BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 16. HADIAH ULANG TAHUN


__ADS_3

Bagaimana aku akan menjalani kehidupan setelah ini. Rasanya baru kemarin aku menjadi ratu dirumahku sendiri. Tapi sekarang, hari-hariku lebih akrab dengan sakit hati, kecewa, marah, benci. Bisa sabar tapi tidak akan pernah ikhlas, seharusnya apa yang menjadi milikku akan selamanya begitu.


Kejadian pulang dari undangan olip masih membayangi kepalaku. Bagaimana bisa mereka melakukannya diruang tamu. Tidak bisakah menahan hasrat selepas pulang undangan. Membiarkanku berdua dengan Rania itu sudah menyakiti, ditambah pemandangan diruang keluarga .


Berjalan cepat menidurkan Rania diranjang, turun kebawah untuk menuntaskan amarah yang sudah kutahan.


“Tidak bisakah kalian mengerti perasaanku sedikit saja hah...!!!”suaraku lantang memenuhi seluruh sudut rumah ini aku tidak peduli.


“ caramu menyakitiku memang sempurna. Meninggalkan aku berdua dengan Rania, tidak bisakah bersabar sedikit saja sampai kita pulang” nafasku memburu rasa panas ditenggorokan tak kuhiraukan. Tatapan tajam dengan mata melotot melengkapi kemarahanku.


“sebulan lebih kalian aku biarkan tidur sekamar, dan selama itu juga suamiku tidak pernah menyentuhku, apa itu masih kurang. Nafsu binatang apa yang merasuki kalian sampai urat malu saja tidak punya” jedah sejenak menghalau sesak, menghirup nafas untuk mengisi paru.


“Dan satu lagi, dirumah ini kami tidak pernah ada tayangan menjijikkan itu, bagaimana suamiku menjadi imam untuk istrinya bahkan tayangan tak pantas saja sudah diperbolehkan sekarang, sejak kapan?” teriakanku semakin keras, airmataku mengalir deras biar saja. Mungkin saat ini aku seperti iblis dan kaumnya, atau seperti orang kerasukan. Aku tidak peduli.


“Kalau mau melakukan itu jangan dirumah ini, cari tempat lain. Lima tahun aku menjaga rumah ini menjadikannya seperti surga buat kami, tidak lain hanya berharap Allah memberkahi setiap sudut rumah ini dan kalian datang begitu saja merusaknya. Bagaimana aku bisa percaya suamiku bisa adil, bahkan untuk bigini saja dia tidak bisa membimbing istrinya”


“Dan untuk kamu perempuan murahan jangan bawa kebiasaan buruk mu kerumah ini, dirumah ini aku yang berkuasa karena sampai sekarang aku masih istri sah mas Amir kalau kamu lupa” ku arahkan telunjukku padanya. Peduli setan dengan sopan santun. Perempuan itu menunduk dalam.


“Maafkan mas fira, mas khilaf” ahirnya bersuara juga suamiku . Menyesal, rasanya tidak mungkin, yang aku tangkap hanya merasa tidak enak saja. Bukan merasa bersalah.


“jadi ini yang membuatmu pulang lebih dulu karena sibuk, ternyata sibuk sekali ya. Kalau tidak mampu, cukup satu. Jangan memaksakan diri” aku menoleh kearah suara, bang fatih. Allahu...sampai lupa kalau masih ada diruang tamu.


“Dia yang mengantarmu pulang?” kulihat amarah diwajah suamiku, rahangnya mengeras. Seketika matanya memerah.


“iya, saya yang mengantar anak dan istri yang kamu telantarkan demi wanita itu, keberatan?” bang fatih tak kalah marahnya. Matanya tajam menatap Mas Amir.


“belajarlah tahu diri mulai sekarang. Kalau tahu seperti ini caramu memperlakukan syafira mengapa tak kamu kembalikan dia baik-baik pada keluarganya seperti waktu kamu datang memintanya baik-baik waktu itu” berjalan mendekat kearah mas Amir dan Andara yang masih berdiri mematung.


“kamu telah melanggar janjimu untuk menjaganya dengan baik, aku minta ijin untuk membawa kembali syafira pada keluarganya. Tidak usah repot mengantar, aku yang akan membawanya pulang” wajah mereka saling berhadapan sama tegang. Wanita itu semakin menunduk dalam.


Aku tatap bang fatih tak percaya ku hampiri dia dengan merapatkan kedua tangan didada.


“jangan bang, aku mau disini. Fira harap abang tidak menceritakan ini pada ibu dan bapak, kasihan mereka” wajahku memelas, airmata deras mengalir. lihatlah kebodohanku. Berulang kali disakiti berulang kali pula aku membela laki-laki itu. Dan laki-laki yang aku bela hanya menunduk, luar biasa bukan.

__ADS_1


“Fira, hubungi abang kalau laki-laki ini masih menyakitimu. Permisi” bang fatih berlalu aku tahu dia menyimpan amarah didadanya. bagaimana Aku akan menegakkan muka dihadapannya. Orang yang aku bela ternyata sudah membuka aibnya sendiri.


Sebulan berlalu, semenjak kejadian itu. Artinya dua bulan genap aku di madu. Kalau ada yang tanya bagaimana hatiku, masih sama hancur berkeping. Perempuan itu semakin menjadi, merasa mendapat pembelaan mas Amir kelakuannya semakin tak terkendali. Dan hubunganku dengan Mas Amir semakin canggung, kami lebih banyak diam.


Berpakain semakin terbuka, didepanku dan Rania. Susah payah aku mengajarkan rania tentang tatakrama dan kesopanan. Perempuan itu merusaknya. Kadang kerepotan juga kalau harus menjawab pertanyaan anak lima tahun tentang apa yang dia lihat.


Memakai pewarna cerah di kukunya yang panjang. Baju yang semakin kekurangan bahan. Pergi dengan memakai baju yang terlampaui seksi. Dan itupun tidak pernah ditegur suamiku. Begitu cintakah suamiku pada perempuan itu? bahkan Semua keinginannya di turuti tanpa terkecuali. Tidak ada kata “tidak” kalau Andara menginginkan sesuatu.


“Rania mau kuku panjang di cat kayak tante Andara boleh” tanya Rania ketika itu


“tidak boleh sayang rania masih kecil” jawaban simple yang sekiranya bisa dicerna anak seumuran putriku.


satu lagi pengaruh buruk wanita itu. Bagaimana aku menjelaskannya. Allah...bagaimana orang tuanya dulu mendidiknya. Bukan masalah kuku panjang dicatnya. Kuku panjang itu menghalangi sampainya air wudhu ke kulit dibawah kuku. Satu lagi, tidak sekalipun aku melihat Andara sholat.


Berangkat sore, pulang malam. kumpul sama teman-teman katanya. Entahlah, dan itu mendapat respon baik dari suamiku aneh bukan. Aku, jangankan keluar, meninggalkan Mas Amir sepulang kerja saja tidak tega. Berkumpul dengan suami dan anak adalah kebahagiaan sendiri untukku. Itu dulu sebelum perempuan pembawa huru hara itu datang dikeluargaku


Gerimis masih turun setelah hujan membasahi bumi, aku baru pulang setelah antri dan berteduh menunggu hujan reda di tenda nasi goreng langganan bersama Rania. Entah kenapa putriku tiba-tiba mau makan nasi goreng. Mengendarai sepeda motor matic lambat saja karena jalanan masih licin setelah hujan. Rania berdiri didepan. Membuka pagar dan menutupnya kembali. Aku tertegun sejenak, sebuah mobil baru warna maroon terparkir cantik digarasi dibelakang mobil mas amir yang sudah ada disana. sejak kapan dia pulang. Masuk kedalam rumah menuju meja makan. sudah jam 7 malam tadi berangkat jam 6, satu jam aku menunggu hujan reda.


“Rania makan didepan TV boleh, mau lihat kartun bunda” mengambil piring sendok, membuka bungkusan nasi goreng menyodorkan ke Rania yang sudah duduk manis melihat acara kesayangannya.


“makannya jangan berantakan ya, bunda mau ambil minum dulu” berjalan mengambil air minum menuangkan kedalam gelas. Kulihat Mas Amir keluar dari kamarnya. Menoleh sekilas. Aku Menghampiri rania dengan gelas minuman ditangan. Kulihat suamiku duduk disebelah Rania membelai lembut rambutnya. Rania duduk dikarpet bawah ayahnya duduk di sofa dekat Rania.


“maaf aku tidak masak mas, Rania minta belikan nasi goreng, aku sudah siapkan buat mas sama Andara di meja makan” ucapku pelan


“tidak apa-apa mas sudah makan” Mas Amir menatapku dalam, matanya sendu, entah apa yang dia pikirkan, lama kami bertatapan sampai aku yang menghindari tatapannya.


“makasih kadonya ya Han, aku bahagia hari ini” tiba-tiba datang memeluk mesra tangan mas Amir. Tanpa di beritahu kado apa, aku sudah bisa menebaknya. Kado yang sangat istimewa yang belum pernah suamiku berikan untukku.


Kembali sakit ini mendera, hebat sekali perlakuan adil suamiku. Jangankan membelikan aku mobil, memberiku ijin untuk belajar mengemudi saja tidak. Torehan luka kesekian Mas Amir padaku. Rasanya hati ini sudah mulai kebas dari rasa tidak adil. Mudah-mudahan nanti akan terbiasa.


“ bersamamu aku merasa dihargai kembali sebagai wanita, aku tidak salah kembali sama kamu, ternyata cintamu masih seperti dulu” wanita itu menyandarkan kepalanyanya ke bahu Mas Amir. Manis sekali mereka bahkan tidak canggung didepan Rania. Kalau memang tujuannya untuk menyakitiku berhasil. Tapi untuk memancing kemarahanku gagal. Aku sudah bisa menahannya sekarang.


“Seharusnya tadi kita ngajak Rania sama Mbak syafira juga makan, sekalian merayakan ulang tahunku. Kan kalau rame lebih menyenangkan” dia menatapku

__ADS_1


“rania baru makan ya, maaf ya tante tadi g ngajak Rania acaranya mendadak” dari tadi mulutnya tidak bisa berhenti bicara.aku yakin sebenarnya tujuan wanita ini untuk pamer.


Aku masih terdiam, memang apa yang perlu ditanggapi bahkan Raniapun hanya tersenyum menatap Andara, mulutnya yang penuh nasi goreng kelihatan lucu sekali.


“makannya pelan, nanti kalau selesai sikat gigi terus bobok” mengusap kepala anakku lembut, Raniaku mengangguk. Aku bahkan kadang lupa kalau Putriku ini adalah anugerah terbesar. Dengan melihat senyumnya saja rasa sakit penghianatan Mas Amir berkurang.


Aku melirik suamiku yang duduk berdempetan dengan andara, berkali-kali dia menarik napas berat. Tak sekalipun ocehan istrinya itu di tanggapi. Hanya senyum tipis yang dia arahkan. Aneh sekali, seharusnya dia bahagia melihat wanita kesayangannya bahagia. Bahkan senyuman itu tidak lepas dari bibir Andara.


“Bunda habis” Rania memberikan piringnya padaku kusodorkan gelas berisi air.


“Anak pintar” Rania minum air kuusap kepalanya pelan.


“Han, aku upload foto yang ini bagus tidak” kulirik lewat ekor mataku, Andara menunjukkan ponselnya. Masih dengan ocehnnya, memilih foto bagus yang akan diupload. Sesekali terlihat kesal karenna banyak fotonya yang tidak sesuai. Ada yang keilihatan gemuklah, kurang senyumlah. Gayanya kurang baguslah dan masih banyak lagi aku tidak peduli.


“Bunda gosok gigi yuk, Rania ngantuk”matanya terlihat merah, entahlah kedekatan Rania dengan ayahnya juga tidak seperti dulu, putriku seperti menjaga jarak dengan ayahnya. Mungkin perubahan sikap ayahnya mempengaruhi RAnia.


“oke sayang” menggandeng Rania membawa piring dan gelas kedapur, melewati dua mahluk yang sedang berbahagia. Suamiku maenatapku,entah apa yang ada dipikirannya, aku tidak tahu.


ocehan istrinya perihal upload foto tak dihiraukan.tatapannya sendu kearahku. Terus menatapku yang berlalu dari hadapannya. Selesai mencuci piring mengantar Rania kekamarnya. Sikat gigi, membaca dongeng itu kebiasaanku setiap malam. Setelah terlelap kuganti lampu dengan lampu tidur yang lebih redup, agar tidurnya nyenyak.


Apakah aku marah mas Amir membelikan hadiah semahal itu untuk maduku? iya, tapi aku cukup tahu diri. Wanita itu punya bagian istimewa di hati suamiku, dia berhak mendapatkan itu semua karena Mas Amir menginginkannya. Dan aku tidak bisa mencegahnya, cukup berperan menjadi istri yang baik. Maka wajah bapak dan ibu akan tetap tegak dihadapan tetangga dan kerabat. Biarlah penderitaan dan rasa sakit ini aku yang tanggung.


Kembali kekamar. Membersihkan diri kemudian sholat wajib. Bersiap merebahkan badan sebelum ahirnya pintu kamar terbuka, sosok suamiku muncul disana. membersihkan diri kemudian berbaring disebelahku. Mataku belum terpejam, kulirik sebelah tiba-tiba dia berbalik menghadapku.


Tatapannya masih sama seperti tadi. Ada mendung menggantung sampai ahirnya tetesan bening itu membasahi ujung matanya. Aku terduduk kaget. ada apa dengan lelakiku. Seharusnya dia bahagia sekarang, tapi apa yang aku lihat ini.


“boleh Ayah memeluk bunda?, Ayah lelah” hah, ada apa ini?


Tanpa menunggu jawabanku dia menarik tanganku, memelukku, menyandarkan kepalaku kedada bidangnya membelai kepalaku dan mencium ujung kepalaku lembut. Tak terdengar sepatah katapun keluar dari bibirnya, hanya tarikan nafas panjang dan berat kurasakan.


Ternyata tidur didadanya masih senyaman dulu. Ada kedamaian yang terasa sampai ke relung hati paling dalam. Begitu lemahnya aku, sebesar keinginanku untuk menjauh, hati ini akan kembali pada tempatnya.


Sampai ahirnya aku tak tahu kapan aku mulai terlelap.

__ADS_1


__ADS_2