BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 14 MENERIMA TAKDIR


__ADS_3

“Kapan kamu kembali” itu suara bapak, lirih namun dalam. Apakah bapak tidak suka aku pulang?


“bukan bapak mengusirmu, bapak hanya tidak mau kamu berdosa melalaikan kewajiban pada suamimu” tatapan matanya menerawang jauh kedepan, kami duduk berdua diteras rumah, ibu menidurkan Rania di kamar dari sejam yang lalu.


Rumah ibu ada dua kamar bersebelahan, didepannya terdapat ruang tamu yang memanjang. Dibelakang, ruang makan dan dapur berhadapan. Ukuran bangunan ini 6x12. Sementara kamar mandi ada dibelakang berjarak 5 meter dari rumah induk. Halaman rumah sangat luas bahkan dibelakang terdapat tanah kosong yang tak kalah luas. Teras bentuk memanjang, terdapat empat kursi dan satu jeja kecil tempat kami bersantai.


“sudah seminggu kamu disini, dan selama itu juga kamu melalaikan kewajiban pada suamimu, apapun yang dilakukannya, dia masih sah menjadi suamimu. Artinya kamu wajib berbakti padanya, jangan menambah tumpukan dosa. Rasa sakit yang kamu alami sekarang seharusnya bisa menjadi ladang pahala dengan dan sabar keikhlasan.” Melihat kearahku sekilas kembali tatapannya menerawang jauh.


“fira tidak tahu pak, rasa sakit ini tidak pernah fira bayangkan sebelumnya. Fira kecewa, kepercayaan fira dibalas penghianatan” kembali sakit ini menyerang. Tidak bisakah bapak mengerti keadaanku.


“Bapak hanya ingin yang terbaik, kamu anak bapak satu-satunya. Kebanggaan kami. Sedari kecil kamu bapak didik dengan agama yang baik, akhlaq yang baik. Harapaannya Cuma satu, setelah dewasa kamu mengerti akan tugas dan tanggung jawabmu sesuai agama.” Masih tatapan menerawang. Lambaian daun pohon mangga yang tertiup angin lebih menarik perhatian bapak.


“Hp mu daritadi bunyi,,,angkatlah kasihan, dari awal kamu sampai disini tak sekalipun kamu menjawab panggilan suamimu, sesakit apapun perasaanmu jangan sampai menjadikan kamu istri durhaka.” Ibu berjalan menyerahkan gawaiku. Dengan malas aku mengambil benda itu dari tangan ibu. Entahlah bahkan untuk mendengar suaranya saja aku tak sanggup. Membayangkan apa yang dilakukannya dan istri barunya membuatku tidak ingin pulang kerumah.



“assalamualaikum...” dengan terpaksa aku menjawab setelah satu minggu ku abaikan. Bukan apa-apa hanya takut dimarahi bapak alasanku menjawabnya.


“waalaikum salam, kapan pulang?” pertanyaan macam apa itu, bukannya tanya kabarku rania atau tanya keadaan bapak ibuku dasar laki-laki egois


“aku tidak tahu, sudah aku tutup,,, assalamualaikum” memang apa yang mau dibicarakan. Pertanyaan basa-basi. Sekarang dia tidak butuh aku lagi ada wanita penggoda itu disampingnya.


Kembali benda segi empat ini menyala, tertera nama yang sama disana malas sekali aku menjawabnya.


“bapak yang bicara” bapak mengulurkan tangan hendak mengambilnya, aku serahkan ragu. Apa yang mau bapak bicarakan.


“assalamualaikum apa kabar nak amir, ini bapak, maaf boleh bapak berbicara” lembut suara bapak menyapa menantunya


“..............”

__ADS_1


“Syafira akan pulang, nunggu dijemput kasihan Rania kalau harus naik angkutan umum” aku menoleh tidak suka, bisa-bisanya bapak menyuruh mas amir menjemputku. Aku bisa pulang sendiri kebencianku pada laki-laki itu belum pudar aku tidak sudi satu mobil dengannya.


Entah apa yang mereka bicarakan aku sudah tidak sudi mendengarnya, ingin rasanya marah sama bapak. Tapi tidak bisa, demi rasa hormat yang ku junjung tinggi hanya bisa memendamnya saja.


“suamimu masih menghawatirkanmu, itu artinya dia masih cinta. Atas perlakuannya padamu dia pasti punya alasan sendiri. besok dia mau menjemputmu, pulanglah, demi rania demi keluarga kecilmu bersabarlah” suara bapak lebih tegas sekarang, masuk kedalam rumah. Tinggallah aku disini derdua dengan ibu.


“mungkin ini sudah garis takdirmu tahu rasanya di madu, kalau kamu ikhlas surga balasannya, jangan sampai kamu sebagai istri terlontar kata cerai jangankan masuk surga bahkan mencium baunya saja diharamkan untukmu nak” wanita tegar ini menasehati. tidak tahukah ibu aku tidak sekuat dan sesabar ibu.


“fira tidak kuat bu, sabarku ada batasnya seandainya fira bisa menghilangkan rasa cinta ini. Pasti fira akan memilih berpisah” itu pilihanku sebenarnya. Tapi apa, cinta telah melemahkan akal sehatku


“istighfar nak...jangan sampai kamu berpisah.jadi janda itu tidak enak kamu akan mendapat banyak fitnah. Semua warga desa tahu kalau kamu wanita yang beruntung, punya suami baik karir dan usahanya mapan. Anak yang cantik mertua yang baik. Sesempurna itu kehidupanmu dimata mereka. Sehingga banyak yang iri dengan ibu punya anak seperti kamu” tatapan memohon dari seorang ibu untuk anaknya. Kembali rasa sakit ini berdenyut. Mampukan aku ya Rab....


***


Kembali kerumah, kembali kekehidupan nerakaku. Neraka yang diciptakan oleh mereka. Rasanya hampa, tidak ada kehangatan didalamnya sekarang. Aku menatap sekeliling entah mengapa terasa asing dirumahku sendiri.


Demi bapak dan ibu aku harus kuat. Kalau ada yang keluar dari sini, maka perempuan itulah seharusnya. Demi tegaknya wajah bapak dan ibu dihadapan tetangga dan kerabatku aku akan bertahan akan kubuat mereka tetap bangga padaku.


“tidak usah terima kasih” jawabku ketus sambil berlalu


“sini aku yang gendong rania, hani pasti capek habis nyetir” tiba-tiba aku mual mendengar panggilannya


“tidak usah, sayang masuk saja ini sudah malam nanti sakit” obrolan macam apa ini, muak mendengarnya.


Belum satu jam dirumah ini kebencian mulai terukir. Secepatnya aku masuk kamar, mandi dan tidur sebelum aku benar-benar muntah dihadapan mereka.


Jam 5 pagi turun kebawah, setelah selesai urusan mandi dan ibadah, mempersiapkan sarapan seperti yang biasa aku lakukan. Ini hari pertama aku turun kedapur sejak keberadaan wanita itu disini. Memasak menu biasa, tak perlu memikirkan selera istri mas amir itu bukan tanggung jawabku.


Hanya ada aku sendiri, tak terlihat pasangan pengantin baru itu keluar kamar. Entah apa yang mereka lakukan aku tidak peduli. Sakit memang tapi dia juga istri sah suamiku. Membayangkannya saja sakit dihati kembali berdenyut. Cemburu, benci, sakit hati akan menjadi temanku setiap hari disini. Mempersiapkan diri itu jauh lebih penting dari pada memkirkan yang tidak penting

__ADS_1


Untuk saat ini aku hanya akan mencoba menjalani takdirku, sesuai permintaan ibu. Menjalankan kewajibanku sebagai istri seperti nasehat bapak. Walaupun tidak tahu sampai


Telur dadar, tahu tempe goreng, oseng-oseng buncis sambal bawang kesukaan suamiku sudah tersaji diatas meja. Mengupas buah dan membuat susu hangat untuk mas amir setelahnya. Untuk wanita itu aku tidak peduli, seharusnya dia juga menyiapkan sarapan suaminya bukan. Menu untuk sarapan memang dibuat sederhana, menu makan siang lebih komplit dengan kuah. Sedangkan makan malam sesuai permintaan rania sama mas Amir. Kadang yang berkuah kadang juga hanya ayam goreng dan sambel.


Ku tempelkan dikulkas menu makanku dari senin sampai minggu agar lebih gampang membuatnya. kecuali tiba-tiba kami ingin makan diluar itu lain ceritanya. Sebisa mungkin aku memasak suamiku kurang suka makan diluar.


“assalamualaikum sayang, masak apa” suara imamku berjalan menghampiri meja. Wajahnya segar aroma wangi sabun tercium indraku, rambut basahnya tertata rapi. Dibelakang maduku mengikuti dengan rambut yang sama basahnya. Allah,,, melihat pemandangan ini membuatku sudah sakit, bayangan keintiman mereka semalam menmbayang di kepaku sakit sekali rasanya.


“Waalaikum salam, menu sarapan biasanya” menjawab sekedarnya. Kualihkan pandanganku kepiring tempatku menata potongan buah segar. Mereka duduk bersebelahan didepanku. Andara melihat menu, wajahnya datar.


“saya mau susu tapi ga pakek gula mbak...”tatapan tajam kuarahkan padanya, yang benar saja apa wanita ular ini menganggap aku pembantunya.


“bisa bikin sendiri kan, susu segar ada dikulkas , kalau susu bubuk ada di toples warna hijau.” Jawabku datar saja ini terlalu pagi untuk mengeluarkan emosi.


“tapi saya tidak bisa” suara manjanya membuatku mengusap dada menahan emosi yang meletup


“tidak bisa apa tidak mau?” singkat saja, untuk meninju harga dirinya.


“saya tidak biasa...dari dulu pembantu yang buatkan.” Usia 28 tahun kelakuan macam bocah, ternyata seperti ini selera suamiku. Wanita manja yang tidak bisa apa-apa, bahkan sekebar membuat susu.


Laki-laki ini hanya diam tidak memberi reaksi apapun , mengunyah buah segar dari piring. Pembicaraanku seolah tidak menarik perhatiannya. Kan, jadi bingung sendiri mau menaggapi bagaimana.


“kalau begitu mulai sekarang biasakan, dirumah ini sekalipun ada pembantu tidak semua tugas dibebankan padanya” sedikit emosiku terpancing. Tak apa, bukankah mas Amir menyuruhku memberi tahu tugasnya. Baik, sekarang waktu yang tepat kurasa.


“Namanya mbak tini, mungkin kamu sudah tahu.” Menatap tajam kearahnya


“Mas amir sudah memperkenalkan sejak pertama saya masuk kerumah ini” perempuan itu menatapku takut.


“dirumah ini bangun jam 5 setelah sholat subuh, membuat sarapan sendiri karena mbak tini datang jam 7, dan satu lagi tolong berpakaian yang sopan ada Rania yang harus diberi contoh” baju youcansee dengan leher lebar ke bawah, menunduk sedikit saja maka belahan dadanya terlihat sempurna. Dan ingat hotpant warna putih sebagai bawahannya. Aku tahu ini didalam rumah memang, tidak risihkah dia berpakian begitu sementara ada aku yang memakai baju tertutup sekalipun bahan daster.

__ADS_1


“memberitahunya tidak bisa sekaligus dia masih adaptasi dirumah ini, biarkan belajar pelan-pelan” apa, suamiku membela wanita ini dihadapanku. Ini masih masalah sepele lho, perkara bikin susu dia bela. Begitu cintakah suamiku pada istri barunya. Lalu kemana cintanya untukku hilang? Secepat itu. Allah...sakit sekali rasanya. Aku yang berusaha mulai berdamai dengan takdirku, tapi lihatlah perlakuan yang aku dapatkan dari laki-laki yang bergelar suami ini.


Baru permulaan, tidak bisakah dia bersikap adil hanya untuk hal sepele, padahal hanya membertahu baik-baik bukan memarahi. Jangan salahkan aku kalau kebencianku pada kalian semakin tumbuh subur, aku yang berusaha membunuhnya tapi kalian yang memupuknya. Selamat datang rasa sakit mari kita tumbuh bersama, membangun kebencian untuk kedua mahluk didepanku ini.


__ADS_2