BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
JATUH CINTA LAGI (END)


__ADS_3

Kehamilanku sudah memasuki usia ke tujuh bulan. Untuk bikin susu aku bisa sendiri hanya saja belum bisa mendapat ijin dari laki-laki kebanggaan Rania itu. Takut tersiram air panas katanya. Ada-ada saja, dia masih memperlakukanku seperti bocah. Anehnya sekarang aku menimati itu.


Mau melakukan apapun ayah Rania yang melakukannya. Bahkan aku akan menunggu sampai dia melakukannya untukku. Keterlaluan tidak sih. Wanita mandiri tiba-tiba jadi manja hanya dalam waktu tujuh bulan. Bukan salahku bukan dia yang menginginkannya. Terkadang aku tidak paham jalan pikiran laki-laki itu.


Hari minggu, sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kotaku, rencananya hari ini akan mencari perlengkapan untuk adiknya Rania. Karena menurut prediksi dokter anakku berjenis kelamin laki-laki. Tapi kita kembalikan lagi pada Tuhan karena dokter masih sering melakukan salah prediksi.


Mas Amir tidak lepas menggandeng tanganku disebelah kiri. Rania di tangan sebelah kanan. Gandengan tangannya membuat dadaku berbunga-bunga sekarang. Perhatiannya mampu meluluhkan hatiku. Dia yang melayaniku bak ratu, sedangkan aku tidak pernah melakukan itu sama sekali. Aku tidak menjalankan peranku sebagai istri, melayaninya lahir dan bathin. Tapi laki-laki yang masih berstatus suamiku itu tidak pernah protes.


“Tuhan sisakan aku satu laki-laki seperti ini” kami serempak menoleh ke sumber suara, wanita cantik masih muda, kira-kira umurnya enam belas tahun. Dari facenya terlihat masih usia sekolah. Aku menatap wajah suamiku. wajahnya dingin, berjalan tanpa memperhatikan suara itu. Ish, sok jual mahal dia.


semua keperluan yang kami cari dapat. Tidak terasa tiga jam kami berkeliling. Sampai ahirnya terdampar duduk direstoran yang masih dalam pusat perbelanjaan. Tiba-tiba Mas Amir berjongkok di bawah kakiku.


“kakimu pegal, dipijat ya” tanpa menunggu jawabanku dia menarik kakiku. Menaruh di atas pahanya yang menekuk.


“tidak usah, malu dilihat orang” jawabku berbisik, menarik kakiku lagi. tapi laki-laki ini menariknya kembali. Menaikkan ke atas pahanya dan mulai memijat pelan sampai betis. Tanpa membuka gamisku. Sumpah ini enak sekali aku tidak berbohong. Bagaimana dia tahu kalau kakiku pegal.


“bagaimana enakan tidak?” dia menatapku sambil tersenyum. Aku mengagguk. Tidak lupa mengucapkan terima kasih. Mukanya langsung gusar. Ahir-ahir ini dia tidak suka aku mengucapkan terima kasih. Katanya dia tidak melakukan hal hebat apapun. Terserahlah.


“Tuhan, aku benar-benar ingin mendapatkan laki-laki seperti ini. perhatian sama istrinya. Tidak kaya tidak apa-apa yang penting memperlakukan istrinya seperti Ratu” suara itu lagi. bagaimana bisa bocah yang sama duduk dibelakang meja kami. Apakah dia mengikutiku.


Suamiku berdiri


“dengarkan saya nona, kadang yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Nanti kalau anak saya besar saya tidak berharap dia mendapatkan suami seperti saya. Carilah yang lebih baik” ucapnya tegas dengan tatapan dingin.


Apa maksudnya coba, bukankah memang begitu. Setiap wanita ingin pasangan terbaik, aku kira laki-laki terhebat sekarang ini untukku dan Rania ya dia. Terlepas dari kesalahannya di masa lalu tapikan aku sudah memaafkan. Apakah dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri.


“terima kasih nasehatnya om” dasar bocah, bukannya kapok dikasih tatapan dingin,malah dengan senang hati berterima kasih. Mas Amir menggidikkan bahu ke arahku.


***


Sembilan bulan sudah usia kehamilanku, rasanya sudah mulai kesulitan melakukan apapun. Tidur tidak pernah nyenyak nafasku sering terasa sesak. Pinggang sering terasa pegal. Kaki dan tanganku mulai bengkak, yang tak kalah hebatnya dari itu semua, intensitas ke kamar mandi semakin sering.


Ahirnya setiap hari Ayah Rania membawaku kekantor. Yah, laki-laki itu akan melayaniku sepenuh hati ketika aku mau kekamar mandi. Seperti hari ini.


Takut aku kontraksi sewaktu-waktu Katanya. Karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengetahui kalau waktunya sudah tiba.


“mas...” panggilku pelan. Dia yang sibuk dengan pekerjaannya langsung menatap ke arahku.


“pipis..”lanjutku lagi. aku tidak berbohong. Rasanya sudah diujung. Segera dia melepaskan diri dari berkas-berkas yang berserakan di atas meja, menghampiriku tergesa. Hendak menggendongku kekamar mandi yang ada didalam ruang kerjanya. Tapi sudah terlambat, gamisku sudah basah dbagian bawahnya. Dia menoleh kearahku.


Air mataku menggenang oleh sebab tidak enak hati, laki-laki itu masih bisa tersenyum.


“tidak apa-apa. Mas gendong kekamar mandi” katanya membawaku ke kamar mandi dengan kedua tangannya, menggendongku ala bridal style.


“maaf..” ucapku setelah ada didalam kamar mandi, sungguh aku malu. Padahal ini bukan pertama kalinya aku tidak bisa menahan air bening itu keluar.


Dengan telaten dia mengganti bajuku dengan baju bersih yang ada di loker. Baju ganti itu, ada disana dari sebulan yang lalu. Ayah Rania yang punya ide ketika itu. Yang di khawatirkan terjadi juga. kalau dihitung sudah dua kali aku mengeluarkan cairan pesing tanpa sadar.


Hamilku kali ini lebih lemah dari ketika hamil Rania dulu. Kenaikan berat badanku lebih banyak yang sekarang. Bahkan untuk menaiki tangga saja aku harus berhenti hanya untuk menarik nafas berkali-kali. Ingin rasanya aku menyalahkan Ayah Rania atas lemahnya kehamilanku kali ini karena dia terlalu memanjakanku.


Selanjutnya dia mengelap bekas air yang masih tercecer dilantai, dengan cairan pembersih lantai ber aroma lemon. Segar sampai kehidung menggantikan bau pesing dari cairan seniku.


Kata dokter kondisi seperti ini memang wajar terjadi pada ibu hamil. Karena kondisi janin yang sudah masuk posisi panggul sehingga menekan kandung kemih. Akibatnya kita sering merasa ingin buang air kecil. Tidak dianjurkan sering minum air putih ketika malam hari. Di khawatirkan kita akan sering terbangun karena merasa kandung kemih penuh.


“istirahatlah, mas lanjutkan lagi biar cepat selesai kita bisa pulang cepat. Kamu bisa istirahat dengan nyaman di rumah” katanya menarik selimut sampai ke leher. Aku terbaring di sofa ruang kerja Mas Amir. Tidur miring kekanan. Laki-laki itu menatapku sejenak. Kemudian menghampiri ku di sofa.


“kata dokter sekarang miringnya kekiri. Posisi bayinya lebih pas” ucapnya membantu mengganti aku miring ke kiri seperti perintahnya.


“bagaimana lebih enak?” tanyanya aku hanya mengangguk. Pasrah saja apapun yang dia lakukan. Masih jam 2 siang. Mataku terpejam tak mampu menahan serangan kantuk yang datang tiba-tiba.


“sayang...”panggilan disertai usapan lembut di pipi. Membuatku terbangun dari alam mimpi. Aku mengerjap. Ayah Rania duduk disebelahku dia masih setia dengan senyum manisnya. Aku balas tersenyum.


“sudah waktunya pulang” ucapnya lembut.


“aku belum shalat ashar” kataku pelan.


“nanti dirumah saja” tangannya menggapaiku, membantu untuk duduk. Bahkan untuk duduk saja harus dibantu. Ya Allah,,,benar-benar wanita hamil ini, seperti hiu terdampar.


Seperti biasa, setelah makan malam. Ayah Rania dikamarku mengurut kakiku, betis dan pinggang. Sampai aku tertidur dia akan keluar dan masuk kekamarnya sendiri. ingin rasanya aku menahannya untuk tidur dikamar yang sama denganku. Tapi aku takut di tolak, mau ditaruh dimana mukaku kalau sampai itu terjadi.


Jam 3 malam aku terbangun, perutku rasanya tidak nyaman. Seperti mules tapi tidak bisa sudah tiga kali aku keluar masuk kamar mandi. Selesai shalat malam Rasa ini semakin menyiksaku. Nafasku pendek karena menahan rasa sakit. Keringat dingin membasahi kening dan bahuku.


Tidak ada pilihan lain, aku harus membangunkan Mas Amir.


“mas...” ku ketuk pintu tempat laki-laki itu istirahat. Pintu terbuka-laki-laki itu muncul dengan baju rapi dan kopyah terpasang di kepalanya.


“ada apa?”tanyanya dia menatapku intens. Tatapannya turun ke perut.


“sakit?” tanyanya lagi


aku hanya bisa mengangguk, sambil mengigit bibir bawahku. Sakit ini semakin menyiksa. Gamisku basah bagian punggung. Ku tatap wajah mas amir tiba-tiba dia menjadi panik. Tunggu sebentar. Dia keluar tanpa berganti baju.


Masuk kekamarku mengambil, tas berisi perlengkapan persalinan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Wajah panik itu semakin menjadi. Sekarang wajahnya pucat.


“mas gendong ke mobil” katanya dengan nafas memburu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya rasa sakit ini hilang timbul masih hitungan kira-kira lima belas menit sekali. Dia mendudukkan aku di jok belakang. Kemudian masuk lagi kedalam. Keluar dengan menggendong Rania yang masih mengantuk.

__ADS_1


Masuk kedalam mobil duduk di jok memegang setir, turun lagi. lupa tidak membawa kunci mobil. Dalam sekejap masuk lagi. menutup pintu mobil. Sebentar keluar lagi dia lupa , menutup pintu rumah. Aku yang ikut bingung memperhatikan laki-laki yang biasa tenang ini panik.


Duduk memegang setir kemudian diam sebentar seperti sedang berpikir.


“yang sabar ya nak, nanti keluar kalau sudah ada dokter, jangan keluar di mobil ayah tidak tahu” masih sempat-sempatnya dia melakukannya. Aku hampir terpingkal mendengar kata-katanya. Tapi rasa sakit ini kembali menyerangku


“aduh,” suaraku keras. Aku tidak berbohong dorongan dibagian bawahku semakin kerass. Pinggangku seperti mau lepas.


“sabar sayang...” ucapnya masih sempat mencium perutku.


Mobil melaju kencang, tangan mas amir memegang tanganku sesekali ketika tidak memegang porsneling. Meremasnya kuat. Memberikan kekuatan padaku. Kata sabar dia ucapkan berkali-kali.


Disambut kursi roda, Mas Amir membawaku ke ruang UGD rumah sakit.


Selanjutnya sang perawat mendorongku keruang bersalin. Dokter iren, namanya wanita cantik yang menangani kehamilan Andara dulu. Dokter yang baik, penjelasannya membuatku nyaman ketika berkonsultasi.


“hanya bapak saja yang bisa mendampingi didalam, adiknya nunggu diluar ya, tidak apa-apa kan sendirian” dokter irene mengusap kepala Rania anakku mengagguk. Ya tuhan tidak tega rasanya meninggalkan Rania sendirian diluar ketika hari masih gelap. Jam menunjukkan angka empat dini hari.


“sebentar dokter saya telpon ibu saya dulu” suamiku makin bertambah panik. Dokter iren membawaku kedalam. Menaikkan aku kekasur yang sudah disiapkan. Karena memang suamiku sempat menelponnya tadi sebelum berangkat.


“oiya ,silahkan. Sementara saya periksa ibunya dulu ya pak” suamiku mengangguk. Gawai sudah terpasang di kupingnya.


Seperti biasa, periksa tekanan darah detak jantung. Kemudian membuka se*******anku. Untuk melihat pembukaan.


“bagus, posisi bayi sudah masuk hanya pembukaannya masih empat. Tidak apa-apa semoga nanti langsung naik ke sembilan bu” aku hanya mengangguk rasa sakit ini . seperti melumpuhkan otot ku. Sekujur badanku sakit. Dari ujung kepala ke ujung kaki.


“ibu bisa jalan-jalan dulu di luar menghirup udara pagi sambil menunggu pembukaan sempurna” katanya. Belum ada alat apapun yang terpasang di tubuhku termasuk infus. Turun dari ranjang suamiku masuk memapahku keluar. Menemaniku berjalan mondar mandir didepan ruang operasi. Sakitnya semakin sering.


Aku tarik nafas buang lagi berulang. Mas Amir sesekali mengusap perutku, kemudian berjalan lagi. memapahku. Memelukku erat ketika aku mengaduh karena sakit yang tak tertahankan. Mencium kepalaku yang tertutup hijab berulang-ukang.


“bagaimana keadaanmu nak” suara ibu mertuaku datang dengan tergopoh didampingi Nisa.


“sakit bu,”jawabku merintih.


“yang sabar ya, sebentar lagi kalian akan melihat adiknya Rania” perkataan ibu mertuaku seolah memberikan kekuatan lebih padaku


“au,,,sakit...”suaraku hampir menangis. Kalau ditanya sakitnya seperti apa , aku tidak bisa menggambarkan seperti apa yang jelas semua tulang-tulangku seperti terlepas dari tempatnya. Seolah nyawaku akan melayang setiap gelombang sakit itu datang.


“kita lihat lagi bu, sepertinya sakitnya sudah setiap dua menit sekali” ucap dokter ieren dengan tenang, wanita cantik itu membawaku kedalam.


“kamu yang kuat mendampingi syafira, dia butuh kekuatan untuk saat ini. jangan lemah mir” suara mertuaku lembut. Aku tidak tahu apa jawaban suamiku.


Aku ditidurkan kembali diranjang yag sama. Sakitnya luar biasa, aku genggam tangan suamiku erat laki-laki itu membelaiku sesekali mengecup keningku lembut. Aku merasakan cairan jatuh di dahi. Aku melihat sekilas. Ayahnya Rania menangis.


“sabar ya pak, kondisi ibu masih memungKinkan untuk melahirkan normal” kata dokter iren.


“apa tidak sebaiknya disuntik obat biar tidak sakit ya dok” suara paniknya laki-laki ini. bagaimana bisa terbersit pikiran itu.


“justru rasa sakit ini yang akan membantu ibu cepat melahirkan pak” jawabnya sopan.


“mas sakit,,,”kataku entah keberapa kalinya kata itu terucap dari bibirku. Laki-laki itu semakin erat mengenggam tanganku.


“seandainya bisa mas ingin menggantikan rasa sakit ini. Kamu yang sabar ya” matanya berkaca-kaca


“alhamdulillah,,, ini pembukaannya sudah sempurna bu. nanti ibu ikut arahan kita” tarik nafas buang nafas berulang rasa ingin mengedan semakin kuat. Ahirnya setelah hitungan ketiga yang kesekian bola hidup itu keluar juga.


Dokter dibantu asistennya menangani dengan cepat. Bayi mungil itu ada didekapanku sekarang. Suamiku mencium keningku berulang. Air matanya kembali tumpah. Kali ini ditandai dengan senyuman. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya dia ucapkan. Kami berdua menangis haru atas lahirnya adik Rania ke dunia.


Tangan kecil itu menggapai suara tangisan pecah diruang persalinan. Bibir mungil itu bergerak mencari sumber kehidupannya. Tangisnya berhenti ketika bibir itu menemukan tempatnya. Menghisap kuat. Aku tersenyum bahagia menatap bayi mungil ini menghisap sumber makananya.


Usai sudah perjuanganku malam ini, aku berhasil mengeluarkan bayi kedunia dengan selamat. Bersyukur Tuhan masih memberikan kepercayaan padaku untuk menjadi ibu kedua kalinya.


***


Entah mengapa setelah proses kelahiran adiknya Rania, suamiku lebih banyak diam. Dia tidak melalaikan tugasnya memang tapi entah mengapa tingkahnya semakin memberi jarak pada dirinya.


Tugas memandikan bayi, suamiku yang lakukkan terkadang aku membantu. Bayiku laki-laki kami beri nama Adam. Dia tampan lagi-lagi wajah anak keduaku serupa ayahnya. Bulu mata lentik, hidung mancung, bola matanya bening.


Hidupku lebih indah bahkan jauh lebih indah setelah kelahiran adiknya Rania, merawatnya, memandikan, menyusui, bermain. Tidak pernah memberikan rasa lelah padaku ketika merawat bayi mungil ini. aku tatap mata beningnya, tiba-tiba rasa bersalah merasuk kedalam sukmaku.


Bagaimana dulu aku sempat berniat ingin melenyapkan bayi mungil ini. aku bahkan sering membuat adam masih dalam kandungan untuk menyiksa ayahnya. Berurai air mataku sambil ku genggam tangan mungil ini.menciumnya berkali-kali.


Kata maaf ku ucapkan tak terhitung jumlahnya. Punya anak beda jenis kelamin itu lucu. Cara pipis adam sering membuatku terpingkal. Setelah di mandikan ayahnya hendak dipakaikan baju tiba-tiba air bening itu mancur miring ke kiri. Tepat mengenai lengan kanan ayahnya. Aku tidak bisa menahan tawa. Suamiku memencet hidung Adam dengan gemas. Dia sama terpingkalnya denganku.


Sekarang mas Amir tidur dikamarku, ikut terbangun ketika bayi mungilku menangis tengah malam. Dia akan menggantikan popoknya, dan membangukanku ketika anakku haus. Menggendongnya kembali setelah kenyang, membacakan shalawat sampai anakku tertidur. Jangan bayangkan suara ayahnya adam merdu, tidak sama sekali. Anehnya adam merasa terbuai dengan itu. Dia tertidur di gendongan ayahnya.


Usia Adam menginjak dua bulan tubuhnya lebih montok sekarang, aku sering menggodanya, ketika dia asik menghisap sumber makanannya, ku tarik sampai matanya yang mulai terpejam membuka kembali bibir mungilnya masih maju kedepan mencari lagi, dia menangis.


Aku terpingkal. Seolah aku mendapatkan hiburan tersendiri. Kalau ayahnya tahu dia akan menegurku. Kasihan katanya. Ah, laki-laki mana tahu nikmatnya menggoda bayi yang belum tahu apa-apa.


Aku terbangun jam dua dini hari karena haus. Ku buka mata. Tunggu, aku seperti mendengar suara orang terisak. Mataku membuka sempurna setelah tahu siapa yang menangis tengah malam. Mas Amir. Dia sesenggukan sambil mendekap erat tubuh Adam.


“maafkan ayah karena tidak akan bisa mendampingi kalian selamanya, tapi ayah janji akan selalu ada ketika kalian membutuhkan. Ayah akan menjadi orang tua yang hebat untuk kalian percayalah” kata itu terdengar samar ditelingaku. Perasaan aneh menyusup dalam hatiku. Ada apa dengan suamiku, memangnya dia mau pergi kemana?. Berbagai dugaan muncul dalam hatiku, otakku berputar mencari jawaban tapi buntu.


“mas...”ku panggil dengan suara pelan. Menoleh cepat ke arahku. Buru-buru menghapus airmatanya. Aku semakin bingung setelah lebih banyak diam ahir-ahir ini. sekarang tiba-tiba menangis.

__ADS_1


“kamu bangun, sebentar mas ambilkan minum” meletakkan adam didalam box bayi, ke nakas mengambil gelas dan menuangkan dengan tergesa. Menghampiriku menyodorkan gelas ketanganku.


“ada apa” tanyaku heran. Tiba-tiba dia mendekapku erat .


“tidak ada apa-apa, terima kasih sudah berjuang melahirkan adam. Terima kasih karena kamu tidak membuangnya ketika itu” ooo, ternyata hanya itu.ah, aku kira kenapa dengan laki-laki ini.


“tidak usah berterima kasih mas, fira juga bahagia.” Ucapku balas memeluknya. Dia tersenyum sambil menatapku. Lagi, wajahnya masih menampakkan kesedihan yang dibalut dengan senyum yang tak mampu menutupi itu semua.


Matahari belum terbit, suamiku sudah berkutat didapur membuat sarapan untuk kami. Aku membantu apa yang bisa. Lagi-lagi aku menangkap kesedihan di wajahnya. Begitu terharukah suamiku atas kelahiran adam sehingga wajahnya lebih banyak murung ahir-ahir ini.


Selesai sarapan Rania pamit kesekolah, anehnya ayah Rania memakai baju biasa dan sandal jepit tidak memakai baju rapi, biasanya kan dia akan langsung ke kantor. Apa mungkin dia akan bolos hari ini entahlah.


Aku akan menemani adam tidur seperti biasa, naik ketempat tidur diamana anakku tertidur dengan nyenyak. Menarik selimut sampai leher. Saat aku hendak terlelap, tepukan lembut dibahu mengagetkanku.


“jam tangan mas taruh dimana” tanyanya aku menoleh. Aku turun dari tempat tidur bagaimana bisa jam tangan yang ditaruh di nakas tidak kelihatan. Tunggu, apa itu. Koper?


“mas mau pergi kemana” tanyaku


Dia menarik nafas panjang, mengambil jeda untuk berbicara


“Hari ini aku akan menepati janji mas pada Fira”


“janji,,,janji yang mana” aku semakin bingung apa yang pernah dia janjikan untukku


“membebaskan fira setelah Adam lahir” kata-katanya pelan tapi sampai ditelingaku bagai ada hantaman benda keras.


“hari ini mas akan pulang kerumah ibu,” dia berlalu membuka lemari tempat menyimpan baju-bajunya. Mengambil satu persatu dan memasukkannya kedalam koper. Hatiku sakit, aku kembali terluka karena kehilangannya. Membayangkan aku akan membesarkan dua anak tanpa laki-laki ini mampukah aku


Sementara selama ini dia yang melakukan semuanya. Melayaniku dan Rania seperti Ratu memandikan adam. Membuatkanku susu sebelum tidur. Hidupku bergantung penuh padanya.


“aku tidak meminta mas menepati janji yang itu” kataku, aku sudah tidak tahan


“fira akan menagih janji katanya hanya aku dan Rania yang berkuasa disana apakah semua itu bohong” aku berbicara sambil terisak, aku tidak kuat.


“kau membuat hatiku menjadi nyaman, sekarang tiba-tiba akan meninggalkan kami begitu saja mana tanggung jawabmu sebagai laki-laki” suaraku lebih keras.


Selesai memasukkan baju, menutup koper dengan perlahan. Tuhan aku akan berpisah dengan laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatiku ahir-ahir ini. Dia bangkit duduk disebelahku air matanya berlinang. Memegang kedua tanganku erat mata kami bertemu.


“kesalahanku terlalu banyak, aku tidak ingin menambah kebencian di hatimu. Setelah ini berbahagialah, mas akan mencintaimu sampai kapanpun. Satu lagi, mohon jangan batasi mas ketika ingin bertemu adam dan Rania, semoga Tuhan mempertemukan mu dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari mas” isakannya semakin keras. Hatiku semakin tersayat


“fira ingin mas ada disini, mencintai kami seperti kemarin, berjanjiah” aku memohon, tidak peduli dengan harga diri. Hatiku tidak berbohong.


“kamu akan semakin tersiksa jika terus bersamaku. Mas bukan laki-laki yang tepat untukmu”


“oh, jadi kamu hanya ingin aku melahirkan anak setelah itu kamu akan mencampakkan aku begitu saja, bagus sekali peranmu mas. Kamu memperlakukanku bak Ratu, memanjakan aku seperti tidak ada lagi wanita di dunia ini apakah semua itu hanya pura-pura untuk mencari simpatiku” aku tumpahkan amarah


“semua itu mas tulus melakukannya karena mas mencintaimu. tidak akan ada perempuan manapun yang bisa menggantikanmu di hatiku sampai kapanpun percayalah”


“terus mengapa harus pergi”


“ini satu-satunya cara membebaskanmu dari laki-laki bajingan sepertiku. Mas sudah memikirkan ini sejak lama. Dan sekarang waktu yang tepat”


airmata membasahi pipinya, mengusap pelan dengan tangannya.


Dia memelukku erat, mencium keningku berkali-kali, air mata itu semakin deras. Kami saling melepas lara yang menggumpal aku akan kehilangan laki-laki ini sekarang. Seharusnya aku bahagia tapi mengapa justru hatiku merasa hampa.


Melepas pelukanku berjalan menuju koper, menariknya pelan. Tidak boleh ini tidak boleh terjad. Aku bangkit, memeluknya dari belakang aku terisak dadaku sesak. Aku tidak ingin berpisah darinya.


Dia berbalik memelukku erat, mencium ujung kepalaku yang tidak tertutup hijab.


“tinggallah disini demi aku, demi anak-anak”


“kita akan tersiksa jika terus bersama kamu


berhak bahagia sayang, raihlah mimpimu. Aku akan mengucap talak kalau hatiku sudah siap” jawabnya masih erisak.


“tapi hatiku yang memintamu tetap disini”dia menatapku tidak percaya. Aku tarik lehernya. Aku mempertemukan bibir kami. Sesaat hanyut dalam manisnya kemesraan ini. aku pejamkan mata menikmati desiran rasa yang bertahun-tahun tak pernah kurasakan lagi.


Dadaku berdebar, jutaan kupu-kupu mengelilingi hatiku. Kami menuntaskan rasa ini melalui b*b*r. Mas amir melepaskan ciuman ini pertama.


“jangan lakukan jika kamu hanya demi mempertahankan status, karena kamu akan tersiksa lebih dari yang kamu bayangkan.”


“aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada laki-laki yang bernama Amir Syarifudin”kataku tegas tanpa keraguan. Tuntas sudah yang selama ini mengganjal hatiku.


“benarkah” wajahnya berbinar bahagia.dia memelukku erat, bahkan sangat erat


“terima kasih sayang” kata itu di ucapkan berulang ulang. Kami berbahagia dalam dekapan.


Semua rumah tangga punya ceritanya masing-masing. terlepas dari kesalahan yang pernah kami lakukan. aku sudah melebur nya dalam kata maaf yang terucap. dia laki-laki yang tepat dan ayah yang tepat untuk anak-anakku.


TAMAT


note: ahirnya kita sampai di bagian ahir cerita ini. sekali lagi outhor mohon maaf tidak bisa menuntaskan semua keinginan para reader disini. mungkin ada yang kecewa dengan endingnya.


author berterima kasih atas partisipasinya, like, komen vote dan hadiah yang kalian berikan sangat luar biasa...

__ADS_1


__ADS_2