BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
JANJI YANG TERLANJUR TERUCAP


__ADS_3

Perubahan lain dari suamiku, setiap pulang dan berangkat kerja, aku selalu diantar jemput. Bahkan sebelum berangkat kerja dia menyempatkan diri mengantar Rania kesekolah. Manis sekali bukan.


Tapi ketakutan itu masih ada, aku bahagia dengan perlakuannya. Sungguh terlebih ketika Rania maunya bobok sama ayahnya. Putriku itu sangat manja kalau ada Mas Amir.


Mau belajar sama ayah, disuapin sama ayah, mau main sama ayah. Aku sebagai ibunya kadang merasa tidak dibutuhkan. Aku sempat melarang suamiku menuruti semua keinginannya.


Tapi dia berdalih mengganti waktunya yang dia sia-siakan untuk wanita lain, hingga sempat ada jarak antara ayah dan anak itu.


Ku tatap dua orang didepanku, Rania sedang mendandani ayahnya. Suamiku pasrah saja ketika dipasangi lipstik, rambutnya dipasang pita hello kitty.


Hatiku nyeri tanpa sebab. Aku akan bertahan demi senyum Rania agar tetap mengembang. Demi harga diri ibu dan bapak tak apa aku akan mencoba menghapus kenangan buruk itu.


“bunda lihat, ayah cantik kayak barbie” suara anakku. Merujuk boneka barbie kesayangannya.


Eyeshadow, blush on. Alis. Dan Lipstik yang berantakan membuat wajah suamiku terlihat lucu.


Aku tidak bisa menahan tawa. Kupegangi perut yang terasa kram. Ku buka mata setelah tawaku reda.Rania dan ayahnya melihatku tak berkedip.


“bunda,,,Rania sudah lama nggak lihat bunda tertawa, bunda cantik” suara anakku benar-benar menghentikan tawaku seketika. Ya Allah...sampai lupa kapan terahir aku tertawa selepas ini.


Aku tarik nafas sambil memegang tengkuk belakang. Malu rasanya dilihat mereka sampai melongo begitu.


“kenapa berhenti sayang, tertawalah. Suamimu ini rindu tawamu yang dulu. Sungguh mas tidak sedang bercanda.” Tatapannya serius.


Aku yang duduk diatas sofa. Sedangkan Mas Amir dan Rania duduk dibawah beralaskan karpet.


Semua perabotan yang rusak sudah diganti suamiku. Dia yang membelinya sendiri sepulang kantor. Tidak melibatkan aku karena takut ku kecapean katanya waktu itu.


Dia mengusap bahuku, mencium kepalaku sambil membelai rambutku yang tergerai sebahu.


“tertawalah sayang, lepaskan semua yang membebanimu. Aku bahagia melihatnya. percayalah” katanya lembut.


Tepat ditelingaku. Aku geser badanku menjauhi suamiku beberapa senti.


“kamu kenapa?, apa tidak nyaman mas peluk?” tanyanya sambil menatap wajahku lekat.


Aku menggeleng. Sebenarnya aku benar-benar tidak nyaman. Diperlakukan begitu mesra. Perasaan canggung itu masih ada.


Berbagai cara dilakukan suamiku untuk membuatku nyaman berada didekatnya.


“boleh mas tanya sesuatu” tanyanya sambil merebahkan kepalanya dipangkuanku. Aku bingung harus berbuat apa, kalau dulu aku akan membelai kepalanya. Memijatnya lembut.


Dia menarik tanganku kedadanya, seperti bisa membaca kecanggunganku.


“hmm...”hanya itu yang keluar dari bibirku.


“apakah kamu masih mencintaiku?” pertanyaan macam apa ini, kulirik Rania dia sibuk dengan bonekanya. Memastikan kalau anakku tidak mendengar pertanyaan ayahnya.


“tidak perlu aku jawab mas, buktinya aku masih disini tidak kemana-mana?” jawabku


“meskipun kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”tanyanya lagi, membuatku tersentak kaget.


“apa aku mengatakan itu?”tanyaku balik. Apakah sikapku menunjukkan tanda-tanda itu?. Rasanya tidak mungkin. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak mengerti perasaanku.


“kalau kamu bertahan karena masih mencintaiku, aku ingin bukti.” Katanya sambil menatapku dengan tatapan tidak biasa.


Tiba-tiba suamiku menarik kepalaku hingga menunduk.


Bibir kami bertemu, terasa lembut, dia mulai menggerakkan, mel*m*tnya pelan. Aku terpancing kubalas l*****nnya. Ci*m*nnya semakin dalam. Dadaku berdebar hebat. Jujur sudah lama aku tidak melakukannya. Semenjak kedatangan Andara dalam kehidupanku sampai detik ini.


Nafasku memburu. Ku pejamkan mata aku benar-benar menikmati ini sampai ahirnya


“ayah, jepit rambutnya mana” kami berdua tersentak kaget dengan suara Rania. Mas Amir duduk salah tingkah.


Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah. Ternyata jepit itu masih bertengger di rambut suamiku.


“Rania mau bobok, ayah temani yah”katanya sambil menyerahkan jepit ditangannya. Kulirik jam dinding diatas TV. Jam 8 malam. Seharusnya Rania sudah minta dikeloni.


“tapi Rania belum ngantuk yah,,,”jawab anakku. Memang benar, matanya masih segar tidak ada tanda-tanda mengantuk.


Aku tersenyum sambil menunduk sebisa aku menahan rasa malu dalam diriku, suamiku menatapku dengan tersenyum sama tersipunya denganku.


Duduk kembali disebalahku . menungu Rania mengantuk. Mencium tanganku berulang aku tersipu.


Jam 9 malam. Aku sudah merebahkan diri dikasur, semantara suamiku masih dikamar mandi.


Membersihkan sisa make up, diwajahnya. Kalau diingat jahil sekali anakku. Mengingat ekspresi suamiku aku kembali tertawa sambil menutup mulut, takut terdengar Mas Amir.


Suara notifikasi terdengar dari telepon seluler suamiku yang ada dinakas. Rasa penasaran menghantuiku. Ingin aku membukanya memastikan suamiku tidak ada niat untuk menduakanku lagi.

__ADS_1


Bukan kebiasaanku memeriksa privasi suamiku, aku percaya sepenuhnya. Tapi aku pernah tertipu dengannya, laki-laki itu menyalah gunakan kepercayaanku.


“satu bulan lagi, berjuanglah aku akan datang menagih janjimu” pesan yang tertera disana. dari nomor baru yang tidak diberi nama.


Aku tidak curiga pengirimnya perempuan karena ponsel suamiku tidak dikunci. Berbeda dulu ketika dia punya hubungan dengan Andara. Bahkan ponselnya tidak pernah lepas darinya kekamar mandipun dia bawa.


Aku letakkan kembali ketempat semula, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Suamiku keluar sesaat setelah aku meletakkan Hpnya.


“sudah siap buat adik untuk Rania?” pertanyaan macam apa itu. Kututup wajah dengan selimut menghalau rasa malu yang datang.


“kamu tahu, sikapmu ini sama seperti waktu malam pertama kita dulu, tapi mas suka” ucapnya membuatku tambah malu saja rasanya.


Tiba-tiba dia menarik selimutku, wajah kami bertatapan. Sesaat aku terpesona, suamiku memang benar-benar tampan. Pahatan yang sempurna terbentuk diwajahnya. Alis, hidung, mata, rahangnya benar-benar indah dilihat. Bahkan lentiknya bulu mata itu membuatku semakin mengagumi ciptaan yang maha kuasa,


B*b*r kami bertemu, aku terbuai, debaran jantung semakin menggila. Tangan suamiku masuk kedalam melalui celah bajuku. B*b*r kami masih menyatu. Tangannya sudah berda ditempat tujuan. Badan ku gemetar.


Setelah sekian lama, ini pertama kali aku melakukannya lagi. setelah semua huru hara yang terjadi, setelah sakit yang kurasakan. Aku akan mencoba memberi suamiku kesempatan lagi.


Sampai ahirnya aku tersentak. Kulepaskan c**m*nku dan tangan suamiku secara bersamaan. Refleks aku duduk. Ya Allah...mengapa bayangan dia melakukannya dengan wanita lain jelas tergambar di kepalaku. B*b*r yang sama yang dia pakai untuk menciumnya, tangan yang sama yang dia gunakan untuk merabanya. Tiba-tiba perasaan jijik itu datang.


Sakit kembali mendera hatiku. Mengapa sesulit ini menghapus bayangan penghianatan suamiku. Tak terasa airmataku mengalir membasahi pipiku. Kuusap perlahan.


Aku duduk, memeluk kedua lutut. Tangan suamiku melingkar dibahuku. Mencium rambutku dengan lembut


“maaf untuk semua kesakitan yang kamu rasakan, akulah penyebabnya” bisiknya ditelingaku, suaranya pelan, menggambarkan betapa menyesalnya dia.


“bolehkah aku meminta hakku malam ini, aku takut khilaf. Karena mas masih normal. Hasrat ini segera dituntaskan.” Katanya lagi tepat ditelingaku. Aku mengangguk


“lakukanlah, tapi maaf aku tidak bisa melayanimu, aku belum sanggup” jawabku pelan


Dia melakukannya sendiri. aku tidak ingin membuat dosa lebih banyak lagi. sudah cukup kesekian aku menolaknya. tapi suamiku masih sabar menungguku siap melakukannya.


“semoga Allah mengijinkannya menjadi adik Rania yang sholeh dan sholehah” bisiknya ditelingaku dengan nafas yang memburu, sesaat setelah h*sr*tnya tertunaikan


“hanya ini yang bisa membuatmu tetap berada disampingku. Maaf kalau aku egois tapi aku tidak ingin kehilanganmu” katanya lagi. aku diam tak menanggapi. Air mataku memang tak lagi menetes. Perasaan bersalah menghantam dadaku.


Apakah semua perempuan yang pernah mengalami penghianatan merasakan hal yang sama, atau hanya aku yang memang tidak mampu melupakan. Terlalu pendendam.tapi memang aku tidak bisa membohongi perasaanku dengan berpura-pura.


Aku bangkit setelah suamiku rebah disampingku, aku turun suamiku menahan tanganku


“mau kemana?”tanyanya


Selesai dari kamar mandi. Aku buka laci lemari perlahan agar tidak menimbulkan suara. Mengambil sebutir obat, dan air putih yang sudah aku taruh sebelum tidur. Itu kebiasaanku. Takut sewaktu-waktu haus tengah malam.


“maaf mas, tapi aku belum siap untuk itu. Aku tidak ingin adik Rania mempenyai adik sebelum aku benar-benar sanggup melupakan penghianatan itu” gumamku dalam hati


“mau minum?” menyodorkan pada suamiku, menghalau kecurigaan setelah aku minum obat.


“boleh, terima kasih” jawabnya, mengambil gelas dari tanganku dan meminumnya.


Sudah satu jam lebih aku duduk sendiri di cafe ini, hanya cappuchino latte dan roti bakar keju yang pesan. Dan belum kusentuh sama sekali.


Aku benci diriku yang tak bisa melupakan kepedihan ini. Mengapa begitu sulit, tak terasa airmataku menetes lagi dan lagi.


Cafe ini masih sepi pengunjung karena belum jam makan siang, aku sengaja mengambil duduk dilantai dua menghadap ke kaca melihat pemandanagan luar, sengaja membelakangi pintu masuk.


Takut ada yang melihat mana tahu aku menangis. Benar bukan, air mata ini begitu gampangnya keluar kala mengingat perselingkuhan suamiku.


Kepedihan yang paling ku ingat ketika aku memintanya meninggalkan Andara, dengan berlinang air mata aku memohon, tapi apa jawaban yang kudapat. “aku yang menginginkannya menjadi istriku” kalimat itu masih terngiang dengan jelas.


Rasa sakit ini kembali menderaku. Adakah perselingkuhan yang dilakukan dengan khilaf. Aku yang menjaga kehormatanku sebagi istri dan dia yang mengumbarnya untuk wanita lain. Ceritanya memang telah usai, tapi rasa sakit ini masih terasa.


Adakah dia tidak akan mengulanginya lagi? pertanyaan itu selalu terngiang. Kuusap pelan pipiku sampai ahirnya...


“mengapa hari ini banyak sekali wanita menangis, habis sudah tisuku” suara seseorang sambil menyodorkan tisu didepanku.


Aku tertegun. Ku putar kepala kebelakang mencari sumber suara. Aku hampir berteriak, ketika tahu laki-laki yang membawa tisu ini


Kututup bibir dengan tangan agar aku tidak berteriak.


“Abang, apakah fira sedang bermimpi” ucapku tak percaya, air mataku kembali menetes. Sumpah demi apapun orang ini tidak bisa ditebak keberadaannya. Bahkkan nomor HP yang diberikannya dulu tidak bisa dihubungi.


“mengapa setiap abang ketemu fira pasti menangis, seganteng itukah abang sampai membuat fira terharu?” katanya menggodaku.


Percayalah yang dikatakannya benar, dihadapannya aku begitu gampang menangis. Kalau dihadapan suamiku sebisa mungkin aku tahan agar terlihat tegar.


“ih, abang masih jahil” jawabku menghapus air mata dengan tisu yang dia berikan.


“fira nggak makan?” tanyanya

__ADS_1


“belum lapar” jawabku singkat


“makanlah, pura-pura tegar juga butuh tenaga” masih jahil juga kan dia


“ih, apaan sih, abang sok tahu” jawabku berusaha sebisa mungkin tersenyum


“apa kabar suamimu dan istri barunya” tanyanya dengan wajah yang tiba-tiba jadi serius. Sambil menarik kursi disebelah kananku.


“kisah mereka sudah berahir, Andara ada dirumah sakit jiwa, ternyata wanita itu punya kelainan” jawabku dengan tatapan lurus kedepan.


“suamiku sudah berubah dia menyesal, sekarang sikapnya lebih manis” lanjutku dengan senyum masam.


“masalahnya dimana, bukankah semua sudah kembali seperti semula” katanya menatap wajahku lekat.


“masalahnya ada di fira bang, menerima suami yang pernah berhianat itu tidak semudah yang dibayangkan. Sakit, ketakutan dan curiga sering fira alami”kataku


“apa yang membuat fira masih belum menerima Amir, namanya masih Amir kan” kupelototi laki-laki yang memakai kemeja biru tua disebelahku ini. Benar-benar usil dia.


“takutnya ganti jadi mira” jawabnya dengan muka jahil. Pengen aku remes rasanya muka itu.


“kalian itu ya, dulu waktu kuliah seperti saudara, akrab banget. Lah sekarang seperti tom and jerry. Tatapan tajam selalu diarahkan ada apa?” tanyaku, ini memang benar aku tidak berbohong. Bahkan selama berumah tangga dengan suamiku. Dia akan marah kalau aku menyebut nama bang fatih dihadapannya aneh buka.


“apa yang membuat fira belum bisa menerima Amir” dia mengulangi pertanyaan yang sama.


“entahlah bang, fira merasa yang dilakukan mas Amir sekarang tidak lebih hanya untuk menebus rasa bersalahnya saja. Tidak ada jaminan kalau dia tidak akan mengulanginya lagi nanti dengan wanita lain” jawabku


“kamu masih sama seperti dulu, gampang sekali memaafkan orang, tapi tidak bisa melupakan kesalahan sekecil apapun itu. Gampang trauma pikiran burukmu itu perlu di rukyah kayaknya” sudah serius, muka jahilnya keluar lagi


“oiya abang koq ada disini” tanyaku penasaran. Sebenarnya ada banyak pertanyaan dibenakku untuk laki-laki ini. Tentang pertemuannya di Bali dengan suamiku. Tapi buat apa, toh suamiku sudah menjelaskan


“abang mau bertemu teman” jawabnya singkat


“siapa. apa , dimana ada perlu apa. Apa fira kenal?” tanyaku penasaran


“satu-satu tanyanya, abang bingung yang mau jawab” katanya dengan muka kesal


“iya,”jawabku pelan.


“dia dulu minta kucing abang, lucu, abang sayang banget tuh kucing. Tapi abang kasihkan juga dengan perjanjian dia harus merawatnya dengan baik. Jangan disakiti jangan diterlantarkan. Sekarang abang datang mau mengambilnya lagi karena ternyata dia tidak bisa menjaganya dengan baik. teman abang telah melanggar janjinya. Itulah sebabnya abang datang menagih janji untuk mengembalikannya” jawabnya


wah, ternyata orang ini masih suka melihara kucing. Dirumahnya dikampung kucingnya ada empat apa kabar mereka ya aku jadi ingat. Semuanya lucu-lucu gemas sendiri kalau ingat.


“abang masih pelihara kucing” tanyaku. Sebelum aku menjawab seseorang berada di belakang tempat duduk kami. Denga jas ditangan kirinya dan map di tangan kanannya.


“Tuan, ditung...”kalimatnya menggantung. Ku tatap laki-laki itu


“Reno” panggilku pelan


“ibu syafira, apa kabar. Bagaimana usaha swalayannya” tanya nya dengan wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan aneh sekali. Bagaiman reno bisa kenal bang fatih.


“kalian kenal?” tanyaku penasaran.


“iya, dia sopir pribadi GLOBAL GROUP” jawab reno dengan tatapan aneh. Ad apa dengan dua orang ini.


“tapi reno tadi manggil tuan,,,”cecarku lagi


“bu syafira salah dengar, sebaiknya habiskan makannya agar fokus, saya permisi dulu bu. Mari pak fatih anda sudah ditunggu. Permisi ibu syafira kami duluan”jawaban reno terdengar aneh, apakah aku memang salah dengar?.


“tetaplah bodoh fira, karena abang Suka fira yang polos sedikit bodoh”kata bang fatih. Menyebalkan sekali, dari dulu sekarang kalimat itu tidak pernah berubah.


Sebelum melangkah keluar aku lihat suamiku datang, dia menatapku dan bang fatih tajam bergantian. Aneh sekali dua orang ini.


“Dia istriku kalau kamu lupa”ucap suamiku, tatapannya masih tajam.


“aku tahu. Aku menagih janjimu takut kamu lupa” ucapan bang fatih tak kalah tajam


“gunakan waktu sebaik-baiknya. Sebelum penyesalan itu datang” lanjut bang fatih lagi. aku yang bingung hanya bisa menatap mereka bergantian.


Selesai mengucapkan kalimat terahirnya. Bang fatih berlalu.


Ada yang aneh, kalau memang bang fatih sopir, mengapa dia berjalan santai sementara Reno berjalan dibelakangnya.


Tangan bang fatih masuk kedalam saku celananya. Cih, sok keren dia.


“Mas sayang Fira” suamiku tiba-tiba memelukku erat. Seperti kami lama tidak bertemu. Ada apa ini sebenarnya. Kepalaku diliputi tanda tanya besar.


Note: ada yang sudah bisa menebak arahnya????


Hai pembaca yang baik, terima kasih supportnya karena kalian author jadi semangat update tiap hari. Terus dukung author dengan like dan komen. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2