BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
Bab 12. SAKIT


__ADS_3

Terbangun tiba-tiba seperti ada orang yang membangunkanku. Pandanganku memutari ruangan ini. Masih ditempat yang sama, dikamarku. Menatap tempat tidur disebelah, kosong. Allah, nyeri ini kembali berdenyut hatiku benar-benar sakit. Membayangkan yang dilakukan mas amir dengan wanita itu. Meskipun dia halal tapi aku tidak ridho.


Sayatan luka ini memang tidak berdarah tapi sakitnya mampu melumpuhkan tulang dipersendianku. Adakah wanita yang kuat menhadapi kenyataan ini. Kenyataan bahwa suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain ditempat yang sama tapi diruangan berbeda. Kalau ada tolong ajari bagaimana cara menghadapinya.



Rasa sakit ini tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Bayangan suamiku berbagi kehangatan, bercumbu diatas ranjang. Dan memeluknya dengan mesra seperti yang biasa dia lakukan untukku. Sekarang dia lakukan untuk wanita lain. Airmata kembali mengalir, tak terhitung berapa banyak sudah aku menangis sejak kedatangan wanita pembawa petaka dikeluargaku.



Sungguh kejam yang mereka lakukan. Berbulan madu dirumahku, diatas lukaku seolah menampar keras harga diriku sebagai istri. Tidak takutkah wanita itu dengan karma, jika tidak terjadi padanya bisa saja pada keturunannya kelak.



Kulirik jam dinding, jam 2 dini hari. Tapi badanku tidak bisa digerakkan, uratku seakan lepas dari badan, ngilu dan lemas. Penderitaan ini membuatku melemah, jangankan bangun berubah posisi keduduk saja aku tidak mampu.



Kupaksakan turun dari tempat tidur, meski lemah aku tidak boleh menyerah. Sekarang waktu yang tepat untuk mengadukan penderitaan, rasa sakit dan lukaku pada sang pemilik hidup.



Dengan susah payah ahirnya selesai juga aku mengambil wudhu, setelah mensucikan diri aku menambil mukenah. Sesekali perpegangan pada pinggir tempat tidur karna pandanganku tiba-tiba gelap. Beristirahat menormalkan pandangan. Perutku seketika perih seperti diremas tenggorokan panas. Lututku gemetar seperti jelly.



Sekuat tenaga aku mendirikan shalat 2 rakaat, ditutup dengan satu rakaat.setelah salam terahir tumpahlah air mataku. Doaku panjatkan tanpa henti, memohon ampunkan dosa. Dengan berurai airmata kuadukan kisahku walaupun kutahu Rabku sudah mengetahauinya. Bukankah Tuhanku suka dengan rengekan hambanya yang datang kepadaNya. Dan berjanji akan mengabulkan segala keinginan hambanya yang bersungguh-sunguh dalam meminta. Diwaktu yang dijanjikan dikabulkannya doa aku meminta kekuatan menerima takdir.


Tak ingin berdoa yang buruk karna takut menimpaku terlebih dahulu. Memohon jalan terbaik karena yang aku tahu yang terjadi hari inipun sudah atas rencananNYa. Cobaan ini entah untuk meninggikan derajatku atau untuk menegur ke angkuhanku yang telah mengagungkan cinta terhadap ciptaannya.


Aku terlena, akan cinta dunia. Mulai hari ini aku berjani akan mencintaimu lebih dari apapun didunia ini ya Rab...akan ku gantungkan semua harapku padaMU. Ajari hamba ikhlas dan sabar yang lebih luas lagi.


Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan ditutup kalimat amin. Mengambil untaian tasbih memutar satu-persatu sambil melantukan dzikir untuk mengagungkan AsmaMU. Ampuni hamba yang masih sering lalai.


Berbaring sambil menunggu waktu subuh, kulanjutkan untaian doa lewat putaran tasbih ditanganku. Ingatanku kembali ke masa dimana awal mula mas amir melamarku untuk menjadi istrinya. Kami tidak pacaran aku yang tidak mau, selepas kejadian mas amir dengan Andara, dia sering menginap dikosan bang fatih yang kebetulan didepan kosanku. Sesekali sering bertamu ketempatku untuk mengerjakan tugas kalau ada.


Hingga selesai sidang skripsi kala itu mas amir memintaku untuk menjadi istrinya, aku yang terkejut menatapnya tidak percaya. Jangan membayangkan hal romantis karena dia tidak tahu, tidak ada bunga ataupun cokelat, yang dia berikan hanya genggaman tangannya yang terasa dingin.


“ibuku ingin bertemu kamu nanti pas kita wisuda, kamu mau ya” kalimat yang mampu membuatku speechless, sumpah demi apapun aku benar-benar terkejut dan takut. Tidak pernah aku membayangkan kejadian ini sebelumnya. Ku tatap matanya dalam mencari kebenaran disana. Sialnya tatapan itu tulus. Debaran jantungku menguat bibirku masih terkunci.


“aku mau kerja dulu, melanjutkan S2 setelahnya baru berpikiran berumah tangga, maaf”. Hanya itu yang terucap dari bibirku. Laki-laki itu meyakinkanku bahwa itu bisa dilakukan setelah menikah. “Kita akan merasakan indahnya pacaran setelah halal”. Itu katanya kala itu.”kita akan sama-sama melanjutkan S2 setelah menjadi suami istri indah bukan?” lanjutnya. Aku yang tidak yakin dan dia yang meyakinkan. Ahirnya ku mengangguk.


Apakah aku terpaksa, tentu tidak karena sedikit hatiku mulai terpaut padanya sejak kebersamaan kami. Aku yang menyimpannya dengan rapat. Rasanya kurang pantas seorang wanita mengatakannya lebih dulu. Yang aku suka darinya kerja keras, sikap lemah lembutnya dan perhatiannya padaku. Sempat membuatku besar kepala aku pikir ini hanya perasaanku ternyata tidak laki-laki itu juga merasakan yang sama.


Setelah lulus dia benar-benar melamarku dan kami menikah setelah 3 bulan. Seperti pasangan penganti baru pada umumnya. Hidupku terasa indah, benar-benar indah. satu bulan tinggal sama ibu ahirnya kami beranikan diri mengontrak rumah berdua. Aku yang tidak mau tinggal dengan mertua kala itu. Sambil lalu kami menaruh lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan.


Suka duka kami rasakan. Pernah uang hanya tinggal lima ribu rupiah, bingung mau makan apa. Ahirnya membeli tahu tempe dan sayur seadanya. Hal itupun terasa indah kala itu. Bunga-bunga cinta masih bermekaran disana. Aku pikir itu adalah cobaanku berumah tangga. Sampai ahirnya aku mendapat panggilan kerja dan usaha jual beli tanah mas amir semakin lancar.


Mengingat itu hatiku berdenyut nyeri. Tak kuksangka ternyata cobaan berat itu baru saja dimulai. Air mataku kembali menetes. Membayangkan suamiku berada satu kamar, satu ranjang dengan maduku. Luka hatiku kembali berdenyut, seperti ada remasan yang kuat disana. Seandainya aku tidak terlalu mencintai mungkin tidak akan sesakit ini.


Adzan subuh berkumandang, memanggil setiap jiwa yang terlelap. Kembali sakit dihati ini mendera, kala membayangkan imamku menjadi imam wanita lain. Kemudian wanita itu mencium tangannya. Dan mas Amir mengusap rambutnya lembut mencium kening setelahnya. Itu yang biasa dilakukan padaku kemarin. Tapi sekarang, bahkan aku tak mendapatinya disamping pembaringanku.


Melipat mukenah menaruh ditempatnya semula. Pandanganku tiba-tiba gelap saat berdiri badanku terasa lemas , mual menderaku dengan hebat. Jam dinding menunjukkan angka 6, ketika suara gawaiku berdering kencang. Nama ibu tertera disana.

__ADS_1


“assalamualaikum bu....” membuka pembicaraan


“waalaikum salam, apa kabarmu nak sehat, rania sama amir bagaimana sehat juga kan” sapaan seperti biasa diawal pembicaraan. Ibuku selalu menanyakan kabar kami.


“alhamdulillah kami sehat bu,,, ibu sama bapak bagaimana?” balasku sambil duduk ditepi ranjang memulihkan pandanganku.


“ibu kangen Rania, kamu g pulang. Entah kenapa dari kemarin ibu sama bapak kepikiran kalian. Tidak terjadi apa-apakan nak.”naluri seorang ibu begitu kuat.


“kami baik bu, inysaAllah nanti pulang nunggu Rania libur sekolah” air mata kembali menetes entah mengapa aku seolah ingin memeluk ibu rindu belaian dirambutku kala aku tidur dipangkuannya.


“kamu baik-baik saja kan, kenapa suaramu begitu?” ada nada cemas tertangkap di indraku.


“tidak apa-apa hanya saja syafira tiba-tiba kangen ibu sama bapak?” suaraku serak karena menahan tangis.


“kalau begitu pulanglah, ibu sama bapak juga kangen. Bilang suamimu jangan berlebihan mencintaimu. Sampai- sampai ibu tidak punya kesempatan memberikan cinta ibu buat kalian. Bilang sama dia kamu terbiasa kemana-mana sendiri tidak usah terlalu khawatir. Kalau nunggu amir yang antar pulang tidak akan ada waktu. Suamimu itu kan sibuk sekali.” Seandainya ibu tahu apa yang terjadi, masihkah dia akan bangga dengan menantu kesayangannya itu.


“Nanti fira coba bicara sama mas Amir bu, kalau pulang g diantar mas amir g apa-apa kan bu?”. Hanya mencoba memastikan ibuku memang benar membolehkan aku dengan rania berdua saja. Bukan apa-apa dia selalu menanyakan menantu kesayangannya itu “tidak apa-apa ibu sangat senang, tapi ingat jangan pulang tanpa ijin suami ibu akan marah, ya sudah ibu tutup, nanti kalau mau pulang kabari ya ibu masakkan makanan kesukaan Rania” bukan rahasia lagi kalau cinta ibu akan beralih kecucunya. Dulu masakan kesukaanku sekarang apa-apa kesukaan rania.


Menutup pembicaran berdiri meletakkan gawai ke nakas. Tapi rasanya tulangku tak bertenaga. Mataku benar-benar gelap keringat dingin membasahi kening. Aku tidak kuat lagi aku ambruk setelah menyenggol gelas dan teko kaca di nakas.


Samar terdengar pintu kamar digedor sambil memanggil namaku. Suara mas Amir dan Rania tertangkap pendengaranku. Aku tidak sepenuhnya pingsan masih bisa menangkap suara cemas mas Amir, tangisan keras Rania dan suara lembut milik maduku memanggil-manggil. Sungguh aku tidak ingin melihat mereka berdua, tapi aku ingin memeluk rania demi meredakan tangisnya.


Aku ingin membelai Rania tapi tanganku tidak bisa digerakkan mataku sulit terbuka. Aku lemah, benar- benar lemah sekarang, setelahnya aku tidak ingat lagi. seolah tertidur dengan sangat lelap masuk ke alam mimpi.


Membuka mata. Silau, itu pertama yang kurasakan. Bau obat-obatan tercium sangat kuat, tanganku terasa ada yang menusuk sakit. Kepalaku berdenyut terasa berat seperti ada beban berat menindih. Pusing tak tertahankan. Badanku lemah, kaku tidak bisa digerakkan, ku tekan tangan ketempat tidur hendak bangun.


“auh,,,”sakit sekali tangan kiriku. Kulihat ternyata ada jarum infus tertancap disana.


“Rania...”suaraku lemah nyaris tak terdengar.


“Dia sudah pulang sama Andara tadi, rumah sakit kurang sehat untuk anak-anak. Biar dia dirumah”. Dengan santai dia menyebut nama itu. Aku bahkan jijik mendengarnya, dia berusaha mendekatkan Rania dengan maduku aku tidak rela. Aku tidak mau Rania dekat dengan wanita itu.


“aku mau pulang” tegas suara yang keluar dari bibir ini.


“kamu sakit, kita akan pulang setelah kamu sembuh”. Dia mendekat kearahku mengulurkan tangan ingin membantuku duduk


“jangan sentuh aku!!!” emosiku sudah tidak bisa kutahan


“jangan sentuh aku dengan tangan kotormu”. Tanganku terarah kedepan, menghentikan kegiatannya yang hendak membantuku, suamiku membeku ditempatnya


“tanganku sudah bersih, habis cuci tangan memakai handsanitizer juga.”rupanya laki-laki tidak paham maksudku baik akan ku perjelas


“tangan yang habis menjamah wanita lain kamu bilang bersih, mejiikkan!!!”


“Astaghfirullah,,,kami tidak berzinah kami halal sayang. Sama seperti aku dan kamu hubunganku dengannya sudah sah meskipun secara agama” lancang mulutnya menyamakan aku dengannya.


“jangan samakan, kami tidak sama dan terlihat jauh perbedaanya. Aku tidak merebutmu dari siapapun. Jadi tidak ada wanita yang terluka dengan pernikahan kita. Sedangkan dia” amarahku sudah memuncak. Sungguh aku tidak sudi disamakan dengan wanita penggoda itu.


“tidak bisakah kamu menerima kami, daripada aku berbuat dosa diluaran sana, bukankah lebih baik aku halalkan, tidak ada fitnah yang timbul. bukankah aku sudah berjanji akan adil untuk kalian” lagi-lagi dia berkata adil bahkan belum apa-apa dia sudah menyakitiku inikah adil.


“Aku mau pulang” percuma berdebat, tidak akan menang. Hati suamiku sudah buta karena cinta.


“tunggu sembuh dulu baru pulang” tatapannya tajam untukku

__ADS_1


“aku tidak mau rania dekat dengan wanita itu” hardikku


“apa salahnya, dia juga istriku ibu sambung rania jadi biarkan mereka dekat” nadanya meninggi, entah kenapa setiap aku menampakkan ketidaksukaanku pada istri barunya dia akan terlihat emosi.


“tidak akan ada ibu sambung, ibu kandungnya masih ada” suamiku tertunduk


“aku tidak sakit, bahkan sudah benar-benar sehat jadi biarkan aku pulang” sambungku ngotot.


“selamat siang, permisi mau visit ibu”seorang pria separuh baya dengan rambut tertata rapi, baju putih serta stetoskop terpasang dilehernya menghentikan perdebatan kami. Dibelakangnya seorang perawat berbaju putih dan catatan ditangannya. Perawat itu memeriksa botol infus selang dan beralih kejarum infus ditanganku. Mencatatnya dalam buku yang dibawa tadi.


“apa yang ibu rasakan. Masih pusing, atau mual” sambil mengarahkan stetoskop kedada.


Sementara perawat memeriksa tekanan darahku. Kembali dia mencatat. Kemudian menyerahkan catatan medisku pada dokter tadi.


“boleh saya pulang sekarang dokter”. Suaraku menghiba, berharap dokter ini mengijinkan


“maaf ibu tapi catatan medis ibu masih belum boleh pulang kondisinya belum stabil, tekanan darah masih 80/70 rendah sekali.dehidrasi ibu parah, asam lambung ibu juga masih tinggi. Makan teratur jangan lupa minum obatnya, saya permisi dulu”. Dokter itu hampir berlalu setelah memeriksa kondisiku.


“tolonglah saya dokter, saya tidak suka bau rumah sakit, darah rendah saya itu memang sudah biasa saya masih bisa menahannya. Saya akan tambah sakit kalau disini.” Setengah merengek aku pada dokter laki-laki itu. Berharap dikabulkan. Sampai ahirnya dia kembali ketempat tidurku.


“hhmmm....kenapa ibu memaksa. Kalau terjadi apa-apa dengan ibu profesi saya sebagai dokter dan nama rumah sakit ini dipertaruhkan.” Ujarnya sambil menarik nafas panjang.


“saya akan jamin itu tidak akan terjadi, saya mau melakukan apa saja asal saya bisa pulang.” Memaksa itu jalanku sekarang apapun asal bisa pulang.


Jangan ditanya dimana suamiku, dia ada duduk disofa sambil tangannya memijit kening. Tidak bisa berbuat apa-apa.


“baiklah bu,,,tapi ada beberapa syarat yang harus ibu penuhi.” Lega hati setelah mendengarkan penuturan dokter


“kebagian admin, disana nanti ada surat pernyataan ibu tanda tangani. Ingat bu. Karena ibu memaksa pulang dalam keadaan belum sembuh, kalau ibu datang dengan keluhan yang sama dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan. Maka ibu tidak akan dilayani disini, yang kedua apapun yang terjadi setelah ini rumah sakit kami tidak bertanggung jawab.


Itu nanti tertera dalam surat pernyataan selebihnya saya tidak bisa menyebutkan silahkan ibu baca sendiri” kalau sudah tidak ada lagi yang ditanyakan saya permisi dulu”dokter itu keluar ruangan tempatku dirawat.


Membaringkan badan dikamar sendiri itu jauh lebih menyenangkan. Rania tertidur disebelahku. Kubelai rambut lurusnya, dia terlelap. Tarikan nafasnya tenang terasa ada damai disana. Sudah sejam yang lalu aku disini sejak kepulanganku dri rumah sakit. Suamiku dimana ada mungkin sekarang sedang bersenang-senang dengan maduku. Aku mengusirnya keluar kamar usai mengantarku dan menaruh tas dan bajuku disana. Sekarang jam tujuh malam terdengar ketukan pintu kamar.



Mbak tini masuk, setelah aku menyuruhnya. Dia membawa tamu rupanya. Wanita cantik itu mampu menghadirkan senyum dibibirku. Irina namanya, dari mana dia tahu aku sakit. “koq bisa sih mbk...saya baru tahu dari mas Raihan. Saya turut prihatin, mbak yang sabar ya.” Menggengam tanganku lembut. Dia istri mas Raihan sepupu jauhku. Umurnya masih muda. Selisih 7 tahun dengan sepupuku itu. Pernikahannya baru berjalan 3 tahun, tapi belum dikaruniai keturunan. Orangnya cantik berbalut gamis warna peach, dengan kerudung peach motif kembang. Aku meminta mbak tini menginap menghindari suamiku melayaniku.



“tidak apa-apa, mbaknya sudah lebih baik sekarang. Mana mas raihan.” Tanyaku pada perempuan ini.


“ada dibawah sama mas amir mbak...” katanya jedah sejenak


“saya baru tahu istri mas Amir mbak andara. Saya tadi bertemu dibawah” lanjutnya lagi seperti ada penyesalan disana. Bagaimana bisa dia tahu maduku. Sepopuler itukah wanita penggoda itu.


“Dia mantan istri sepupuku dari papah. Bercerai karena selingkuh. Itu cerita yang aku dengar dari mama.” “hah...”.terkejut. hanya itu yang keluar dari bibirku.


“Mas riko itu orang baik, hanya saja waktu itu ada masalah dalam proyeknya. Namanya bisnis ada naik turunnya mbak. Pada saat usaha mas Riko ada dibawah istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya. Mama juga dikasih tahu saudara papa. Kalau papa mana mau dia ngurus begituan”. Miris sekali mendengar cerita karina. Kecurigaanku sedikit terbukti tentang perempuan itu.


“kalau boleh saya kasih saran mendingan mbak Syafira pulang dulu, menenangkan pikiran dikampung. Butuh waktu untuk menerima ini semua. Tapi jangan sekarang tunggu sembuh dulu. Biar bibi sama paman tidak khawatir”. Karina memanggil bapak dan ibuku paman dan bibi, mengikuti nama panggilan mas raihan untuk kedua orang tuaku.


Sedari tadi bibirku tidak bisa berkata mendengar ceritanya. Itu artinya suamiku selingkuh ketika wanita itu masih terikat pernikahan. Dia juga merusak rumah tangga orang. Benciku semakin menggunung, sok suci mengatakan takut berbuat dosa tapi nyatanya. Sungguh pasangan yang munafik.

__ADS_1


__ADS_2