
Aku kehabisan cara menghadapi ayahnya Rania, semua hal dia yang menentukan. Bahkan ketika pulang pun dia tahu rumahku, memegang kunci yang entah dia dapat dari mana. Membuka pintu rumahku dengan santainya. Aku benar-benar stress hari ini. bungkam ku tidak ia hiraukan.
Masuk kedalam kamar seperti dia sudah tahu seluk beluk rumah ini. dia tidak nampak seperti orang asing datang kerumah baru. Duduk dipinggir ranjang, mengusap sprei kemudian telentang dengan separuh kaki menjuntai kebawah, tanpa rasa sungkan. Aku benar-benar ingin berteriak, "bajingan" sebanyak-banyaknya. Sampai tuntas uneg-uneg ku. Apalah daya aku hanya diam tidak ingin menunjukkan sisi aroganku dihadapan Rania.
Tarik nafas buang , tarik lagi buang lagi. tak terhitung berapa kali aku melakukannya tapi amarahku tak jua reda.
“kamar yang nyaman, kasur yang empuk. Tapi sayang tidur sendirian” Tuhan,,,tidak bisakah bibir itu diam. Sebelum aku lempar mukanya dengan botol parfum yang ada di nakas. Jangan lupakan senyum menjijikkan itu.
“kamu mau tidur disini, tidak usah malu. Kita melepas rindu, tiga tahun bukan waktu yang sebentar lho. Apa kamu tidak kangen?” menepuk dadanya sebelah kiri. Habis sudah kesabaran yang di pendam dari tadi. Sungguh hatiku panas mendengar ocehan sampahnya.
“diam kau penghianat. Dan keluar dari kamarku sekarang, aku muak melihatmu...!!!!,” kataku dengan nada pelan penuh penekanan. Khawatir didengar Rania di kamar sebelah.
Rahangku mengetat menahan gejolak amarah yang tidak tersalurkan. aku kehabisan akal menghadapi laki-laki ini.
“aku harus bilang berapa kali kalau aku bukan penghianat, hatiku masih sama seperti dulu, ada kamu dan Rania itu saja” jawabnya santai menatap kearahku.
“kalau mau membual harus ada batasannya tuan, saya bukan anak kecil yang bisa anda bohongi terus menerus” jawabku penuh amarah. Perdebatan kali ini tidak imbang, dia yang dengan santai sambil tersenyum setiap kali berbicara, sedangkan aku yang penuh emosi. Sepertinya kali ini aku akan kalah, tapi itu tidak boleh, aku tidak boleh lemah dihadapan bajingan ini.
“aku kan sudah bilang, jangan menampakkan wajah menggemaskan itu dihadapanku, karena kalau tidak, aku akan mengurungmu seharian di kamar kamu tahu kan kelanjutannya” dengan muka jahilnya senyuman mesum itu terbit.
Fix, dia menantangku terang-terangan, akan aku layani. Dia sudah berkali-kali merendahkan harga diriku hari ini. jangan lupakan tatapan matanya dan gerakan alisnya turun naik.
“ternyata otak anda masih sama tuan, tidak jauh dari sel*ngk*ng*n. Kalau anda masih ingin bertemu Rania, keluar dari kamar saya, atau bahkan keluar dari rumah ini sekarang juga” jawabku berusaha setenang mungkin. Karena semakin aku emosi laki-laki ini semakin merasa diatas angin.
“kamu menemukan titik kelemahan ku sayang, baiklah aku keluar. Nanti malam aku tidur sama Rania, jangan lupa tutup pintu kamarnya dengan rapat, takut ada yang masuk tengah malam. Karena disini sedang ada laki-laki yang rela menahan rindu pada istrinya selama 3 tahun” katanya dengan nada tenang, tapi dadaku turun naik menahan gumpalan amarah karena aku merasa terhina sekarang.
“takut khilaf...”katanya tepat di telingaku, kemudian berlalu dengan senyum penuh kemenangan. Aku muak, benci, jijik dengan suara lembut yang menyapa telingaku baru saja. Kulempar bantal, tapi sayang hanya mengenai pintu, karena laki-laki mesum itu menutupnya setelah keluar.
Aku segera mengunci pintu, kakiku luruh sambil bersandar pada daun pintu kamarku. Air mataku tumpah. Airmata kebencian yang tidak dapat aku salurkan, amarah yang tidak mendapatkan pelampiasan. Dan aku merasa terhina dengan setiap kata dan perbuatan laki-laki itu sekarang.
Bahkan aku tidak menemukan cara untuk lepas dari mantanku itu.
Badanku gerah, selepas acara, aku belum mandi. Berjalan ke lemari, mencari baju rumahan yang tertutup. Demi mencegah hal buruk terjadi padaku. Sekarang dirumah ini aku tidak bisa bebas melakukan apapun.
Berendam dibathup rasanya sangat menyenangkan. Badanku lebih rileks, pun dengan pikiranku. Segala emosi, sakit hati luruh sejenak. Ketika air hangat menyapa kulitku lembut yang tanpa sehelai benangpun, aroma terapi kesukaan menyapa indraku, menambah suasana yang damai tentram.
Lupakan tentang ayah Rania dan kelakuannya sejenak, aku butuh merefresh otakku agar mampu berpkir jernih. Mencari kelemahan laki-laki mesum itu. Tapi apa, selain Rania apalagi ya?. Ayo otak,,, jadilah cerdas sekarang, kita sedang menghadapi mahluk yang tidak punya urat malu.
Bahkan ketika malam beranjak, mataku tidak serta merta bisa terlelap. Perasaan khawatir, takut dan cemas. Kalau sewaktu-waktu laki-laki itu masuk kekamarku tanpa aku tahu. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Entah jam berapa aku benar benar terlelap, mungkin karena terlalu lelah berpikir. Hingga kantukpun tidak sanggup ku tahan.
“assalamualaikum bunda” suara Rania mengetuk kamarku. Aku bergegas membuka pintu masih dengan mukenah yang terpasang. Karena baru saja menunaikan sholat subuh.
“lho, Rania koq sudah rapi mau kemana?” tanyaku heran aku gandeng anakku duduk dipinggir tempat tidurku.
“kata Ayah, kita ikut penerbangan pagi. Jadi Rania habis sholat subuh langsung siap-siap”.
“emang jam berapa pesawatnya” tanyaku lagi, sungguh aku tidak berbohong. Aku benar-benar tidak tahu bahkan belum melihat tiket pesawatnya. Putriku menggeleng menggerakkan kepalanya kekanan dam kekiri.
__ADS_1
“mana ayahmu?” tanyaku pada Rania, sungguh aku semakin membencinya, tidak bisakah satu hari dia tidak membuat kekacauan dalam hidupku.
“tuh, ada di bawah sama om abang?”
“hah...?” hanya itu yang keluar dari bibirku
aku bergegas turun, masih dengan mukenah yang belum aku buka. Dua orang yang sedang duduk di sofa ruang keluarga menoleh serempak.
“pagi Fira” sapa bang fatih,
“abang sejak kapan datang” tanyaku penasaran.
“abang nginap disini, mau bangunin kamu kasihan sepertinya kecapean, abang tidur dibawah sama suami kamu”jawabnya santai
“mengapa abang menginap dirumah fira, apakah CEO GLOBAL GROUP kehabisan uang untuk sekedar menginap dihotel”tanyaku kesal. Bagaimana dua orang ini bisa akur sekarang. Aneh sekali. Itu artinya mereka akan tetap memaksaku pulang.
Tuhan alasan apa yang harus aku katakan agar bisa menggagalkan rencananya.
“abang tidak bisa tenang tinggal di hotel. Bahkan di hotel abang sendiri. kalau mau Pencalonan biasa, mereka pendekatan untuk mencari dukungan. Satu-satunya tempat yang tidak terendus ya disini. Abang bisa hidup normal sebentar.”penjelasannya, masuk di akalku.
Bang Fatih tidak berbohong, ahir-ahir ini aku melihat banyak sekali baliho berbagai ukuran bertebaran dijalan, menampilkan wajah-wajah para calon legislatif dari tingkat daerah ataupun pusat. Dengan berbagai visi dan misi yang mereka usung.
“kamu koq belum siap-siap, nanti ketinggalan pesawat”katanya
“bisa tidak bang, Fira disini saja. Fira tidak mau pulang bertemu dengan penghianat itu” jawabku, daguku terangkat kearah ayahnya Rania.
.
“kalau kamu tidak mau pulang terserah itu urusanmu dan suamimu, tapi Rania abang bawa dulu, biar bapak dan ibu senang. Lupakan kebencianmu pada suamimu, pulanglah, pikirkan orang yang melahirkan dan membesarkanmu sekarang.”apa-apaan ini. secara tidak langsung dia akan memisahkan Rania dan aku.
“om abang, ayuk!” jadi anakku senang mau dibawa bang Fatih duluan, ini tidak bisa dibiarkan.
“tunggu sebentar, bunda berkemas” kataku berjalan meninggalkan mereka
“kopernya sudah mas siapkan tuh, kamu tinggal ganti baju saja” itu,suara si perusak suasana aku menoleh, dagunya terangkat selaras dengan pandangan matanya di ujung tangga. Sejak kapan dia melakukan itu.
Tak kupedulikan ucapannya, waktunya hanya satu jam aku harus bersiap-siap dengan segera sebelum bang Fatih membawa Rania. Perjalanan dari rumahku ke Bandara memakan waktu satu jam.
Setelah mengecek semua dan memastikan tidak ada yang tertinggal, aku turun dengan tergesa, nafas ngos-ngosan aku sampai dibawah. Aku lihat- laki-laki pembawa huru hara itu duduk tenang dengan gawainya.
“mana Rania” tanyaku padanya, wajahnya santai tidak terlihat panik
“sudah berangkat duluan, kamu lama” katanya sambil tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia berdiri menghampiriku.
Entah mengapa aku merinding melihat ekspresinya, sungguh aku ketakutan
“jangan macam-macam, kalau tidak aku akan teriak”kataku sambil mataku melotot kearahnya. Dia tidak peduli . Aku mundur beberapa langkah. Kupejamkan mata karena ketakutanku semakin menjadi.
“ternyata otakmu mesum juga, biaklah...” katanya dengan suara lembut, tiba-tiba sebuah benda lembut menyentuh pipiku. Aku kaget, mataku membola. Tangan itu sudah melingkar diperutku. Aku berbalik, dengan cepat ku dorong tubuh tinggi itu. Dia mundur dengan senyum penuh kemenangan diwajahnya. Sungguh hatiku panas, bahkan sangat panas. Sudah berapa kali dia melecehkanku sejak kedatangannya.
__ADS_1
“kurang ajar....!” kuangkat tangan tinggi, mengambil ancang-ancang hendak memukulnya.
“mau kita lanjutkan disini atau dikamarmu, hmm....”dia menangkap tanganku
“aku tidak sudi disentuh laki-laki tidak tahu diri sepertimu tuan Amir” kataku lagi jangan lupakan nadaku yang sudah meninggi.
“ayo berangkat, aku takut tidak bisa mengendalikan diri” katanya dengan melangkah santai mendahuluiku, tangan kanannya menarik koper. Berhenti, menoleh ke arahku
“mau aku gandeng, tanganku yang sebelah lagi masih kosong” memandangku dengan tatapan lembutnya, mengulurkan tangan kirinya ke arahku.
“cepatlah berangkat sebelum ketinggalan pesawat karena ulahmu” langkahku cepat mendahuluinya.
Sebuah taksi online sudah menunggu kami didepan. Aku menatapnya heran, mobilku kan ada mengapa harus ada taksi.
“mau diparkir berapa lama mobilmu di bandara, lebih aman taruh disini” jawabannya seolah bisa membaca pikiranku.
Aku masuk, kuhempaskan badanku kasar di jok belakang. Ayahnya Rania duduk disebelahku.
Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Aku tidak sudi berbicara dengannya cukup sudah perlakuan buruknya padaku selama dia datang ke kehidupanku selama dua hari ini. moodku rusak, kedamaian tidak lagi kudapatkan. Hanya kebencian yang semakin menumpuk.
Aku segera turun dari mobil yang mengantarku tadi, laki-laki itu mengikutiku dibelakang. Menuju pintu keberangkatan sesuai dengan kota tujuanku.
“Maaf bu, pesawat sudah berangkat dari setengah jam yang lalu” lemas sudah sendiku mendengarnya, bagaimana ini aku tidak bisa bertemu dengan Rania. Tuhan, mengapa laki-laki ini membawa kesialan dalam hidupku.
“kenapa sayang,”tanyanya. Sebuah tangan melingkar dibahuku, pemiliknya tersenyum dengan tidak tahu malu ke arah ku.
“gara-gara kamu aku tidak bisa bertemu Rania”tatapan tajam ku arahkan. Tidak peduli tatapan bingung petugas bandara itu ke arah kami.
“duduk dulu biar tenang” begitu tenangnya dia seolah tidak merasa bersalah atas ketinggalan pesawat yang baru saja dialami.
kami duduk bersebelahan di kursi tunggu penumpang, aku membuang pandangan. Tidak sudi menatapnya.
“yang bilang Rania naik pesawat komersil siapa?, kamu tahu sendiri apa yang terjadi jika abangmu membawa Rania kesini. Tidak akan bisa terbang dia, yang menunggunya tentu tidak ingin kehilangan jejak”Ya Allah,,, mengapa aku tidak sempat berfikir kesana. Bahkan bang Fatih memilih mengungsi kerumah juga karena alasan itu.
“mengapa kamu tidak mengatakannya, sengaja mau mempermainkan aku, iya?” tanyaku sengit. Dua orang yang duduk didepanku menoleh, tak ku pedulikan. Aku benci laki-laki disebelahku ini.
“kamu tidak bertanya” santai sekali jawaban manusia tidak tahu malu ini,
“terus kamu pikir, aku kesini untuk menemani kamu begitu!” habis sudah kesabaranku, mulai dari bangun tidur sampai sekarang dia membuat moodku tidak baik-baik saja.
“maaf mbak, maklum PMS” tatapan tajam ku arahkan. Berani sekali dia mengatakan itu pada dua orang yang menatap kami.
kulangkahkan kaki meninggalkan dia. Terserah aku tidak mau bersamanya, kalau bukan karena Rania aku tidak sudi pulang dengan bajingan ini.
Ku ambil gawaiku, hendak menghubungi Rania, sebuah tangan mencegahku
“HP Rania ada di Mas..”katanya masih dengan nada lembut.
Aku ingin menangis, merasa seperti orang bodoh yang diperdaya laki-laki ini. tidak ada habisnya dia memancing emosiku dari tadi.
__ADS_1