BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
PELAJARAN HIDUP


__ADS_3

Dari andara aku belajar, bahwa yang buruk tidak akan selamanya buruk, bangkit untuk memperbaiki adalah kuncinya. Tekad kuat adalah pendukungnya.


Yang baik akan tetap menjadi baik kalau kita memeliharanya. Yang lebih berbahaya adalah kita yang selalu merasa baik hingga timbul rasa sombong. merasa diri paling hebat. sehingga tidak mau mendengar nasehat orang lain.


Aku berdiri dipemakaman orang yang pernah aku benci keberadaannya, orang yang pernah aku hina karena khilafku. Dan orang yang aku maafkan karena ketulusannya sehingga darinya aku mengambil banyak pelajaran.


Inilah ahir perjuangannya di dunia, dia sudah membuat rasa kehilangan banyak orang . meninggalkan duka yang mendalam bagi mereka yang mencintainya. Meninggalkan kesan yang baik untuk semua orang tak terkecuali aku.


Diatas gundukan tanah yang masih basah terlihat helaian bunga segar menghiasi diatasnya. Aroma melati bercampur bunga mawar dan daun pandan menyeruak masuk ke indraku. Menambah dalamnya rasa duka bagi pelayat.


Hujan rintik-rintik setelah selesai pemakaman, menambah syahdunya kesedihan kami. para pelayat mulai meninggalkan tempat satu persatu, tinggalah aku dan beberapa kerabat terdekat yang masih bertahan.


karangan bunga berjejer mengelilingi tempat peristirahatan terahir seorang perempuan berhati tulus sebagian ucapan turut berbela sungkawa.


Aku masih sesenggukan, sesekali menyeka air mataku dengan tisu. Dalam dekapan ayah Rania aku tumpahkan segala duka, semua rasa sedih atas kehilangannya.


Rania menggandeng tangan kanan ayahnya. Tangan kiri mas Amir memelukku erat. Sesekali mencium kepalaku yang tertutup hijab warna hitam. Dan tangannya tidak berhenti mengusap bahuku lembut.


Terdengar tangisan kecil dokter angga. Laki-laki itu dirangkul seorang perempuan cantik yang aku ketahui itu kakaknya yang sengaja pulang dari luar negeri setelah mendapat kabar duka.


Tangisan tak kalah menyayat terdengar dari atas gundukan tanah basah. Yah, tante kamila mamanya Andara menangis seperti orang tak sadar.


“maafkan mama nak, yang tidak bisa menjadi ibu yang baik buat kamu. Maafkan mama yang sudah menyia-nyiakan kamu bertahun-tahun. Mama menyesal” dan sederet kata maaf yang tak bisa terangkai dengan jelas.


Wanita itu memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Andara, dengan menciumnya berkali-kali. Air mata penyesalan yang tidak akan ada artinya lagi untuk hari ini.


Seorang laki-laki berperawakan kurus memegang batu nisan diujung yang lain menangis tanpa suara, menunduk dalam menunjukkan penyesalan yang sama.


Hati orang tua mana yang tidak akan hancur mendapati anak semata wayangnya meregang nyawa ketika bertarung memperjuangkan nyawa yang lain di usia yang masih muda.


Yang tak kalah menyayat hatiku, melihat kenzy tertidur di gendongan neneknya.


Tuhan, apa yang akan dilakukannya nanti ketika tahu mamanya sudah tiada. Bagaimana kalau tengah malam terbangun mencari ibunya.


Air mataku kembali mengalir. Nafasku sesak tak dapat kubendung rasa kehilangan ini. apakah ini pertanda Andara akan pergi ketika berpamitan padaku.


“kalau ada apa-apa dengan saya, jangan benci kenzy. Saya ibunya yang pantas dibenci” Allah,,, seandainya aku tahu kalau itu adalah pamitan untuk selamanya akan aku peluk dia lama dan kuucapakn kata maaf berulang. Tapi maut tidak ada yang tahu kapan waktunya.


***

__ADS_1


Pulang kerumah dengan perasaan hancur, rasa duka ini masih kurasakan. Isakku belum berhenti kami masuk ke ruang keluarga. Slide-slide bayangan Andara dan kenzy tergambar jelas. memasak, nonton TV, bermain dengan kenzy. Seolah bayangan itu nyata. Seseorang memelukku dari belakang


“masih sedih?”ku berbalik memeluknya erat. Tinggiku yang hanya sebatas dadanya. Aku menyembunyika wajahku disana, entah ini tangisan yang keberapa aku tidak tahu. Yang jelas ayahnya Rania berkali-kali memelukku erat mencium kepalaku,mengusap bahuku dengan kata-kata menenangkan.


“semua hidup manusia sudah ada yang mengatur. Bahkan dalam alquran pun disebutkan. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur tanpa kehendaknya. Ketentuan hidup manusia itu sudah tertulis sebelum hadir kedunia. Tinggal kita menjalankan saja dengan ikhlas” ucapnya pelan.


Memapahku ke sofa diruang TV kami duduk disana. laki-laki ini masih mendekapku erat” Rania duduk disebelahku.


“kasihan kenzy bunda, aku tidak mau bunda pergi waktu melahirkan adik seperti tante Andara” mas amir mengusap kepala Rania.


“tidak akan sayang kita akan bersama menunggu adik Rania. Dan bersama sampai Rania dewasa” ucap suamiku


“bunda jangan lupa minum susu, minum vitamin, jangan capek” ku lepas pelukan mas Amir berganti memeluk Rania erat. Tak bisa ku bayangkan kalau aku mengalami nasib seperti Andara.


Siapa yang akan membesarkan Rania. Adakah perempuan lain yang bisa menyayangi Rania seperti aku menyayanginya. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang menghantui pikiranku.


***


Hari sudah malam. Rumah ini terasa sunyi. Suasana duka masih kami rasakan. Dia bukan saudaraku, kami tidak punya pertalian darah tapi kebaikannya mampu membuatku merasa kehilangan yang teramat.


“makan dulu, minum susu sama vitaminnya” suara ayah Rania menghampiriku di kamar saat aku berbaring.


aku duduk dipinggir ranjang, menatap mas Amir yang membawa nampan dan Meletakkan nampan di nakas. Mengambil piring berisi nasi.


“mas suapi ya, dari tadi siang kamu belum makan” mengambil nasi di piring mengaduk nasi siap menyuapiku.


“mas... “panggilku pelan. Aku ingin mengatakannya sekarang.


“yah...istriku memanggil?” ucapnya menatapku lembut.


“maaf...” hanya satu kata. Tapi aku butuh berjam-jam untuk memikirkannya. Kata yang menandakan runtuhnya ke angkuhanku. Rasa ini mulai mencair. Kisah Andara memberikanku kekuatan untuk melakukan ini semua. Aku mulai terisak.


“hei,,,ada apa?” aku tahu suamiku bingung. Mungkin dia heran. Selama beberapa tahun sejak kejadian aku meninggalkannya ini pertama kalinya aku mengucap maaf.


“sayang ada apa, kamu baik-baik saja kan?” aku tidak kuat, isakku semakin keras aku memeluknya erat. Bibirku terkunci rapat air mata ini mengalir dengan deras.


“ada yang sakit?” laki-laki ini semakin bingung. Ahirnya dia memelukku erat, mengalah karena tidak ada jawaban. Aku ingin belajar mengikhlaskan semua yang terjadi padaku. Membuang segala benci dan dendam di hatiku.


Aku takut ketika aku pergi nanti. Setidaknya aku pergi tanpa beban. Kalau nanti terjadi sesuatu padaku saat melahirkan. Setidaknya aku akan pergi dengan tenang setelah aku memaafkan dan minta maaf. Aku sadar aku bukan manusia sempurna.

__ADS_1


Segala tingkah lakuku tidak akan luput dari khilaf yang tak kusadari. Aku yang merasa paling tersakiti ternyata meninggalkan duka yang sama bagi mereka yang mencintaiku.


Kukira aku yang paling menderita, ternyata ayah ibuku bahkan Andara mengalami hal yang sama.


Aku merasa kata maaf tidak akan cukup untuk menghapus kesalahanku setidaknya ini adalah awal yang baik selanjutnya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk berubah lebih baik lagi kedepannya.


Andara saja bisa mengapa aku tidak. Wanita itu berhasil menghapus kebencian di hati orang lain. Meninggalkan kesan yang baik saat menghadap sang pencipta.


“ajari aku untuk lebih ikhlas” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan.


“apa hari ini mas melakukan kesalahan” tanyanya sambil melepas pelukanku. Menangkup kedua pipiku dengan tangannya. Aku hanya menggeleng tidak mampu mengeluarkan kata.


“apa adiknya Rania mulai nakal?” tanyanya lagi. aku masih setia mengunci bibir. Hanya gerakan kepala sebagai jawaban.


“kepergian Andara tidak usah terlalu dipikirkan, sekarang bagaimana kita melanjutkan hidup agar bermanfaat untuk orang lain.” Nasehatnya.


“tidak usah bersedih, ada aku dan Rania kita bersama akan menunggu adiknya Rania lahir ke dunia. Berbahagialah. Tuhan memberikan kepercayaan itu buat kamu sekali lagi” tulus sekali orang in.


Bahkan dia tidak mengungkit perlakuanku selama ini. perkataanku yang tidak pernah enak didengar. sikapku yang selalu menyakitinya.


"kamu membenciku?" tanyaku pada Mas Amir


"tidak ada alasan aku membenci ibu dari anak-anak ku"


"sikapku, perkataan ku"tanyaku lagi.


dia menggeleng.


"keikhlasanmu merawat dan mengandung anak-anak tidak bisa ditukar hanya kesalahanmu yang hanya setitik" keikhlasan laki-laki ini. Allah....


"jangan kamu pikir sikapmu ahir-ahir ini menyakitiku. tidak sama sekali percayalah Mas rela melakukan ini semua. seandainya kehamilan bisa Mas gantikan. akan Mas lakukan. Mas ingin menanggung semua kesengsaraanmu, kesakitan, kepahitan hidupmu. tapi itu tidak bisa. Tuhan sudah memberikan porsinya masing-masing"


dia menatapku lembut.


"jadi, jangan banyak pikiran. jalanin kehamilan ini dengan bahagia seperti kehamilan Rania dulu"


kali ini aku benar-benar terharu dengan ucapannya. dia adalah laki-laki yang sama yang aku nikahi 10 tahun lalu. mencintaiku tanpa pamrih.


note: kali ini pendek dulu, InsyaAllah tinggal 2 atau 3 part lagi menuju tamat.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya semua. apapun komentar kalian percayalah itu motivasi tersendiri untuk author.


__ADS_2