
Aku keluar dari cafe dengan berurai air mata, tak ku pedulikan berpasang-pasang mata yang menatapku. Mungkin mereka mengira kalau aku adalah pelakor, perempuan murahan yang merebut suami orang
Mas Amir mengejarku, aku berlari sekencang mungkin dipinggir trotoar. Aku tak melihatnya lagi mengejarku. Entahlah, mungkin dia lelah atau malu aku tidak peduli. aKu sudah tidak punya muka untuk berlama-lama disana. selera makanku hilang begitu saja.
Berjalan dengan cepat, sesekali tangan ini mengusap air mata yang terus tumpah di pipi. Sakit, kecewa, malu melebur menjadi satu.mengapa aku merasa sedang dipermainkan takdir, padahal aku tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun.
Aku tidak memikirkan apa-apa lagi selain berlari menjauh.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku memasuki sebuah mobil sedan mewah. Aku kaget. Aku berusaha beronta. Tangan kekar berikutnya membekap mulutku hingga aku tidak bisa berteriak.
Dia menghempaskan paksa tubuhku di jok belakang mobil. Aku terbelalak setelah tahu orang yang menarikku tadi.
“Bang Fatih” gumamku tak percaya. Bagaimana dia bisa ada disini.
“apa kabar ibu syafira” suara didepan lebih mengagetkanku
“Reno” kepalaku benar-benar tidak bisa berpikir. Ada apa ini. mengapa Reno yang mengemudi. Dan laki-laki disebelahku, bagaimana dia bisa berlagak seperti bos. Memegang HP seperti sedang menghubungi seseorang.
“Urus wanita itu, saya tidak mau dia menampakkan mukanya lagi dihadapanku” mukanya tegang menyimpan kemarahan yang dalam. kemudian menutup telepon. Lantas menoleh kearahku
Dia tersenyum. Wajah itu berubah seketika menjadi lembut.
“nanti abang jelaskan, fira bingung ya” katanya masih dengan senyumnya yang lembut
“ada apa sebenarnya bang?”tanyaku masih bingung
“tenanglah, nanti abang jelaskan semuanya” jawabnya lagi.
Mobil memasuki halaman sebuah rumah yang sangat luas, sangat megah. Bahkan Terlalu mewah menurutku.
“turunlah” perintah bang fatih lagi. setelah Reno membukakan pintu.
“rumah siapa ini bang? tanyaku lagi.
“nanti abang jelaskan didalam” jawabnya mendahuluiku berjalan didepan. Aku menyusulnya dibelakang masih dengan wajah bingung.
“duduklah, tenangkan dirimu kalau sudah tenang abang ceritakan semua. Abang harap fira tidak marah” jawabnya seraya membuka jasnya dan menyerahkan kepada pelayan yang menunggu didepannya. Bang fatih duduk laki-laki yang memegang jas tadi menunduk membukakan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
Aku seperti melihat adegan di drama korea yang sering aku tonton. Tentang CEO yang angkuh atau apalah. Jauh dari kesan bang fatih yang jahil. Dia terlihat dingin. Kepada pelayan tidak nampak senyumnya. Hanya anggukan saja. Mungkin begitu caranya berterima kasih.
“abang akan cerita, mulai dari perempuan yang mempermalukanmu tadi” katanya seperti mengerti kebingunganku. Tatapanku masih tajam ke arahnya. Dia duduk dengan tegak.
Kami duduk berhadapan disofa ruang tamu, entahlah ruangan apa. Luasnya berkali-kali ruang tamu dirumahku.
“Namanya dea. Kami hampir bertunangan. Petaka itu datang. Aku melihat suamimu makan malam romantis bersama Andara. Pertama abang tidak percaya, bagaimana mungkin suamimu yang dulu dihina-hina bisa kembali menjalin hubungan dengannya” kemudian dia menunduk dalam seperti sedang menahan amarah yang kan tumpah.
“Yang ada dibenak abang waktu itu, bagaimana keadaanmu dirumah. Sedangkan suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain dihadapanku. Abang membayangkan wajahmu yang berurai air mata. Menangisi laki-laki brengsek itu. Aku marah, aku tidak terima. Ingin rasanya abang hajar ketika itu. Tapi abang ingat itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu akan tetap terluka” diam lagi.
tangannya terkepal erat. Sampai buku-bukunya memutih. Menggambarkan betapa marahnya laki-laki dihadapanku ini.
“abang pikir hidupmu sudah bahagia, abang merasa tugas abang untuk menjaga fira sudah selesai. Abang berniat untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan. menikah, dan punya anak. Sampai ahirnya abang tahu kalau rumah tanggamu sedang tidak baik-baik saja”
__ADS_1
“abang batalkan semuanya, perempuan itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Ternyata dia sama serakahnya dengan Andara. Dia mengejar abang meminta untuk melanjutkan hubungan. Tapi abang sudah tidak punya keinginan kearah sana. Kebahagianmu juga Rania menjadi tanggung jawab abang setelah laki-laki itu berhianat. Menciderai kepercayaanmu” dia menatapku dalam.
Aku ingat perkataan bibi rukayya waktu itu, bang fatih membatalkan pertunangannya tanpa ada yang tahu alasannya. Jadi ini alasannya
Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa, ternyata dia masih sama seperti dulu.
“sebelum kalian menikah Amir sudah berjanji akan menjagamu dengan baik, tidak akan menyakitimu. Kalau sampai dia langgar semua itu. abang berjanji akan mengambilmu dengan paksa darinya. Dan dia menyetujui” menarik napas panjang melepaskan perlahan seolah ingin melepaskan beban berat yang sedang menghimpit.
“abang mengubah semua rencana. Pindah ke kota ini. Hanya ingin memastikan bahwa kamu bisa mandiri jika suatu saat laki-laki itu sudah tidak mampu membahagiakanmu” katanya dengan wajah masih geram.
Aku ingat juga ketika aku tanya bibi rukayya bang fatih tinggal dimana. Wanita itu bilang kalau bang fatih pindah ke kota yang sama denganku.
“Di acara pernikahan olip, abang melihat laki-laki pengecut itu meninggalkanmu. Berdua dengan Rania. Hampir abang menghajarnya diparkiran. Tapi abang takut mengundang keributan. Lagi-lagi abang berpikir hukuman itu terlalu ringan kalau hanya dengan pukulan.”
“semua yang terjadi dengan hidup fira setelah itu, abang mengetahuinya. Mungkin fira kaget. Maaf abang lancang melakukan itu semua” tatapannya melunak,netra kami bertemu. Aku yang menudukkan wajah terlebih dahulu.
“Ketika mengantar pulang Fira dari undangan olip, melihat suamimu melakukan itu dengan perempuan itu, ingin rasanya ketika itu abang bongkar kebusukan Andara didepan suamimu. Bagaimana dia dulu mengejar abang sampai menghalalkan berbagai cara”
“ingin juga abang membawamu pergi dari bajingan itu. Tapi abang melihat cintamu padanya terlalu besar. Abang tidak tega untuk merusaknya” ceritanya terhenti karena seorang pelayan mengantar minuman.
Sekarang aku mulai paham
“jadi, yang meminjam kucing itu Mas Amir” tanyaku dia. Mengangguk.
Entah aku bahagia atau harus sedih atau marah padanya aku tidak tahu.
“apakah abang juga yang mengirimi Mas Amir pesan malam itu” tanyaku. Lagi-lagi dia mengangguk.
Allah...apa yang ada dikepala orang ini. Mengapa mengorbankan kebahagiannya sendiri demi aku.
“kebahagian abang ketika melihat fira bahagia”katanya tegas
“tapi fira tidak suka bang, biarkan fira menyelesaikan masalah fira sendiri. hidup berumah tangga itu memang banyak cobaanya. Anggaplah sekarang fira sedang mengalami itu.” Kataku tidak terima. Mau sampai kapan dia memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa.
“abang melakukan ini karena abang tahu bagaimana fira. Perempuan sederhana yang tidak akan mampu memaafkan segala macam penghianatan apapun alasannya.” Ternyata dia masih mengenalku dengan baik.
“mungkin kesalahan lain bisa fira maafkan tapi tidak untuk penghianatan. Tegur abang kalau salah” apa yang harus ditegur. Semua yang dikatakannya benar. Bagaimana aku harus menyikapi orang ini. mau marah rasanya sudah tidak mampu. Aku hanya bisa menunduk dalam.
“maaf tuan, semuanya sudah siap” seorang pelayan laki-laki menghampiri kami. Lagi-lagi laki-laki berkulit bersih ini mengangguk.
“ikut abang, kita makan. Fira belum makan kan? Tanyanya padaku.
“belum lapar bang” jawabku
“nanti kalau abang yang masak fira pasti lapar” katanya setengah memaksa.
“ayo” ajaknya setengah memaksaku.
Kami sedang berada di sebuah ruangan. Kalau disebut dapur ini terlalu mewah, sungguh dapurku tidak ada apa-apanya. Bang fatih menggulung lengan baju kemejanya sampapi siku. Memakai celemek. Seperti chef profesional saja gayanya.
“fira duduk saja disitu” menunjuk kursi tinggi didepan dapur
__ADS_1
“kalian boleh pergi” mengusir beberapa pelayan yang sedang berdiri memperhatikan kami. Tanpa berkata-kata. Mereka pergi setelah mengangguk dan membungkukan badannya ke arah kami. Keren sekali dia. Cih sayang sekali jomblo.
Sejenak melupakan huru hara yang baru saja terjadi. Kehidupan orang didepanku ini lebih menarik perhatian. Sok angkuh seperti bos saja.
“waktu fira minta nomor HP abang, mengapa tidak bisa di hubungi. Apa yang dikasih nomor palsu” tanyaku dengan hati-hati.
“abang blokir nomor fira, karena fira masih istri orang. Berdosa perempuan yang menceritakan kemelut rumah tangganya pada laki-laki lain. Termasuk abang” katanya tanpa menoleh ke arahku. Dia masih sibuk dengan peralatan dapurnya disana.
aku terenyuh. selain menjaga perasaan ku ternyata dia juga menjaga kehormatan ku sebagai seorang istri.
“abang masak apa, sibuk sekali. Kenapa engga menyuruh pelayan saja” tanyaku penasaran masak apa dia.
“mereka tidak tahu seleramu, mereka hanya tahu seleraku” jawabnya enteng
Apa-apaan dia, apa dia masih mengingat semua tentangku.
Entah mengapa setiap ada didekat bang fatih aku merasa seperti bocah kecil yang tidak bisa apa-apa. Yang semuanya perlu dilayani dengan baik. seolah apa yang aku lakukan akan menimbulkan bahaya. Lebih tepatnya laki-laki ini memperlakukanku seperti seorang ibu yang menjaga bayi baru belajar jalan.
“bisakah ubah pikiran abang tentang fira, fira sudah dewasa, sudah punya anak. Semua bisa fira lakukan sendiri. abang percayakan?” tanyaku, aku akan menunggu jawaban apa yang mau dia berikan.
“abang sudah lakukan. Melepasmu tanpa mencampuri urusan rumah tanggamu, sebelum laki-laki b*j*ngan itu menyakitimu sedemikian rupa” katanya.
“ternyata kamu masih bodoh seperti dulu, kebohongan suamimu pun kamu percayai begitu saja, kamu bilang sudah dewasa. Dari mananya” nadanya kesal sekali.
“nih, abang sudah selesai ayo makan”ucapnya membawa mangkuk besar kehadapanku
“wah, abang masih ingat kesukaan fira. Oke terima kasih” jawabku mencium aroma masakan yang dibuatnya. Percayalah. Ini sangat menggugah selera, aromanya seperti masakan ibu. jadi kangen, apa kabar ibu sama bapak.
“tidak usah terharu begitu, ayo abang bawa kemeja makan” dia membawa mangkuk tadi kemeja makan dengan lap ditangan menghalau rasa panas. Entah apa yang dilakukannya pelayan yang berjejer di meja makan pergi beriringan.
“tara...garang asem kepala kakap ala chef fatih” ucapnya seraya, tangannya memperagakan ketika seorang chef memperkenalkan hasil kreasinya.
Aku tertawa, kelakuannya bagaimana bisa berubah ketika berhadapan denganku.
Tercium aroma ikan segar, di padu padankan dengan bumbu dapur, dengan kuah berwarna kuning, jangan lupakan daun jeruk.
“bagaimana abang tahu semuanya bahkan aromanya sama seperti masakan ibu”tanyaku penasaran.
“siapa yang membantu ibu memasak diwarung, adikku masih kecil. Aku dituntut serba bisa meskipun aku laki-laki” terangnya. Iya juga.
“kalau resep yang ini aku tanya ibu, seleramu ini aneh sekali. Sudah ayo makan nanti dingin” jawabnya menyerahkan piring yang sudah berisi nasi hangat. Dan menyerahkan sendok.
“kebiasaanmu, selalu mencicipi kuahnya terlebih dahulu lakukanlah” katanya lagi. benar-benar mahluk ini. tidak ada satupun yang terlewa tentang kebiasaanku.
Kuambil sedikit kuahnya, memasukkan kedalam mulut, sungguh ini rasanya seperti masakan ibuku. Asemnya, manisnya, gurihnya pas. Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“tidak usah terharu begitu, makanlah” ucapnya menyadarkan aku dari lamunan.
Tidak ada table manner ala orang kaya, kami makan pakai tangan rasanya mantap, sungguh. Aku ingin nambah. Tapi perutku sudah tidak muat.
Mencuci tangan diwastafel. Kulihat bang fatih juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
note: sudah terjawab ya... tapi belum semuanya yang penasaran tunggu up berikutnya...
jangan lupa like dan komennya biar author semangat.... Terima kasih