
“sayang, sejak kapan Sri kerja sama kamu?” pertanyaan suamiku tiba-tiba setelah kami selesai makan malam. Ada apa sebenarnya, kenapa sri yang diributkan
“sudah 5 bulan lebih, emang ada apa” tanyaku penuh selidik
“koq tidak pernah cerita “ tatapannya beralih padaku.
“bagaimana mau cerita, dua bulan pertama sri ikut aku, Mas jarang dirumah. Rapat keluar kota, sibuk proyek, cek lapangan, diklat, apalagi ya...”jawabku sambil mengapit dagu dengan jempol dan telunjuk, seolah sedang berpikir.
“Ya allah,, sudah dong jangan dibahas lagi” jawabnya sambil mengusap kepalaku yang tidak tertutup hijab.
“apa kamu kenal sri” tanyaku pada laki-laki pakai kaos rumahan dan celana pendek selutut disebelahku ini
“mas takut salah, wajahnya mirip banget. Bedanya sri itu wajahnya polos tanpa make up
Kalau yang mas kenal itu namanya monica, wanita cerdas, berkelas, pintar dandan. Dia salah satu orang penting di GLOBAL GROUP sama seperti Reno. posisi tepatnya mas kurang tahu” penjelasannya panjang lebar. Aku hanya mengangguk.
“mungkin mas salah orang, kalau sri boro boro dandan, pakai pedak sama lipstik saja dia tidak pernah” ucapku berusaha menyangkal dugaan Mas Amir. Sebenarnya aku curiga juga dengan sri. Terprovokasi dengan kecurigaan suamiku.
“apa ada berkas yang dia kasihkan waktu melamar kerjaan” tanyanya lagi, sepertinya laki-laki ini benar-benar penasaran sosok sri.
“ada, foto kopi KTP sama Ijazah terahir, kebetulan ada di meja kasir” jawabku. tegas hanya ingin menyangkal kecurigaannya tentang karyawanku ini.
“mas, pernah tahu pimpinan tertinggi GLOBAL GROUP, atau semacam CEOny gitu?” sebenarnya aku penasaran wajahnya. Bahkan selama melakukan perjanjian kerja sama dengan perusahaan itu selalu diwakili Reno. Tapi iya juga, masak iya, orang sekelas CEO mau mengurusi usaha ecek-ecek kayak punyaku. kan aneh.
“belum pernah, dia memang tidak mau menampakkan diri didepan publik, tahu g alasannya?” suamiku balik bertanya. Aku menggeleng.
“takut jadi incaran wanita pemuja materi” jawabnya tegas
“wah, hebat ya. Orang sekaya itu masih menjaga perasaan keluarganya, dia pasti sayang banget sama istrinya. Jarang lho ada laki-laki seperti itu jaman sekarang, se...” ucapanku terpotong karena suamiku menutup mulutku dengan tangannya.
“aku bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama” jawabnya tepat didepan wajahku. Tanganya menangkup kedua pipiku wajahnya semakin mendekat.
Bibir kami hanya berjaran satu senti. Aku memejamkan mata menghalau debaran jantung yang mulai menggoda.
Tiba-tiba benda segi empat di sebelahku berbunyi. Aku lihat nama yang tertera di layar. Nama kirana muncul disana. dia melepaskan tangannya dari pipiku. Wajahnya terlihat kesal.
“assalamualaikum ki...” sapaku membuka pembicaraan
“waalaikum salam...., maaf mbak, kirana ganggu nggak” jawaban dari seberang, tidak biasanya kirana nelpon jam segini
“enggak....kebetulan mbak lagi santai. Ada apa koq tidak biasanya?”tanyaku
“mbak bener ya cari pengasuh buat rania” tanya nya dengan nada rendah
__ADS_1
“iya, mbak tini cerita ya” tanyaku penasaran
“iya, dia minta tolong saya buat carikan, kenapa mbak harus cari pengasuh Rania segala. Saya sanggup koq dititipin Rania, meskipun sebulan penuh g usah dijemput. Kirana sedih loh waktu mbak tini cerita.
Mbak nggak percaya sama kirana?. Kalau bang Raihan kekantor kirana sendirian mbak, kalau ada Rania, kirana ada temannya, batalkan ya mbak. Please...!” ucapnya memohon.
Aku tidak meyalahkan mbak tini cerita kekirana, karena mbak tini juga kirana yang carikan. Aku bingung harus jawab apa.
“mbak takut merepotkan ki,,,nanti juga kalau dapat pengasuhnya. misal Rania mbak titip di kamu jadi nggak direpotkan. Sudah ada yang melayani Rania” jawaban ini mungkin masuk akal.
“kan dirumah kirana sudah ada, ngapain bawa pengasuhnya Rania lagi”
“sejak kapan, katanya enggak mau ambil ART. Bang Raihan tidak suka ada orang lain di rumahmu” itu alasan kirana tidak punya ART dirumahnya, aneh sekali kirana, koq aku tidak tahu malah.
“sejak sebulan yang lalu, katanya biar aku tidak kelelahan kan kirana program punya anak mbak” iya juga ya, sesayang itu bang Raihan sama istrinya. Kadang rasa cemburu itu ada untuk suami yang memanjakan istrinya. Kembali rasa tidak enak menyerang. Kulirik laki-laki disebelahku.
“iya, nanti mbak pikirkan lagi ya” jawabku menenangkan wanita berusia 5 tahun dibawahku ini
“jangan dipikirkan mbak, dibatalkan...!!!”tegas sekali anak ini, senang sekali direpotkan rupanya.
“okeh..”jawabku dengan berat hati.
Setelah obrolan panjang lebar, khas emak-emak. Bahkan dia sempat tanya keadaan Mas Amir dan juga kondisi Andara, ahirnya pembicaraan ditutup dengan hasil ahir. mencari pengasuh Rania dibatalkan.
Aku tarik nafas pelan sambil meletakkan HP. Mas Amir masih kesal. Wajahnya ditekuk. Ini pembahasan sensitif, untuk hal ini kami memang tidak sepaham. Aku yang sudah membulatkan tekad untuk jadi wanita mandiri hanya untuk berjaga-jaga.
***
“nyenyak banget, padahal kita tadi tidak ngapa-ngapin lho” ucapnya, ibu jarinya membelai lembut keningku. Aku lempar tatapan tajam. Suamiku tertawa keras. Ini kebiasaanya dari dulu. Dia senang sekali menggodaku. Wajah kesalku lucu katanya sampai dia tertawa lepas.
Entah mengapa perasaanku padanya tak seperti dulu, aku memang bisa melihat kesungguhannya untuk berubah, tapi hatiku sudah terlanjur hilang kepercayaan untuk imamku. Bayangan rasa sakit karena penghianatan masih jelas tergambar. Aku sudah memaafkannya. Tapi mengapa sulit sekali menghilangkan bayangan perselingkuhan itu.
“wudhu lagi, kamu sudah tertidur tadi”ucapnya seraya mengangkat bahuku untuk duduk.
Segera beranjak kekamar mandi
“kamu mau ambil wudhu pakai mukenah?” suara suamiku menghentikan langkah ku.
Astaghfirullah.. aku berbalik, membuka dan menaruhnya di atas sajadah. Aku lihat suamiku masih tertawa, dia bahagia sekali melihatku linglung begini.
“jadi hari ini apa rencanamu?” itu suara suamiku, membuka pembicaraan kami dimeja makan. Sambil mengunyah buah segar yang sudah dikupas. Tatapannya kearahku yang sedang berdiri didekat kompor. Sibuk membuat sarapan.
“mengawasi anak-anak menata barang, nanti Rania aku titip di kirana lagi, kasihan kalau dibawa takut kena debu” kataku pelan, aku tahu dia tidak suka. wajahnya terlihat kecewa.
__ADS_1
“andai aku tidak pernah berbuat salah, mungkin sekarang syafiraku masih akan tetap disampingku, ceria seperti dulu menungguku pulang kerja dengan senyuman indahnya. Menemani Rania, tak perlu menitipkannya ke orang lain”gumamnya seperti berbicara untuk dirinya sendiri. aku merasa kasihan, tapi tidak untuk mengurungkan niatku.
“aku akan mencoba, beri aku waktu. Aku tidak berjanji tapi akan berusaha. Seandainya pada ahirnya aku tidak bisa bertahan maaf kan aku” ucapku lirih, ku tatap lekat wajahnya, yang sedang tertunduk. Gurat penyesalan tergambar jelas. Aku tidak memungkiri untuk saat ini hatiku memang masih sakit.
“tidak perlu dipaksa, biar semuanya mengalir seperti air. luka dihatimu akulah penyebabnya. Kamu wanita luar biasa, masih mau bertahan meskipun hatimu tak lagi utuh” digenggamnya tanganku dengan erat. Seolah ingin memberikanku kekuatan atas rapuhnya hati ini.
Maafkan aku mas...sungguh, aku pun sama tersiksanya denganmu. Kita sama-sama hancur untuk kesalahan yang tidak sepenuhnya kita lakukan. Seandainya luka tak meninggalkan bekas, sudah tentu bahagia akan kita raih. Tapi sayang, goresannya terlalu dalam hingga aku tak mampu menutupinya. Maaf...
***
Ini hari kelima, aku menata barang dan mendisplay di rak, sesuai dengan jenis, ukuran dan bentuk kemasannya. Aku usahakan hari ini selesai. Sebab itu kami berencana lembur. Setelahnya tinggal menunggu pembukaan nanti.
“sri, beli makan dulu, istirahat sekalian makan. Nanti jam 7 kita lanjutkan lagi, istirahat satu jam cukup kan?” kataku pada sri, wanita itu sibuk ruangan yang akan menjadi ruang kerjaku nanti. Ada dua meja dan dua buah kursi lengkap dengan komputer yang terhubung ke meja kasir. Untuk mengontrol penjualan, pembelian, stok barang. Serta laporan keuangan yang lain. Ruangan ini yang akan menjadi tempatku dengan dengan sei nanti.
“iya bu, saya tanya anak-anak dulu mau makan apa?” katanya, beranjak keluar ruangan menemui anak-anak yang sibuk menata barang.
“ada 8 orang bu, mereka minta bebek goreng katanya” jawab sri, hanya kepalanya yang muncul dipintu.
“oke, siapa yang berangkat untuk beli” tanyaku pada sri, keluar ruangan sekedar memastikan anak-anak yang akan berangkat beli makan malam.
“saya bu, sama andi” seorang anak laki-laki yang di panggil memet menghampiriku, penampilannya yang sedikit melambai, sering dipanggil si tulang lunak sama teman-temannya.
“oke, ini uangnya”membuka dompet mengambil 5 lembar uang pecahan bergambar Soekarno-Hatta sedang tersenyum.
“tanyakan juga mau beli minuman apa sekalian, saya mau sholat dulu” memasukkan kembali dompet kedalam tas.
“bunda....”kuarahkan pandangan ke sumber suara, putriku masuk digandeng ayahnya. Kurentangkan tangan menyambut kedatangannya. Rania berlari kearahku dan memelukku erat.
“hai sayang,,,bagaimana sudah selesai. Mas bantu apa nih ?” tanyanya sambil mencium kepalaku yang tertutup hijab coklat tua. Suamiku sudah memakai kaos rumahan warna biru di padu celana tiga perempat warna hitam.
“tidak usah ada anak-anak hampir selesai. Habis makan nanti lanjut lagi. yang beli makanan koq belum datang ya sri” tanyaku pada sri. Oh, aku lupa kalau dia gantian shalat di ruang kerjaku.
“sebentar lagi paling juga datang bu” jawab sri,,,perempuan itu merapikan baju dan kerudung sehabis sholat.
“tante monica makasih ya,,,”suara Rania membuatku kaget, siapa yang dia panggil tante monica. Kutatap wajah anakku. Tatapannya mengarah ke sri. Ada apa ini? Kenapa Rania sama seperti ayahnya menyangka sri adalah monica, tapi koq aneh Rania bukan baru sekarang bertemu sri.
Aku dan mas amir saling bertatapan, bingung. Siapa sri sebenarnya.
“koq tante monica, tante sri sayang” ucapnya membelai rambut kirana lembut. Gadis kecilku itu sedang dipangku Sri.
"kenapa bilang makasih sayang", tanyaku pada Rania. ada apa ini sebenarnya.
"kan tante monica anter mainan yang banyak kerumah aunty Kirana, katanya buat Rania. biar Rania betah dirumah aunty kirana" jawabnya polos. aku semakin bingung. Berarti Kirana kenal monica. tidak mungkin Rania berbohong
__ADS_1
Aku semakin bingung. aku tanyakan tentang monica nanti ke Kirana. suamiku menatapku dalam. dia mengusap bahuku. laki-laki ini tahu kalau istrinya sedang cemas.
Aku ingat bagaimana ngotot nya Kirana Melarang aku cari pengasuh untuk Rania.