
Ketika semua cara sudah ditempuh namun tidak membuahkan hasil, apalagi yang bisa dilakukan selain pasrah. aku berubah menjadi wanita pendiam. Seolah hari suram yang kulalui sudah memaksa hati dan lidahku membeku. Aku hidup dalam duniaku sendiri. tidak ubahnya seperti patung hidup, apa yang bisa kulakukan,aku bahkan seperti tidak mendengar suara apaun selain diam, menangis, untuk berteriak rasanya ragaku terlalu lemah.
Aku membenci apapun, membenci diriku yang terlalu percaya pada laki-laki brengsek bergelar suami itu. Membenci Amir yang dengan sengaja menghianatiku, tega mempermainkan perasaanku. Terlebih membenci wanita pembawa petaka dalam rumah tanggaku, wanita berhati iblis yang dengan sengaja menggoda suamiku. Terkutuklah!!!
Aku terluka yang teramat dalam, cabikan luka ini terlampau parah. Luka yang ditorehkan terlalu dalam. Ini adalah patah hati pertamaku. Aku tidak pernah menyukai laki-laki karena takut kecewa.tapi ini, bahkan orang yang telah berjanji untuk melindungku telah mematahkan harapanku. Menghancurkanku kebahagianku dengan cara yang keji.
“bunda.....”suara ketukan di pintu kamar tempatku mengurung diri dari kemarin.
Rania...itu suara putri kecilku. Allah....duka ini bahkan telah membuatku lupa tentang Raniaku.
Memutar handle pintu setelah sebelumnya membuka kunci. Yah,, aku mengunci pintu tak ingin bertemu dengan siapapun.
Kupeluk erat setelah pintu terbuka, bahkan aku lupa kalau dialah sekarang alasanku harus kuat, tapi belum sanggup. Kekuatan itu hilang entah kemana. Pelukan ini semakin erat tangispun kembali pecah, aku lemah, terlalu lemah cinta yang telah melemahkanku.
“Bunda kenapa nangis...bunda sakit?” gadis kecilku menangkup wajahku dengan kedua tangan mungilnya. “bunda jangan sakit, nanti Rania sama siapa?” oh,,,Tuhan apa yang sudah aku lakukan. Dari kemarin aku tidak bertemu anak ini. Sampai lupa sama siapa dia, sudah makan apa belum. Kembali memeluk Rania tak sanggup aku menjawab pertanyaannya.
“Rania lapar,,,” bodoh yang kesekian, melupakan tanggung jawabku pada gadis kecilku. Kuhapus air mata ini menggandengnya kebawah menuju dapur aku masih membisu. Tiba-tiba langkahku berhenti ditengah tangga, pemandangan di bawah itu, laki-laki brengsek itu duduk dimeja makan, kalau tidak memikirkan perut Rania, sudah pasti aku akan berlari kembali mengunci pintu dikamar. Bertemu dengannya hanya membuatku muak.
Kulanjutkan langkah menuju dapur, sekuat hati ku tahan rasa ingin mencakar wajahnya sekarang juga. “Bunda, ayah lapar” masih bicara sok manis biadab itu, aku tidak peduli mau makan atau tidak itu bukan urusanku.
Mbak tini sudah pulang tentu saja, karna ini sudah jam 7 malam. Kulangkahkan kaki menuju lemari pendingin mencari bahan makanan yang tersisa. Bahkan aku tidak tahu mbak tini masak apa seharian, hidupku terlalu kacau disebabkan laki-laki kejam yang sedang menatapku dengan tatapan iba itu. Rania seharian makan apa bagaimana dia kesekolah siapa yang mandiin, siapa yang antar jemput.
Mengambil ayam dan sayur sop, menggoreng ayam terlebih dahulu diberi bumbu instan, bukan kebiasaanku percayalah aku hanya ingin cepat pergi dari tempat ini berada satu tempat dengan laki-laki kejam membuatku semakin emosi. Memotong sayuran secepatnya, aku tidak peduli bentuknya asal cepat selesai. Memasukkan kedalam panci yang sudah mendidih tak lupa bumbu instan juga kumasukkan.
Api kompor diatur maksimal agar cepat matang, semua itu tidak pernah kulakukan. Memasak dengan terburu-buru itu bukan kebiasaanku.
Rania melihat, aku tahu gadisku itu bingung, karena jam makan malam adalah waktunya aku dan ayahnya mengobrol, bercerita banyak hal. Mendengarkan cerita Rania seharian mulai dari teman sekolahnya, hingga teman-teman disekitar kompleks ini. Diselingi canda tawa berahir diruang tv sampai Rania terlelap. Itu kemarin, sebelum petaka itu datang.
Menyuapi Rania, suapan pertama dia melihatku dengan tatapan aneh
__ADS_1
“bunda keasinan, g ada aroma seledrinya”. Menoleh ke dapur. yah, saladrinya masih ada disitu. Belum masuk kepanci. “ga apa-apa sayang, yang penting Rania kenyang besok bikin lagi bunda janji besok akan lebih enak” tersenyum dengan terpaksa, aku tahu senyumku pasti terlihat pahit.
“bunda ga makan?”. Mata beningnya menatapku.
“nanti habis Rania baru bunda ya.” Usaha meyakinkannya. Karena selera makanku hilang entah kemana. Jangan ditanya dimana laki-laki pembawa luka ini, dia ada didepanku makan dengan lahap. Dia tidak biasanya makan sayur sop tanpa sambel terasi. Kulirik dia dengan ekor mata, lahap. Mungkin kelaparan aku tidak peduli.
Menoleh kearahku, secepat kilat ku alihkan pandangan, menyuapi Rania sesegera mungkin. Menghindari bertemu laki-laki ini adalah tujuanku.
“Rania nggak mau makan lagi kalau bunda nggak makan”. Gadis kecilku menutup mulutnya. Kusuapkan nasi kemulutku menghibur anakku. Pahit, itu rasanya, tidak heran karena dari kemarin hanya minum air putih. Bahkan makananku di cafe tadi pagi tidak sempat kusentuh. Perempuan itu, aku tidak peduli makan atau tidak. Mengingat itu kembali darahku mendidih sampai ke kepala.
“Rania selesai makan langsung masuk kamar ya, Ayah sama Bunda mau bicara” itu suara yang tidak ingin aku dengar. Sebisa mungkin menahan diri untuk mencaci. “oke” mengangkat jempol ke ayahnya dengan senyum dan kepalanya sedikit dimiringkan. Seandainya keadaannya tidak kaku begini sudah pasti aku akan mencium gemas putriku.
“Jangan melakukan cara untuk menggagalkan rencanaku, itu hanya akan sia-sia” to the point. Aku yakin wanita ****** itu sudah menceritakan kejadian tadi . Lucu sekali wanita itu mengadukannya pada suami orang, ingin aku tertawa keras. Setelah Rania masuk kamar pembahasan yang tidakku inginkan.
“persiapannya sudah matang, besok lusa kita akan kesana bersama. Kamu juga harus hadir”. Kita, laki-laki ini mengatakan kita
“untuk apa”. Tatapan sinis ku arahkan
“kamu memikirkan perasaan orang lain, sementara aku istrimu kamu injak-injak perasaannya, harga dirinya” suaraku meninggi kesabaranku sudah habis, mumpung tidak ada orang aku akan tumpahkan semua. Meskipun tidak bisa membatalkan rencananya setidaknya amarahku bisa terlampiaskan.
“aku tahu, tapi aku tidak bisa terus terusan membohongimu. Membawa andara meminta ijinmu untuk kunikahi itu jujurku padamu, dari awal kita menikah sudah berjanji apapun yang terjadi untuk saling terbuka, saling jujur sepahit apapun itu. Dan sekarang aku akan jujur aku masih menginginkan Andara menjadi istriku” dia menatapku dalam laki-laki didepanku ini berbicara dengan ringan layaknya orang tanpa dosa.
“kejujuranmu terlalu menyakitkan, aku tidak bisa terima” dadaku turun naik,nafasku sesak terasa, kutahan airmata yang mulai menggenang. Aku tak ingin terlihat bodoh dan mengenaskan dihadapannya.
“bagaimana kalau aku tidak memberi ijin”. Ku tatap matanya tajam
“aku akan tetap menikahi andara” sanggahnya cepat tatapan kami beradu
“kalau begitu untuk apa kamu meminta ijinku”
__ADS_1
“Karena kamu istriku”. Perdebatan yang percuma, keras kepalanya tidak akan membuatku bisa menggoyahkan keinginannya.
“kalau begitu ceraikan aku” itu suaraku dalam hati, seandainya aku punya keberanian ingin ku ucapkan dengan lantang. Tapi cinta ini sudah membuatku bodoh. Takut tidak mencium bau syurga juga memaksa aku hanya mampu berkata dalam hati. Kutinggalkan dia seorang diri, tak peduli teriakannya memanggil namaku, menulikan telinga dari kata-katanya yang mengatakan aku egois, tentang keadilan yang dirancangnya kedepan. Kasihan sekali dia dikira gampang berbuat adil. Kita lihat saja nanti bagaimana dia membuktikan kata-katanya.
Ini hari minggu masih jam 8 pagi, bergegas mengganti baju dasterku. Kemeja kotak hijau dengan warna jilbab warna senada. Rok warna blue jeans kukenakan. Aku lebih suka yang casual, simple membuatku nyaman. Mengambil tas dan kunci sepeda motor bersiap menuju ruko yang sudah dua hari ini aku tinggalkan.
Menghindari laki-laki itu juga tujuan utamaku berada satu tempat dengannya membuatku gerah. Jangan ditanya tadi malam dia tidur dimana aku tidak peduli. Sejak masuk selesai berdebat dengannya aku mengunci pintu kamar.
Turun tangga melewati dapur, ruang keluarga menuju ruang tamu dan pintu. Tapi tunggu, aku tahu perempuan yang duduk dikursi ruang tamu. Amir sedang ada tamu rupanya, pantas dari tadi aku tidak melihatnya, kukira dia tidur dirumah wanitanya.
Dia berdiri melihat kearahku, tersenyum manis senyuman yang membuatku muak. Drama apalagi yang akan ditunjukkannya padaku.
“Apa kabar Syafira kamu masih ingat tantekan.”sapanya dengan lembut, namun tajam sampai ketelingaku. Amir menarik tanganku mengajakku duduk menemui tamunya. “sayang ini tante kamila, mamanya andara, kamu masih ingatkan?”. Duh, manis sekali suamiku ini dia memanggilku sayang didepan calon mertuanya seolah ingin menunjukkan aku baik-baik saja mari kita lihat pertunjukan berikutnya.
“Kedatangan tante kesini ingin minta ijinmu, besok Amir akan menikahi Andara, rasanya kurang enak kalau kamu masih belum ikhlas, tante merasa bersalah sama kalian maafkan tante, untuk sekarang dan yang terjadi dahulu”. Habis anaknya datang emmaknya, tukang adu iblis betina itu, masih anak mama rupanya.
“Apakah syafira keberatan Andara menikah dengan nak Amir”
“Tentu, apakah tante akan membatalkan”. Jawabku cepat dengan suara lantang, tatapan sinis kuarahkan padanya, hilang sudah hormatku terkikis benci yang semakin menggunung. Tak peduli usianya lebih tua dariku persetan, inginku tunjukkan seberapa bencinya aku dengan keluarga penghancur kebahagiaanku.
“sayang, tak bisakah sedikit sopan” itu suara suamiki aktor terbaik tahun ini, tidak tahukah dia berdebatan semalam sudah menunjukkan betapa muaknya aku padanya dan juga calon istrinya itu.
“tidak apa-apa, nak amir wajar syafira masih marah nanti lama-lama dia akan terbiasa”. "Terbiasa" katanya, ada orang dimadu lama-lama akan terbiasa. Eh, tunggu dia memanggil nak Amir, manis sekali kedengarannya sudah akrab rupanya sejak kapan, aku kok ketinggalan informasi.
“Kalau saya jadi anda mungkin saya akan punya rasa malu, mengingat bagaimana dulu anda membuang mas amir seperti sampah, dan sekarang memungutnya kembali setelah sampah itu layak. Kemana perginya harga diri yang dulu dijunjung begitu tinggi” emosi membuat nafasku ngos-ngosan seperti habis marathon, biar kutuntaskan sekalian, aku tidak mencarinya, dia yang mendatangiku untukku rendahkan aku tak peduli.
“Ambisi dan cinta perbedaannya terlalu jauh, nafsu dan ego yang membuat perbedaan itu tersamarkan, dan saya yakin ego anda dan putri anda masih sangat tinggi, mencari laki-laki mapan untuk menjadi sandaran baru karna kalau tidak, bagaimana dia bisa bercerai dengan suaminya dan menggoda suami orang”. Biarkan saja laki-laki- disebelahku ini aku tidak peduli tatapan tajamku masih kuarahkan pada wanita paruh baya didepanku.
“Masih ingat bagaimana dulu anda dengan angkuhnya mengusir laki-laki ini” ku tunjuk mas amir. “atau anda lupa, mau saya ingatkan, mungkin ingatan anda sudah termakan usia.”aku tidak peduli biar puas hati ini memaki meskipun caraku ini tidak akan merubah apapun, setidaknya sudah mampu membuat dua orang diruangan ini tdak nyaman. Kulirik laki-laki disampingku dia menunduk dalam sambil bibirnya melantunkan istighfar.
__ADS_1
“istighfar sayang, jangan sampai setan menguasaimu” memelukku erat, ku tepis tangannya agar menjauh aku bangkit meninggalkan mereka. Kulirik sekilas wanita itu. Dia berlinang airmata aku tidak peduli.