
“Mbak, bisa minta tolong carikan teman atau saudara mbak Tini yang bisa dipercaya, untuk jadi pengasuh” ucapku pada wanita berbaju merah dihadapanku.
“Pengasuh, untuk apa?” itu suara suamiku. Kalau ada yang bertanya kenapa tidak kekantor. Yap, hari ini dia ijin karena ingin istirahat total, kelelahan katanya. Kami duduk diruang keluarga setelah sarapan.
“untuk menjaga Rania, karena mungkin setelah ini aku akan sibuk” tegas aku katakan. dia menatapku tajam tidak percaya. Apa ada yang salah dengan ucapanku.
“aku menyuruhmu berhenti bekerja, karena aku mau kamu full mengurus Rania. Kasihan dia, di usianya yang sekarang kalau harus ditinggal” nadanya naik satu oktaf, jangan lupakan tatapan tajamnya.
“mbak tini kebelakang dulu, nanti kita bicarakan lagi” ucapku lembut pada perempuan yang menemaniku hampir dua tahun ini. Tidak lupa tersenyum lembut.
“Mulai sekarang aku putuskan aku akan melanjutkan usaha tokoku, aku tidak punya waktu untuk meladeni amarahmu. Maaf hari ini aku sibuk” ucapku seraya hendak beranjak dari kursi.
“tunggu, kita perlu bicara” menarik tanganku
“apa lagi, urusanku hari ini banyak” ucapku tanpa menatap suamiku.
“aku tegaskan, tinggalkan usaha toko itu, aku bisa menghidupimu dan Rania, lebih dari cukup” amarahnya semakin meninggi.
“tidak akan ada yang bisa menghalangiku melanjutkan usaha. Bahkan suamiku sendiri sekalipun. Jangan mengekangku. Bersikap wajarlah sebagai laki-laki, aku bukan perempuan murahan kalau kamu curiga aku selingkuh” aku tidak mau kalah, entah mengapa keinginan untuk menjadi istri yang patuh sudah hilang dalam diriku.
“kalau aku dirumah, apa yang harus aku lakukan. Hanya merenung dan berpikir, sedang apa suamiku. Apakah dia sendiri atau ada yang menemani. Apakah dia setia atau mendua. Apakah dia menjaga hatinya hanya untukku atau ada hati lain yang sedang dia jaga” Lanjutku, sekedar mengingatkan betapa luka itu masih menganga lebar.
“akan aku buktikan kalau aku sudah berubah ” ucapnya tegas tanpa keraguan
“aku tunggu” jawabku sambil berlalu. Tidak peduli tatapan tajam matanya.
“aku antar” katanya sambil menyusulku kekamar. Setelah aku selesai ganti baju dan mengambil kunci motor.
“kemana?” tanyaku heran
“kemanapun, hari ini aku free” tatapannya memohon
“sebaiknya istirahat saja, aku sudah biasa sendiri” . tatapannya mengiba
“aku akan diam, tidak akan mengganggu percayalah” ucapnya meyakinkan
“jangan memata-mataiku, kita tidak sama, kalau kamu lupa” ku tatap matanya dengan tajam.
“ayo” dia menarik paksa tanganku. Turun kebawah. Apa-apaan laki-laki ini. Kalau mau membuktikan kenapa caranya begini.
“aku penasaran, seperti apa toko yang kamu banggakan itu” ucapnya setelah aku berada didalam mobil
“tidak besar, tapi cukup untuk menopang hidupku dan Rania. Kalau tiba-tiba suamiku pulang kerumah wanita lain” dia mematikan mobilnya yang sempat menyala.
__ADS_1
“tidak bisakah kita tidak membahas itu, aku tahu aku salah, tapi setidaknya berikan aku kesempatan kedua. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya” menatapku dengan lembut, aku diam entah mengapa hatiku seolah menolak permintaan laki-laki ini. Bukan tidak percaya, tapi entahlah, rasanya sudah hambar.
***
“hari ini, kita akan mengecek toko. saya sudah menghubungi Reno, sales yang kemarin, juga sudah dihubungi. Kita berangkat jam 10, sri...” jawabku pada karyawanku satu-satunya ini.
“sri,,,sri,,,” panggilanku berulang, tidak ada jawaban. Entah apa yang dia perhatikan. Aku mengikuti arah pandangan matanya. Tatapan sri lurus kedepan tepatnya ke mobil yang terparkir diseberang jalan toko ini. Ah, aku lupa kalau suamiku ikut. Dia menungguku dimobil dengan kaca depan yang terbuka lebar. Suamiku terlihat tampan dengan kacamata hitamnya. Sesuai janjinya dia tidak akan menggangguku.
“sri,,,”aku tepuk bahunya pelan. Dia terlonjak kaget. Matanya melotot menatapku seolah habis melihat hantu. Ada apa dengannya, aneh sekali.
“oh, dia suamiku Amir namanya, saya lupa kalau kamu belum berkenalan, sebentar saya panggilkan” jawabku berdiri hendak memanggil suamik
“tidak usah bu, tidak apa-apa” jawabnya gugup. Apa hanya perasaanku sri terlihat berbeda.
Tak ku hiraukan dia, aku panggil suamiku untuk turun
“kenalkan suamiku namanya Amir” ucapku pada sri, entah mengapa dia menunduk seolah ada yang ingin disembunyikan
“Mas, ini sri karyawanku satu-satunya” mereka berdua bertatapan aneh sekali ada apa dengan dua orang didepanku.
“oiya, saya amir suaminya syafira” suamiku mengulurkan tangan masih dengan tatapan menyelidik.
“Sri,,,”dia menyebutkan nama. Uluran tangannya sedikit gemetar
“apa kita pernah bertemu sebelumnya?”tanya suamiku
Pikiranku dipenuhi tanda tanya, sri yang biasanya selalu santai bertemu orang baru, kali ini terlihat gugup. Setampan itukah suamiku sampai sri sedemikian terpesona.
Aku akui suamiku memang mempesona. Tapi sri, perempuan ini bahkan belum pernah menunjukkan ketertarikannya pada lawan jenis dihadapanku tiba-tiba gugup bertemu suamiku. Aneh sekali.
“bu, kita sudah ditunggu di toko mereka sudah siap disana” ucap sri
“Reno juga sudah siap?” tanyaku, bukan apa-apa dia yang memegang kuncinya.
“sudah bu, kita ditunggu sekarang” jawabnya lagi. dia terlihat lebih tenang setelah menerima telepon. Mungkin dari sales yang mau bekerja sama denganku, entahlah.
“hari ini saya tidak bawa sepeda motor, jadi kita naik mobil, kamu tidak apa-apa kan?” Tanyaku padanya, memastikan takut sri tidak nyaman.
“tidak apa-apa bu”
“Sri, apa kamu punya saudara kembar?”pertanyaan suamiku didalam mobil yang melaju pelan, rasanya terdengar aneh ditelinga ada apa ini sebenarnya, kenapa harus tanya kembaran sri, segala?
“tidak pak, tapi banyak yang memang mirip saya, muka saya kan pasaran”jawab sri terlihat lebih santai sekarang
__ADS_1
“oooo,....”laki-laki disebelahku ini mengangguk tanda mengerti
“apa kabar pak amir” sapa Reno pada suamiku dengan ramah. Jadi mereka sudah kenal
“kabar baik mas Reno” mereka berjabat tangan, seolah teman yang lama tidak berjumpa
“kalau boleh tahu, apa bapak juga bekerja sama dengan ibu fira” tanya reno pada suamiku
“oh tidak ,,,dia istri saya kebetulan hari ini saya free, jadi bisa mengantarnya” penjelasan suamiku pada Reno
“oh,,,saya baru tahu kalau pak Amir suami ibu fira” Reno menganggukkan kepalanya, seperti baru mengetahui sebuah kebenaran
“ada apa mas Reno ada yang aneh” tanyaku penasaran pada perwakilan GLOBAL GROUP ini.
“oh tidak bu, sekelas pengusaha property seperti Pak Amir, aneh saja rasanya istrinya justru membuka usaha retail, sangat jauh berbeda dengan usaha pak amir” oh, jadi ini alasannya. Anehnya Reno bahkan tahu kalau mas Amir pengusaha property.
“awalnya hanya iseng mas, eh,,,taunya maju begini. Ya dilanjutkan sajalah” jawabku
“luas sekali ya” ucapku setelah berada didalam. Aku tidak bohong ini memang luas sekali.
Tapi tunggu sejak kapan rak, gondola, etalase dan kulkas sudah berjejer rapi disini. Apa dalam perjanjiannya sudah termasuk ini semua? tapi koq rasanya aneh, aku pikir ini ruangan kosong seperti toko yang disewakan pada umumnya.
“maaf mas Reno, apa dalam perjanjian sewa kemarin sudah termasuk dengan isinya ini”tanyaku heran
“sudah bu, jangan khawatir kami tidak meminta biaya sewa tambahan, semua sudah tercover” penjelasan yang membingungkan sebenarnya. Padahal rencanaku setelah ini mau mengajak Mas Amir belanja perlengkapan toko. Ya sudahlah, rejeki tidak bisa ditolak bukan. Anggaplah hari ini keberuntunganku.
“jadi, besok kita dari perwakilan “PT. JINGGA” akan langsung menata barang-barang kami di etalase” Reno kembali menjelaskan. yang disebutkan tadi, adalah anak perusahaan GLOBAL GROUP yang bergerak dibidang retail. Semua produk kebutuhan rumah tangga sudah termasuk didalamnya. Produk makanan Sampai kebutuhan bayi semua ada.
“yang bagian display siapa saya mau bicara” pintaku pada Reno. Dimana suamiku, dia berkeliling melihat isi bangunan ini, sesuai janjinya dia tidak ingin mengganggu.
“wildan sini” itu suara Reno memanggil sales yang biasa mengantar pesanan ketoko
“iya, pak” jawabnya
“saya ingin kosongkan satu space rak,rencananya saya akan melakukan kerja sama dengan pelaku UMKM setempat. Nanti itu akan ditempati hasil produk mereka” perintahku pada lak-laki kurus didepanku.
“baik bu saya paham” kemudian wildan berlalu.
Ah, aku merasa Tuhan benar-benar mempermudah urusanku. Semua berjalan diluar pikiranku. Kalau Allah berkehendak kita bisa apa. Tugasku hanya meminta, mengangkat tangan dengan khusyuk hasilnya biar Allah yang tentukan.
Kita jangan mengatur Allah, biar Allah yang mengatur kita. Karena Dia tahu yang terbaik untuk hambanya.
Note: saya kasih bocoran ya, Sri bukan pelakor (takut dimarahi bunda-bunda cantik disini kalau saya munculkan pelakor lagi) dia orang yang berada dibalik kesuksesan usaha syafira.
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya,,,,kita akan membuat amir menyesal sampai hidupnya hancur karena penyesalannya. Sadis tidak ya...
Terima kasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa like dan komennya biar author semangat update. Kritik dan saran tetap di tunggu ya, masih pemula. Harus banyak belajar lagi.