
Kesekian kalinya aku menorehkan luka dan kecewa dihatimu, apakah aku masih berhak mendapatkan kepercayaanmu, entahlah. Bahkan untuk menatap wajahmu aku sudah tidak punya muka. Bagaimana aku bisa tidak berdaya dihadapan Andara, wajahmu yang bingung melihat perubahanku hanya dalam hitungan menit. Percayalah apapun yang aku lakukan itu semua demi kebaikanmu dan Rania. Hatiku, tetap kamulah penguasanya.
Amir.
***
“Titip Rania lagi ya, maaf ya ki mbak sering ngerepotin kamu” kataku pada kirana, setelah menjemputnya kesekolah, aku mengantarkan Rania kerumah kirana lagi. tidak enak sebenarnya merepotkan wanita anggun berhibab peach didepanku ini, tapi aku tidak punya pilihan lain.
“Mbak fira tidak usah sungkan, aku seneng dititipin Rania. Malah aku sudah punya kamar sendiri buat dia. Mau lihat?” dia menarik tanganku kesebuah kamar yang bercat serba pink. Hanya ada kasur kecil dan boneka serba pink didominasi hello kitty kesukaan Rania dalam jumlah banyak.
“bunda baru tahu ya...”suara anakku, ku belai rambutnya, aku lega. Memang tidak salah aku menitipkan Rania sama kirana.
“makasih ya ki...” ucapku tulus. Tidak tahu harus berkata apalagi.
Dalam keadaanku seperti ini Tuhan masih memberikanku orang-orang yang tulus seperti kirana dan sri. Di kota aku tidak punya sipa-siapa selain bang Raihan. Aku bahkan jauh dari orang tua dan sanak saudara.
Kupacu sepeda motor matic kesayanganku. Menunggu orang yang akan melihat ruko. Kami janji bertemu jam 10.
Jarak dari toko kerumah kirana hanya sepuluh menit saja.
Semoga belum datang, sehingga aku bisa menyambutnya. Paling tidak aku akan memberikan kesan pertama yang baik. Aku sudah menyuruh sri untuk merapikan ruko atas bawah agar orangnya terkesan.
“ini orangnya pak” suara Sri menyambutku setelah aku parkirkan sepeda motor didepan ruko. Ah, aku terlambat ternyata orangnya datang duluan. Dihadapan sri berdiri laki-laki tinggi dan rapi seperti pegawai kantoran lengkap dengan dasi. Rambutnya tertata rapi sepatunya hitam mengkilat, jauh dari yang aku pikirkan. Aku kira pemiliknya bapak bapak tua seperti pak Rudi, ternyata aku salah. Laki-laki dihadapanku ini tampan.
“mari duduk didalam saja pak.”jawabku mempersilahkan
“maaf masih jemput anak sekolah” lanjutku mempersilahkan, bapak ini duduk. Kalau ku taksir umurnya masih 20an. Meja kerjaku yang hanya ada dua kursi saling berhadapan. Tidak ada meja komputer disana karena pikirku ini hanya toko kecil biasa.
“Sri, tolong ambilkan bapak ini minuman ya, bapak minum apa” tanyaku, Sri beranjak ke lemari pendingin yang berisi jejeran minuman dingin disana
“Air putih saja” jawabnya singkat
“kalau boleh jangan panggil saya bapak, kelihatan tua. Panggil nama saja biar enak. Oiya nama saya Reno Setiawan, panggil saja Reno” kami berjabat tangan
“syafira aini, panggil saja fira” kataku memperkenalkan diri.
“jadi begini bu, saya sudah melihat ruko, tadi diantar sri. Anda orang yang bisa dipercaya kalau saya lihat. Jadi, saya bersedia memperpanjang kontraknya berapa tahun sesuai keinginan ibu, bagaiman?” laki-laki tinggi ini menjelaskan
“hah...”secepat itu dia memberikan kesimpulan. Bagaimana bisa. Reno melihatku bingung.
“mengapa ibu fira bingung, bukankah tujuan ibu mau memperpanjang, atau akan saya batalkan saja perjanjian ini” suaranya menyadarkanku yang masih tidak percaya
“jangan. Iya, saya mau” sergahku cepat.
“satu lagi, kalau ibu mau, toko didepan, yang diseberang jalan itu, juga sekalian kalau mau dikontrak, nanti saya sampaikan ke pemiliknya. Kebetulan yang punya orangnya sama. Kemarin ada dari pihak ******mart mau menyewa, tapi beliau tidak berkenan. Beliau juga menyuruh saya menawarkan ke ibu barangkali berkenan karena saya melihat barang-barang ditoko ini sudah banyak, dengan kondisi yang sempit tidak akan muat. Bagaimana bu?” penjelasannya membuatku tak percaya, secepat ini Tuhan mendengarkan doaku. Apa aku sedang bermimpi.
__ADS_1
“bagaimana bapak bisa tahu kalau saya mau cari toko yang luas” kataku masih kebingungan
“ saya tidak tahu, saya hanya menawarkan”. Oiya ya,,, hehehe jiwa kepoku meronta-ronta
“baik pak, saya ambil dua-duanya, jadi bagaimana dengan uang sewanya”
“Ada dalam berkas perjanjian ini, ibu bisa membacanya” dia menyodorkan map berwarna biru langit dengan gambar dan logo sebuah perusahaan bertuliskan “GLOBAL GROUP”. Kuambil, membuka perlahan dan membacanya.
Dalam sebuah perjanjian kerja sama, sudah pasti kadua belah pihak ingin diuntungkan.tapi ini, semua butir perjanjian dalam setiap poinnya aku yang diuntungkan. Diantaranya, Uang sewa bisa dicicil perbulan atau sesuai kemampuan. Ada lagi, dalam jangka waktu 5 tahun berturut-turut kalau penjualan melampaui target maka ruko dan toko yang baru ku sewa akan menjadi milikku. Apa apan ini. Mana ada perusahaan yang mau rugi begini, Aneh sekali.
Perusahaan ini bergerak dalam bidang property, retail, perhotelan dan masih banyak lagi aku tidak mampu membacanya.
Orang kalau terlanjur kaya memang begitu, bikin bisnis apa saja pasti sukses. Lain dengan kita, membuat satu bidang usaha saja harus banting tulang peras keringat sampai berdarah-darah baru maju, belum sukses. istilahnya bukan dia yang cari uang tapi uang yang mencarinya.
“Apakah atasan bapak tidak takut rugi, semua yang disebutkan disini menguntungkan saya secara sepihak” tanyaku penasaran
“Bukankah itu bagus, ibu bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat. Bukankah itu tujuan kita membuka usaha” iya juga, aku membenarkan ucapan laki-laki didepanku ini.
“maksud saya, apa perusahaan bapak tidak ingin mendapatkan keuntungan juga” sanggahku hati-hati.
“Perusahaan saya, punya banyak bidang usaha tidak hanya ruko dan toko ini bu, jadi keuntungan yang didapat juga banyak, ibu kalau menghitung pakai kalkulator keluarnya eror karena angkanya sangat banyak berjejer. Harga toko dan ruko didepan itu hanya keuntungan satu hari diperusahaan saya. Jadi bagaimana, ibu mau?” penjelasannya panjang lebar berusaha meyakinkan. Tetap saja aku merasa ada yang janggal.
“tidak perlu pikirkan untung ruginya perusahaan saya, pikirkan kelancaran dan keuntungan usaha ibu kedepannya”sambungnya lagi.
“setuju saja bu, kesempatan tidak datang dua kali” itu suara sri.
“baiklah, saya setuju. Boleh saya minta nomor rekening perusahaan bapak nanti saya transfer uangnya untuk biaya sewa 5 tahun kedepan biar sama-sama enak”
“tidak usah, uang saya cukup. Biar sama-sama diuntungkan” jawabku yakin
“oke, kalau begitu ini nomer rekeningnya” Reno memberikan sebuah kartu berisi deretan angka nomor rekening perusahaannya.
“ibu boleh tanda tangan disini kalau sudah transfer” dia membuka kertas berisi surat perjanjian yang berisi tanda tangan kedua belah pihak.
“eh, tunggu, kenapa berkasnya sudah jadi?, katanya masih mau disampaikan kepemiliknya. Terus kenapa jumlah sewa yang tertera sudah termasuk toko yang didepan?” benar-benar aneh bukan.
“saya membawa beberapa berkas bu, yang ditangan saya ini, perjanjian kontrak satu toko kalau yang saya kasihkan ke ibu itu untuk keduanya. Kalau ibu mau salah satunya berkasnya saya ganti. Biar toko yang besar saya berikan ke yang lain saja” kulirik tangangnnya. Memang benar, ada beberapa berkas lagi.
“saya orang kepercayaan beliau, asal sudah ada tanda tangan persetujuannya keputusan ada di tangan saya” lanjutnya, mengurai kebingunganku
“Baik....”ku buka aplikasi sebuah mobile banking di HP memasukkan nomer rekening dan jumlah uang sewa yang disepakati selama 5 tahun. Selesai.
Jaman memang sudah canggih, semua bisa dikerjakan menggunakan HP tidak perlu repot mencari ATM. Berterima kasih untuk mereka yang sudah mempermudah transaksi melalui aplikasi di HP.
“Sudah masuk ya mas...” sambil memperlihatkan bukti di Hpku
“oke, ibu bisa tanda tangan disini” jawabnya menunjuk pada kolom tanda tangan yang masih kosong.
__ADS_1
“terima kasih mas” jawabku setelah menanda tangani berkas , berdampingan dengan tanda tangan yang disebelah. Seperti kenal dengan tanda tangan itu, tapi siapa ya?. Ah, sudahlah yang penting deal.
“oiya bu, terima kasih kalau begitu saya permisi dulu, maaf airnya saya bawa” jawabnya seraya mengambil minuman botol itu. Kami bersalaman
“semoga usaha ibu sukses” lanjutnya sebelum berlalu
“amin...terima kasih” jawabku.
Kulihat reno berjalan kedepan pintu masuk perumahan ini, dia memarkir mobilnya terlalu jauh. Kalau diparkir didepan toko kan masih bisa aneh sekali laki-laki ini. Seberapa penting jabatannya di perususahaan itu. Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Kalau nanti usahaku tidak berjalan sesuai harapan, bisa tidak ya minta tolong carikan pekerjaan diperusahaannya.
Uang tabungan dari suamiku masih cukup untuk beberapa tahun kedepan. Bukan apa-apa aku hidup hemat selama ini. Untuk berjaga-jaga apabila suamiku mengalami masalah dalam usahanya. Namanya usaha pasti ada untung ruginya
Sekarang terbukti, kita tidak tahu bagaimana hidup kedepannya suami yang aku anggap sebagai tulang punggungku. Ternyata membawa wanita lain kedalam rumah tangga kami, bukan hanya hati suamiku yang dia rebut, bahkan jatah uang belanjakupun dia ambil. Aku tidak mungkin meminta. Kebutuhanku dan keinginan Andara tidak sebanding.
Harga tas, sepatu, baju, bahkan mobil yang diberikan Mas Amir harganya cukup untukku makan satu tahun. Hanya untuk satu tas bagaiman dengan yang lain. Liburan, arisan jajan yang tidak biasa hanya bisa membuatku mengelus dada.
Urusan sewa selesai, tinggal menghubungi perusahaan retail untuk menerima tawaran kerjasama. Alhamdulillah,,,ternyata Allah memudahkan segalanya.
Besok mereka akan mengecek, ke toko bersama-sama. Setelah aku menghubungi untuk menerima penawaran yang mereka ajukan beberapa waktu yang lalu.
Pulang lebih awal dari kemarin karena ingin beristirahat dengan cukup. Masuk kerumah aku melihat Andara dan Mas Amir juga sudah ada diruang keluarga. Aku melewati mereka sambil menggandeng Rania, berjalan kekamar meletakkan tas dan barang bawaan Rania.
“aku ingin bicara, setelah selesai aku tunggu dibawah” itu suara suamiku. Ketika aku berada didepan mereka. Apalagi yang mau dibicarakan bukankah semua keputusan dia ambil sepihak. Ada hal penting apa lagi.
“iya” jawabku singkat memang mau bicara apalagi. Perlakuannya tidak akan manis kalau ada Andara. Bayangan tadi malam juga masih terasa menyakitkan.
“Maaf mbak saya mau, status saya dengan mas amir diperjelas” itu suara maduku. Setelah aku duduk di ruang keluarga bergabung dengan mereka.
“apalagi yang kurang jelas” jawabku ketus
“maksudnya saya kan hanya istri sirinya mas amir, saya mau menjadi istri sahnya” jawaban andara bagai ada batu besar yang menghantam jantungku. Jadi ini alasan mereka pulang lebih awal. Tidakkah cukup satu luka yang mereka berikan. Ditambah lagi luka yang lain. Terbuat dari batukah hati mereka atau aku yang mereka anggap batu yang tidak punya perasaan.
“apa bedanya, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini, tanpa harus menjadi istri sahnya” Mas Amir hanya terdiam. Laki laki itu menunduk dalam entah apa yang dia pikirkan.
“tidak akan ada dua akte nikah, dengan nama suami yang sama dirumah ini, apa yang kamu bicarakan?” tanyaku menatap tajam Andara.
“saya mau menikah secara resmi yang tercatat di catatan sipil, seperti istri pada umumnya” ngotot perempuan ini. Kehadirannya saja sudah membuatku sengsara, ini apalagi.
“itu artinya akan ada yang mengalah dari hubungan ini.”jawabku
“Mas Amir sebagai kepala rumah tangga, siapa yang akan mas pilih” tanyaku pada suamiku
Dia menatapku tajam, pandangan kami bertemu kulihat sendu tatapan itu. Matanya seolah menolak permintaanku.
“aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian”jawabnya lirih
“baik, kalau memang begitu keputusanny biar aku yang keluar dari rumah ini” jawabku tegas. Meskipun rasa sakit mendera aku tidak peduli. Jawaban suamiku sudah menegaskan kalau dia memang tidak bisa melepaskan Andara. Kembali hatiku kecewa, sakit yang bertubi-tubi menghantam hatiku. Kesekian kalinya aku tidak mendapat perhatian suamiku,keinginanku sederhana sekali saja berikan aku pembelaan dihadapan maduku. ternyata itu hanya harapan kosong dalam kehampaan.
__ADS_1
“kalau memang harus ada yang keluar dari rumah ini bukan kamu orangnya seharusnya perempuan itu yang keluar....” jawaban lantang dari ruang tamu, kami semua menoleh bersamaan. Nada tegas penuh amarah membuatku terkejut.
“