BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 9. MASA LALU ITU...


__ADS_3

Suasana perpustakaan pagi ini ramai sekali, masih jam 7 pagi sebagian besar yang ada diperpustakaan ini mahasiswa satu jurusan denganku, mungkin mencari referensi untuk tugas makalah nanti karena ada presentasi.


“Amir kok belum datang” itu suara olivia, aku memanggilnya olip kutilang, tinggi menjulang, langsingnya mendekati kurus kulitnya kuning bersih, sebenarnya dia cantik tapi sayang tomboy.


“g tahu juga, coba telpon. Bang fatih ikut ngilang barusan datang pergi lagi” jawabku, tadinya kami bertiga sekarang tinggal berdua aku dengan olip.


“Katanya sih beli minuman ”jawabnya, mengambil salah satu buku yang ada di meja kemudian membacanya.


Kami satu kelompok berempat keakraban ini terjadi dari semester tiga, sekarang sudah semester empat, kami yang awalnya bertiga kedatangan anggota baru. Jadilah sekarang setiap kelompok ataupun diluar jam kuliah kami sering nongkrong kadang dikostanku, dikostan bang fatih.kalau olip rumah sendiri tapi satu jam perjalanan menuju kampus. Amir juga sama dia tidak ngekost Cuma rumahnya lebih jauh lagi.


“Mana, katanya beli minuman?”olip menadahkan tangannya, Bang Fatih duduk disebelahku. “nggak lihat tulisan dimana-mana. Dilarang membawa makanan dan minuman kedalam perpustakaan”. Bang Fatih memperagakan tangannya seperti sedang membaca di papan tulis. Si olip manyun, lucunya. “nanti beli lip” jawabku menghibur.


“Assalamualaikum... telat ya, maaf”. Kami bertiga menoleh, amir datang bawa cewek cantik, belum pernah aku melihat sebelumnya, bak seorang artis nyaris sempurna. Olip berdiri menyambut dia jahil sekali lihat saja. Ini pertama kalinya dia membawa perempuan bergabung bersama kami.


“ciee amir diam-diam dipojokan tahunya bawa cewek, kenalin dong” tuhkan benar. Kami bertiga berdiri.


“Andara” menyalami kami bergantian memperkenalkan diri


“hai Andara...sudah lama kenal amir?” itu olip percayalah, dia tidak akan berhenti kalau nggak ditegur, jahil banget anak ini.


“baru 3 bulan, iya kan han...”muka malu-malunya rona pipi diwajahnya menambah kecantikan seorang Andara. Cantik, putih, tinggi rambutnya lurus hitam panjang tergerai, kelihatan kalau dia memang suka perawatan. Wajahnya bersih aroma wangi tecium dari tubuhnya, bau khas parfum mahal. Pertanyaanku Cuma satu kok bisa amir dapat perempuan ini, tidak mungkin yang model begini dikampus tidak ada yang mengincar. Amir tidak buruk sebenarnya. Dia manis, badannya tinggi tegap rambut tebal alisnya tebal dan rapi matanya tajam dengan bulumatanya yang lentik lesung pipinya menambah manisnya dia kalau tersenyum. Kulitnya hitam manis dia punya kharisma. Banyak cewek dikampus naksir.Tapi aku tidak tertarik hahaha...


“Bang tuh lihat amir, diam-diam bawa cewek, cantik lagi, lah abang, baru jalan sama cewek langsung bubar jalan” merujuk Bang Fatih. Dia juga tampan kulitnya putih tangannya berotot, rambutnya tebal. Kami memanggil abang karena umurnya diatasku hanya kuliahnya masuk ditahun yang sama denganku kebetulan kami berasal dari kampung yang sama teman sepermainan dulu.


“abang sudah ada yang cocok Cuma masih nunggu lulus” jawabnya santai.


“alasan..”olip mencibir. Aku melirik amir begitu manjanya andara, tangannya tidak lepas menggandeng lengan amir. Amir berbisik dan pacarnya mengangguk.


“Amir sudah... kalau belum kita tunggu sampai siap” itu olip, emang benar-benar perusak suasana anak ini.

__ADS_1


“Andara pinjam amir sebentar ya,,,mau kerja kelompok dulu nanti kita kembalikan utuh percaya deh, oke!” dia mengangkat jempol ke Andara.


Selang beberapa saat setelah didahului drama rengekan seorang Andara, mulailah kelompok ini, sebenarnya sudah selesai. Hanya saja pemantapan materi dan persiapan pertanyaan dari dosen dan kelompok lain.


Kami kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan keuangan, sebuah kampus negeri di kota kecil ini. Mau ke ibu kota provinsi saja masih harus menempuh perjalanan 1 jam. Tapi tidak apa-apa kampus ini memang cocok untuk kami yang punya keinginan tapi berpenghasilan dibawah rata-rata. Kupilih disini menyesuaikan kemampuan bapak dan ibu yang hanya pedagang pakaian dipasar.


“Alhamdulillah...lancar presentasi kita tadi, kalau Syafira dan Bang Fatih yang jawab pertanyaan nggak ada yang mau ngasih sanggahan lagi.Keren deh kelompok kita”. Olip bagian mencatat pertanyaan. Kami bertiga bagian menjawab pertanyaan. Amir pintar juga hanya saja dia kalau menjawab to the poin tidak bisa menjabarkan.


“tidak usah berlebihan lip, kita kerja sama tidak ada yang unggul” jawabku santai.


“makan dikantin yuk, merayakan kesuksesan, aku yang traktir” Bang Fatih menawarkan diri.


“Maaf teman-teman aku harus nyamperin Andara kasihan tadi dia ditinggal diperpust sendirian”. Dia berpamitan


“cieee,,, yang bucin. Hati-hati patah hati, sakit lho. Belum pernah ya?” Olip lagi. nggak selesai jahilnya anak ini. Amir mempercepat langkahnya. Tinggal kami bertiga berjalan kekantin. Begitulah kami tidak pernah mencampuri urusan masing-masing.


“Fira ikut aku sebentar”. Kami bertiga menoleh kaget oleh suara Amir yang tiba-tiba. Nafasnya ngos-ngosan seperti habis marathon. Mukanya panik keringat membasahi keningnya. Kami berdiri ikut panik. Kejadian mengejutkan ini selang tiga minggu dari kerja kelompok waktu itu.


Kami sampai disebuah rumah megah berlantai dua. Jangan dibayangkan rumah yang halamannya luas seperti disinetron, tidak. Rumah ini paling bagus ukurannya paling besar diantara rumah sekitarnya. Rumah dengan nuansa putih bergaya eropa. Berdiri didepan pagar masih tidak mengerti. Tiba-tiba Amir berteriak memanggil andara, suaranya cukup kencang mungkin sampai terdengar tetangga disekitarnya.


Berulang-ulang dia memanggil sampai terbukalah pintu rumah itu. Seorang wanita sekitar 40 tahunan keluar dengan penampilan yang sangat cantik, kulit putih, wajahnya mirip Andara. Dengan tinggi dan bajunya sangat fashionable khas ibu-ibu sosialita jangan lupa riasan wajahnya menambah kecantikannya. Aku yakin perempuan ini mamanya Andara. Terlihat kemiripan secara fisik,wajah dan perawakannya sangat mirip.


“Mau apa lagi kamu datang kesini.” Dengan tangan mendekap didada wajahnya angkuh. Terlihat bagaimana tidak sukanya dia sama Amir.


“Maafkan saya tante ijinkan saya bertemu Andara saya sangat mencintainya saya berjanji akan membahagiakannya.” Wajah Amir sangat memelas aku sama teman-teman tidak tega melihatnya. Kami saling berpandangan, tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak paham situasinya.


“Dengan apa kamu membahagiakan Anak saya, apa kamu pikir pekerjaanmu sebagai pelayan cafe bisa membuat anak saya bahagia. Tahu diri dong, siapa kamu siapa Andara”. Dengan tatapannya yang tajam perempuan itu mencabik harga diri Amir. Tiba-tiba rasa iba menyeruak dalam diriku, aku hampiri dia mengelus pundaknya mencoba menguatkan. Memang apa lagi yang bisa dilkukan.


“ijinkan saya bertemu Andara tante saya ingin mendengar langsung kalau andara memang tidak mencintai saya, saya janji setelah itu tidak akan mengaggangunya lagi.”suara amir melemah. “percaya diri sekali kamu. Baik saya ijinkan, tapi saya harap setelah ini menjauhlah dari kehidupan Andara”.Kulihat perempuan itu masuk, tak lama keluar lagi bersama Andara. Perlu di catat kami masih berdiri didepan pagar. Tidak dipersilahkan masuk.

__ADS_1


“Ada apa sih ma, andara kan sudah bilang ga mau ketemu”. Menyeret tangan anaknya sedikit kasar terlihat sekali emosi terpancar diwajah sang mama. Berdiri didepan Amir dengan tatapan tak kalah angkuhnya dari sang mama.


“mau apalagi, aku kan sudah bilang kita putus aku tidak mau berhubungan lagi sama kamu, aku tidak mau hidup susah. Masih belum paham juga. Seharusnya kalau kamu tahu diri sebelum kesini berkaca dulu sudah pantas apa belum.” Ya Allah...bagaimana Amir bisa mendapat perempuan punya lidah tajam begitu. Aku saja yang mendengarnya tidak kuat. Kulihat Amir, dia tertunduk dalam begitu menyakitkan memang.


“bagaimana kamu bisa berubah secepat ini, apa aku pernah menyakiti perasaanmu?” Ucapan amir melemah mungkin dia belum percaya wanita yang ada dihadapannya sekarang adalah Andara yang kemarin di banggakan didepan teman-temannya.


“menyakiti sih nggak ya, tapi lebih ke merasa tidak sepadan saja. Anggap saja aku kemarin khilaf pacaran sama kamu. Gajimu sebulan saja belum cukup membeli bedakku. Terus kebutuhan yang lain, kamu kira akan kenyang makan cinta ” senyuman sinis Andara benar-benar membuat siapapun akan benci melihatnya, kami bertiga hanya mampu menguatkan. Ikut campurpun tidak mungkin, melawan mereka rasanya percuma.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti tapat dibelakang kami. Seorang laki-laki keluar dengan kacamata hitamnya. Gagah, kesan pertama yang kami tangkap. Tinggi badannya tegap.


“Ada apa ini. Ramai sekali ada tamu rupanya, kenapa tidak disuruh masuk ma?”. Ramah, suaranya juga enak didengar. Kelihatannya laki-laki ini baik. lalu Melangkah mendekati andara


“Sayang masuk yuk, biasa itu teman-teman kuliahku mau melihat aku sebelum pindah. Biasalah teman baik.”oh, disini aku mulai paham ternyata laki-laki ini pacarnya andara. Pandai sekali dia bersandiwara. Terus selama 3 bulan pacaran dengan Amir, saling memanggil hani, panggilan kesayangan mereka apakah sandiwara juga. Bodohnya Amir percaya begitu saja.


“sudah masuk sana, Andara bawa nak riko masuk, biar teman-temanmu mama yang temui”. Klop, kompak. Anak sama ibu sama-sama aktris terkenal pandai bersandiwara. Senyum manis terarah kepada laki-laki yang bernama Riko. Riko kelihatan mapan kelihatan usainya lebih dewasa dari andara.


“Kamu lihat laki-laki tadi, sudah tampan mapan baik lagi. Dia yang lebih pantas bersanding dengan Andara sementara kamu. Kalau sudah cukup tahu diri silahkan pergi sebelum saya paksa kamu pergi dari sini.”.tangannya menunjuk kedalam membanggakan calon suami Andara, entah tunangan atau pacar aku tidak paham. Yang aku tahu laki-laki itu sudah mendapat tempat tersendiri di hati andara dan ibunya. Ayahnya andara jangan ditanya aku tidak tahu dari tadi tidak muncul.


Lemas sudah wajah Amir, dia tertunduk lesu, ada kecewa yang tergambar jelas disana, mungkin juga sakit yang tiba-tiba. Dia menoleh kedalam rumah, tatapannya sendu seperti sedang menahan airmata yang mau keluar. Pagar yang tertutup rapat seolah menggambarkan bahwa sudah tidak ada kesempatan lagi pria disampingku ini. Apakah cinta semenyakitkan itu. Aku jadi takut jatuh cinta.


Duduk dibawah pohon rindang, sebuah kursi panjang. Amir masih menundukkan wajahnya seolah beban berat membuatnya enggan untuk mengangkat wajah itu. Dari sinilah mengalir cerita setelah beberapa jam terdiam, bahwa andara yang mencari perhatian Amir, sampai ahirnya laki-laki berkulit hitam manis ini benar-benar jatuh cinta oleh pesona seorang Andara.


Semua keinginan Andara dia turuti, bahkan gajinya sebagai pelayan cafe habis untuk membeli semua keinginannya. Andara tidak bisa makan ditempat biasa, mintanya direstoran atau cafe yang berkelas. Jalan-jalan setiap ahir pekan, dan membeli semua barang yang dia mau. Bisa di bayangkan gajinya sebagai cafe tidak akan cukup memenuhi kebutuhan kekasihnya. Sedangkan untuk kami yang hanya anak kos yang makan seadanya nominal yang disebutkan amir sudah lebih dari cukup untuk hidup satu bulan.


Ibu amir seorang kepala sekolah menengah pertama, ayahnya meninggal sebelum masa pensiun disebuah instansi pemerintahan. Dia mempunyai seorang adik perempuan yang masih duduk dibangku SMP. Ibunya tidak tahu kalau dia kerja part time sebagai pelayan cafe, karena semua kebutuhan Amir dipenuhi ibunya. Bahkan jatah bulanan dari ibunya terkadang habis untuk memenuhi keinginan Andara.


Perempuan cantik itu hari ini akan pindah keluar kota, mengikuti laki-laki yang bernama Riko. Rencananya Andara dan laki-laki itu akan segera menikah. Tidak akan melanjutkan kuliahnya.


Miris sekali mendengar ceritanya, begitu dahsyatnya cinta mampu melumpuhkan akal sehat manusia. Pengorbanan yang kadang tidak masuk diakal hanya dibalas dengan cibiran dan hinaan. Bahkan sekarang yang dia dapat hanya sakit dan kecewa. Dia yang duduk didampingi abang Fatih aku dan olip berdiri tidak bisa berbuat apa-apa. Menyemangati pun rasanya tidak akan mempan untuk saat ini.

__ADS_1


“Untuk sekarang belajarlah dengan giat, buat mama dan almarhum papamu bangga. Cewek seperti Andara itu tidak pantas mendapatkan laki-laki seperti kamu. Suatu saat nanti akan ada perempuan yang bersedia menerimamu apa adanya. Jangan lupa bekerja keras, buat mantanmu menyesal pernah mencampakkanmu”. Itu pesan Bang Fatih, sambil menepuk bahu Amir.


Mencintai bukan hanya perkara hati, ada akal sehat yang harus andil dalam pengendaliannya agar cinta bisa kembali pada hakekatnya yang murni tanpa saling menyakiti.


__ADS_2