
Kehamilanku kali ini tidak ada drama morning sickness, atau tidak enak makan seperti kehamilan Rania dulu. Semua makanan bisa masuk asal ayahnya yang masak. disinilah intinya. aku tidak berbohong. Pernah memasak sendiri dan memakannya karena aku tidak mau makan masakan mas amir. Akibatnya aku muntah, semua makanan yang masuk keluar lagi. terbayang aroma bawang mentah membuat perutku bergolak.
Sejak saat itu laki-laki kebangaan Rania itu dengan bangga memasak untukku. Wajahnya berbinar setiap aku memanggilnya. Mungkin dia bangga merasa dibutuhkan. Tidak begitu tuan. Maaf saja, kalau bukan adiknya Rania yang bertingkah aku tidak sudi meminta bantuanmu. Aku syafira wanita mandiri dan tangguh.
“ini susu dan vitaminnya” kata-kata yang aku dengar setiap bangun pagi dan menjelang tidur. Aku bosan mendengarnya. Sungguh, aku bosan minum susu dan minum vitamin.
Dan ada lagi sepertinya adiknya Rania ini bersekongkol dengan ayahnya, aku yang ingin menjauh dari ayahnya justru anak ini sepertinya ingin selalu berdekatan, aroma tubuh Mas Amir seperti candu bagiku. Sebenarnya aku ingin setiap saat mencium aroma itu.
Berbanding terbalik ketika dulu hamil Rania justru aku mual mencium aroma parfum Mas Amir.
Aku tidak melakukan apa-apa, lebih tepatnya ayah Rania melarangku. Kalau bukan mbak tini maka Mas Amir yang melayaniku. Dan mbak tini sama bahagianya mendengar kehamilanku.
Ucapan selamat berdatangan, dari ibu mertuaku diselingi berbagai macam nasehat. Dan Nisa yang tak kalah girangnya, medoakan agar bayiku perempuan lagi seperti Rania, karena kemarin dia kurang lama bersama Rania katanya. Mengingat itu aku merasa bersalah membawa pergi serta Rania. Tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.
Aku tidak masala Rania diperlakukan istimewa di dalam keluarga, Rania adalah cucu pertama dikeluargaku dan keluarga mas Amir, tentu dia tidak akan kekurangan kasih sayang. Untungnya anakku tidak manja. Aku mendidiknya mandiri sejak kecil. Apa yang bisa dikerjakan sendiri dia kan kerjakan, kecuali tidak bisa baru Rania minta bantuan.
Pagi ini aku mendapatkan ucapan selamat dari mahluk sekutu suamiku
“selamat kamu akan menjadi ibu untuk kedua kalinya, abang ikut bahagia. Sesuai dengan janji abang waktu itu, kalau hati Fira belum bisa menerima kehadiran ayahnya, abang tidak bisa melarang. Setelah ini abang tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kalian lagi. abang minta maaf ternyata perkiraan abang salah. Aku bebaskan Fira menentukan jalan hidup sendiri, jangan lupa berdoa minta petunjuk pemilik hidup. Agar semua jalan menjadi mudah” begitulah bunyi pesan singkat yang masuk di HP ku.
Sepertinya ayah Rania cerita tentang perasaanku. Baguslah, setidaknya setelah ini tidak akan ada yang menghalangi jalanku. Tanpa mereka aku yakin akan lebih ringan menjalani hidup. Aku tidak perlu khawatir tentang materi. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah yang tangguh untuk anakku.
“sayang sarapannya sudah siap, mau makan di kamar atau mau turun kebawah?” cih, mengganggu saja. mendengar suaranya aku tidak suka sungguh melihat wajahnya aku ingin marah bawaannya.
“aku masih sehat jangan perlakukan aku seperti jompo” sambil turun dari tempat tidur.
Dia menghampiriku hendak membantuku turun.
“jangan mencari kesempatan untuk menyentuhku” bentakku keras. Anehnya laki-laki ini tidak pernah marah justru dia tersenyum manis. Menyebalkan!!
“hati-hati turun tangga pelan saja, takut adiknya rania kaget” aku berbalik melebarkan mata ke arahnya dia diam menunduk.
“aku yang hamil kenapa kamu yang heboh, seharusnya kamu bersyukur aku masih mau menampung benihmu” suara ketusku. Aku tidak membenci anak ini. prosesnya yang tidak bisa aku terima sampai sekarang.
“maaf” sudah berapa puluh bahkan ratusan kali aku mendengar kata ini keluar dari bibir Ayah Rania.
“Mas minta mbak tini datang pagi, karena ada klien yang ingin bertemu, sekaligus cek lokasi proyek baru, doakan semoga semuanya berjalan lancar. proyeknya bisa mas menangkan, biar bisa beli mobil untuk bundanya Rania” kami bertatapan sejenak.
Sedikit terharu dengan kerja kerasnya untuk memenuhi keinginanku.
“minum susunya, mas mau panggil Rania untuk sarapan. Nanti sekalian mengantar kesekolah” aku masih diam mendengar penjelasannya. Memang apa peduliku. Mau laporan mau nggak terserah.
Dia berjalan ke atas menaiki tangga.
Aku minum jus apukat, enak sekali aku tidak mengada-ada. Buah ini sangat bagus untuk wanita hamil, salah satunya mengandung asam folat yang tinggi untuk mencegah bayi lahir cacat. Aku meminumnya sampai tandas. Rasanya tidak terlalu manis.
Dia masih ingat apa yang aku suka dan tidak. Apakah aku terkesan?, tentu tidak. Dia melakukannya bukan untukku, tapi untuk benihnya yang kebetulan ada dalam perutku.
“mas berangkat dulu, hati-hati dirumah kalau ada apa-apa langsung kabari” ucapnya sambil mengecup keningku lembut. Bukannya aku suka dia melakukan itu, hanya saja sudah beberapa kali aku tolak dia tetap melakukannya. Jadi percuma saja.
“mbak titip istri saya, kalau ada apa-apa jangan lupa langsung kabari saya. Jangan ditinggal keluar” pesannya pada mbak tini . apa dia pikir aku bocah ingusan. Yang harus dijaga sedemikian rupa.
“baik pak” jawab asisten rumah tanggaku.
“atau mau ikut, mas dengan senang akan membawamu. Entahlah, mas takut kamu tinggal dirumah” tatapannya penuh kecemasan, aneh sekali orang ini. perutku saja belum kelihatan tapi perlakuannya seolah aku hamil besar.
“tidak perlu, kalau mau berangkat, ya berangkat saja” tidak pernah enak didengar memang tiap kata yang keluar dari bibirku. Tapi anehnya laki-laki ini tidak terpengaruh. Kembali mencium keningku. Kemudian memelukku erat.
“bunda Rania berangkat.” Anakku berpamitan seperti biasa yang dia lakukan setiap pagi. Mencium tanagnku. Aku mencium pipinya kanan dan kiri terahir kening.
“hati-hati ya, belajar yang betul, jangan jajan sembarangan” mantra seorang ibu untuk anaknya setiap pagi.
__ADS_1
Keduanya melambaikan tangan, aku bangkit hendak mengantar Rania sampai ke depan pintu
“tidak usah sayang istirahat saja, nanti kamu kelelahan” cegahnya, mau ngantar depan rumah saja tidak boleh. Baiklah, itu menguntungkanku bukan.
“ibu beruntung dapat bapak, sudah, tampan, mapan baik, sholeh, sayang keluarga kurang apa lagi coba” itu suara mbak tini. setelah Rania dan Ayahnya hilang dari pandangan. tatapanku arahkan ke mbak tini. Ternyata penggemarnya banyak juga calon bapak dua anak itu.
“kurang setia mbak” jawabku asal
“ck, ibu ini. bapak itu paling setia sedunia. Semua orang punya masa lalu. Tapi kalau sudah menyesal dan niat berubah dengan baik kenapa tidak. Selama tiga tahun ditinggal ibu, bapak setia menunggu. Padahal saya yakin diluar sana banyak perempuan yang mengincar bapak. Tapi dia menjaga hatinya demi menunggu ibu pulang” benar-benar penggemar sejati kali ini.
“apa kesalahan bapak yang tidak bisa ibu maafkan?. Kalau tentang perselingkuhan dengan ibu Andara saya kira tidak. Perjuangan bu Andara merawat bapak dan ibunya bu fira patut di acungi jempol, tulus banget” aku menatap mbak tini.
“Sebelum bapak sehat seperti sekarang, beliau sempat pakai kursi roda. Kebayang nggakgl bu repotnya ngurus orang dikursi roda, sementara istrinya sedang sakit juga. urusan makan dan minum obat biasa. Tapi kalau urusan kamar mandi itu yang ribet. Dan mbak Andara itu melayani bapak tanpa ngeluh. Sekitar enam bulan bapak dikursi roda”
“hah...?” aku terkejut, mengapa aku tidak sampai berpikiran kesana. Ya Allah... ampuni keangkuhanku yang sempat membenci Andara di awal kedatanganku.
Ternyata sampai sejauh itu yang Andara lakukan hanya demi menebus kesalahannya padaku. Pantas saja bapak membelanya mati-matian ketika kau menghina Andara.
Kesalahan yang telah membuatnya sadar dan berubah jauh lebih baik. alangkah beruntungnya Andara Tuhan memilihnya untuk mendapatkan hidayah.
Aku masuk kekamar. Memang apa yang akan aku lakukan di rumah ini selain rebahan. Mbak tini akan melarangku melakukan apapun. Bahkan memotong sayur pun tidak boleh. Takut dimarahi bapak katanya. Lagi-lagi ayah Rania membuat perintah yang tidak masuk akal.
Tiba-tiba gawaiku berbunyi aku melihat sejenak, ayahnya Rania pasti dia akan menyakan yang aneh-aneh. Sebenarnya malas menjawabnya. Tapi kalau tidak dijawab tidak akan berhenti berbunyi. Baiklah demi kenyamanan kupingku akan aku jawab.
“assalamualaikum sayang, kamu berkemas sekarang setengah jam lagi mas jemput Andara kritis ada dirumah sakit” suara panik diseberang sepertinya menulariku.
Aku tiba-tiba ikut panik. Bahkan dadaku berdegup kencang. Mungkinkah cerita tentang kelahiran kenzy akan terulang?. Pikiranku berkecamuk, aku belum berterima kasih dengan benar padanya.
Apalagi setelah mendengar cerita mbak tini, betapa aku ingin membalas kebaikan Andara. Semoga ibu dan bayinya selamat. Doaku panjatkan dalam hati.
***
Ini masih jam 11 siang. Rumah sakit sangat ramai , orang berlalu lalang sibuk dengan urusannya sendiri. Tepat didepan ruang Operasi aku melihat pemandangan menyayat, kenzy menangis digendongan ayahnya. Memanggil ibunya berulang.
“sayang hati-hati jangan lari” suaranya panik, aku tidak peduli. Aku tidak tega melihat kenzy.
“mas Angga boleh saya gendong kenzy?” ayah kenzy menatapku tak percaya, aku ambil bocah itu dari tangan angga hanya ingin membantu meredakan tangisnya.
“bagaimana keadaannya” suara ayah Rania
“aku seperti mengulang kejadian dua tahun lalu, menandatangani surat pernyataan yang sama. Aku hancur kali ini, benar-benar tidak bisa memilih. Seandainya boleh biar aku yang menggantikannya. Anakku tidak boleh kehilangan mamanya” wajah Angga diliputi mendung kelabu. Penampilannya berantakan.
Untunglah kenzy diam, sepertinya dia gelisah entah apa yang ada dipikiran anak ini.
“mas angga bawa susunya kenzy” tanyaku pelan. Aku melihat kenzy mengantuk mungkin kelelahan menangis, dari nafasnya dan mata bengkaknya aku yakin anak ini menangis cukup lama.
“ada di mobil, sebentar saya Ambilkan mbak” bergegas pergi,
“biar mas yang gendong, nanti kamu capek. Kenzy beratnya lumayan” Ayahnya Rania mengambil kenzy dari gendonganku.
Setelah agak lama, angga datang membawa sebotol susu dan tas kecil ditangannya, mungkin berisi perlengkapan kenzy. Wajahnya cemas, penampilannya berantakan, iba melihatnya.
Lampu di ruang operasi berganti, angga bergegas menuju pintu. Seorang dokter perempuan keluar. Perawakannya tinggi putih, rambutnya tergerai indah.
“dokter angga kami membutuhkan darah golongan AB+” kami bertatapan
“golongan darah saya sama, apa boleh saya mendonorkannya” kataku mengajukan diri
“dia hamil dokter” suara mas Amir. Mencegahku.
“maaf ibu hamil tidak bisa mendonorkan darahnya” kata dokter itu sopan.
__ADS_1
“saya AB+ dokter” yah, kami mempunyai golongan darah yang sama. Dan baru sekarang tahu kalau Andara juga memiliki golongan darah yang sama dengan kami.
“tentu saja, mari ikut saya kita periksa dulu apakah memenuhi syarat sebagai pendonor”
“maaf dokter pasien kondisinya menurun”
Kepanikan tiba-tiba menyelimuti kami, Tak terkecuali Angga. Dokter itu kembali masuk keruang operasi.
“bagaimana kondisi Andara?”seorang wanita paruh baya menghampiri kami. Dengan wajah cemasnya.
“menurun ma” suara angga seperti menahan tangis.
“astaghfirullah,,,,”ucap wanita yang ternyata ibunya angga.
“kamu makan dulu ga, dari tadi pagi kamu belum makan. Siapa yang mau ngurus kenzy kalau kamu sakit juga” ucapnya lembut. Aku hanya melihat interaksi ibu dan anak itu.
Seorang ibu dimanapun, mau bagaimanapun, perhatiannya tidak akan hilang bahkan untuk hal-hal yang kelihatan sepele seperti ini.
“angga tidak selera ma, kondisi Andara belum ada kepastian” jawabnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kami duduk di kursi ruang tunggu yang tersedia. sang ibu pasrah dia memegang plastik hitam berisi bungkusan makanan.
“Nak amir, terima kasih mau datang. Saya bingung mau telepon siapa. satu-satunya orang terdekat angga ya nak Amir, kakaknya masih diluar negeri belum bisa pulang” ucapnya.
“ini syafira, istri saya tante?” Aku menyalami wanita berkerudung kuning ini,
“ahirnya tante bisa bertemu, Andara sering bercerita tentang nak fira, dia ingin menjadi wanita sholehah yang baik dan ikhlas sepertimu katanya. Tante senang mendapat menantu seperti dia. Meskipun pada awalnya saya sempat menentang hubungan Andara sama Angga. Ibu mana yang ingin melihat anaknya bersanding dengan seorang wanita yang mengidap penyakit kejiwaan” menarik nafas panjang tatapannya menerawang jauh.
“Angga yang dibutakan cinta meyakinkan kami. Dan ternyata saya juga tahu kalau Andara menolak angga, dia tidak ingin mempersulit hidup orang dengan kondisinya. Dia hanya minta untuk tetap menjadi relawan dirumah sakit kami” wanita itu menunduk, aku mendengarkan dengan seksama.
Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Andara setelah kepergiannya dari rumah.
“ahirnya dia mau saya juga mau, tapi mengajukan syarat, pernikahannya dilaksanakan sederhana saja, malu kalau mengundang orang banyak, masa lalunya tidak bisa dimaafkan katanya waktu itu” dia menatapku. Aku tersenyum ramah
pintu ruang operasi terbuka, Angga dengan cepat menghampiri dokter yang menangani Andara.
“maaf angga, istri anda pengalami pendarahan hebat. Kami tim dokter tidak bisa menyelamatkannya, Andara sudah pergi lima menit yang lalu” Tuhan,,,kata yang keluar dari bibir dokter itu seolah petir disiang hari, rasanya bagai cambuk untuk kami.
Dokter Angga luruh kelantai dia bersujud dengan tangisan yang tak dapat dibendung lagi. kenzy berteriak kencang digendongan Mas Amir. Aku tak sanggup mendengar berita ini, penyesalan merasuk dalam dadaku. Kabar duka ini tidak kami harapkan.
Ibu mertua Andara tak kalah histeris memanggil Nama Andara dengan Air mata yang mengalir deras. Ruangan ini menjadi mencekam, oleh tangisan kami. Teriakan Angga menyayat hati.
“Tuhan... mengapa nyawa istriku yang kau ambil. Mengapa tidak kau gantikan dengan nyawaku saja.bagaimana aku membesarkan mereka tanpa ibunya” teriakan histeris dengan tangisan yang cukup kencang memenuhi lorong-lorong rumah sakit ini.
“istighfar dokter Angga, yang kuat, semua sudah ada yang mengatur” dokter itu berjongkok mengusap bahu angga
Aku yakin siapapun yang mendengarnya akan ikut tersayat. Aku menggenggam kuat tangan ibu Angga. Wanita itu berjalan menghampiri anaknya yang mash bersimpuh didepan ruang operasi.
Aku melihat dokter wanita tadi menghapus air mata dengan tangannya. Sedih ini benar-benar aku rasakan. Hatiku seperti tersayat. Wanita itu setelah mendatangkan banyak kebaikan untukku dia pergi begitu saja.
Terlihat seorang perawat wanita mendorong brankar keluar dari ruang operasi. Angga berdiri menghampiri. Dia memeluk tubuh yang ada diatasnya. Tubuh kaku yang tertutup kami berwarna putih. Suami Andara itu membuka kain penutup perlahan. Tangisan itu kembali terdengar.
“mengapa kamu tega ninggalin aku dan anak-anak sayang. Kamu tidak kasihan sama kenzy dia menangis memanggilmu. Bagaimana aku menjelaskannya nanti pada kenzy. Bagaimana kalau dia mau tidur mencarimu.” Racauan Angga seperti orang kehilangan akalnya. Air mataku tidak berhenti mengalir.
“sudah ku katakan berkali-kali. Aku tidak butuh anak lagi, aku butuh kamu tetap ada disampingku. Bagaimana aku menjalani hidup setelah ini. katakan jangan diam saja” kata-kata itu mampu meremas hatiku.
Sungguh aku tidak kuat mendengarnya. Dokter angga benar-benar kehilangan akalnya.
Tanpa sadar aku menangis dipelukan ayahnya Rania air mataku tidak mau berhenti. Aku tahu Mas amir juga menangis. Dia memelukku dan menenangkan kenzy yang ada di gendongannya.
“maaf pak, kami harus segera membawanya keruangan jenazah, saya turut berduka cita. Semoga bapak dan keluarga diberikan ketabahan” ucap perawat tadi.dia mendorong brankar setelah Angga melepaskan pelukannya dari istrinya.
Ini adalah pelukan terahirnya untuk wanita yang dia cintai, ibu dari anak-anaknya.
__ADS_1
Sementara bayi yang dilahirkan prematur ada diruangan perawatan khusus karena usianya belum cukup untuk dilahirkan.