BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
EKSTRA PART (POV FATIH)


__ADS_3

Aku kira tidak ada satupun perempuan yang bisa menolak pesonaku. Aku tampan, mapan. Secara kasat aku adalah calon suami dan menantu yang ideal.


Rupanya Tuhan menegur kesombonganku lewat seorang wanita sederhana yang mampu menggetarkan kalbuku.


Seumur hidup aku belum pernah, menyatakan cinta pada perempuan manapun. Kalaupun aku menjalin hubungan itu karena wanita yang mengejarku. Sombong bukan, tapi memang itu kenyataannya.


Ketika aku suka wanita aku akan menyimpannya rapat menunggu saat yang tepat untuk akan menyatakannya. Terkadang aku bosan selalu ditanya kapan akan menikah.


Aku yang santai mereka yang bingung perkara jodohku. Umurku yang diungkit ungkit. Apa hubungannya. Perkara jodoh bukan siapa cepat. Tapi siapa siap dan siapa calonnya. Siap tidak ada calon percuma. Ada calon tapi tidak siap banci namanya. berani mendekati anak orang tapi tidak berani berkomitmen.


Aku tahu Amir punya adik. Dan baru aku tahu kalau adiknya menarik. Aneh bukan, dunia tak selebar daun kelor. Aku mencari sosok wanita dimanapun berada sampai dijodohkan teman-temanku dengan berbagai bentuk wanita yang tidak satupun dari mereka bertampang pas-pasan. Namun, aku tolak halus, bahkan ada yang mengejarku dengan menghalalkan segala cara.


Wanita satu ini memang unik. Setiap kali aku menjenguk abangnya dirumah sakit karena koma, dia selalu menunduk tidak berani menatapku. Tidak pernah menyapaku atau mencari perhatianku seperti wanita kebanyakan.


Pertemuan ketiga aku semakin tertarik padanya. Dialah satu-satunya wanita yang mengganggu pikiranku ketika bekerja, bahkan dengan beraninya wajah itu muncul didalam mimpiku. keterlaluan!!!. Membuatku sering melamun, tersenyum sendiri sampai Reno mengira aku kesurupan. Aku bertekad dia harus menjadi milikku, dia harus bertanggung jawab atas kekacauan hidupku ahir-ahir ini.


Membayangkan dia tersenyum padaku membuat dadaku membuncah bahagia, dia harus bertanggung jawab atas debaran jantungku yang tak wajar. Mau tidur, bangun tidur, selalu dia yang ada di dalam benakku menggangguku se enaknya. Aku tidak tahan aku harus mengetahui apapun tentangnya.


“maaf tuan. Namanya Siti Khairunnisa, panggilannya Nisa. Adiknya pak Amir. Umurnya masih 24 tahun guru matematika disebuah sekolah menengah atas negeri di kota ini. dia sudah punya pacar. Seorang manajer hotel. Kebetulan dia bekerja di Hotel GLOBAL GROUP. kalau ada yang kurang jelas atau mengganggu pikiran tuan silahkan ditanyakan” penjelasan Reno panjang Lebar. Aku tidak suka di bagian dia sudah punya pacar. Apaan, aku harus mendapatkannya


“Apa dia mencintai pacarnya” tanyaku penasaran


“dia sangat mencintai pacarnya tuan, tapi sayang pacarnya selingkuh” pas, ini baru kabar gembira.


“Apa wanita itu tahu” semakin menarik kisahnya. Aku tersenyum bangga, semoga dia tahu biar bisa putus, amin.


“belum tuan. Nona Nisa masih sering kencan dengan pacarnya” aku kaget, bagaimana bisa pacarnya selingkuh dia tidak tahu. Perempuan bodoh macam apa dia. Cih, ada ternyata perempuan macamnya fira di dunia.


“ada yang mau ditanyakan lagi tuan”


“Sudah cukup, terima kasih kerja kerasnya Ren”


“sama-sama tuan saya permisi dulu. Masih banyak yang harus saya kerjakan” asistenku hendak berlalu tangannya memegang handle pintu diruang kerjaku


“Oiya nanti malam kamu ikut aku kerumah sakit” pintaku sebelum reno berlalu.


“koq sekarang jenguknya rutin tuan?” sepertinya Reno mulai curiga


“hanya ingin menawarkan mungikn Amir mau di bawa ke Luar negeri kasihan melihat kondisinya begitu aku merasa bertanggung jawab juga bukan” percayalah ini tujuan utamaku kerumah sakit. Tentunya ada tujuan kedua. Aku tarik nafas.


“Mudah-mudahan tuan tidak punya tujuan lain” kurang ajar sekali dia. Jangan terpancing aku harus tetap cool


“ keluarlah selesaikan semua pekerjaanmu. Tolong kosongkan jadwalku hari ini aku ingin bersantai sejenak” ujarku sambil meluruskan kaki di sofa ruang kerjaku


“baik tuan saya permisi” laki-laki itu berlalu.


Tuhan,,, bagaimana wanita itu bisa memenuhi isi kepalaku. Senyumnya, suara merdunya. Bibir tipisnya yang merah, pipinya yang merona, bulu matanya yang indah, hidung mancungnya, alisnya bak bulan sabit. Wajah natural tanpa polesan makeup berlebihan. Semua yang ada pada dirinya menjadi daya tarik tersendiri untukku. Aku memegang dadaku yang semakin berdebar. Bagaiman ini, apa yang harus aku lakukan? Mungkinkah aku sedang jatuh cinta.


“Ren, kamu dengar ada suara orang menangis?” aku penasaran, suara itu berasal dari ruang perawatan intensive, tempat amir dirawat. Jangan-jangan. Pikiran buruk menghantuiku ku percepat jalanku. Sudah jam 12 malam ketika aku sampai. Karena ini waktu yang tepat untuk menghindari orang yang mengenaliku.


“saya dengar tuan” Reno sama paniknya denganku.


“Bang, bangun kasihan Ibu. dia lelah menunggu abang sadar” suara isakan itu.. berasal dari wanita yang mengganggu pikiranku. Bahkan suara tangisannya indah.


“kalau abang tidak bangun, terus ibu sakit nanti Nisa sama siapa?” Tuhan rintihan itu, kata-kata yang keluar dari bibirnya megitu menyayat.


Aku ingin membawanya kedalam pelukanku. Menenangkannya dan mengatakan bahwa ada aku yang akan selalu melindunginya. Tapi aku sadar, aku siapa. bukannya dapat simpati bisa-bisa ku dapat hadiah tamparan darinya. Ck, menyebalkan sekali mengagumi orang diam-diam.


“permisi...” aku masuk setelah meminta ijin. Dia berdiri di pojok ruangan menundukkan wajahnya, mengusap air mata yang masih menetes di pipinya.


“bagaimana keadaannya” tanyaku tanpa menoleh. Aku harus tetap kelihatan keren bukan


“masih sama tuan belum ada perkembangan” jawabnya. Apa-apaan dia memanggilku tuan. Sungguh aku terganggu. Seandainya aku tidak tahu malu ingin aku menyuruhnya memanggilku sayang atu paling tidak panggil abang gitu biar enak. Tapi aku cukup tahu diri.


“bagaimana keadaanmu” tanyaku lagi


“hah?” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Apa aku salah menanyakan keadaannya. Aneh sekali.


“saya baik. terima kasih”jawabnya masih dengan tatapan menunduk dalam tatapannya lurus kelantai ruang perawatan Amir.


“ada nak fatih, maaf ibu baru dari kamar mandi” wanita tua itu, terlihat wajah lelah disana.


“tidak apa-apa. Maaf saya mengganggu” jawabku harus sopan dong. Aku cium tangannya takzim


“terima kasih, nak fatih sering menjenguk Anak ibu, doakan semoga cepat sadar, ibu tidak tega melihatnya disini makin hari badannya semakin kurus.” Air mata itu menetes, aku tersentuh.


Inilah pengorbanan seorang ibu semarah apapun terhadap anaknya, maaf tak ada putusnya. Cinta mengalahkan benci dan keangkuhan.

__ADS_1


“apa tidak sebaiknya di bawa keluar negeri saja bu. kalau ibu bersedia saya akan mengurus semuanya” ucapku lembut, aku melirik wanita itu dia duduk di kursi samping Amir. Mengusap tangan abangnya pelan kesedihan masih tergambar jelas. isakan kecil masih terdengar samar.


“ibu yakin hanya mendengar suara Rania Amir akan sembuh. ibu harap Allah menggerakkan hati Syafira untuk menghubungi ibu” bukan aku tidak ingin mencari tahu dimana syafira dan Rania berada, aku tidak pernah berpikir bahwa kepergiannya akan berdampak hebat pada Amir. Kasihan laki-laki malang ini. berkubang dalam penyesalan hingga syarafnya terganggu.


Aku melihat ada tasbih di tangan kanan ibu Mertua syafira dan gawai di tangan kirinya. Bibir itu tidak berhenti mengucap dzikir. Hebatnya seorang ibu bahkan dirinya lelahpun tidak berpengaruh.


Aku pulang setelah berpamitan. Wanita itu mengantarku keluar pintu perawatan. Masih dengan wajah yang menunduk. Entahlah dia hormat atau takut aku tidak bisa membedakan.


“namamu Nisa” tanyaku


“iya tuan” jawanya dia bergeming


“setelah Amir sembuh Rania dan Syafira pulang. Bersiaplah kita akan menikah” jujur sekali bukan, aku yakin dia akan terkesan.


“hah,,,apa saya tidak salah dengar” dia mengangkat sedikit wajahnya menatapku sebentar selanjutnya menunduk lagi. sudah aku katakan dia terkesan bukan.


“tentu saja tidak. Pendengaranmu masih bagus kukira. Apa kamu bahagia” aku senang pasti dia akan memelukku. Mengucap terima kasih.


“maaf, anda siapa berani berkata begitu” hah, apa dia tidak tahu aku siapa. aneh sekali.


“saya CEO GLOBAL GROUP, sahabat abang kamu dari jaman masih kuliah” Rupanya dia belum mengenalku. Baiklah tidak apa-apa. Aku maklumi.


“maksud saya siapa anda berani mengatur hidup saya” hah...???? berani sekali dia berkata begitu. Harusnya dia terkesan bukan. wanita normal apa bukan dia ini.


“Sudah tentu saya calon suami kamu. Keberatan?” tanyaku inginnya aku marah. Tidak tahukah dia bahwa hatiku sedang tidak baik-baik saja jika berdekatan dengannya.


“tapi saya tidak mau, karena saya tidak suka dengan anda maaf” dia berlalu setelah berkata begitu.


Hatiku sakit, aku kecewa. Baru sekarang aku ditolak biasanya aku yang menolak. Seandainya keadaannya baik-baik saja. aku akan langsung menyeretnya ke KUA. Terlalu lama menunggu aku tidak bisa.


Aku pandangi kepergiannya dengan amarah yang berkecamuk di dada.


“maaf tuan, kalau boleh saya berpendapat cara tuan salah” ini lagi, malah memihak wanita itu.


“cih, memang bagaimana yang betul, kamu sendiri masih jomblo, tahu apa kamu” kataku ketus.


“menaklukkan wanita itu sentuh tepat di hatinya, cari perhatiannya” aku menoleh ke arah Reno.


“kalau yang barusan tuan lakukan itu menyentuh harga dirinya tentu dia akan marah”ucapnya hati-hati tatapanku tajam. Orang kepercayaanku ini menunduk. Aku tidak tahu bagaimana caranya.


“kamu baca ya, cih. Dasar bodoh begitu saja harus cari tahu”Reno tersenyum salah tingkah, ternyata dia sama saja.


“nanti kita pikirkan lagi, ayo pulang dulu” ajakku.


Bagaimana mau ngajak makan malam romantis melihatku saja dia tidak mau, bagaimana dia tahu aku tersenyum pandangannya selalu kebawah. Ah, ruwet ternyata.


Aku kira dia akan sama seperti perempuan lain. Bahkan aku sudah menurunkan harga diriku dengan mengajaknya menikah, malah marah.


Ternyata perempuan itu banyak macamnya. Pikirkan dulu kesembuhan abangnya. Bawa pulang kakak iparnya buat mereka bahagia, setelah itu urusanku dengan wanita itu. biarkan dulu seperti ini seolah aku tidak butuh, tapi harus tetap di pantau, cerdas bukan.


Amir sudah sadar, Syafira sedang menempuh S2. Lulus nanti langsung dijemput. janganTerlalu lama menunggu. Sebaiknya atur strategi agar semua berjalan mulus.


Membongkar perselingkuhan pacarnya, buat dia sakit hati selanjutnya aku akan datang sebagai pahlawan. Cara yang jitu bukan. Aku sudah menyuruh Reno menjemputnya disekolah, aku menunggu di restoran hotel tempat pacarnya berselingkuh rencana yang matang.


“tuan saya sudah mau sampai sebaiknya tuan jangan terlihat dulu, setelah dia memergoki pacarnya muncullah” bunyi pesan yang dikirim Reno. Aku turuti aku masuk keruangan VIP.


Duduk sambil menunggu kabar dari Reno. Deg-degan bagaimana kalau gagal.


Satu menit...


Dua menit..


Dua puluh menit kemudian,,,


“kamu tega bohongi aku, bilang setia tapi ternyata mendua aku benci kamu. Apa kurangnya aku” terdengar dia meluapkan amarahnya, suara putus-putis karena menahan tangis.


“karena kamu kuno, mana ada pacaran jaman sekarang tidak boleh pegangan tangan, ciuman, itu kan wajar. Kamu tuh sok alim aku bosan sama kamu” wajar gundulmu. Mesum koq wajar.


“aku mau kita putus jangan hubungi aku lagi” suara tangis dan amarahnya sama kencang. aku bahagia... rencanaku berjalan mulus


“Ada apa ini” aku muncul dengan keren.


“Tu,,,tuan ada disini?”laki-laki playboy itu gugup melihatku.


“apa Anda mengenali saya” tanyaku pura-pura


“maafkan saya tuan, saya sudah membuat keributan maafkan saya” laki-laki itu hampir berlutut. Aku mundur.

__ADS_1


“tidak apa-apa kebetulan saya sedang ada acara makan siang dengan calon istri saya, ayo sayang” ku rangkul bahunya. Membawa ke ruangan tempat aku akan makan siang romantis aku yakin kali ini dia akan terkesan.


“kamu calon istrinya, kamu tega ya selingkuhin aku. Ternyata selama ini kamu pura-pura polos dan lugu ternyata...”kilat amarah tergambar di wajah laki-laki itu.


“jaga ucapanmu kalau kamu masih sayang jabatanmu, dan jangan pernah berkata buruk tentang dia. Kamu tahu sendiri akibatnya” ancamanku tidak main-main kalau menyangkut wanita ini.


Memberikan tisu yang ada dimeja, dia mengusap air matanya yang masih mengalir. Aku tarik nafas panjang. Sudah tahu buaya, masih ditangisi juga. aku menunggu tangisnya reda.


“ada apa kamu membawaku kesini”tanyanya setelah berhasil menguasai diri.


“tentu mengajak kamu makan siang, kamu pasti lapar setelah menangis tadi” ucapku santai


“apa kamu tidak ingin bertanya aku bersedia atau tidak. Kamu pikir aku apa?, membawaku seenaknya. Dengarkan aku baik-baik. kamu sudah membuatku malu disekolah. Menyuruh anak buahmu membawaku kesini”salah lagi. yang betul bagaimana.


“bukankah sekarang kamu tahu kalau pacarmu itu bajingan, seharusnya kamu berterima kasih bukan marah-marah” memang aneh wanita bukannya senang malah marah


“baik terima kasih. Aku pulang” dia hendak berlalu.


“makan dulu nanti kamu lapar” iba juga aku melihatnya. Emang begitu menyakitkan kah patah hati sampai menghilangkan selera makan.


Dia berlalu tanpa menoleh ke arahku. Salahku dimana?.


Semua yang aku lakukan selalu salah wanita itu tudak pernah terkesan. Amir dan syafira sudah hidup bahagia. Kelahiran anak keduanya sudah membawa kebahagiaan untuk mereka. Aku bisa bernafas lega sekarang. Sekarang bagaimana caranya aku mengajak wanita pujaannku itu menikah. Bahkan Amir pun tidak bisa membantuku.


Disinilah aku sekrang duduk berdua direstoran yang sudah di rancang romantis untuk makan malam berdua. Dia duduk dihadapanku setelah Reno menjemputnya tadi.


“mengapa kamu tidak pernah terkesan dengan usahaku” tanyaku membuka pembicaraan setelah berdiam diri cukup lama, bahkan makananpun tidak tersentuh.


“semua yang tuan lakukan atas ide Reno, seharusnya tuan menikah dengannya karena dia yang paling paham tentang tuan.”ucapnya sinis


“aku masih normal” jawabku singkat keterlaluan sekali dia menyuruhku menikahi Reno.


“kalau begitu, berhenti mengganggu hidup saya” mengganggu apa memangnya.


“baik saya mengalah, seperti apa laki-laki yang kamu inginkan, saya akan berubah” tidak ada gunanya memaksa wania ini. dia akan semakin membenciku.


“tuan tidak akan sanggup”


“katakan saja, saya akan berusaha” tekadku bulat untuk mendapatkannya. Apapun itu akan aku lakukakan.


“saya ingin laki-laki sederhana. Menikahi saya karena cinta. Setia, selalu ada waktu untuk saya. Berjalan di tempat keramain seperti orang normal, jalan-jalan malam minggu sambil makan di warung tenda.


Mengerti dan menerima profesi saya. Tidak memaksakan kehendak” panjang sekali, sepertinya dia sengaja melakukan itu. ada beberapa point yang tidak bisa aku lakukan.


“baik, kalau begitu kita akan menikah dulu setelah itu, aku akan mengabulkan semua permintaan yang kamu sebutkan tadi. Aku akan berusaha” jawabku penuh keyakinan.


“bagaimana kita bisa menikah sementara tuan tidak memenuhi syarat” jawabnya. Wajahnya gusar. Aku gemas melihatnya sungguh. Wanita berhijab yang telah mampu meruntuhkan pertahananku.


Wanita sederhana yang telah membuatku rela menunggu bertahun-tahun. Tapi hari ini Aku sudah tidak bisa menunggu lagi.


“bersiaplah kita akan menikah tiga bulan lagi itu sudah waktu yang paling lama. Aku sudah memikirkannya”


“saya tidak mau” cepat sekali dia menjawab. Sepertinya tanpa berpikir


“memang apa yang salah”


“saya tidak mencintai tuan”sekarang dia berani menatapku, dia pikir aku takut ditatap setajam itu.


Bahkan aku ingin melihat lebih lama bola mata bening itu. jantungku, bekerjasamalah sebentar, jangan sampai aku terlihat gugup hanya karena dia menatapku.


“tidak perlu biarkan aku yang mencintaimu. Kamu cukup jadi istriku saja ” wajahnya memerah. Dia marah aku tahu.


“saya tidak bisa masak”


“saya bisa masak”


“saya tidak bisa menjadi istri yang baik”


“akan saya ajari karena itu sudah tugas suami, dan ingat mulai besok aku akan menyuruh anak buahku mengawasimu di sekolah. Menghindari laki-laki bajingan itu mendatangimu. Kamu pantas bahagia. itu sudah penawaran terahir”


“jangan lakukan itu, jangan membuatku malu. Kalau sampai itu terjadi saya akan membenci tuan” berani sekali dia mengancamku wajahnya semakin dipenuhi amarah.


Suatu saat dia akan tahu yang aku lakukan sekarang semua demi kebaikannya.


“semakin kamu membenci saya maka pernikahaannya akan semakin dipercepat” tidak ada penawaran lagi, aku tidak rela dia kembali pada mantannya yang brengsek itu. bahkan aku tidak rela dia dilihat laki-laki lain.


Memangnya siapa bajingan itu mau bersaing denganku. Seenaknya menyakiti hatinya. Untung saja belum menikah.

__ADS_1


__ADS_2