
Aku pasrah kemanapun ayah Rania mengajakku, habis sudah tenagaku untuk mendebatnya. Laki-laki itu tidak berpengaruh apapun. Aku diam menyimpan semua kebencian ini. mengapa bang Fatih tega membiarkan aku berdua dengan laki-laki busuk ini. bahkan dengan teganya memisahkan aku dengan Rania.
“mau makan apa”tanyanya aku masih diam. Dasar muka tembok, didiamkan masih saja sok peduli.
“terserah...!!!jawabku ketus. Biasanya kalau jawaban ini dikeluarkan perempuan, laki-laki lain paham kalau dia sedang marah. Lah Ini, masih dengan senyuman manis kearahku. Memesan menu yang sama dua porsi, bahkan minumannya juga di buat sama.
Jujur, sebenarnnya aku lapar. Dari tadi pagi belum sarapan. Tapi didekatnya selera makanku hilang seketika. Aku belum bisa melupakan penghianatannya. Justru laki-laki dihadapanku ini seperti mahluk yang tidak pernah berbuat salah. Bahkan tidak sekalipun dia membahas kesalahan yang diperbuatnya.
Aku tidak mungkin bertanya, selain aku tidak tertarik lagi, aku menjunjung tinggi harga diriku dihadapannya. Bertanya permasalahan tiga tahun yang lalu hanya akan merendahkanku. Seolah aku masih berharap pada laki-laki ini.
“sayang aku mau kebelakang, kamu tidak ingin ke kamar mandi juga?” suaranya memecahkan keheningan diantara kami. Suasana restoran ini masih sepi. Karena masih pagi.
Tiba-tiba pikiranku melayang pada kantor. Yah,,aku belum mengabari mei kalau aku akan pulang seminggu.
“mau nelpon siapa?” tanyanya setelah kembali dari kamar mandi. dengan tidak tahu malunya mencampuri urusanku
“bukan urusanmu” jawabku sengit,
“oooo...” jawaban tanpa suara aku bisa melihat dari bibirnya yang membulat
“halo mei,,,saya tidak bisa kekantor selama seminggu tolong semua di handle dulu ya” kataku pada mei diseberang.
“lho, katanya dua bulan bu, bahkan tuan Fatih sudah menaruh pengganti ibu sementara disini” .
“hahh...?”hanya itu yang keluar dari bibirku. Bagaimana abang bisa tahu semuanya. Rumah, kantor bahkan dengan lancangnya dia mengatur waktu kepulanganku. Dua bulan, aku menyetujuinya seminggu. Ada apa dengan bang Fatih. Ini pasti ada hubungannya dengan orang yang duduk didepanku.
Ku tatap tajam kearahnya, dia balas menatapku, mengangkat dagunya sebagai tanda dia bertanya padaku.
“ya sudah mei, terima kasih” kataku seraya mengahiri pembicaraan.
“ada apa sebenarnya, mengapa kamu dengan lancang mencampuri urusanku, siapa kamu berani sekali mengatur hidupku” kataku dengan marah, tak kupedulikan suaraku akan mengundang perhatian pengunjung lain. Masa bodoh, ini sudah keterlaluan tidak bisa dibiarkan
“percayalah, ini semua demi kebaikan kamu. Aku dan Fatih sudah memikirkannya” katanya lembut. Heran ya, di marahi, dihina direndahkan tapi laki-laki ini masih berbicara dengan nada lembut. Aku jadi curiga apa yang sebenarnya ada dikepalanya.
makanan sudah terhidang diatas meja. sesuai porsi yang di pesannya.
“makanlah...nanti kita bicarakan lagi. kamu perlu banyak tenaga setelah ini” katanya masih dengan nada yang sama.
“tentu saja, karena aku belum puas mencacimu” jawabku, tidak ada lembutnya sama sekali.
__ADS_1
Aku makan dengan lahap tak kupedulikan dia, tatapannya aku abaikan, terserah. aku aduk minumanku sebentar sebelum menyeruputnya dengan sedotan. lagi-lagi dia menatapku aneh. Biarkan saja aku tidak peduli.
“kita cari hotel yang dekat dengan bandara, aku sudah memesan tiket untuk besok, jangan marah dulu. Hanya itu yang tersedia. Jadwal penerbangan yang lain sudah penuh” katanya setelah membayar tagihan makan kami. dia tidak perlu jawabanku bukan. jadi biarkan dia melakukan sesuai keinginannya.
Sebuah kamar yang bagus. Single bad. Kurebahkan badanku sejenak. Nyaman, itu yang kurasakan. Setelah dari tadi mengencangkan urat syarafku memaki ayahnya Rania. Dia memesan kamar yang lain, aku tidak sudi satu kamar dengannya.
Dia sudah memberikan nomor ponselnya tadi, takut aku butuh sesuatu katanya. Aneh sekali. Kalau memang butuh, aku cukup memanggil pihak hotel bukan.
Setelah shalat zuhur, aku merabahkan diri. Kangen Rania, baru beberapa jam kami terpisah, aku sudah sangat merindukan putriku. Tidak ada siapapun yang bisa kuhubungi, hanya nomor Rania yang tersimpan di ponselku. Berpikir positif, besok kami akan bertemu.
Entah berapa jam aku terlelap, perasaan aneh tiba-tiba muncul. Badanku rasanya panas. Tapi tidak biasa. Kepalaku berat, aku paksakan kaki melangkah ke kamar mandi. Setelah sholat ashar aku ingin istirahat lagi. mungkin aku kecapean, selama dua hari badanku diforsir urusan kantor dan persiapan wisuda.
Badanku rasanya semakin aneh, kepalaku semakin berat.Ya Allah..apa yang terjadi. Ini sudah jam tujuh malam, tapi badanku semakin menggigil tak karuan, dadaku berdebar dengan kencang. Aku merasakan ada yang aneh dengan diriku, ada yang harus aku tuntaskan tapi aku tidak yakin perasaan apa ini.
nafasku memburu, detak jantungku semakin kencang. keringat dingin membasahi tubuhku.
Mengambil remot pendingin ruangan, ku turunkan suhunya. Tapi tidak berpengaruh apapun. Tidak ada pilihan lain. Ku ambil gawai menghubungi ayah Rania.
Ketukan dipintu terdengar, dengan langkah tertatih dan badan gemetar membuka pintu. Wajahnya muncul dengan santai seperti biasa.
“kamu kenapa sayang, sakit?”tanyanya memegang kening. Aku menggeleng tidak mampu kujawab.
Tangannya memegang lenganku. Tiba-tiba aku merasakan rasa aneh ini semakin menjadi. Aku tidak mampu lagi menahannya. Mas amir memapahku ke tempat tidur. Menidurkan aku, menarik selimut sampai ke leher. Menaikkan suhu pendingin udara di kamarku.
“mas,,,” yakinlah suara. itu berasal dari bibirku. Laki-laki itu menoleh, wajahnya seperti iba. tatapan tak biasa.
“tidurlah, mas mau kekamar mandi” jawabnya
“maafkan aku sayang, hanya ini yang bisa mas lakukan agar kamu tetap berada disampingku, maaf sekali lagi”. Bisikan lembut menyapa telingaku, bak nyanyian syahdu membuatku semakin jauh tenggelam dalam perbuatan yang tak ku sadari. setengah sadar aku mendengarkan bisikan itu.
Aku tidak tahu, berapa jam kami melakukannya, Tubuhku lunglai tak bertenaga. Seolah tulangku terlepas dari badan. Aku terpejam, kantuk tak dapat ku tahan.
“maaf..”sekali lagi samar suara itu terdengar, belaian lembut kurasakan di kening, mengantarkan aku jauh kedalam alam bawah sadarku. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.
***
“bangun sayang,,,”sapaan lembut ditelinga, menyambut pagi. Ku buka mata menyesuaikan dengan cahaya. Ini bukan kamarku, tapi dimana. Menoleh ke sumber suara. Astaga!!!
Aku terperanjat duduk menjauh, bagaimana laki-laki yang paling aku benci ini ada disebelahku. Memakai jubah mandi dengan rambut basah.
__ADS_1
ku tarik selimut sampai ke leher, laki-laki itu terkekeh.
“bajingan, bagaimana kamu bisa melakukan ini, dasar laki-laki tidak punya perasaan. Kamu tega melakukan itu. dasar tidak bermoral” aku berurai air mata, jijik, marah dan malu bercampur menjadi satu.
"bukan aku tapi kamu yang menginginkannya" jawabannya santai.
“cukup, jangan bicara lagi aku muak melihatmu” aku berlari ke kamar mandi, membawa selimut untuk menutupi tubuh telanjangku. Bodoh... apa yang aku lakukan, bagaimana ini bisa terjadi. Tuhan, mau ditaruh dimana mukaku. Aku yang membencinya aku juga yang memaksanya untuk melakukan itu.
Membenturkan kepalaku ketembok kamar mandi berulang kali, sakit. Aku tidak peduli, aku benci diriku sendiri.
“nanti kepalamu terluka, mandilah sebelum aku kehilangan akal sehat” laki-laki itu masuk kekamar mandi. Aku bahkan lupa menguncinya.
“jangan lupa mandi wajib” lanjutnya. Kulemparkan apa saja yang bisa dijangkau tangan. Aku muak,,,tapi aku malu. Air mata ini menetes tak terkendali.
Ku tundukkan wajahku, tidak berani menatap kamar. Memakai jubah mandi, aku melihat keluar jendela. Pemandangan jembatan ternama kota ini terlihat sangat indah. Dibawahnya sungai yang tenang, beberapa perahu berjalan pelan. Ku minum perlahan susu hangat yang aku buat tadi, aku tidak peduli dimana laki-laki itu. Aku tidak punya muka menampakkan wajahku dihadapannya.
“apa yang kamu pikirkan,,,”pertanyaan itu tepat ditelingaku, lembut. Sebuah tangan kekar melingkar di perut. Ku lepaskan paksa aku benci diriku sendiri.
“kita sudah melakukan dosa z**a” air mata deras mengalir,
“kita tidak pernah bercerai” membalik badanku menghadapnya. Mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Aku tidak punya kekuatan untuk melawannya sekarang.
“aku sudah menandatangani surat itu” tatapanku kebawah. Bahkan untuk mengangkat wajahku saja tidak mampu.
“aku tidak pernah menanda tangani apapun, sudah ku katakan aku tidak akan pernah menceraikanmu”katanya memelukku sangat erat. Adakah perempuan yang tidak tahu malu seperti ku. menyerah kan diri pada lelaki yang dibenci. rasanya tidak ada.
“kesalahanmu tidak bisa aku maafkan, aku tidak mau sakit itu terulang” jawabku lemah tanpa tenaga.
“aku tahu, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Kamu wanita yang tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun dariku, aku tidak marah kamu berhak melakukan itu. Itulah sebabnya abangmu bapak, ibumu. Dan ibuku menyuruhku menjemputmu. Kita luruskan kesalah pahaman ini” aku menatapnya bingung. Bukankah dia sudah menikah lagi dengan Andara. Sekarang wanita itu sedang hamil apalagi yang salah paham.
“bersiaplah, kita akan pulang sekarang” katanya.
Terdengar suara telpon berdering. Suaranya datang dari gawai mas amir.
“bagaimana , sudah jinak belum???”panggilan video dari bang fatih aku hapal betul suaranya.
“sudah,,,makasih idenya bang” hah...jadi ini semua idenya bang fatih, kurang ajar. Ternyata mereka sekongkol.
“sudah bang, saya tutup dulu. takut ngamuk lagi dia, lihat wajahnya tuh” kamera di arahkan ke wajahku.
__ADS_1
“jangan berbangga diri, aku tidak bisa memaafkanmu. Atas apa yang kamu dan bang Fatih lakukan padaku. Katakan kamu memberikan obat di makananku. Katakan!!!” kataku geram setelah panggilannya berahir.
Sialnya laki-laki itu mengangguk. Aku sudah menduganya. Aku merasakan ketidak beresan dalam tubuhku setelah makan menu direstoran tadi. karena Setelah itu aku tidak makan apapun.