usaha yang kecil ini
Bismillah,,,semoga yang datang semuanya orang-orang baik dan jujur seperti sri.
“ini orangnya bu, ada enam semuanya. Nanti dibagian input data 2 orang. Bagian laporan penjualan 2 orang dan bagian pembelian 2 orang” sri, menjelaskan. Aku mengerti.
“mari duduk disini” kataku mempersilahkan, sumpah gayaku sudah seperti manajer.
“yang bagian gudang bagaimana?”tanyaku pada sri.
“mungkin besok datang bu, sudah saya hubungi. Kalau hari ini semua takut waktunya tidak cukup.” Ada benarnya penjelasannya.
“oke...”berterima kasih pada sri yang menemukan teman-temannya untuk bergabung denganku. Kerja kerasnya patut diacungi jempol.
__ADS_1
note: ada yang kangen Andara? mau ikut Mas Amir dan syafira menjenguk?
di tunggu, ya.... Terima kasih.