BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
WISUDA


__ADS_3

Penghargaan yang aku terima adalah pencapaian terbesarku selama ini, yang lebih penting dari itu semua bisnisku berjalan lancar, pendapatan dari usahaku lumayan besar, deretan angka yang masuk kedalam rekening tabungan selalu membuatku tidak lupa berucap syukur. Ternyata aku bisa bahagia tanpa kehadiran laki-laki. Aku merasa tidak memiliki beban hidup yang terlampau rumit.


Tidak ada bayangan poligami, tersakiti bahkan orang ketiga. Yang sering mengganggu pikiranku adalah ketakutan tentang masa depan Rania, dalam sujud di sepertiga malam selalu kusebut namanya agar kelak tidak mengalami, kehidupan pahit seperti bundanya. Dijauhkan dari laki-laki seperti ayahnya.


Hari ini tepat dua bulan pertemuanku dengan bang fatih, tapi kata-kata lelaki itu masih terngiang jelas. Pemecatan suamiku,Tentang kehamilan andara. Kalau mantanku itu sudah berbahagia dengan istrinya, mengapa harus memaksa aku pulang. Apakah belum puas dia menyakitiku, dengan memerkan kemesraanya dengan Andara. Dan apa yang wanita itu lakukan sampai aku akan meminta maaf. Cih, memang apa yang bisa dibanggakan darinya.


Aku mematut diri didepan cermin. Memastikan riasan wajahku sempurna. Untuk urusan ini aku sudah mahir, kursus singkat yang aku jalani satu tahun lalu ternyata sangat berguna. Tidak perlu mendatangi penata rias, cukup aku sendiri yang melakukannya. Peralatan make up ku juga sangat lengkap.


Itu sebagian dari tuntutan profesi, aku perlu sewaktu-waktu ada keperluan untuk bertemu klien. Tampil optimal itu harus, agar orang terkesan dengan penampilan kita.


“bunda cantik sekali” suara putriku menyadarkanku dari lamunan.


“Rania juga sangat cantik” ucapku sambil meraih tangannya. Membawanya kepangkuanku dan melihat bayangan kami dicermin. Kami memakai kebaya warna pink muda dengan rok motif batik juga sama. Bajuku tertutup jubah wisuda berwarna hitam. Anakku sangat cantik dengan hijab warna senada, aku yang memakaikannya tadi. Untuk urusan hijab Rania putriku sendiri yang menginginkannya. Tidak ada paksaan dari siapapun.


“Rania senang ahirnya bunda wisuda, itu artinya sebentar lagi ayah datang mau jemput Rania bertemu nenek, eyang dan ounty Nisa” deg,,,!!! jantungku seolah memacu lebih cepat. Aku lupa tentang kata-kata abang ketika itu. Alasan apa yang harus aku katakan. Aku tidak ingin pulang, lebih tepatnya belum siap. Apalagi kalau bajingan itu yang harus menjemputku.


“nanti kita pikirkan lagi ya, sekarang ayo siap-siap nanti terlambat, kan malu” kataku sambil menatap wajah Rania. Aku tersenyum Lembut. Hanya untuk mengalihkan perhatian Rania, Harapanku semoga laki-laki itu tidak menepati janjinya. Urusan Rania biar cari alasan lagi.


Mengambil kunci mobil di nakas, dan mengecek perlengkapan di tas takut ada yang ketinggalan. Berjalan tiba-tiba kembali lagi membuka laci, undangan wisuda tertinggal disana. seketika hatiku miris melihat undangan ini. untuk dua orang memang tapi siapa yang akan mendapampingiku. Hanya Rania yang aku punya sekarang.


Ingatanku kembali ketika wisuda S1 dulu, aku didampingi ayah dan ibu. ada bang fatih dan bibi rukayah. Mas Amir dan ibunya yang datang mendampingi serta Anisa yang ikut serta. Bahkan di moment itu juga aku diperkenalkan pertama kalinya pada ibu mertuaku. Tertawa lepas sampai foto bersama dengan teman-teman seangkatan yang diwisuda pada tahun itu.


Cairan bening mengalir dipipiku. Betapa mirisnya moment berhargaku sekarang tidak ada siapa pun yang mendampingi.


“bunda cepetan takut terlambat” suara putriku setengah berteriak karena dia sudah ada di depan tangga.


“iya, sayang sebentar ada yang lupa” jawabanku juga sama setengah berteriak. Kuusap air mata dengan tisu takut merusak riasan yang sudah sempurna. Hari ini aku membebaskan pengasuh Rania untuk pulang, karena rencananya setelah wisuda, aku akan membawa Rania ketempat usahaku sekalian makan diluar merayakan kelulusanku. Miris bukan karena hanya kami berdua.


“yuk...” kami bergandengan menuruni tangga. Topi toga aku pegang disebelah kanan. Karena tangan kiriku menggandeng Rania. Masuk ke mobil, dia duduk disampingku. Bahagia membuncah di dada. Melihat putriku sudah tumbuh besar dan cantik. Wajahnya semakin mirip Mas Amir.


***


“syafira Aini, Sarjana ekonomi, magister administrasi bisnis. Dengan predikat cum laude. Indeks prestasi kumulatif 3,95” suara lantang pembawa acara menyebut namaku. Aku berjalan keatas panggung untuk menerima tabung wisuda yang berisi ijazah kelulusanku. Memindahkan tali toga kesebelah kanan sebagai tanda pengesahan atas gelar yang baru saja kusandang. Kusalami segenap dosen dan rektor serta dekan yang berjejer rapi di podium. sambil menjabat tangan sebagai ucapan terima kasihku.


Ucapan selamat mereka ucapkan, bahkan ada yang memuji keberhasilanku di dunia bisnis. Ini kali kedua namaku dipanggil dengan penuh kebanggaan. Setelah yang pertama mendapat penghargaan dalam pencapaianku di dunia bisnis. Syukur aku ucapkan berkali-kali, rasanya nikmat ini datangnya bertubi-tubi. Terbayar lunas rasanya sakit hatiku kali ini.


Menuruni tangga panggung satu persatu dengan hati-hati. Rania berdiri dibawah tangga menyambutku dengan senyuman manisnya. Buket cantik ditangan, darimana anak ini mendapatkan itu. Tadi kan dia hanya aku suruh duduk menunggu dikursi undangan.


Ku tatap matanya dan ku angkat dagu, sebagai tanda tanyaku pada putriku


“dikasih om penjual bunga, katanya suruh kasihkan ke bunda, Rania bilang nggak punya Uang, tapi om nya bilang gratis” jawaban putriku polos. Apa aku terlihat memprihatinkan ya, sampai penjualan bunga juga ikut simpati.


“ada Rania bilang terima kasih” tanyaku sambil mengusap kepalanya yang tertutup jilbab.


“sudah, Rania bilang terima kasih om, semoga rejekinya lancar hari ini. kata Rania” oke, anakku sudah mulai pintar sekarang. Bahkan ucapan terima kasih sepanjang itu pun tidak pernah terpikirkan olehku.

__ADS_1


“Rania pinter ya” kataku lagi.


“ayo duduk lagi, nunggu acaranya selesai, habis itu kita foto-foto berdua mau kan, nanti fotonya diperbesar, di pajang di ruang keluarga” kataku. Mengalihkan rasa sedih yang dari tadi aku rasakan.


Acara sudah selesai, aku berbincang dengan mereka, yang selama dua tahun menjadi teman dalam suka dan duka, berkelompok mengerjakan tugas bersama, sesekali nongkrong menghilangkan suntuk di tengah tumpukan tugas yang tak berkesudahan


Kami saling mengucap selamat, berjabat tangan dengan penuh haru. Hari ini adalah saksi berahirnya perjuangan kami di kampus ini.sudah tentu nanti akan ada yang kami rindukan. Tempat ini, teman-teman dan tentu saja suasana belajar disini akan menjadi kenangan indah.


Aku gandeng Rania untuk menuju studio foto dadakan yang ada digedung tempat acara berlangsung.


“foto bersama kakak biar ada kenang-kenangan”. Ucap maria, seorang teman yang paling kocak diantara kami, keberadaannya selalu bisa menghidupkan suasana. Orangnya humoris tidak membosankan.


Kami sudah siap dengan pose formal, berikutnya pose bebas. Sekitar 8 pose kami jalani disesi pemotretan ini.


“kakak hanya berdua?” tanya wanita yang usianya empat tahun dibawahku


“iya, saya dengan Rania” jawabku lagi


“suami tidak datang” tanyanya lagi. aku berbohong pada mereka. Aku tidak bilang statusku sebenarnya, aku hanya bilang kalau kami sedang LDR saja. bukan apa-apa hanya menghindari hal-hal tidak diinginkan kalau aku mengaku kebenarannya. Usia yang masih muda. Aku takut ada laki-laki yang mendekatiku. Hatiku belum siap.


“tidak bisa, sepertinya dia sedang sibuk” jawabku asal.


“kata siapa aku sibuk” suara itu, aku cepat menoleh. Ya Allah,,, mengapa dia harus ada disini


Mahluk yang paling aku benci saat ini sedang ada dihadapanku. Dengan tidak tahu dirinya dia mengakrabkan diri dengan teman-temanku


“kenalkan saya Amir suami, Syafira” katanya seraya mengulurkan tangannya kepada teman-temanku satu persatu. Aku muak sungguh, aku tidak bercanda. Keberadaanya sudah merusak moodku. Allah,,,mengapa dia ada disini. Bagaimana dia tahu kalau hari ini aku wisuda.


“Astaga...ternyata suami kakak setampan ini, bagaimana kakak bilang dia tidak bisa datang” itu suara maria, dia jomblo. Belum menemukan yang pas katanya.


“oiya, dia bilang apalagi tadi” pertanyaan macam apa ini. sok mengakrabkan diri. Dasar tidak tahu malu.


“katanya kakak tidak bisa datang karena sibuk. Jadi kakak fira tidak memaksa” penjelasan maria sesuai dengan alasan yang aku ucapkan tadi.


“benar begitu sayang” menyebalkan. Lihat tangannya sudah ada diatas pundakku. Seandainya saja tidak ada mereka ingin ku tinju perutnya dengan siku. Demi menjaga kebohonganku aku pura-pura tersenyum walau terpaksa.


“ayah,,,Rania kangen” Anakku mendekat, dia berlari ke gendongan ayahnya. Saling berangkulan, aku melihat mas amir mencium pipi kanan dan kiri Rania bergantian kemudian keningnya. Dan berpelukan kembali


“Tuhan...sisakan aku laki-laki seperti abang Amir, sudah tampan sayang keluarga lagi” sebait doa yang terbit dari bibir Maria. Oh, seandainya kamu tahu laki-laki yang kamu kagumi ini, masihkah dia akan melontarkan doa itu.


“jangan melihat orang dari fisik nya maria, yang penting sifatnya. Karena tampan saja tidak cukup untuk membuatmu bahagia.”itu suaraku. Tidak perlu kuperjelas. Sindiran ini memang untuk laki-laki penghianat ini.


“isshh,,,kakak ini, sudah terlihat jelas gitu betapa tulusnya bang Amir sama kalian” Maria protes, idolanya aku sindir. Kasihan sekali wanita lajang ini, belum tahu saja siapa yang dia kagumi.


“mudah-mudahan maria dapat yang cocok secepatnya” itu suara mahluk perusak moodku

__ADS_1


“amien...”jawaban maria dengan khusuk.


“foto yuk sayang” dia menggandeng tanganku sementara sebelah tangannya lagi menggendong Rania.


“lepas...!!!” kataku sengit dengan nada pelan takut Rania dengar. Melepas tangannya yang mencengkram kuat pergelangan tanganku.


“kita bukan muhrim, haram bagimu menyentuhku” lanjutku lagi. jangan lupakan tatapan tajamku.


“kita tidak pernah bercerai sayang, sudahlah. Kita akan kembali seperti dulu” jawaban macam apa itu. Bagaimana dengan percaya dirinya dia mengatakan itu.


Dia menarikku kesebuah studio foto dadakan yang tersedia di beberapa titik gedung tempat pengukuhanku mendapat gelar S2. Aku pasrah mengikuti langkahnya.


“kakak tolong lebih mendekat. Nah sudah pas. Senyumnya kak, jangan kaku inikan hari bahagia, senyum bahagia kakak” suara fotografer mengarahkan aku untuk bergaya. Sungguh, kalau bukan demi Rania tidak sudi aku melakukan ini semua. Benciku tidak akan pernah padam.


Disinilah aku sekarang, sebuah restoran ternama di kota ini, bahkan dia juga yang membawa mobilku, entah bagaimana dia tahu rencanaku dengan Rania. Dengan berbekal aplikasi petunjuk jalan diponsel sampai juga dia di tempat ini.


sudah jam 12 siang, tempat ini sudah ramai, karena memang waktunya makan siang. Aku memilih mengunci bibirku dari tadi. Dia hanya bertanya apapun pada Rania.


Aku benci situasi ini. aku merasa kedamaian hidupku salama tiga tahun terusik, ingin rasannya marah meluapkan gumpalan emosi yang bergulung, tapi ada Rania apa katanya nanti kalau bunda dan ayahnya bertengkar.


Semua menu sudah terhidang dimeja. Dia memesan semuanya tanpa menanyakan aku mau makan apa. Anehnya dia tidak terpengaruh sama sekali. Diamku, dan tatapan tajamku dari tadi dia abaikan.


“kamu mau makan apa sayang” tanyanya padaku. Aku masih diam. Dendam ini harus ku tuntaskan tapi bagaimana caranya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau ada Rania. Kami harus terlihat baik-baik saja didepan Rania, itu sudah janjiku.


Rania sibuk dengan spagheti kesukaannya, aku diam. Selera makanku rusak oleh sebab laki-laki yang keberadaanya tidak aku harapkan.


“buka mulut, aku suapi chicken teriyaki kesukaanmu, mau pakai nasi?”tanyanya, aku diam ingin rasanya berteriak “diam bedebah” tapi aku tidak punya kekuatan untuk itu. Diam, hanya itu yang bisa aku lakukan.


“Ayah, dari tadi bunda belum makan kasihan, karena buru-buru ketempat acara takut terlambat” suara Rania semakin membuat ayahnya besar kepala, lihatkan dia tersenyum senang sekarang. Senyum lepas terbit dari bibirnya. Ingin aku siram wajahnya pakai es buah didepanku.


“besok kita akan pulang ikut penerbangan pagi. Bajunya sudah mas kemas tiket sudah mas siapkan” apa-apaan ini. siapa dia bisa mengatur hidupku begitu.


“horee,,ahirnya Rania bisa bertemu eyang, kakek nenek sam ounty Nisa dan ounty kirana makasih ayah” betapa riangnya putriku. Tidak tahukah kamu nak, betapa berita itu hanya kan membuat bunda semakin tersakiti. Kepulanganku berarti hanya akan menambah deretan panjang luka yang mati-matian bunda kubur.


“siapa yang mengijinkanmu melakukan itu semua”tanyaku dengan nada penuh penekanan karena amarah,mungkin mataku memerah sekarang.


“semua orang menyuruhku menjemputmu, termasuk abangmu itu” Tuhan, bahkan laki-laki yang selama ini mendukungku juga sudah berbalik mendukung penghianat ini.


Itu artinya aku akan siap dengan kehidupan poligami. Ditengah Andara yang berbahagia menyambut buah hatinya. Malangnya nasibku. Allah...apa yang harus aku lakukan. Aku benci semua ini. mengapa seolah aku tdak bisa menetukan jalan hidupku sendiri, sejak kekacauan hidup yang didatangkan biadab ini.


“sayang, kamu hari ini terlihat cantik sekali, aku cemburu kamu dilihat banyak laki-laki tadi disana” hooooeekkk.... tolong buaya siapa ini yang lepas.


Setelah dia memberikan kabar yang membuat spot jantungku turun naik. Sekarang ucapannya membuatku ingin mengeluarkan isi perutku.


melihat tatapan tajamku, laki-laki ini malah terbahak dengan senangnya. Jangan lupakan binar bahagia itu, semakin membuatku ingin mengahancurkan wajah tampannya.

__ADS_1


__ADS_2