
Aku berjalan menyusul rombongan yang tadi melewatiku, berjalan tergesa melewati beberapa orang keamanan. Sampai disebuah ruangan tertutup. Aku yakin ini adalah ruangan yang akan dipakai untuk pertemuan itu.
“Maaf bu, anda tidak diperkenankan masuk” Seorang keamanan mencegah langkahku
“saya saudara Bapak Fatih, saya ada perlu.
Biarkan saya masuk” aku maju selangkah
“tapi maaf bu beliau tidak punya saudara, ibu jangan mengaku-ngaku” katanya lagi. tahta berkuasa disini. Laki-laki berbadan besar ini menatapku dengan tatapan tajam.
“bagaimana saya harus membuktikan kalau saya ini saudaranya” aku sengaja menantang petugas keamanan ini meskipun nyaliku tidak besar. Tapi tekadku sudah bulat, aku akan minta penjelasan Bang Fatih. Sekaligus membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa sri adalah monica. Dan bang fatih adalah CEO GLOBAL GROUP.
Tiba-tiba pintu terbuka, aku melihat Reno keluar dari ruangan itu.
“ibu syafira” katanya pelan. Matanya melotot tajam kearahku. Dia seperti salah tingkah. Wajahnya tegang
Aku menyerobot hendak masuk, petugas yang tadi menahan langkahku dia berdiri dihadapanku dengan merentangkan kedua tangannya
“maaf ibu tidak boleh masuk” jawabnya dengan wajah lebih tegas dan lebih menakutkan. Tapi tidak untukku. Rasa sakit telah dibohongi menghilangkan rasa takut dalam diriku.
“Biarkan dia masuk” itu suara Reno aku tidak peduli, secepatnya aku melangkah memasuki pintu diikuti reno dibelakangku.
“selamat malam semua apa kabar monica dan apa kabar CEO GLOBAL GROUP” kataku setelah berhasil masuk. Dengan nada yang kubuat seanggun mungkin. Aku tahan air mata yang akan tumpah
Kulihat ada tiga orang diruangan ini. monica, bang fatih dan laki-laki yang bersama monica.
Semua orang yang ada diruangan itu kaget, mereka berdiri secara refleks. Yang paling terlihat gugup itu monica. Sedangkan laki-laki yang satunya terlihat biasa saja. sementara bang fatih terlihat terkejut tapi hanya sebentar.
Selanjutnya dia bisa menguasai diri lagi
“Monica, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya bang fatih tegas, yang ditanya terlihat salah tingkah.
“Maaf tuan, ibu bilang akan pulang kampung tiga hari. Sebab itu pertemuan ini saya adakan untuk tiga hari kedepan”itu suara monica. Tidak ada sri yang polos disana. wajahnya terlihat jauh berbeda. Dengan olesan make up tipis perempuan itu terlihat anggun.
“siapa yang bisa menjelaskan disini, mengapa kalian semua tega membohongiku” kataku dengan nada marah
“Dan kamu, aku harus memanggil apa
sekarang sri atau monica” kataku menatap monica tajam. Dia menunduk, tidak terucap sepatah katapun dari bibirnya.
“abang yan akan menjelaskan semua, mohon maaf yang lain bisa keluar sekarang” itu suara bang fatih. Laki-laki itu tampak tenang seperti biasa.
Justru aku yang tidak biasa, karena sedang dikuasai amarah.
“mengapa malam-malm fira masih ada diluar, kita bisa bicarakan ini besok. Rania bagaimana
Siapa yang jaga?” katanya dengan nada lembut setelah tinggal kami berdua ada didalam ruangan ini.
“kalau tidak dengan cara begini, sampai kapan abang akan membohongi fira” tanyaku dengan air mata yang tidak mampu lagi kubendung.
Mengapa airmataku begitu mudahnya mengalir kalau berada di dekat laki-laki ini.
“abang hanya membantu fira, untuk bisa mandiri itu saja” katanya masih dengan nada lembut
“Tidak bisakah abang membiarkan fira bangga atas usaha fira sendiri sekali saja, sebodoh apa fira dihadapan abang. “kataku terhenti sesak di dada ini, memaksanya.
__ADS_1
“dua hal yang paling fira benci didunia ini , dibohongi dan di kasihani. Dan abang melakukannya dalam waktu yang bersamaan. Semengenaskan apa fira sampai abang harus mengasihani fira dengan cara membuat kebohongan yang terkoordinir” air mataku semakin deras, aku benci laki-laki ini. aku muak.
Kebaikan yang ditawarkannya justru telah melukai hatiku.
pada awalnya aku bangga bisa membuka usaha kecil-kecilan. Berharap semua itu bisa menjadi besar suatu saat nanti, tentu dengan usaha dan kemampuanku. Itu dulu sebelum ada campur tangannya.
Tapi sekarang, apa yang bisa aku banggakan untuk diriku sendiri bahkan untuk berdiri saja harus dibantu.
“abang tidak menganggap fira begitu, justru abang bangga dengan fira” katanya
“Bangga karena fira bodoh dan tidak bisa apa-apa” kataku cepat.
“besok abang akan jelaskan semuanya, sekarang pulanglah. Ini sudah malam”
“maaf bang mulai sekarang dan seterusnya abang jangan temui fira lagi” kataku hendak berlalu.
Dia menarik tanganku
“Abang akan ceritakan semua tapi tidak sekarang, abang masih ada pertemuan. Besok tunggu abang ditempat kerjamu. Kalau kamu tidak mau bertemu abang biar monica yang menjelaskan semua. Maaf abang tidak ingin fira salah paham. Abang tidak pernah menganggap fira bodoh atau mengenaskan. Justru abang bangga. Fira bisa sabar menghadapi badai rumah tangga, mampu dan berdiri tegak hingga sekarang”
Aku tidak peduli kata-katanya, melangkah keluar, melewati penjaga yang tadi, kulihat Reno dan Monica disana mereka semua terlihat menundukkan kepalanya.
Monica mengikutiku dibelakang
“biarkan saya antar ibu pulang ini sudah terlalu larut” Katanya
“tidak usah pedulikan saya, sebelum ada kamu saya sudah biasa sendiri. jadi jangan membuat saya semakin terlihat lemah” jawabku tegas, jangan lupakan tatapanku yang seolah kan membunuhnya.
“maaf bu, saya hanya mengikuti perintah tuan Fatih” ahirnya keluar juga pengakuan itu
“aku tidak butuh penjelasan apapun dari kamu” lanjutku sambil berlalu
“saya akan menjelaskannya besok di kantor. maaf sekali lagi” katanya sambil menyusulku dibelakang.
“tidak usah menghawatirkan saya, lanjutkan peranmu sebagai direktur keuangan GLOBAL “ kataku, ada penegasan kata dalam kata direktur. Hanya ingin memperlihatkan betapa aku tidak suka dengan sandiwaranya. Wanita itu berdiri kaku ditempatnya setelah mendengar kalimatku.
Mengapa orang memilih berbohong dari pada jujur. Apakah mereka lupa kalau kebohongan itu pada ahirnya akan terungkap juga. Dan kalau sudah itu terjadi, maka hilanglah kepercayaan yang selama ini mereka jaga.
Mengendarai sepeda motor matic untuk pulang, aku tahu dibelakangku mobil dengan logo GLOBAL, mengikutiku. Begitu lemahnya aku dihadapan para petinggi GLOBAL. Apa yang ada dipikran mereka. Menyebalkan sekali.
Jam 12 malam aku sampai dirumah, lelah lahir bathin yang kurasakan. Apa yang harus aku lakukan lagi. hilang sudah kebanggaan pada diriku sendiri. kepercayaan diri terbang begitu saja ketika menyadari bahwa aku hanya manusia lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Bang fatih, laki-laki itu terlalu dalam mencampuri hidupku, aku tahu dia baik. tapi aku tidak selemah yang dia bayangkan.
Hilang kebanggaan atas pencapaianku selama ini, aku kira aku adalah wanita mandiri yang bisa sukses karena kemampuanku sendiri ternyata dia yang melakukannya dibelakangku.
Dengan langkah gontai aku memasuki rumah, terlihat suamiku sudah segar dengan baju rumahannya. Melihatku dia langsung menghampiriku memelukku dengan erat.
“kalau bukan fatih yang menghubungiku mungkin aku tidak tahu harus mencarimu kemana lagi” ucapnya lemah tepat ditelingaku.
“maaf” hanya itu yang kuucapkan. Rasanya letih tapi hatiku lebih letih dari itu. Aku merasa mahluk paling lemah yang tidak bisa apa-apa sekarang. Semangat hidup itu hilang dalam sekejap. Rencana yang aku susun untuk kemajuan usahaku kedepannya menguap begitu saja.
“tidak apa-apa istirahatlah, kamu pasti lelah, atau mau mandi air hangat nanti mas siapkan”katanya lagi. aku menggeleng lemah.
“tidak usah dipikirkan, yang dilakukannya itu untuk kebaikanmu juga Rania” katanya lagi. aneh sekali laki-laki ini, mengapa sekarang tidak marah aku menemui bang fatih, bukannya dia tidak suka kalau aku dekat sama bang fatih.
__ADS_1
“dia melakukan itu karena aku, seandainya aku tidak pernah mendua mungkin fatih tidak akan terlalu masuk kedalam rumah tangga kita” darimana dia tahu cerita ini. kutatap dengan wajah bingung.
“bingung ya, abangmu yang menceritakannya pada mas barusan” katanya sambil menatap wajahku lalu mengecup keningku lembut. kembali memelukku erat.
Pagi ini aku mengikat rambut Rania, setelah rapi dengan seragam sekolahnya. Kuncir dua kanan dan kiri adalah model rambut kesukaan putriku
“bunda, nanti Rania kalau sudah besar mau nikah sama om abang boleh?” tanyanya dengan wajah polos menghadapku, matanya yang bening berkedip-kedip terlihat lucu sekali
“siapa om abang?” tanyaku padanya. Baru sekarang aku mendengar putriku memanggil nama itu.
“itu temennya aunty kirana, yang sering bawain Rania mainan yang banyak” hah, jangan-jangan...
“seperti apa wajahnya sayang” tanyaku penasaran
“orangnya tinggi, putih, pakai baju kayak om yang di film sering bunda lihat di laptop”katanya lagi. aku semakin yakin kirana juga membohongiku
“kalau kerumahnya aunty kirana, kadang- kadang sendiri, kadang-kadang sama tante monica”jawaban putriku semakin menambah keyakiananku, kalau yang dimaksud kirana adalah bang fatih.
***
“maafkan saya mbak, bukannya saya berniat untuk berbohong, tapi ini karena abang fatih yang minta” kata kirana setelah aku mengantar Rania. Aku sengaja mengantarkannya sekalian ingin penjelasan mengapa dia ikut terlibat.
“sebelum terbongkarnya perselingkuhan mas amir, bang fatih datang kerumahku. Tolong jaga rania dengan baik, buat dia betah tinggal disini katanya waktu itu. Saya belum paham maksudnya waktu itu. Sampai ahirnya mbak tini cerita semuanya. Saya baru paham ternyata bang fatih begitu ingin melindungi mbak, bahkan sebelum mbak tahu permasalahannya” dia diam sejenak
“saya sudah menyarankan untuk menceritakan semuanya kepada mbak waktu itu. Katanya dia tidak bisa melihat mbak terluka, bang fatih sendiri masih bingung harus berbuat apa. Ahirnya kirana ikut menutupi semuanya. Yang kami lakukan demi kebaikan mbak syafira” lanjutnya lagi
“tapi mbak merasa mbak tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mahluk lemah yang harus dilindungi. Yang dilakukan bang fatih itu berlebihan ki, mbak merasa tidak berguna” jawabku menunduk. Ternyata mereka semua hanya mengikuti perintah saja.
“seandainya mbak fira tahu wajah kusut, dan terlukanya bang fatih waktu pertama kali datang kesini, mbak pasti akan kasihan. Tidak ada pilihan buat kirana untuk tidak membantunya” katanya lagi. entah mengapa aku tersentuh mendengarnya.
Kembali ke toko, artinya kembali mendengarkan penjelasan dari monica. Entahlah, akan berwujud siapa dia hari ini dihadapanku. Aku harus memanggilnya ibu direktur atau sri saja.
“selamat pagi mbak” sapanya dengan sopan. Ah, dia berwujud monica rupanya, hilang sudah wajah sri yang polos tanpa make up.
Wanita itu berdiri menyambutku sambil menundukkan kepalanya. Dan mengangkat kembali setelah aku duduk di mejaku. Hari pertama menghadapi wanita ini dengan wujud aslinya aku merasa canggung.
Ada rasa minder dalam diriku, ternyata aku tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita yang memakai kerudung krem, cantik sekali pagi ini.
“bagaimana liburannya di kampung, apakah menyenangkan” aku dia tahu wanita ini menyindirku. Kurang ajar sekali. Aku tahan tawa yang ingin meledak, belajar dari siapa dia meledekku begitu.
“sangat menyenangkan ibu monica, saya melihat seseorang yang tiba-tiba berganti wajah dihadapan saya dalam satu malam” jawabku balik menyindirnya. Aku lihat dia juga menahan tawanya. Lucu sekali mendengar kami berbicara formal seperti ini.
“saya hanya menjalankan perintah laki-laki yang sudah menyelamatkan hidup saya, ini cara saya membalas budi padanya. Seandainya hanya ancaman pemecatan yang saya terima mungkin saya bisa membangkang. Tapi yang dilakukan laki-laki yang sudah mengangkat saya dari orang-orang yang hampir menjerumuskan saya lembah hitam” aku terbelalak tidak percaya, apa-apaan wanita ini.
“ceritalah, jangan memakai bahasa monica. Dihadapanku kamu tetap sri”kataku memecah kecanggungan.
“waktu beliau menghadiri pertemuan dibali, saya dan mas Reno mendampingi. Hanya saja, ketika makan malam itu saya ada acara sendiri. tiba-tiba jam 10 malam saya dihubungi minta dibatalkan semua jadwal meeting untuk hari itu dan beberapa hari kedepan. Kami bingung saya dan mas Reno saling bertanya” katanya diam tatapannya menerawang
“yang paling kasihan mas Reno, jadwal yang tersusun harus dirombak total, belum lagi telepon yang tiada hentinya dari calon investor. Dan beberapa perusahaan yang berniat melakukan kerjasama modal dengan GLOBAL, kami tidak bisa apa-apa. Hanya bisa mengikutinya pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan beliau tidak henti-hentinya mengumpat. Kata kurang ajar, bajingan, brengsek sudah diucapkan tak terhitung berapa kalinya. Kami ketakutan waktu itu” wanita itu menarik nafas panjang seolah sedang melepaskan beban yang menghimpit.
Dan dari bibir wanita ini mengalirlah banyak cerita. Sungguh bodoh aku selama ini, seharusnya aku bisa membaca mereka yang datang mengajak kerjasama dengan sedikit paksaan. Ternyata ada bang fatih dibalik itu.
note : bab selanjutnya menguras emosi yang tidak kuat harap bersabar,
Dan Cerita sri masih berlanjut, .
__ADS_1