
“saya gagal melindunginya, saya sudah gagal. Bagaimana saya bisa menampakkan wajah dihadapan bapak dan ibu” katanya waktu itu. Pertama kali saya pribadi melihat tuan fatih, rapuh sampai menangis. Kami yang dalam satu mobil tercengang semua.” Pribadi yang tangguh tak terkalahkan oleh lawan bisnisnya. Menangis penuh penyesalan dihadapan kami.
Cerita sri, masih berlanjut.
“Ketika sampai dijakarta saya ditugaskan untuk menemui ibu dengan cerita yang beliau karang, dengan berbekal fotocopy ijazah dan KTP yang entah punya siapa. Saya juga tidak tahu. Ketika saya melamar ditempat ibu, saya kaget, mengapa tuan fatih mau membantu wanita bersuami dan punya anak. Selanjutnya saya lebih kaget lagi saat ibu langsung menerima saya tanpa curiga, bahkan memberikan kepercayaan penuh untuk mengelola toko. Seandainya saya bukan orang jujur mungkin toko ini sudah habis dengan isinya” kata wanita itu
“ibu orang baik, bahkan terlalu baik. kelemahan ibu hanya satu, gampang percaya sama orang. Hati-hati lho bu, banyak oarang jahat yang sering memanfaatkan orang seperti anda” katanya dengan nada serius
“kamu tidak usah cemas, saya sedang mengalaminya sekarang. Dibohongi tanpa saya sadari” jawabku sekedar menyindir ucapannya tadi.
“seru sekali ceritanya” suara laki-laki yang tidak ingin aku temui untuk saat ini
“untuk apa abang datang kesini, mau mentertawakan kebodohan fira?” tanyaku pada bang fatih yang tiba-tiba duduk di kursi tepat didepanku.
“Tidak ada yang bisa fira banggakan sekarang, kalau dibalik semua ini tidak lebih ada campur tangan CEO GLOBAL GROUP” lanjutku masih ada kesal untuk laki-laki ini.
“dari dulu sampai sekarang abang selalu bangga sama fira apapun yang fira lakukan abang selalu bangga.” jawab laki-laki yang sudah tidak malu menampakkan wujud aslinya dihadapanku.
“abang tidak bisa lama-lama, fira sudah tahu semua ceritanya. Abang rasa sekarang fira sudah tidak marah lagi kan?” pertanyaan macam apa itu. Cih, membuatku malu saja.
aku mengangguk, semua yang dikatakannya benar. Tidak ada alasan aku untuk membencinya. Setelah mendengar cerita dari kirana dan monica.
Hpku bergetar tepat setelah bang fatih pergi. Tertera nama Edo disana. sekretaris mas Amir dikantor.
“Assalamualaikum, mas Edo. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku dengan suara ramah.
“waalaikum salam, mohon maaf mengganggu waktunya, ini ada beberapa berkas yang harus ibu tanda tangani bisa ibu kekantor?” kata laki-laki yang menjabat sebagai orang kepercayaan suamiku itu.
“mengapa bukan suami saya saja mas” kataku, perusahaan itu kan punya mas Amir. Sudah aku katakan kalau aku sama sekali tidak mengerti tentang perusahaan property dan konstruksi. Apa yang harus aku tanda tangani.
“tapi kepemilikannya atas nama ibu sekarang, semua saham atas nama ibu. jadi yang berhak tanda tangan disini hanya ibu syafira” jelasnya
“baik, tapi tidak bisa sekarang, saya akan usahakan secepatnya” jawabku. aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa aku bisa menjalankan dua perusahaan sekaligus. Ada-ada saja suamiku itu.
“saya tunggu secepatnya, karena ada beberapa berkas yang harus segera ditanda tangani” kataya lagi.
“baik saya akan usahakan. Terima kasih atas kerja samanya mas”kataku
“baik bu ini sudah kewajiban saya, kalau begitu saya tutup dulu masih banyak yang harus dikerjakan” nada sambung terputus dari seberang. Aku bersyukur ahir-ahir ini beban pikiranku sedikit terangkat.
__ADS_1
Hilang sudah cemas, ketakutan dan rasa curiga terhadap suamiku,semoga kebahagian akan terus mengelilingiku.
***
Tidak ada alasan untuk tidak bahagia saat ini. benciku pada bang fatih menguap begitu saja setelah mendengar cerita sebenarnya dari sri. Dan suamiku selalu bersikap manis sampai sekarang. Aku mengurangi kesibukanku. Aku usahakan pulang kerumah sebelum suamiku pulang seperti dulu.
menyambutnya pulang kerja, makan malam bersama bercengkrama dengan Rania. Putriku itu sudah naik ke TK B sekarang. Lebih aktif dan semakin cerewet.
Keingin tahuannya semakin besar. Kadang kewalahan menjawab pertanyaan yang diajukan. Tapi aku bangga putriku tambah cerdas.
Lelah rasanya harus memeriksa beberapa tumpukan berkas dihadapanku. Ini hari kedua aku ada dikantor PT. DUA MUTIARA. Nama perusahaan yang dibangun suamiku, yang dengan begitu mudahnya diserahkan padaku. Nama itu juga terinspirasi aku dan Rania katanya entahlah.
Dari bulan kebulan grafik keuntungannya menunjukkan angka kenaikan yang signifikan, hebat sekali suamiku mengelola perusahaan ini. aku tidak tahu bagaimana dia bisa membagi waktu antara pekerjaanya di perusahaan BUMN dan diperusahaannya sendiri.
Beberapa berkas sudah aku tanda tangani. Tinggal dua lagi setelah itu selesai, aku akan pulang, mandi air hangat dan istirahat, sempurna bukan.
Aku bolak balik laporan keuangan ini, ada angka pengeluaran besar yang tertera disana. buat apa uang sebanyak ini. aku memang tidak paham tentang laporan lainnya. Tapi kalau laporan keuangan itu memang keahlianku.
“Mas Edo tolong keruangan saya sebentar” kataku lewat sambungan telepon genggam.
“iya, ada yang bisa saya bantu bu” kata laki-laki ini setelah berada diruanganku
“ini bu, ada bukti transfer dan laporan rekening koran dari bank, semuanya terlampir disini” kata Edo setelah beberapa saat masuk kembali keruanganku, dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
Aku periksa satu persatu, membaca dengan teliti. Sampai ahirnya aku tercekat pada satu nama yang tertera disana. bukti transfer sekitar satu minggu yang lalu sesuai dengan tanggal yang tertera disana.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Dadaku sesak. Pandanganku kabur seketika. Tanganku gemetar dan kertas yang kupegang juga bergetar.
Bukti transfer sebesar 1.5M atas nama Felicia Andara. Ya Allah...
Tubuhku lemas seperti tak bertulang, ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Ada apa dengan suamiku. ternyata perubahannya selama ini hanya akal-akalannya saja. mengapa Mas Amir tega melakukan ini, menyakitiku untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.
Apakah mereka masih punya hubungan dibelakangku, apakah suamiku menghubungi Andara diam-daim. Dan sederet pertanyaan lain muncul di benakku. Mengapa mereka berdua tega menyakitiku lagi dan lagi.
“ada apa bu, apa ibu mengalami kesulitan?” tanya Edo keheranan, tatapan wajahnya seperti orang bingung.
“siapa yang mentransfer uang sebesar ini, tolong lihat laporan ini mas” jawabku sambil memberikan laporan yan berisi bukti transfer kehadapan Edo.
“Saya bu, tapi atas perintah bapak. Ada yang aneh” tanyanya lagi. aku menggeleng.
__ADS_1
“Apa, perempuan ini pernah datang kesini menemui bapak?” tanyaku lagi ingin memastikan kebohongan mereka berdua dibelakangku. Dengan dada yang berdetak kencang.
“tidak pernah bu, selama saya bekerja disini belum pernah bapak datang membawa perempuan, kecuali klien. Itupun langsung disuruh konsultasi ke saya” jawab Edo panjang lebar. Apakah mereka bertemu diam-diam diluar?
“apa Mas Edo tahu perempuan yang namanya tertera disini, atau pernah bertemu?” aku tunjuk bukti transfer
“tidak bu, dan saya belum pernah bertemu sekalipun” jawabannya lugas kutatap lekat wajahnya. Tidak ada apapun yang perlu dicurigai dari laki-laki ini.
Dia tidak pernah mengerti konflik rumah tanggaku, dan dia juga tidak kenal Andara. Jadi tidak mungkin aku menceritakan semuanya kepada Edo.
Hati ini kembali sakit, luka yang sudah mengering kembali berdarah. Hatiku hancur untuk kedua kalinya. Aku akan pastikan untuk kali aku ini tidak akan memaafkanmu mas.
“saya belum memberi tahu bapak kalau saya sudah ransfer” kata-katanya sudah tidak aku pedulikan lagi.
“mas Edo bis pergi sekarang terima kasih” jawabku singkat.
Air mataku meluncur dengan deras, hatiku benar-benar sakit. Kesekian kalinya kau tidak siap dengan penghianatan dan suamiku melakukannya lagi
Kepercayaanku yang sudah mulai tumbuh, dia hancurkan lagi. Apakah aku bisa bangkit setelah ini. tapi aku akan menyesaikan masalah ini sendiri. persetan dengan stasus. Aku tidak ingin menyiksa hati ini hanya karena mempertahankan sebuah status.
Karena yang terpenting sekarang adalah hatiku harus kuat. Aku harus bahagia sudah cukup laki-laki itu membawa penderitaan dalam hidupku.
Mengapa mereka tega mempermainkan perasaanku,. Apakah kata talak yang diucapkannya waktu itu hanya sandiwara saja?. Ada sakit yang tak terlihat tapi rasanya lebih menyayat. Dari pada aku meratapi nasib lebih baik aku akan cari jalan keluar sendiri.
“sri, beasiswa S2 yang ditawarkan kemarin jadi saya ambil, kamu tolong urus berkasnya ya, nanti kalau ada yang kurang hubungi saya” kataku pada sri lewat sambungan telepon.
Tidak ada pilihan lain dalam hidupku, selain pergi menjauh dari kehidupan mereka. Silahkan berbahagia diatas penderitaanku, tapi akan aku pastikan sebelum itu aku akan menceraikan suamiku.
Tidak peduli status janda. Aku akan melakukannya sendiri sekalipun dia tidak mau, karena aku yang menginginkannya.
Tidak boleh ada seorang pun yang tahu dengan rencanaku. Bahkan kedua orang tuaku sekalipun. Aku tahu tidak ada seorangpun yang akan mendukung keputusanku. Bertahanpun aku sudah tidak punya alasan.
Ternyata tidak ada yang berubah dari wanita ular itu, uang sebanyak itu pasti akan dia gunakan untuk memenuhi ambisinya. Terlalu baik aku memperlakukan mereka, dan dengan mudahnya aku memaafkan mereka. Tapi untuk kali ini tidak akan pernah, karena aku yang merasakan sakit tanpa mereka tahu seperti apa rasanya.
“bagaimana hari ini, apa kamu capek. Mau mas pijat biar rileks” kata laki-laki yang paling aku benci untuk saat ini. aku menggeleng pelan kupaksakan senyum meski hati ini tidak terima. aku aku harus pura-pura baik untuk beberapa hari kedepan. Sampai urusanku selesai aku akan pergi meningalkan laki-laki bajingan yang tidak punya hati ini.
Aku tidak akan bertanya tentang transfer uang itu. Karena aku tahu dia akan mencari beribu alasan untuk menutupi kebohongannya. Dan aku tidak boleh luluh. Silahkan nikmati penghianantan itu. Tapi aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya.
Sudah cukup rasa sakit yang aku derita selama ini. dan aku tidak akan mengulangi kebodohan sama.
__ADS_1