
“aku bisa melihat keberadaanmu, tapi aku tidak bisa merasakannya. Kau telah berubah menjadi sosok lain yang tidak kukenali. Bahkan untuk menyentuhmu pun rasanya tidak terjangkau bagiku. kita bagaikan dua orang asing yang tak saling mengenal"
Amir
Membuka pintu rumah sambil menggendong Rania yang tidur terlelap, Jam 8 malam.
Aku masuk karena pintu tidak dikunci. Masuk keruang keluarga, aku melihat Mas Amir duduk disofa sambil menonton TV. Sendirian. Aku lewatinya, saat kakiku hendak menapaki anak tangga sura Mas Amir Menghentikanku.
“Dari mana kamu jam segini baru pulang” suaranya penuh penekanan. Dia menghampiriku aku tidak peduli aku melangkah untuk meletakkan Rania dikamarnya.
“Begini kelakuanmu sekarang” suaranya makin meninggi
aku tidurkan Rania dikamarnya, ia mengikutiku dibelakang aku tak peduli bahkan sepatah katapun tidak keluar dari mulutku. Aku menuruni tangga dia tetap mengikutiku dengan pertanyaan yang penuh amarah.
Sampai disofa ruang keluarga aku duduk. Tatapan tajam kuarahkan. Dia masih berdiri mentapku tak kalah tajam, matanya merah menahan amarah
“Dimana istriku yang penurut, hah....!!!!, bahkan pertanyaanku tidak diindahkan sama sekali” nafasnya memburu, amarah didadanya seolah ingin meledak.
“duduklah, mungkin amarahmu bisa hilang” ucapku berusaha setenang mungkin, bukan apa-apa, hari ini aku benar-benar lelah. Sampai rasanya berdebatpun tidak mampu.
dia duduk disofa ujung dengan jarak agak jauh.
“Aku dari toko, pulang terlambat karena banyak yang aku urus, kamu tidak perlu tahu” suaraku tetap rendah. Berharap kami bisa bicara baik-baik kali ini
“Kamu istriku, kewajibanmu melayaniku kalau seperti ini caramu. Mulai besok aku melarangmu untuk ke toko, kalau perlu tutup toko itu” suaranya mulai meninggi. Baik akan kulayani, mumpung ada kami berdua. Kalau mau bertengkar sekalian saja
“Istri?” ucapku sinis
“istri yang tidak kamu hargai keberadaannya selama 3 bulan, terus istrimu satu lagi kemana?, istrimu sekarang ada dua kalau kamu lupa, itu artinya tanggung jawab melayanimu itu juga tanggung jawabnya. Jangan hanya mau menuruti kemauannya tuntut juga tanggung jawabnya” . kalau bisa aku menebak Andara belum pulang. Terlalu sore kalau dia pulang sekarang.
“Kamu mulai membantahku sekarang, kemana Syafira yang dulu penurut, siapa yang merubahmu seperti ini hahhh...!!!” dia mulai berteriak, kalau awal dia membentakku nyaliku akan ciut tapi tidak dengan sekarang, lihat saja.
“Aku sudah berubah dan kamu yang merubahnya” aku ganti “aku kamu” aku sudah kehilangan hormat pada sosok disampingku ini.
“aku kehilangan suamiku tapi aku tidak pernah protes. Aku sadar dibanding andara aku tidak ada apa-apanya. Sejak kamu membawa wanita itu kerumah ini, sejak saat itu juga aku tidak mengenali suamiku” lanjutku, saatnya mengungkapkan isi hatiku apapun pengakuanku toh tidak akan merubah suamiku
“aku bukan wanita lemah yang akan meraung meratapi nasib. Aku tidak akan merengek karena rengekanku tidak akan pernah kamu dengar, sebab kalah merdu dengan rengekan maduku” laki-laki itu diam kepalanya menunduk dalam entah apa yang dia rasakan aku tidak mengerti. Aku kuatkan hati untuk tidak menangis.
“maafkan aku” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Setelah banyak luka yang dia torehkan apa tidak ada kata-kata lain. Cih, menyebalkan sekali.
melangkah menuju tangga, aku ingin membersihkan diri dan tidur, besok penentuan nasibku. Urusanku dengan pemilik Ruko itu dan mancari alternatif lain kalau ternyata keputusan besok tidak sesuai harapanku. Aku tidak ingin memmberitahu masalahku pada Mas Amir apalagi minta bantuan. Dari dulu aku sudah terbiasa mandiri.
__ADS_1
“mau kemana?” suara itu menghentikan langkahku didepan tangga
“aku mau istirahat capek” ku jawab tanpa menoleh.
“tunggu” dia menyusulku
Aku melangkah tidak mempedulikannya. Dia mensejajari langkahku
“tidak bisakah kamu memaafkanku” oh, dia hanya mengejar kata maafku. Aku berhenti
“Dari awal aku selalu memaafkanmu, tapi selalu saja terulang lagi kesalahan yang sama. Aku berdoa semoga hatiku tidak mati rasa” jawabku melihat kearah Mas Amir.
“malam ini aku mau tidur sama kamu boleh?” dia menatapku minta persetujuan.
“terserah” kulangkahkan kaki menaiki tangga masuk kedalam kamar aku tidak peduli dia mengikutiku atau tidak.
Ternyata suamiku mengikutiku masuk kedalam kamar. Aku masuk kekamar mandi setelah mengambil baju ganti terlebih dulu. Aku ingin berlama-lama disini. Entah mengapa aku malas bertemu Mas Amir. Mengisi bathup dengan air hangat, meneteskan sedikit demi sedikit aroma terapi. Saatnya rileks. Urusan besok biar nanti kupikirkan lagi.
Ternyata berendam begini membuatku lebih tenang. Ah, kesibukanku membuatku lupa hanya untuk memanjakan diri walau sebentar. Suatu saat nanti kalau usahaku sudah lancar sepertinya bagus juga untuk memanjakan diri disalon. Aku pikirkan nanti saja.
Terdengar ketukan dipintu kamar mandi, aku menoleh. Suara ketukan itu kembali terdengar
“sayang kamu lama sekali mandinya” itu suara Mas Amir. Ah, masak iya aku lama
“sayang, apa kamu baik-baik saja. Buka pintunya...”panggilnya sekali lagi ada nada cemas disana.
Membuka pintu setelah rapi kembali dengan pakianku, wajah mas amir terlihat tegang. Ada apa dengan laki-laki ini
“kamu hampir satu jam didalam aku panggil-panggil tidak menjawab, aku hampir saja mendobrak pintu, ada apa, kamu sakit?” kedua tangannya menangkup pipiku ah, masak selama itu aku tertidur
“sayang, jawab...” dia menggoyang pipiku.
“aku tidak apa-apa” jawabku singkat. suamuku manis sekali kalau tidak ada maduku.
“Tidurlah kamu pasti lelah” memapahku ketempat tidur, aneh sekali kelakuan Mas Amir aku seperti orang sakit saja. Kalau dia masih khawatir begini kenapa dia bisa cuek kalau ada Andara.
“tidur disini” dia menepuk dadanya setelah rebah disebelahku. Entah mengapa ada perasaan canggung tidur satu ranjang dengan suamiku sendiri.
“tidak usah, lebih enak begini” jawabku berbaring menatap langit-langit kamar. Hampir jam 10. Andara belum pulang tapi laki-laki ini santai saja. Aku pulang jam 8 saja dia sudah heboh. Suasana hening, hanya terdengar detak jam dinding.
“sayang, aku minta maaf aku tahu dari awal aku salah. Tapi percayalah semua yang aku lakukan demi kebaikanmu dan Rania” kulirik sekilas wajahnya datar menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
“aku tidak pernah menemukan kebaikan dalam penghianatan, jadi jangan mengarang cerita. Perselingkuhanmu sudah membuatku terluka. Ditambah ketidak adilan yang kamu ciptakan sudah menghancurka kecayaanku.kebaikan yang mana yang kamu bicarakan” mumpung berdua. Akan aku tuntaskan. Tidak ada jawaban.
“aku tahu, tapi percayalah aku sangat mencintaimu aku ingin kita seperti dulu dan membuatkan adik buat Rania, kamu maukan?” dia membalikkan badannya menghadapku, senyumnya. Senyum yang selalu melumpuhkan hatiku. Tapi itu dulu sekarang, biasa saja.
“jangan bicara omong kosong, keadaanya tidak lagi sama. Ada Andara dihatimu. Tidurlah kamu pasti lelah” aku membalikkan badan membelakanginya.
Mataku tidak bisa terpejam entah mengapa, kata-kata Mas Amir terngiang. "Ingin seperti dulu, membuatkan adik Rania". Ada Andara yang bisa memberikannya anak. Mengapa harus aku. Maafkan aku mas, cukup Rania saja yang kehilangan sosok ayahnya, tidak dengan adiknya Rania kelak. Sekali lagi maaf. Aku memang istri durhaka tapi tekadku sudah bulat.
Hening kembali. Mungkin suamiku sudah tidur saatnya aku juga tidur. Menyiapkan tenaga untuk besok. Mataku hampir terlelap aku hampir terbuai dalam mimpi. Sampai ahirnya.
“sayang.....” suaranya lembut sampai ke telinga. Ah, tidak lebih tepatnya ditelingaku ada hembusan hangat menyapa tengkuk belakang. Aku taget tapi berusaha tenang. Bulu kudukku meremang
“kamu sudah tidur” ah, suaranya berat bagaimana ini aku tidak bisa, sungguh aku tidak siap melakukannya. Bayangan penghianatan itu jelas tersimpan rapi di memoriku.
“aku tahu kamu belum tidur, aku masih mengenali dengan baik ketika istriku tidur. Jantungnya tidak pernah berdegup kencang. Hanya pelan saja. nafasnya juga teratur tidak memburu seperti habis lari jauh” degh...bagaimana ini, ingin rasanya aku menghilang. Ternyata dia tahu kalau aku gugup.
“Tidak apa-apa. Suamimu ini tidak marah koq” ucapnya dengan suara menahan tawa. Kalau dulu aku akan tertawa sambil memeluknya erat, membenamkan wajahku didadanya karena malu. Sampai dia mengangkat wajahku dan mencium keningku lembut. Dan kami akan tertawa bersama. Sekarang cukup aku meringkuk membelakanginya selimut kutarik sampai leher.
“kalau aku cerita tentang kebenaran alasan perselingkuhanku dengan Andara, apa kamu akan menerimaku kembali. Apa kita bisa hidup bahagia seperti dulu?” itu pertanyaan atau permintaan. Entahlah.
“boleh aku cerita?” dia menarik bahu kananku hingga telentang. Dan menarik bahu jiriku untuk menghadapnya. Dia mentapku lembut. Tatapan yang sudah lama aku rindukan. Laki-laki ini ternyata masih sama seperti dulu. Aku merindukannya, sungguh.
Ku tatap matanya lembut, mencari kejujuran seperti dulu. Ternyata dia masih suamiku yang dulu sinar matanya seperti dulu. Ada cinta dan kehangatan disana. aku terbuai tatapan itu melenyapkan segala sakit hatiku
“aku bertemu andara sekitar 9 bulan yang lalu, dikantor pengacara. Dia bersama suaminya. Aku mengurus berkas perusahaanku suami Andara juga sama. Bedanya dia mengurus berkas laporan penipuan yang menimpa perusahaannya yang pada saat itu bermasalah. Proyek yang nilainya ratusan milyar rupiah. Perusahaannya dinyatakan pailit oleh sebab kena tipu anak buahnya sendiri. pada saat suaminya konsultasi didalam aku diruang tunggu bersama Andara. Kita mengobrol biasa. Tanya kabar, tanya kesibukan, bertanya jumlah anak. Aku bilang mengurus perubahan status perusahaanku dari CV ke PT. Aku juga bercerita tentang jabatanku yang baru saja diangkat jadi manajer. wajahnya berubah. Dia mendengarkanku dengan antusias. Yang dari tidak peduli tiba-tiba dia meminta nomorku. Ahirnya kita bertukar kontak.” Aku mendengarkan cerita suamiku dengan seksama. Ada nyeri merambat disana. selama itu tapi dia tidak pernah bercerita apapun padaku
“Dia sering menghubungiku, dia bercerita kalau tidak bahagia dengan pernikahannya suaminya sering bersikap kasar karena dia belum bisa memberikannya anak” suamiku menggengam tanganku erat. seolah Ada beban berat yang ingin dituntaskan. Entah mengapa ada rasa iba yang tiba-tiba menderaku.
“Sampai ahirnya, aku tahu kalau...”belum selesai menuntaskan kalimatnya ketukan keras dipintu terdengar.
“hani,aku pulang...” suara merdu itu, tiba-tiba suamiku tegang dia berjalan cepat membuka pintu.
“iya,,,hani sudah pulang...bagaimana hari ini menyenangkan?” hah, ada apa dengan suamiku. Kenapa dia tiba-tiba jadi berubah hangat dengan Andara. Ah, tidak. Memang selalu begitu bukan.
“mbak maaf ya, saya turun dulu”ucap andara seraya menggandeng suamiku
“terima kasih sudah menemaninya” lanjutnya lagi seraya berlalu.
Suamiku bahkan dia tidak menoleh kearahku. Sikap angkuhnya kumat. Dia akan begitu denganku kalau Andara.
Dan apa katanya tadi, hidup bahagia seperti dulu. Memberikan rania adik.
__ADS_1
Secepat itu dia berubah. menjadi sosok lain yang tidak kukenali. Allah...sakit ini kembali mendera. Setidak berharga itukah aku dihadapan suamiku sendiri. dan bodohnya aku hampir saja terbuai. Aku kira dia akan berubah, ternyata hanya sebatas anganku saja.
Mungkin ada baiknya aku mulai mempertimbangkan saran kirana. Berpisah, kalau memang itu pilihan yang terbaik.