BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
MENYINGKAP TABIR PART III


__ADS_3

Mobil yang membawaku berjalan pelan, aku masih terdiam memandangi barisan pohon yang berjejer rapi dipinggir jalan. Pikiranku melayang menerawang jauh entah kemana.


Bahkan laki-laki yang paling kupercayai sekalipun sekarang sudah mulai berbohong. Aku memang mudah percaya pada siapapun .


Tapi untuk bang fatih, setiap dia melakukan kebohongan ada gerakan tak kasat mata yang membuatku tahu kalau dia menyembunyikan sesuatu.


“Reno kenal Monica?” tanyaku pada laki-laki yang sedang memegang setir didepan


“kenal bu, beliau direktur bagian keuangan. Orang kepercayaan GLOBAL GROUP”. jawabnya santai. Aku tidak ingin tahu apa posisinya di GLOBAL.


“apa sri itu monica?”tanyaku lagi.


“bu...bukan bu” jawabnya gugup suaranya bergetar


“apa yang kamu sembunyikan bapak Reno” sengaja aku beri nama panggilan bapak didepan. Aku butuh penjelasan darinya. Bukan maksud menggertaknya. Hanya saja nada gugup itu menimbulkan kecurigaan.


“tidak ada bu, semua yang disampaikan tuan fatih sudah itu kenyataannya” dengarkan, dia bahkan memanggil tuan sama bang fatih. Katanya waktu itu aku salah dengar


“ini kedua kalinya anda memanggil bang fatih dengan sebutan tuan. Reno, apa aku juga salah dengar untuk kedua kalinya?” tanyaku.


Sungguh aku tidak bisa terima kalau ini sebuah kebohongan yang terkoordinir. Lihat saja jangan panggil namaku Syafira kalau tidak bisa membuka kedok kalian semua.


Mobil berhenti, aku belum memberi tahu kemana tujuanku tapi dia sudah tahu aku mau kemana.


“pulang saja, tidak usah menungguku, nanti tuanmu marah” jawabku sudah benar-benar tidak bisa menahan amarah ini. aku ingin meledak tapi aku tahan. Laki-laki masih bergeming. Tidak berubah dari posisinya. Berdiri disebelah kanan pintu mobil mengawasiku


“pulanglah, aku masih banyak urusan setelah ini, tidak usah khawatir aku baik-baik saja” ku ulang lagi perintahku. meyakinkan dia untuk pergi. Aku merasa risih ditunggui laki-laki memakai kemeja hitam ini.


“bilang pada tuanmu aku yang meminta untuk tidak ditunggui” lanjutku lagi.


“saya tidak memanggil tuan untuk pak fatih bu, CEO global yang menyuruh mengantar ibu” jawabnya masih dengan wajah tertunduk. Begitu gigih dia membela atasannya.


“terserah siapapun tuanmu, aku tidak peduli. Bilang juga jangan terlalu mempedulikan wanita yang sudahbersuami, tidak baik. takut timbul fitnah” setengah berteriak aku menjawab. Amarahku tidak bisa dibendung lagi. laki-laki ini juga sama lihainya menutupi kebohongan.


Ahirnya setelah perdebatan yang panjang, dan tarik ulur yang alot. Reno meninggalkan ku.


Jam 7 malam sampai dirumah kirana. Ku ketuk pintu sambil mengucap salam berulang. Pintu terbuka muncullah sosok kirana dari dalam.


“mau jemput Rania ki, maaf mbak tidak masuk soalnya buru-buru” kataku pada kirana.


“tapi kirana sudah dijemput mas amir tadi, wajahnya tampak kusut. Ada apa sebenarnya. Dia kelihatan seperti orang bingung menanyakan mbak?” kata kirana. aku tidak peduli tentangnya aku hanya ingin Rania.


“kalau mbak tidak keberatan masuk dulu mbak bisa ceritakan semuanya pada kirana. Siapa tahu saya bisa bantu” lanjutnya lagi. dia menarik tanganku masuk kedalam dan duduk disofa ruang tamu.


Aku ceritakan semua yang terjadi di cafe tadi pada kirana, wanita itu menyimakku dengan seksama. Sesekali mengusap bahuku lembut. Sekedar menguatkan aku. Sampai pengakuan bang fatih tentang perempuan itu. Aku tidak menangis, karena air mataku seolah sudah mengering untuk hari ini.

__ADS_1


Ternyata penghianatan suamiku masih meninggalkan jejak buruk.


Sakit kembali menderaku, bagaimana harus menanggung malu. Dilihat banyak pasang mata, dituduh pelakor. Lengkap sudah penderitaanku. Ingin rasanya aku mengurung diri tidak ingin bertemu dengan siapapun.


Allah...hikmah apa yang bisa hamba ambil atas kejadian memalukan hari ini.


Pulang kerumah menggunakan mobil online, setelah menuntaskan semua keluh kesahku pada istri bang Raihan itu.


Sebenarnya ku tidak ingin pulang kalau tidak mengingat Rania. Ingin aku menghilang sejenak dari apapun yang berurusan denganku. Bersembunyi sekedar menghalau rasa malu yang tidak ingin aku ingat. Menghilang dari pandangan orang tentang cap pelakor dalam diriku.


Semuanya memang sudah jelas, siapa perempuan yang mengataiku pelakor. Tapi penilaian orang yang tahu kejadian di cafe tadi siang tidak bisa diubah. Mereka yang mengingat wajahku sebagai wanita murahan perusak rumah tangga orang.


Ku ambil kunci cadangan di tas, membuka pintu rumah. Memasuki pintu melewati raung tamu sampai d ruang keluarga melihat pemandangan yang menyayat.


Rania tidur dipangkuan ayahnya dengan posisi duduk. Masa Amir duduk dengan kepala bersandar ke kursi belakang sepertinya dia sama terlelapnya dengan Rania.


Jam 10 malam pantas saja Rania tertidur. Kasihan sekali putriku, dia tidak bertemu denganku satu hari ini. Rasa rindu membuncah seperti setahun tidak bertemu.


Ingin rasanya aku menghambur kearahnya memeluk erat dan menciumnya. Tapi rasa benci pada laki-laki yang memangku Rania itu menghentikan langkahku.


Tiba-tiba matanya terbuka. Aku terkejut, aku mundur perlahan. Mas Amir meletakkan Rania dengan pelan disofa. Berjalan mendekat kearahku.


Memelukku dengan erat seolah kami tidak bertemu berbulan-bulan. Aku berontak, berusaha melepaskan pelukannya, tidak sudi aku di peluk pembawa kehancuran dalam kehidupanku ini. Karena penghianatannya hidupku tidak ada habisnya mendapatkan masalah.


“lepaskan aku mas..”kataku kasar.


“mas mencarimu bersama Rania, dia memanggil namamu. Memintaku untuk tidak menyerah mencarimu. Lihatlah dia tidak mau tidur di kamarnya menunggumu pulang. Takut nanti kalau kamu pergi lagi dia tidak bisa bertemu dengan bunda katanya. Tetaplah disini demi aku demi rania demi keluarga kita” dia memohon sambil menggenggam tanganku erat. Tak ku pedulikan ocehnnya.


Sekilas aku melihat dia menyeka ujung matanya. Ah, cengeng sekali laki-laki ini. aku masa bodoh.


Perhatianku hanya tertuju pada Rania. Betapa tersiksanya putriku hari ini. bahkan dia harus menanggung sakit atas perbuatan yang bahkan dia pun tidak tahu apa-apa.


Melangkah mendekatinya mencium keningnya lembut. Air mataku menetes bukan karena jalan hidupku hari ini. tapi karena membayangkan bagaimana Raniaku kebingungan mencariku hari ini. maafkan bunda nak,ini untuk pertama dan terahir kalinya bunda menyia-nyiakanmu. Setelah ini apapun yang terjadi bunda akan membawamu kemanapun kita. tidak akan terpisahkan lagi. bunda janji.


Ku seka air mata yang mengalir deras di pipi, meredakan tangis. Dan berusaha tersenyum sebaik-baiknya dihadapan putriku.


“hai, bangun” ucapku sambil menegelus pipinya lembut. Dia hanya menggeliat pelan mengusap pipinya


“sayang, bunda pulang” ucapku, masih dengan nada lirih. Usapan tanganku berpindah ke keningnya.


Matanya terbuka perlahan. Berkedip beberapa kali menghambur kepelukanku setelahnya


“Bunda jangan pergi lagi, Rania nggak mau kehilangan bunda” suara tangisnya meledak seketika. Aku pun tidak bisa membendung air mataku untuk kesekian kalinya hari ini. aku seorang ibu, merasakan apa yang Rania rasakan. Ketakutan kehilangan orang yang paling dicintainya begitu besar. Ini pertama kalinya kau pergi tanpa memberi tahu anakku.


Beribu-ribu maaf aku gumamkan dalam hati untuk anakku. Aku tidak ingin gagal menjadi ibu, aku kan memberikan yang terbaik untuk Raniaku.

__ADS_1


Pelukanku semakin erat, pun dengan Rania


“lihat sayang, betapa kami masih mencintaimu” itu suara laki-laki penabur duka dalam hidupku. Aku diam tidak menanggapi. Tidak punya selera untuk mendebatnya.


“bunda jangan pergi lagi. Rania janji tidak akan nakal” kata anakku disela isak tangisnya.


“tidak akan ada yang pergi lagi sayang, kita akan tetap bersama menjaga Rania sampai Rania dewasa nanti” itu suara suamiku. dia duduk dan memeluk kami bersamaan. Aku terdiam.


Demi Rania aku biarkan dia berbuat semaunya. Tidak ingin Rania tahu kalau saat ini ayah bundanya sedang tidak baik-baik saja.


“kamu dari mana” katanya setelah aku keluar dari kamar mandi selesai membersihkan diri. Laki-laki itu duduk dipinggir ranjang.


“ada seseorang yang yang menyelamatkanku dari rasa malu ketika suamiku tidak peduli, bahkan dia tidak merasa kalau aku dipermalukan karena masalalunya” jawabku tegas aku tahan amarah ini dari tadi, sekarang waktunya kulampiaskan.


“aku berlari mengambil mobil. Setelah aku kembali kamu sudah tidak ada. Suamimu ini tidak mungkin mengejarmu dengan berlari dan menyeretmu masuk kembali kedalam cafe. Itu hanya akan lebih menarik perhatian orang dijalan. Dan kamu akan lebih malu lagi. “ diam sejenak. Tarikan nafasnya dalam. Dia menarik rambutnya kuat. Entah apa yang ada dibenaknya sekarang.


“aku mencarimu kesana kemari seperti orang gila, menelpon semua teman-temanmu. Shalat dimasjid dijalan aku aku lewati. Sampai aku mengejarmu keterminal. Kalau-kalu kamu ingin melarikan diri kekampung, pulang kerumah bapak. Aku telepon hpmu tidak aktif. Tak kuhiraukan perihya lambung ini. keberadaanmu lebih penting dari segalanya” lanjutnya lagi tatapannya yang semula kearahku. Seketika menunduk. Aku tatap diam-diam suamiku.


Kalau dipikir ulang, dalam hal ini dia tidak bersalah. Hanya menciku pada masa lalunya saja yang membuatku membencinya.


“kalau kamu marah sama mas, lampiaskan saja. Kamu boleh memaki, memukul, menendang, atau bahkan mencakar sekalipun. suamimu ini pasrah asal jangan pergi, ku mohon. Kalau memang kamu belum bisa menerima mas. Lakukan ini demi Rania.” Kalimat terahirnya mengusikku, hatiku berdenyut nyeri membayangkan wajah Rania yang kebingungan mencariku. Pasrah


Aku masih terdiam. Wajah penyesalan suamiku membuat rasa simpati mengalir begitu saja tanpa dicegah. Aku diam mengambil mukenah untuk sholat isya.


Dia menatapku, sampai sholatku selesai dia masih menatapku dan tetap berada ditempatnya semula tanpa bergeser sedikitpun.


“mas, bersumpah perempuan itu. Mas tidak tahu” katanya lagi. mencoba menjelaskan.


“iya, aku tahu. Wanita itu mantan pacar bang fatih. Tadi sudah dijelaskan semua” kataku pelan.


“apa?, kamu bertemu fatih, dan pergi dengannya sampai malam, ingat. Kamu masih istriku. Tahukan hukumnya perempuan bersuami jalan dengan laki-laki bukan muhrim itu dosanya besar” katanya dengan suara tegas


“dan laki-laki yang berzinah secara sadar dengan perempuan lain bukan muhrim itu juga dosanya jauh lebih besar bapak Amir, kalau kamu lupa” jawabku lebih tegas lagi. luka ini kembali terasa. Ada nyeri yang tak diundang datang dengan tiba-tiba. ketika mengingat perselingkuhan suamiku dulu


“dan ingat, perempuan yang menghinaku tadi, itu juga karena perselingkuhanmu dengan Andara ikut andil didalamnya” nafasku memburu ada amarah yang harus ditutaskan. Dia masih terdiam terpaku. Berani sekali dia berbicara dosa dihadapanku. Dia bahkan lupa tentang dosanya sendiri seolah mahluk paling suci.


Aku berbaring. Tidak ada gunany berdebat.


“maaf” hanya itu ynag terucap. Aku tidak peduli hari ini aku lelah ingin tidur nyenyak tanpa gangguan.


tak ku pikirkan tentang kebencian orang ini pada bang fatih. aku akan memikirkan bagaimana cara membongkar kedok para pembohong itu.


tidak ada sopir perusahaan yang diperlakukan seperti bos. sebodoh bodohnya orang pasti bisa membaca cara pelayan itu menghormati bang fatih.


note: mohon maaf kemarin tidak sempat update karena ngedit nya lama sekali. sebagai gantinya hari ini update 2 bab. semoga berkenan.

__ADS_1


mohon dukungannya dengan cara like dan komen biar author tambah semangat ya... salam hangat dari author... Terima kasih😘💕


__ADS_2