
Aku hampir runtuh ketika kenyataan mengatakan bahwa cinta tidak berpihak padaku, dan kebenaran itu masih tertutup dengan rapat. Kecewa, aku rasakan untuk kedua kalinya. Tapi aku berusaha agar tidak terpuruk.
Cukup sudah kebodohan pertama yang hampir menjerumuskanku pada jurang kehancuran. Rasa sakit terdahulu telah membentuk jiwaku jauh lebih kuat. Rencanaku berjalan mulus, menjauhkan diri dari hal-hal yang menyakitkan.
Kuliahku sudah dimulai, menyenangkan sekali ternyata rasanya menjadi mahasiswi kembali. Mengingatkanku indahnya masa kuliah dulu. Temanku sekarang tidak semuanya sebaya, ada yang senior, ada yang junior.
Hanya ada beberapa orang yang seumuran denganku. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang dan golongan.
Sebagian kuliah dibiayai instansi pemerintahan tempat mereka bekerja. Ada yang dengan biaya sendiri karena cita-citanya ingin menjadi dosen. Hanya aku disini yang kuliah karena beasiswa GLOBAL GROUP. Perusahaan yang ternyata sudah familiar di hadapan mereka.
Rasa kagum mereka untukku disampaikan secara terang-terangan.
“hebat kamu, hanya orang-orang terpilih yang bisa kuliah dibiyai perusahaan raksasa itu” katanya penuh kekaguman.
Hah, aku mendesah tidak ada yang perlu dibanggakan seandainya mereka tahu siapa pemiliknya, apa hubungannya denganku. Aku tidak melakukan kehebatan apapun.
“ternyata kamu pengusaha hebat, sudah cantik, baik, mandiri lagi, sholehah. Paket komplit kakak ini” suara mahasiswa satunya terdengar.
Seandainya aku ceritakan masalah hidupku bagaimana sampai aku terdampar ditempat asing ini, mungkin mereka akan manangis meraung meratapi nasibku. Tapi itu tidak perlu, cukup aku simpan saja. biarlah mereka mengenalku sebagai sosok sempurna seperti bayangan mereka.
Usahaku mulai berjalan meski tidak terlalu ramai, karena mungkin masih baru jadi tidak banyak yang tahu. Dari mereka yang aku rekrut, ternyata satu orang laki-laki punya pengalaman kerja diusaha fotocpy. Alhamdulillah,,,semuanya berjalan lancar.
Maka, aku memisahkan satu deret kebelakang, untuk usaha fotocopy, dan ATK. Pada awalnya usaha ini yang ramai.
Dua orang karyawanku masih mahasiswa, jadi, aku berikan kelonggaran waktu untuk kerja sepulang kuliah. Dan dilantai dua aku jadikan mess mereka. Betapa binar bahagia mereka pancar ketika itu. Tidak perlu bayar uang kos katanya.
Seorang karyawanku ada yang pendatang dari jawa sepertiku. Kuliah sambil bekerja, untuk meringankan beban keluarganya.
Kulihat dia begitu gigihnya untuk meraih gelar sarjana ditengah keterbatasan biaya. Aku hargai pemuda yang seperti ini, semangatnya luar biasa.
Rania sudah sehat. Benar-benar sehat. Ayahnya juga kondisinya sama. Sudah dipindah keruang perawaatan biasa. Mereka melakukan video call ketika Rania pulang sekolah, mau tidur dan ketika Rania main, ayahnya menemani lewat online. Secanggih itu tehnologi. Mampu mengikis jarak jutaan mil.
Aku tidak mencampuri mereka, itu urusan ayah dan anak bukan. setiap hari anakku bersemangat menceritakan apapun pada ayahnya. Sekolah, teman bermain. Bahkan les piano yang di gemarinya.
Terkadang aku mendengar suara gelak tawa mereka. Terkadang Rania bernyanyi, meskipun dengan nada yang tidak jelas, terdengar suara pujian dari ayahnya.
Aku tidak masuk kepembicaraan mereka, meskipun terkadang aku mendengar Mas Amir menanyakan aku sedang apa. Menurutku tidak ada lagi yang harus dibicarakan, semuanya sudah selesai. Tapi ternyata tidak begitu dengan mantanku ini.
Hingga pada malam aku masuk kekamar Rania, biasanya kalau Rania tidur panggilan video itu sudah berahir. Ketika aku mengambil HP untuk dicarger terlihat wajah mas Amir masih disana. Ternyata panggilannya masih menyala.
“bisa kita bicara sebentar?” katanya ketika benda segi empat itu ada digenggamanku.
“aku ngantuk, lagi pula tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi bukan. aku sudah membebaskanmu untuk menghubungi Rania kapanpun, tapi tidak denganku. Kita sudah selesai” kataku dengan nada tegas.
“aku kangen kamu” kata-katanya baru saja seolah mencabik harga diriku. Atas dasar apa dia berhak mengatakan itu, dasar pria licik. Infus masih terpasang tapi otaknya mulai berpikiran aneh.
“sayangnya aku tidak” jawabku sinis. Hanya ingin memberi tahu laki-laki tidak tahu diri itu bahwa hatiku tidak lagi sama. Syafira yang pemaaf sudah mati. Sekarang aku adalah Syafira yang baru yang tidak akan mempan hanya dengan bualan sampahnya
“tapi matamu mengatakan iya” suaranya tenang. cih, buaya tetaplah buaya. Meskipun keadaannya sedang dirawatpun ternyata lidahnya masih lihai mengeluarkan gombalan.
__ADS_1
“sayang sekali tebakanmu salah bapak Amir, di mataku sekarang hanya ada kebencian. Jadi jangan membuat ulah, karena kalau tidak, saya akan pastikan hari ini adalah hari terahir anda menghubungi putri saya.” Jawabanku sudah penuh dengan emosi sekarang.
“Rupanya kamu tahu kelemahanku. baiklah aku mengalah kali ini” katanya berhenti aku lihat dia merebahkan badannya dengan tangan kiri sebagai bantal. Sedangkan tangan kanannya. Memegang HP.
“ahh,, aku tidak sabar untuk segera sembuh, kemudian menjemputmu kita akan hidup bahagia” senyumnya seolah mengejekku. Sumpah aku muak melihatnya.
“lakukanlah, kalau anda ingin saya permalukan. Dan jangan bermimpi tuan Amir, sampai kapanpun saya tidak akan pernah kembali. Kalau anda ingat apa yang akan anda lakukan seharusnya tahu diri bahwa bau bangkai penghianatan itu begitu menyengat” lepas sudah emosiku. Hilangkan sopan santun, harga diri atau apalah namanya.
“berhenti menunjukkan wajah menggemaskan itu dihadapanku. Kalau tidak malam ini aku akan terbang ketempatmu. Aku akan mengurungmu seharian. Kamu tahukan yang terjadi selanjutnya.”lagi-lagi senyum itu.
kebencianku semakin mendarah daging untuk mahluk tidak tahu malu ini.
“aku membencimu, sangat membencimu biadab!!!!” sungguh aku sudah tidak tahan untuk mencacinya sekarang. Laki-laki bodoh itu tertawa keras disebrang, seolah kemurkaanku hanyalah lelucon.
“baiklah, selamat istirahat istriku, jangan lupa mimpikan suamimu agar harimu menyenangkan...muuuachh?” dan dia masih tertawa keras. Aku tutup segera sebelum aku membanting HP Rania.
Dadaku turun naik mendengar kata-kata terahirnya. Amarahku sudah memuncak. Kurang ajar bajingan itu, apa setelah koma otaknya jadi geser, menganggap aku masih istrinya. Berkata sok manis didepanku.
Duduk dipinggir ranjang untuk meredakan emosi. Tarik nafas buang lagi, kulakukan berulang sampai hatiku kembali tenang
Kesalahanku memberikan nomor Rania Untuknya, harusnya aku memakai nomor lain. Agar dia tidak bisa menghubungi ku lagi. tapi bagaimana dengan Rania, gadis kecilku ahir-ahir ini terlihat bersemangat. Pergi sekolah, les piano bahkan bermain dengan teman satu kompleks terlihat sangat gembira.
Aku tarik nafas panjang. Bagai makan buah simalakama. Maju kena mundur juga kenak.
Tidak apa-apa aku berkorban demi Rania. Apapun akan kau lakukan agar anakku itu tumbuh sehat. Dengan kasih sayang kedua orang tuanya sekalipun terpisah jarak. Merebahkan diri demi menghilangkan penat setelah satu hari menjalani rutinitasku yang padat.
“bunda kata ayah, besok ayah sudah bisa pulang” suara putri kecilku. Terlihat bahagia sekali dia, syukurlah kalau sudah sembuh, itu artinya beban ibunya berkurang. Karena harus menunggui mas Amir dirumah sakit.
“uhuk...uhuk...” kutepuk dada, panas menjalar karena tersedak sarapanku, aku ambil air putih, ku telan dengan tergesa untuk menghilangkan rasa sakit ditenggorokan.
“bunda lupa baca doa ya... sampai batuk gitu, pelan-pelan bunda” katanya lagi. oh, apa saja yang kalian bicarakan anakku. Tidak tahukah kamu bahwa ayahmu itu sekarang sering berhalusinasi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya. Tidak ingin melihat Rania sedih lagi karena janji ayahnya. Karena aku yakin laki-laki itu tidak akan menepatinya.
Tidak ada hak suamiku membawa Rania, dia anakku. Aku yan mengandung, melahirkan merawat dan membesarkannya. Aku akan memperjuangkan Rania apapun yang akan terjadi.
Suara dering HP terdengar lantang memenuhi seisi rumah, volume maksimal dipasang Rania. Dia gegas berlari ke ruang TV mengambil HP yang berdering tiada henti. Berteriak seolah memanggil sang pemilik.
“assalamualaikum ayah, wah ayah sudah tampan” sapa anakku membuka pembicaraan. Aku lanjukan menghabiskan sarapanku. Permbicaraan mereka tidak menarik perhatianku sama sekali. Apalagi mendengar suara lawan bicara Rania, bertambah rasa benciku mengingat bagaimana laki-laki itu merendahkanku tadi malam.
“waalaikumsalam sayang, Rania juga sudah cantik. tidak sekolah koq ngga pakai seragam sekolah” tanyanya dari seberang. Rania duduk disebelahku dengan panggilan video yang masih berlangsung. Aku jengah seandainya tidak memikirkan Rania, sudah pasti aku akan pergi dari ruang makan. Tak sudi rasanya mendengar suara mantanku itu.
“ayah lupa ya, hari ini kan minggu Rania libur.hahaha...” anakku tertawa terbahak mentertawakan kebodohan ayahnya
“oiya, ayah lupa” .
“kapan ayah pulang?” tanya anakku lagi. aku hanya terdiam sambil menikmati men u sarapan yang hanya sisa sedikit
“hari ini sudah pulang, kata dokter ayah sudah sehat. Rania senang tidak?”itu sura mantanku terlihat binar bahagia dari anakku
__ADS_1
“senang dong, bentar lagi ayah jemput Rania, iya kan?” tanya anakku antusias. aku tidak ingin mendengar pembicaraan yang ini. baiklah aku bergegas mencuci bekas piring sarapanku tadi.
“bunda ngapain sayang” tanya ayah Rania
“cuci piring habis makan”.jawab putriku polos.
“boleh ayah bicara sama bunda?” pertanyaan macam apa itu
“boleh, bunda nih,,,”raniaku memberikan ponselnya ketanganku, sumpah mahluk yang paling aku benci ini sekarang ingin bicara. baiklah, mau apa dia.
“hai sayang, lihat aku sudah segar, sudah tampan lagi. apakah kamu merindukanku?”benar kan. Buaya tidak tahu diri kumat narsisnya.
“mau bicara apa langsung saja, aku tidak punya waktu untuk meladenimu” kalau sama orang ini hilang sudah sifat ramahku.
“iya,,,sudah siap aku jemput?, suamimu ini sudah sangat sehat bahkan bersemangat untuk menjemput kalian” jangan lupakan muka jahilnya menggodaku, aku tidak tergoda, jijik iya.
“jangan lakukan itu, urus saja keluargamu tidak usah mencampuri kehidupanku. Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan ingat mulai sekarang jangan panggil aku istrimu, datanglah ke psikiater, takut dokter salah memberikan obat ketika kamu koma” nadaku penuh amarah.
Bajingan macam dia mau menggodaku. Maaf, hatiku sudah mati untuk sekedar menerima bualan.
“jahatnya bibir istriku, aku sadar benar-benar sadar jadi tidak perlu ke psikiater. Dan aku melakukannya dengan senang hati. Jadi kapan kamu siap dijemput. Katakan saja tidak usah malu.” Lagi dan lagi dia kata itu keluar dari mulutnya.
“Anda baru saja sembuh bapak amir, istilahnya Tuhan sedang memberikan kesempatan kedua untuk melakukan kebaikan, atau lebih tepatnya memperbaiki diri. Jadi jangan terlihat seolah anda lupa peristiwa miris yang baru saja anda lewatkan” habis sudah kesabaranku. Tidak ada habisnya laki-laki ini menguji emosiku
“oke, baiklah kalau begitu aku akan memperbaiki diri, lebih baik seperti keinginan tuan putri. Setelah itu bersiaplah aku akan menjemputmu. I love u sayang” mau muntah rasanya, perutku bergolak ingin mengeluarkan isinya.
“anda seperti buaya yang tersasar ke darat. Tolong jaga harga dirimu didepan perempuan. Agar anda tidak terlihat murahan” jawabanku disertai senyum sinis.
“dari dulu aku selalu ingin terlihat murahan didepan istriku, itu salah satu cara untuk membahagiakannya. Biarlah didepan wanita diluaran sana aku terlihat angkuh. Karena itu tujuanku” jawabannya semakin membuatku kesal.
“berhenti memanggilku istri tuan Amir, sekali lagi anda menggunakan kata itu, ingat ancamanku tidak main-main, akan saya blokir nomor anda sekarang juga” suaraku berteriak tidak kuat menahan luapan marah didada.
“bunda, jangan berteriak, suara pelan juga lawan bicara sudah dengar” suara rania memperingatkanku. Dia duduk disebelahku, aku bahkan lupa karena sudah terbakar amarah. ini adalah kata yang sering aku katakan padanya ketika rania marah dan berteriak padaku atau pengasuhnya.
“dengar sayang, Rania sedang melihat bundanya emosi, itu tidak baik untuk perkembangan jiwanya, berikan dia contoh yang baik ya” kata buaya itu dari seberang. Mukanya seperti sedang menahan tawa. Baik, dia merasa menang sekarang.
“itu juga karena anda yang memancingnya” aku tekan suara agar tidak terlihat sedang marah didepan Rania.
Kututup telepon dengan segera khawatir kata-kata kasar itu semakin keluar tidak terkendali.
“bunda kalau tutup telepon jangan lupa salam dulu, tidak sopan” kata putriku.
“oiya, bunda lupa tadi buru-buru. Maaf ya” kuusap kepalanya lembut.
“jangan diulangi lagi ya...” jawaban putriku. Aku hanya mengangguk.
Baiklah nak, mulai sekarang sebisa mungkin bunda tidak akan lagi berbicara pada ayahmu.
Sepertinya mulai sekarang aku harus banyak makan timun, agar tekanan darahku normal, berbicara dengan suami andara itu hanya meningkatkan tekanan darahku saja.
__ADS_1
Note : siapa yang isi hatinya terwakili. ingin mengumpat dengan kata-kata kotor untuk bapak amir.