
ku injakkan kaki ditempat dimana aku pernah merasa bahagia dan terluka, hatiku tidak nyaman, sungguh aku ingin berlari menjauh tak ingin ku temui wajah-wajah penyebab luka ini. penyebab hancurnya hatiku.
laki-laki ini tanpa merasa bersalah terus menyeret ku masuk kedalam rumah, menggandeng tanganku kuat.
"kamu capek ya? " pertanyaan yang dia lontarkan dari mulai kami duduk di pesawat sampai landing, hingga tiba didepan rumah.
tak terhitung berapa kali. jawabanku sama, "diam".
Ayah Rania memegang handle dan memutarnya perlahan, pintu terbuka
"masuk sayang, kamu pasti kangen rumah kita"
ku tarik nafas panjang menghembuskan pelan. dirumah ini terahir aku meninggalkannya karena alasan tak ingin tersakiti, sekarang tanpa penjelasan apapun dia memaksaku kembali.
"assalamu'alaikum" ayahnya Rania bersuara, sambil membuka pintu lebih lebar. tidak ada jawaban, apakah rumah ini tidak ada yang menempati selepas kepergianku?
"waalaikumsalam.. " terdengar jawaban dari dalam. siapa? pertanyaan itu sekelebat membayangiku.
seseorang menghampiri pintu, mbak Tini wanita ini masih setia rupanya.
"ibu syafira" ucapnya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. tangannya menutup mulut yang terbuka lebar.
"ibu apa kabar? " dia memelukku erat, terdengar isakan halus darinya. dia masih tulus seperti dulu.
"ibu jangan pergi lagi saya minta maaf kalau ada salah" masih dengan isakan yang sama.
Kepergianku tidak ada hubungannya dengan wanita ini, tapi dia dengan jelas minta maaf. Sedangkan yang membuat hatiku sakit sampai harus pergi dari rumah ini biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun. dasar laki-laki tidak punya perasaan.
"Syafira... anakku " ku lepas pelukan mbak Tini, melihat sumber suara dua orang yang paling ingin aku temui, orang yang menjadi alasan kepulanganku.
aku tahu keberadaan bapak di sini dari bang fatih
"bapak... ibu... " ku hampiri mereka. aku berlutut dikaki ibu.
"maafkan syafira bu" aku menangis, sesak kurasakan
"bangunlah, seharusnya kamu tidak perlu pergi. ada bapak dan ibu. yang akan menjadi tempatmu berbagi suka dan kesedihanmu".
aku bangun ku peluk ibu, kami bersama berurai air mata. ada haru bercampur kerinduan.
seseorang mengusap lembut punggungku.
" bapak... " aku berganti memeluknya. ku tumpahkan segala rindu yang lama terpendam. rasa haru, dan sedih bercampur aduk. ingin ku dapatkan segala kata maaf dan pengampunan dari keduanya.
"kami menunggumu selama hampir tiga tahun disini, berharap anak kebanggan kami pulang esok hari, menunggu tanpa kejelasan, setelah hampir putus asa. Tuhan memberikan petunjuk keberadaanmu lewat sakitnya suamimu" diam sejenak
"Bapak bahagia, ternyata kamu dan Rania hidup sehat, Tapi kesedihan itu kembali melanda, kamu tidak ingin pulang bahkan hanya untuk melepaskan rindu untuk tua renta ini" bahu laki-laki kebangganku ini berguncang.
begitu banyak kesedihan yang aku buat untuk mereka, kesuksesan ku tidak serta-merta membuat mereka bahagia, justru aku menyiksanya dengan kesedihan.
Tuhan, julukan apa yang pantas untukku. anak durhaka saja mungkin masih belum cukup.
"maafkan fira pak.. " isakanku semakin menjadi.
"tidak apa-apa, sekarang fira sudah pulang, bapak senang, setelah ini baik baik sama suami mu. dia laki-laki yang mencintaimu lebih dari cinta bapak."
mengapa bapak justru membelanya. apa yang diperbuat laki-laki ini sehingga dia mendapatkan keistimewaan, dari bapak.
"sayang mandi dulu yuk, kita dari perjalanan jauh pasti lelah. kamu kangen sama kamar kamu kan? "perusak suasana. aku yakin dia sekarang merasa diatas angin. karena pembelaan yang diucapkan bapak baru saja.
jangan harap aku akan menurutinya berbaik hati untuk suami seperti dia, aku tidak sudi. tak akan pernah lupa dalam ingatan, torehan luka yang dia buat. terlukis dengan sempurna. Meniggalkan jejak Yang tak mungkin terhapus dengan mudah.
buah karya penghianatan yang sempurna.
__ADS_1
"bersihkan dirimu, kami tunggu untuk makan bersama" senyum tulus terbit di wajah bapak. laki-laki ini badannya lebih kurus. demikian juga dengan ibu. apa yang sudah aku lewatkan selama tiga tahun
beranjak pergi setelah berpamitan pada mereka.
Kamar ku tetap sama. Tidak ada yang berubah dari terahir aku meninggalkan tempat ini. kulihat berkas yang berjejer rapi. berkas surat cerai dan bukti transfer serta surat nikah dan buku tabungan. masih berjejer seperti tidak pernah tersentuh sedikit pun. hanya sedikit berdebu.
"aku tidak mengijinkan siapapun masuk kekamar ini, hanya tadi pagi mbak tini ku suruh untuk mengganti seprai" tidak bisakah dia diam sebentar. setiap kata yang keluar dari bibir nya membuatku ingin menyumpal mulut itu agar diam.
"surat cerai yang kamu tinggalkan itu tidak aku sentuh, selembar kertas ini bukti betapa inginnya kamu lepas dariku. tidak akan aku ijinkan sampai kapanpun. karena aku tidak sanggup berpisah darimu" dustanya laki-laki ini. mendengar nya saja aku muak.
"mandilah, mas sudah menyiapkan air panas " tatapan tajam ku arahkan.
tanpa sepatah katapun aku melangkah ke kamar mandi. Muka jahilnya selama dia menjemput ku hilang berganti sikap lemah lembut seperti dulu.
"Dimana Andara" pertanyaan yang dari tadi aku tahan ahirnya terlontar juga sebelum kakiku melangkah masuk ke kamar mandi. simpan dulu perasaan sakit, sebelum aku membalas mereka. berpura-pura baik saja sementara.
"ada, cepatlah mandi dan turunlah nanti kamu akan bertemu dengannya" bajingan! untuk apa dia membual kalau hanya akan menambah sakit hatiku. brengsek, Terkutuklah kau dengan wanita itu.
Turun ke bawah setelah selesai dengan urusan kamar mandi. lebih segar setelah berendam walau hanya sebentar.
Dari atas tangga aku melihat pemandangan yang menyesakkan. Seorang wanita yang tertutup hijab sedang sibuk di meja makan. melayani bapak dan ibu. sementara mas Amir memangku seorang anak laki-laki.
mbak Tini, sama sibuknya dengan wanita itu.
langkahku pelan menuruni tangga. semua yang ada dimeja makan menoleh ke arahku. tak terkecuali wanita itu. Andara., sesuai dengan dugaanku. sudah berganti penampilan sekarang.
Apakah dia ingin terlihat sempurna di mata suaminya. oh, kalau bukan karena bapak dan ibu tidak sudi aku menapakkan kaki dirumah ini lagi.
Tuhan,,,mengapa mereka tidak pernah ada habisnya menyakitiku. seolah Mas Amir memaksaku pulang hanya ingin menunjukkan kemesraan mereka dihadapan ku.
"apa kabar mbak syafira" sapanya dengan suara lembut dan terdengar sopan ditelingaku.
"seperti yang kamu lihat aku baik, apakah kamu sedih melihat ku kembali lagi kerumah ini" tanyaku sinis.
"justru saya senang dengan kedatangan mbak kerumah ini" pendusta!!!
"kenalkan sayang itu tante syafira, Hai tante" Mas Amir memperkenalkan anak laki-laki sekitar dua tahun usianya. membimbing tangan kecil itu ke arahku. Mereka bahagia, mereka baik-baik saja. aku yang terpuruk menjauh hanya untuk menghilangkan luka penghianatan. aku yang jatuh bangun membangun kehidupan ku sendiri. sementara mereka berbahagia di atas penderitaan ku.
Dan sekarang memaksaku kembali hanya untuk dia jadikan penonton atas keharmonisan rumah tangganya. adakah manusia yang lebih kejam dari mereka?.
Baik, untuk beberapa hari kedepan aku harus tahan, demi dendam ku pada laki-laki dan wanita perusak kebahagiaanku, harus terbayar lunas.
Aku yang berderai air mata karena penderitaan sedangkan mereka yang terbahak penuh kemenangan di atas rasa sakit yang menderaku. Jangan lupakan perut buncit istri muda suamiku ini, semakin menambah gumpalan benci yang terpendam.
Benar kata bang Fatih wanita ini hamil anak kedua, ingin aku ucapkan selamat dengan lantang. Atas kebahagiaannya sekarang dan atas kesempurnaan penghianatan mereka.
“nanti selesai makan jangan lupa obatnya, pak.” Perempuan itu memberikan dua macam jenis obat yang di taruh di tempat kecil berbentuk mangkok dari kaca.
“terima kasih nak, kamu duduk saja sekarang ada syafira yang akan menggantikan tugasmu, banyaklah istirahat. Nanti kamu kelelahan” terdengar seperti ucapan seorang ayah terhadap anak kandungnya, padahal wanita ini hanya maduku. Istri muda Mas Amir. Dia orang di keluargaku tapi sikap bapak seolah dia lebih berharga dariku.
Seharusnya aku menceraikan laki-laki itu secara sah. Sampai selesai persidangan yang mengesahkan statusku sebagai janda. Bukan hanya meninggalkan surat cerai yang tidak pernah ditanda tangani ayah Rania. Bodohnya aku.
“tidak apa-apa, mbak fira kan baru datang, biar dia istirahat dulu, nanti saya yang akan memberitahukan resep obat untuk bapak” jawabnya lembut. Banyak sekali perubahan wanita itu, lebih lembut, bahasanya baik. penampilannya menutup aurat. Sekilas nampak seperti wanita sholehah.
“sepertinya kamu banyak berubah ya, bahkan orangtuaku lebih menganggap keberadaanmu dari pada aku anak kandungnya sendiri, oh iya. Kamu kan wanita yang kurang kasih sayang aku lupa” aku tahu ucapan ini tidak pantas, tapi biarkan aku akan menuntaskan kebencian ini.
“diam Syafira,,,!!!! bapak tidak pernah mengajarimu berbicara tidak sopan. Seharusnya kamu yang mengambil alih tugas Andara. Karena kamu yang lebih bertanggung jawab ” suara bapakku meninggi. Suasana meja makan seketika menjadi tegang.
Aku tidak percaya, semua orang yang membelaku berbalik memusuhiku. Tatapan tajam bapak telah menyakiti hatiku sekarang, aku belum pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Ku tahan air mata yang ingin berlomba.
Kulirik sekilas, bocah laki-laki itu memeluk ayah Rania erat. Hatiku sakit benar-benar sakit. Bahkan Rania pun akan mendapat perlakuan tidak adil dari ayahnya. Wanita ini sudah merampas segalanya dariku dan juga Rania. Aku tidak bisa tinggal diam.
“mengapa kalian semua membela wanita murahan ini, dia yang sudah merusak rumah tanggaku. Mengambil kebahagiaanku secara paksa” aku tidak dapat menahan amarah. Terserah kalau mereka semakin membela wanita itu, aku tidak perduli. Tumpah sudah air mataku.
__ADS_1
“wanita yang kamu bilang murahan itu sudah menggantikan tugasmu selama ini, seharusnya kamu minta maaf dan berterima kasih padanya, jangan menghinanya” suara bapak semakin meninggi.
Baik dia sudah mengambil semuanya dari hidupku bahkan bapak kandungku sendiri
“baiklah, terima kasih karena kamu telah menghancurkan hidupku. Maaf untuk kembaliku mungkin akan membuatmu tidak nyaman setelah ini, puaskan kamu sudah menambah penderitaanku?” ucapku pada wanita itu, tatapanku tajam, mataku memerah karena cairan ini tak dapat ku tahan lagi. Dia hanya menunduk. Entah apa yang dipikirkan. Ibu, mas Amir dan mbak tini hanya diam tidak ada yang menyela pembicaraanku dengan bapak.
“bodohnya aku baru sadar, sandiwara yang kalian perankan sangat sempurna, berpura-pura sakit, berpura-pura mentalak didepanku, bahkan dengan tangisan penyesalan yang ternyata itu hanyalah alat untuk membuatku percaya dengan semua ini. aku benci kalian.” Aku beranjak dari meja makan berjalan dengan deraian air mata kepedihan yang tak berujung.
“syafira...”suara lembut suamiku
“mbak....”itu suara pemeran wanita dalam rumah tanggaku
Kututup pintu kamar dengan keras, agar mereka tahu bahwa aku manusia yang punya perasaan, bukan orang yang bisa dibodohi terus menerus.
“sayang...” laki-laki itu mengusap kepalaku yang tertutup hijab. Ku tepis tangannya kasar, aku tidak sudi dia menyentuhku.
“bicara baik-baik sama bapak ya,,,kasihan beliau, nanti penyakitnya kambuh” ku usap air mataku kasar. Ku tatap suami Andara ini dengan tajam. Bahkan bapak sakitpun aku tidak tahu. Apa tujuan mereka sebenarnya.
“kalau tahu begini jadinya, seharusnya kamu tidak perlu memaksaku pulang, kamu dan wanita itu tidak ada habisnya menyakitiku” derasnya air mataku tak mampu menyembuhkan kekecewaanku. Tentang orang terdekatku yang memberi perhatian padanya. Apa yang tidak mereka ceritakan padaku.
“turun lagi ya, kamu baru bertemu beliau jadi bersikap baiklah, mereka masih merindukan kamu, apapun yang dikatakannya dengarkan saja. semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya” satu-satunya orang yang mendukungku ya laki-laki ini. tapi sayangnya hatiku sudah terlanjur benci.
Demi bapak, ucapan laki-laki ini ada benarnya juga.
“masih sebulan lagi pak,,,katanya itu sudah waktu yang paling cepat, tidak bisa dipercepat lagi. saya jadi merasa bersalah sama mbak fira kalau terlalu lama disini. Makin salah paham nantinya” suara Andara tertangkap indraku.
Siapa yang dia bicarakan. Apa maksudnya. Cih, Apa peduliku. Aku juga tidak mau tahu urusannya. Jadi terserah.
“tidak apa-apa biar nanti bapak yang menjelaskan ke syafira. Ini hanya salah paham” jawaban bapak. suara lembut hilang amarahnya, mungkin amarahnya sudah mereda.
“duduk sini nak,,,” katanya menyadari kehadiranku menepuk sofa disebelahnya. Aku duduk berdekatan, menghilangkan marahku demi menjaga perasaan bapak.
“Amir tidak menjelaskan apapun sama kamu?” tanya bapakku. Bagaimana dia menjelaskannya. Keberadaanya hanya menganggu ketenanganku. Brengsek laki-laki itu. Waktu ada bapak saja dia kalem. Aku menggeleng. Kulirik Andara. Dia menunduk dalam. Punya rasa malu juga dia.
“sejak kepergianmu, bapak dan ibu sakit. Ahirnya Amir membawa kami kesini karena lebih dekat dengan rumah sakit daerah, kamu tahu sendiri dikampung tidak ada rumah sakit, adanya puskesmas” bapak mulai menjelaskan.
“enam bulan kami disini. Amir sibuk mengurus semuanya. Ngurus bapak, ngurus perusahaan, masih ditambah kerja dikantor. Dia tidak sempat mengurus dirinya sendiri. ahirnya asam lambungnya naik. Dia dibawa kerumah sakit. Perempuan itu datang menawarkan diri untuk mengurus kami berdua. Awalnya bapak tolak, karena bapak tidak mengenalnya”.
Sejak pernikahan mas amir dengan Andara, bapak sama ibu hanya dengar namanya saja. tidak tahu orangnya seperti apa. Tidak perlu dikenalkan juga bukan.
sedikit terperangah mendengarkan cerita bapak. Apa tujuannya melakukan ini.
“dia memaksa, alasannya karena dia ingin menebus semua kesalahannya padamu. Kepergianmu tidak lepas dari andilnya. Itu yang dikatakannya waktu itu. kami bersi keras menolak. Dan wanita ini tidak peduli, ahirnya dia mengurus kami sampai sekarang. Mengambil alih tanggung jawabmu sebagai anak.”
“Kami tidak punya pertalian darah. Tapi wanita ini dengan tulus merawat kami hanya demi menebus kesalahannya padamu” sungguh aku tidak bisa mengerti jalan pikiran wanita ini. apa tujuannya mendapatkan maafku. Bukankah dia sudah memiliki mas amir seutuhnya. Pikiranku buntu dipaksa berpikirpun percuma.
“Mas amir tidak mungkin kembali pada saya mbak, karena dia sudah mentalak tiga saya kalau mbak lupa kejadian waktu itu” kata-kata perempuan itu seolah meninju keras jantungku.
Bagaimana aku bisa lupa status mereka. Terus siapa ayah anak yang dipangku mas Amir kemarin. Dan bayi yang dikandung wanita ini.
Note: senang sekali rasanya author bisa update lagi, terima kasih yang tak terhingga untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjuta cerita ini.
*kalau ada yang kecewa dengan keputusan syafira mohon maaf author tidak bisa mengikuti kemauan kalian satu persatu.
Author sudah membuat kerangka pemikiran sampai bab terahir. Jadi tidak bisa dirubah*.
Untuk yang baru bergabung di karya ini, selamat datang, terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, komen dan tap favorit agar nanti ada notifikasi kalau author update status baru.
Sekali lagi mohon maaf karena author disini baru, jadi masih harus banyak belajar lagi.
#
**Talak tiga tidak bisa rujuk, kecuali pihak laki-laki dan perempuan masing-masing sudah pernah menikah lagi dengan orang lain.
__ADS_1
**
**Clue nya, suami andara bukan amir bukan fatih juga. kunci transfer sejumlah uang itu ada di suami andara ini. siapa kira-kira ya?**