BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
KEMARAHAN BANG FATIH


__ADS_3

Duduk di restoran hotel, di ruangan VIP yang di pesan laki-laki didepanku. Bang Fatih, dia terdiam dari mulai dia masuk keruangan ini, kedua tangannya terlipat didepan dada. Tatapannya tajam seolah ingin membunuhku.


Sejujurnya aku takut. Tapi, dia tidak mungkin memukulku, karena aku yang tahu dia. Aku tersenyum pura-pura tidak mengerti.


Kuambil sendok untuk mencicipi menu yang sudah tersedia sebelum aku datang, masa bodoh dengan tatapannya. Paling dia marah karena dia tidak bisa menemukanku bukan.


“berhenti pura-pura bodoh Syafira...!!!” suara lantangnya mengagetkanku, sumpah selama hidup, ini pertama kalinya dia membentakku. Sendok terlepas dari tanganku.


Suara denting, sendok beradu dengan lantai nyaring terdengar.


“mau sampai kapan kamu menyiksa orang-orang disekitarmu...!!!” bentaknya lagi. hah, menyiksa, siapa? aku?...apa aku tidak salah dengar..


“Fira lapar bang, tadi didalam belum sempat makan” suaraku memelas. Ini senjataku dia tidak akan tahan. Lihat saja.


“kau baru tidak makan selama beberapa jam saja, seperti orang yang mau sekarat, kamu bayangkan mereka yang tidak makan berhari-hari berbulan-bulan menunggu kabarmu. Dasar wanita egois” apa-apaan ini. dia bilang aku egois, baiklah akan aku layani


“siapa yang abang bilang egois, kalau Fira yang abang bilang begitu abang salah, Fira hanya pergi karena tidak sanggup untuk menanggung sakit kedua kalinya. Tidak ada yang mengerti Fira. Semua orang ingin Fira bertahan, mereka hanya memperdulikan perasaan mereka tidak ada yang peduli tentang perasaan Fira” tumpah sudah air mataku


Sesak didada ini karena menahan tumpahan air mata yang semakin tidak terkendali. Sakit hati ini, bahkan orang yang selalu mendukungku dan melindungki selama ini pun melakukan hal yang sama.


Mengangsurkan tisu kotak yang ada dimeja, wajahnya tidak lagi garang. Tapi masih dingin. Tatapannya tanpa ekspresi sekarang.


Ku ambil beberapa helai, menghapus air mata yang tidak lagi bisa kubendung,jangan


n lupakan cairan hidung yang ikut berloma. Hilang sudah selera makanku. Menu lezat yang tersaji tidak lagi menggugah seleraku.


Sakit hati dan kecewa melebur jadi satu. Mengalir lewat derasnya air bening yang mengalir dipipiku.


“sudah nangisnya, kalau sudah abang akan bercerita, yang akan membuatmu menanggung rasa bersalah yang tak berkesudahan” kutatap matanya tajam, tidak akan ada lagi cerita yang membuatku merasa bersalah, kalau ada yang menyesal seharusnya laki-laki itu meraung mohon pengampunan padaku.


“abang hampir membunuh suamimu dengan tangan abang sendiri, abang hampir melakukan kebodohan sepertimu. Orang yang paling kau benci itu hampir meregang nyawa ditangan abang sendiri. dia tidak melawan, katanya dia pantas mendapatkan itu” kan bagus laki-laki itu dihajar, apa yang akan membuatku merasa bersalah. Aneh sekali.


“mengapa tidak abang bunuh saja, biar aman sedikit dunia tidak dipenuhi penghianat macam dia” jawabku ketus


“jaga bicaramu, kemana syafira yang lemah lembut penuh kasih sayang. Atau jangan- jangan pelarianmu mengajarkan untuk mempertajam lidahmu” bang fatih benar-benar emosi aku takut. Tapi aku tidak peduli.


“kalau kamu menginginkan kehancurannya kamu berhasil, laki-laki itu dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Perusahaannya sempat hancur. Semua tander proyek, yang dimenangkannya gagal, sampai dia hampir diseret kepengadilan. Karena pekerjaannya tidak sesuai waktu yang ditentukan. Abang berniat membantu, dia tolak. Tidak ingin melibatkan abang. Dia bersikeras ingin membuatmu bangga ketika kamu kembali bahwa dia bisa menjalankan perusahaannya sendiri tanpa bantuan orang lain” terdiam sejenak.


Bang Fatih terdiam dia menunduk, tangannya terulur kemeja. Dia mendongak keatas. Ada sesak yang ingin dia tepis, atau hanya ingin menghalau airmata yang ingin menampakkan diri.


“sampai ahirnya dia tidak sanggup bertahan, asam lambung yang dideritanya memaksa laki-laki malang yang ditinggal anak istrinya itu harus dirawat dirumah sakit. Tidak sampai disitu. Dua minggu kemudian abang mendengar dia koma. Kata dokter hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya” tumpah sudah air mata laki-laki didepanku ini. Dia menunduk dalam untuk menyembunyikan tangisannya. Apakah aku terharu, tidak. Bahagia tidak juga. Perasaanku biasa saja. toh dia sekarang baik-baik saja.


“Dokter spesialis yang didatangkan tidak membantu apapun, psikiater, ahli syaraf, ahli penyakit dalam, hanya satu yang tidak dilakukan ibunya. Mendatangakan dukun itu saja. takut akan siksa dosa syirik katanya”

__ADS_1


“abang sempat menyarankan untuk dibawa keluar negeri tapi ditolak ibu mertuamu. beliau yakin bahwa kamu akan menghubunginya, begitu yakinnya perempuan itu ditengah kami yang sudah putus asa” ceritanya berlanjut.


“dimana perempuan penggoda itu ketika suaminya sekarat, apakah dia foya-foya seperti kebiasaanya” tanyaku, sungguh, aku memang penasaran kabar penggoda itu.


“dia ada, dan sedang hamil anak kedua kalau kamu ingin tahu” kalimat bang Fatih seolah memberikan remasan di hatiku, sakit sekali. Tuhan... bagaimana wanita itu bisa berbahagia ditengah perjuanganku menjauh dari Mas Amir. Begitu kejam kelakuan mereka dibelakangku.


“dasar pelakor, wanita murahan tetap saja murahan. Mau di bentuk bagaimanapun” amarahku tumpah kalau menyangkut. Wanita busuk itu.


“hati-hati dengan kata-katamu fir, kalau kamu tahu apa yang di lakukan Andara, kamu akan meraung meminta maaf padanya” masih dengan nada tinggi


“Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, tapi setiap orang berhak untuk medapatkan kesempatan kedua. Dia sudah berubah. Pulanglah, biar kamu tahu kebenarannya, abang tidak berhak atas masalah rumah tangga kalian, selesaikan baik-baik jangan pergi ”nadanya sudah mulai merendah


“Fira tidak akan pulang bang, Fira sudah nyaman disini, sumber rasa sakit itu tidak ada disini” nadaku pelan, kalau aku pulang sia-sia sudah pelarianku.


“kamu perlu menyelesaikan masalahmu Fira, setelah itu abang akan mendukung apapun keputusanmu. Pulanglah, bahkan dari tadi kita berbicara, tidak sekali pun kamu menanyakan kabar ayah dan ibu” yang dia maksud adalah ayah dan ibuku. Aku tersentak, mereka apa kabarnya. Tiba-tiba rindu ini menyeruak masuk.


“merekalah yang paling terluka dengan kepergianmu, kamu anak semata wayang. Kebanggaan mereka, tidak bisakah kamu menjaga perasaan mereka di hari tuanya” seketika air mata berlinang. Mengingat bagaimana ibuku memintaku bertahan. Maka, demi mereka yang tidak mendukung membuatku memilih jalan ini.


“jangan paksa Fira untuk pulang, itu tidak akan pernah terjadi”jawabku lagi


“bagaimana dengan kewajibanmu sebagai istri, kamu sudah mengabaikannya selama tiga tahun” katanya lagi.


“aku janda, dan aku tidak punya kewajiban pada siapapun” kataku tegas, benar bukan.


“kenapa abang memaksaku pulang, abang tidak tahu rasanya dipoligami, sakit bang, fira menangis sendiri tidak ada yang tahu. Bahkan laki-laki itu tidak pernah berbuat adil untuk Fira” jawabku sambil menahan tangis yang hampir tumpah.


“tidak ada laki-laki yang mencintaimu lebih besar dari suamimu jadi pulanglah” ngotot sekali laki-laki didepanku ini. seolah dia lebih tahu segalanya dari pada aku. Dan tunggu, sejak kapan mereka akur.


“ada, abang lebih mencintai Fira lebih dari siapapun”kataku penuh keyakinan


“perasaanku sama kamu beda Fira, jangan disamakan dengan perasaan suamimu”


“mantan suami lebih tepatnya”potongku cepat sebelum bang fatih melanjutkan kata-katanya.


“tapi fira mencintai abang, sayang sama abang. Kalaupun Fira harus menikah lagi abang orang yang tepat” ini sebenarnya pikiran yang menghantuiku ahir-ahir ini. aku tidak sanggup untuk menikah lagi dengan orang baru. jadi dengan laki-laki ini aku sudah mengenal dengan baik.


“jangan membual syafira, itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan mungkin pernah terjadi” katanya tegas.


“memang apa yang salah. Bukankah kita memiliki perasaan yang sama” kataku tidak mau kalah, kalaupun saat ini aku tidak benar-benar mencintai laki-laki ini. aku yakin seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.


“jangan sampai itu terjadi, karena kalau tidak kamu akan mengalami kesakitan yang pernah abang rasakan. Kita tidak bisa menikah, kamu adikku Fira. Perasaanku hanya ingin melindungimu tidak lebih” katanya dengan tatapan tajam kearahku


“apa maksud abang” tanyaku heran

__ADS_1


“sebelum kamu menikah dengan amir laki-laki itu tahu kalau aku mencintaimu, semua HP dan Walpaper dilaptopku isinya kamu, suamimu tahu.


"Sebelum amir melamarmu abang minta bapak dan ibuku untuk melamarmu, karena abang yakin bahwa perasaan abang sama kamu tidak main-main. Ibu dan bapakku menolaknya.


Ahirnya aku tahu dari mereka bahwa kita saudara sepersusuan. waktu kecil abang minum asi dari ibu” penjelasan bang amir bagai petir menyambar tepat mengenai kepalaku. Apa-apaan ini.


“ketika itu aku tidak ingin menampakkan diri dihadapanmu, tidak kuat melihat kebahagianmu bersama laki-laki lain. Tidak mudah menghilangkan perasaan itu. Sampai ahirnya satu hari sebelum hari pernikahanmu abang meminta janji suamimu untuk tidak menyakitimu, kalau sampai itu terjadi abang akan mengambilmu dengan paksa, dia menyetujui itu. Di hadapan abang dia berjanji. Setelah itu abang pergi menjauh, tidak ingin menampakkan wajah dihadapan kalian”


Lemas sudah badan ini, mengapa seolah kebahagaiaan ini tidak berpihak padaku. Padahal salah satu tujuanku menikahi bang Fatih untuk menyakiti Mas amir.


Oh,,mengapa tidak ada yang menceritakan ini padaku sebelumnya. Tuhan,,,bagaimana caranya aku membalas sakit hatiku pada suamiku.


“pulanglah, abang jamin tidak akan ada yang menyakitimu” kata-katanya lembut


“boleh sekarang fira mukul abang?” setelah tahu hubunganku dengannya, entah apa yang kurasakan. bahagia, haru, tapi sekarang aku ingin memeluknya menumpahkan sakit hati ini bersamaan.


“lakukanlah, tapi setalah itu pulanglah, semua orang menunggumu” itu jawabannya.


Aku bangkit, kukepalkan tangan kuat-kuat kuarahkan tinju ke dada kirinya.


Ku hantamkan tiga kali. Laki-laki itu tidak bergeming. Bahkan tidak merasa kesakitan sama sekali. Cih, bagaimana dia bisa tahan, aku kan sudah mengeluarkan semua kekuatanku.


“sudah puas belum?, makanlah. Tenagamu kurang kuat, sepertinya kamu kurang gizi tinggal disini”


“apa alasan fira untuk pulang?” tanyaku dengan suara lemah.


“karena bapak dan ibu tinggal dirumahmu sejak kepergianmu, dia menunggu dengan cemas” katanya, seperti ada sayatan pisau mengiris hatiku kalau berbicara tentang kedua orang tuaku, ada pedih tak terlihat. Tapi rasanya sungguh dalam.


“mereka tinggal dirumah fira yang ditempati Mas Amir maksudnya?” tanyaku meyakinkan. Bang fatih mengangguk.


“abang tidak bisa membawamu sekarang, tapi suamimu yang akan menjemputmu dua bulan lagi, setelah kamu wisuda. Jangan menghilang lagi. abang akan menemukanmu sekalipun bersembunyi di lubang semut” tatapannya melunak. Senyum terbit dari bibirnya.


“Fira akan pulang satu minggu setelahnya Fira akan balik lagi kesini. Tidak ada alasan Fira berlama-lama disana” pasrah itulah yang aku lakukakan sekarang.


Demi menuntaskan rinduku pada kedua orang tuaku. Akan aku lakukan. Ini hanya sementara. Baiklah, melunak saja sebentar. Setelah itu aku akan benar-benar menetap dikota ini.


Note: Haramnya seorang laki-laki menikahi wanita itu bisa jadi karena adanya hubungan darah atau nasab antara keduanya, atau karena persusuan..


*bang fatih waktu kecil minum ASI dari ibu kandung syafira. jadi mereka tidak bisa menikah karena dianggap sedarah. nanti cerita detailnya ada di bab berikutnya bagaimana itu bisa terjadi


yang mau ikut fira mudik yuk berkemas, ada cerita apa setelah tiga tahun*.


Maaf ya, lambat author ngedit dua bab lumayan lama banget. Untuk yang setia menunggu terima kasih, salam hangat dari author.

__ADS_1


__ADS_2