
“*Melihat luka dimatanya membuatku disiksa rasa bersalah. Aku terlalu pengecut hanya untuk mengatakan kalau dia adalah pemilik hatiku sepenuhnya. Bahkan aku terlalu takut untuk mengatakan kebenaran dari perselingkuhanku. Apapun yang aku lakukan selalu menyakitinya. Aku hanya bisa memeluknya malam itu, biarlah air mataku mewakili betapa aku jauh lebih terluka dengan ketidak adilan yang aku ciptakan*”
Amir.
Keinginan untuk berubah ada, mengubah penampilan agar terlihat lebih cantik dimata suamiku. Tapi aku cukup tahu diri, sebanyak apapun aku berubah tidak akan membuat mas Amir meninggalkan wanita itu disisinya.
Tidak ada salahnya mencoba bukan. Sementara, aku lipat rapi baju-baju dasterku dilemari. Aku buka kembali bajuku ketika awal menikah, sebelum ada Rania.
Baju rumahan dengan atasan kemeja lengan pendek, rok mini lipit diatas lutut. Dulu mas amir suka kalau aku memakainya. Seperti anak SMA katanya. Hanya dipakai didalam rumah ketika masih risih memamaki daster.
Alhamdulillah masih muat. Memoles riasan tipis diwajah, lipstik warna soft. Rambut yang biasa digelung keatas kali ini aku biarkan tergerai dengan bando motif pulkadot menghiasi rambut.
Membayangkan pelukannya semalam membuatku semakin bersemangat. Mematut diri didepan cermin dan tersenyum, siap menyambut pagiku.
Turun kebawah dengan senyum manis. Sarapan sudah kubuat tertata rapi di meja makan. tinggal menunggu Mas amir. Dia ada dikamar mandi ketika aku turun. Baju kantor sudah aku siapkan dikasur.
“selamat pagi mbak, tadi malam Mas Amir tidur dengan mbak ya” auranya tidak bersahabat. Dia menatapku dari atas kebawah keatas lagi.
“iya” jawabku singkat tanpa mempedulikan tatapannya.
wajah kucel, rambut berantakan khas orang bangun tidur. Jam dinding di ruang TV menunjukkan angka 6.30. Muslimnya hanya di KTP saja perempuan ini. Duduk dimeja makan melihat keatas tangga, mencari suaminya mungkin. Aku tidk peduli
“bunda” suara lirih anakku memaksaku menoleh. Kuhampiri dia mencium lembut rambutnya. “ Rania mandi dulu baru sarapan “ sengaja ku keraskan suaraku agar maduku itu paham bahwa peraturan dirumah ini menghadapi makanan harus dalam keadaan baik setidaknya membashi wajah dengan air wudhu agar terlihat segar.
“Bunda cantik banget..”orang pertama yang memujiku. Senang rasanya tidak sia-sia dandan.
“makasih ya....”ku gandeng tangannya menuju kamar Rania
Lima belas menit kemudian aku turun, setelah Rania rapi dengan seragam sekolahnya.
Mas Amir sudah duduk manis dimeja makan, rapi dengan baju kantornya berhadapan dengan Andara.
Aku duduk disebelah suamiku, Rania diujung meja sebelahku. Meja makan ini ada 6 kursi empat saling berhadapan dan dua lainnya saling berhadapan memanjang. meja makan berbentuk segi panjang.
Suamiku menoleh kearahku, senyum manis ku berikan untuknya. Tapi tunggu tatapannya tajam seperti menahan marah. Apa yang salah dari penampilanku hari ini. Dia berdiri mengahadap kearahku, refleks aku ikut berdiri. Suasana tiba-tiba berubah tegang. Kulirik Rania, dia menatap kami bergantian ada wajah ketakutan disana.
“ada apa denganmu hari ini hah....!!!!!” suaranya meninggi, tatapannya menakutkan, kedua tangannya terkepal kuat. Aku bergetar hebat sungguh ini pertama kalinya aku melihat kilat kemarahan diwajah suamiku setelah tujuh tahun. Andara ikut berdiri menatap kami sama tegangnya.
“Ada apa mas?, aku menyiapkan sarapan memandikan Rania, sambil nunggu mas turun apa ada yang salah” jawabku bingung. Kemana perginya suamiku yang tadi malam mendekapku penuh kehangatan.
“lihat penampilanmu,,,,!!!! mau kemana,,,,!!!!, mau jadi perempuan murahan, iya,,,!!!!!” suara teriakannya memenuhi setiap sudut rumah ini, mengelegar penuh kemarahan. Rania menangis ketakutan. ini pertama kalinya anakku melihat ayahnya semarah ini dihadapannya.
Aku gendong putriku berusaha menenangkan, memeluknya dalam dekapanku berharap tangisnya reda.
Astagahfirullah....aku mengharapkan pujian darinya seperti dulu tapi justru penghinaan ayng aku dapatkan, adakah perasaan yang lebih hancur dari ini. Sepagi ini aku sudah dibuat sakit hati.
“mau dipertontonkan kepada siapa tubuhmu itu,,,!!!!, cepat ganti bajumu,,,,!!!! aku tidak mau melihatnya....!!!!” suara keras penuh dengan amarah memaksa airmataku mengalir deras, aku terpaku ditempatku berdiri.
Ada apa dengan laki-laki dihadapanku ini...?????
“tapi, aa..a...ku....” Ucapku terbata, lidahku tiba-tiba kaku, bahkan sekedar menjelaskan alasanku memakai baju ini pun aku tak mampu.
“jangan membantah,,,,!!! aku tidak pernah punya istri pembantah.....!!!!” wajah kami hanya berjarak satu jengkal. Dia berteriak didepan mukaku. Sakit hati, malu, dan kecewa berbaur dengan airmata yang mmengucur semakin tak terkendali.
Bisakah dia tidak mempermalukanku didepan maduku. Allah....
__ADS_1
“hani, jangan gitu dong kasihan Rania ketakutan” suara maduku mungkin berusaha meredam amarah suamiku. Tapi yang tertangkap di indraku seperti penghinaan. Seolah mau menegaskan bahwa dia lebih dianggap daripada aku. Betapa tidak berharganya aku dihadapan suamiku.
Bahkan dengan tegas laki-laki kebangganku mengatakan aku wanita murahan. Mengusap kasar air mata dengan telapak tangan.
“baik, aku memang wanita murahan. Tapi setidaknya aku mengumbar auratku dihadapan suamiku, bukan didepan laki-laki tidak halal bagiku. Berusaha menyenangkan suami dengan cara begini pun aku salah.... Aku tidak pernah merebut siapapun dan aku tidak pernah menyakiti wanita lain. Satu lagi, aku bukan perempuan perusak rumah tangga orang,,,jadi siapa yang lebih murahan disini” suaraku pelan penuh penekanan.
Tak ingin berteriak karena rania ada didekapanku. Biar suamiku tahu bahwa aku bukan perempuan seperti yang dia tuduhkan. Agar dia sadar jauh lebih murahan siapa caranya berpakaian, aku atau wanita yang dia banggakan itu.
Sekarang aku sadar bagaimana hebatnya seorang Andara menggantikan posisiku dirumah ini. Teriakannya, kemarahan dan bentakannya sudah menegaskan bahwa aku sudah tidak ada lagi dihati Mas Amir.
Sebesar apapun pengorbananku tidak akan pernah dianggap. cukup tahu diri, menjaga jarak agar hati tidak semakin terluka. Yang menemani dari nol pada ahirnya akan kalah dengan cinta pertama.
Pagi yang cerah tapi tidak dengan hatiku, disinilah aku sekarang setelah mengantar Rania sekolah. Sri sempat curiga dengan mata sembabku. Dia ingin bertanya tapi takut.
Melayani pembeli yang tidak ada habisnya. Jam 10 pagi sudah mulai sepi hanya satu dua yang datang.
“Astaghfirullah sri. Boleh minta tolong jemputkan Rania, sudah jam 10 sampai lupa” aku panik lebih stengah jam Rania menggu disekolah mudah-mudahan dia tidak marah.
“ini nanti mau diantar kerumah apa dibawa kesini bu” jawabnya patuh
“antar kesini sri”
“lho koq...?” dia terkejut
“tidak apa-apa sekalian nanti pinjam kamarmu diatas buat Rania ya” wanita bertubuh mingil itu menatapku penuh selidik
“iya bu” kuberikan kunci motorku, wajahnya masih bingung.
“hati-hati,, pelan saja g usah ngebut ,kalau rania tanya bilang aku sibuk banyak pelanggan sri” takut sri salah jawab bisa-bisa tidak mau pulang sebelum aku yang jemput
Selang lima belas menit terdengar suara motor, bergegas keluar menyambut tuan putri. Sebelum merajuk
“bunda koq g jemput” betulkan,,, dia protes wajahnya marah tapi dimataku tetap lucu
“bunda sibuk banyak orang belanja, yang penting Rania sudah pulang ayo keatas ganti baju cuci tangan cuci kaki” mecubit pipinya gemes.
“kamu kalau makan siang, biasanya beli dimana” tanyaku pada sri
“di pertigaan depan itu ada soto ayam baru buka, enak bu” jawabnya
“ya sudah, minta tolong belikan ya, 2 porsi saja nasi sama kuahnya dipisah” ku berikan dua uang berwarna biru bergambar pahlawan berkacamata.
“koq dua bu” tanyanya, kesekian kalinya dia aku buat bingung hari ini.
“iya, aku berdua, rania g akan habis” kutatap sri, agar tidak banyak protes
“tapi itu beneran enak lho bu, kalau kurang saya tidak mau disuruh balik buat beli lagi. antrinya panjang” ngelunjak anak ini...tapi tak apa memang aku sudah menganggpnya seperti saudara.
“ya, sudah beli tiga, mana uangnya saya tukar” menukar uang dengan yang warna merah bergambar soekarno sedang tersenyum.
Sudah setengah jam menunggu, tapi sri belum datang juga. Rania aku tinggal diatas dengan mainan yang sudah aku siapkan dari rumah. Entahlah aku begitu malas pulang. Sikap mas amir tadi pagi masih membayangi kepalaku.
Bagaimana dia berhenti marah ketika Andara mengusap bahunya. Duduk kembali dimeja makan mengatur nafasnya yang memburu sehabis meluapkan amarahnya padaku.
__ADS_1
Entah apa salahku sampai dia begitu murka. Bahkan baju Andara yang lebih terbuka saja tidak pernah dia tegur sekalipun. Ketika keluar, belahan rok panjang sampai paha milik andara tidak pernah mendapat teguran.
Dimana letak keadilan yang dia gadang-gadang ketika akan berpoligami. Hanya aku yang meratapi kesakitan dan penderitaan setelahnya. Sedangkan dia dan wanitanya sedang menikmati manisnya pernikahan diatas lukaku.
“ibu melamun ya” aku kaget badanku terlonjak, reflek aku menoleh. Entah sejak kapan sri ada dibelakangku.
“ih, kamu ngagetin” kupukul tangannya yang masih memegang bahuku
“mau makan, apa ditaruh dulu bu” tanyanya mengangkat kresek warna hitam, memperlihatkan padaku.
“langsung makan sri, aku sama Rania belum makan dari tadi” eh, aku salah tingkah
“soalnya keburu tadi Rania bangunnya kesiangan” buru-buru kuralat ucapanku sebelum sri otaknya traveling. Untuk saat ini aku belum siap cerita masalah rumah tanggaku pada sri.
“diatas saja bu biar saya yang jaga toko” menyerahkan kresek hitam padaku
“makasih ya sri, saya keatas mau nyuapi rania sekalian” aku naik keatas setelah berpamitan, Sri mengangguk.
“sejak kapan kamu punya laptop sri?” tanyaku setelah turun kebawah
“baru beli bu, rencananya saya mau daftar kuliah, hanya bekas lumayan buat belajar” karyawanku menjelaskan anehnya dia tidak berani menatapku.
“alhamdulillah, sisa uang yang dikirim ke kampung saya ditabung” dia menatapku
“pinter kamu kelola uang sri” jawabku
“ semangat ya, semoga sukses nanti dapat kampus sesuai keinginanmu.” Selalu tersematkan doa terbaik supaya dia bisa membanggakan orang tuanya di kampung.
“oiya bu, sales yang kemarin menawarkan ibu kerja sama dengan perusahaanya datang lagi, nanti ibu akan jadi distributor tunggal disini. Jadi ibu tinggal mencari toko yang lebih luas, ruko ini biar jadi gudang katanya.” Dia menatapku dengan serius. Ada kesungguhan dimatanya.
“terima saja bu, ini sudah penawaran yang kesekian, tapi ibu selalu menolak. Ingat kesempataan tidak datang dua kali lho” tatapannya masih lekat, menunggu jawaban.
“sepertinya saya mulai tertarik sri nanti saya pertimbangkan dulu. Nomor hpnya kamu simpan ya, nanti saya hubungi orangnya” jawabku sendu.
“alhamdulillah,,,semoga semuanya lancar ya bu” karyawanku itu terlihat senang sekali aneh,
“mulai sekarang saya akan kerja lebih giat lagi demi Rania. Masa depannya menjadi prioritas sekarang. Apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan kan...” gumamku lirih ada sakit yang menyusup di celah hati ini. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari pernikahanku sekarang.
Saatnya berpikir untuk tidak bergantung pada Mas Amir. Tapi setidaknya masih ada Rania penyemangat hidupku.
“hah....????, ibu sama bapak baik-baik saja kan?” matanya melotot tiba-tiba
“hah????” ku tatap sri. Tatapannya menyelidik, seperti ingin menguliti tubuhku
“tidak usah dipikir, kalau saya siap pasti akan cerita tapi untuk saat ini belum. Maaf ya”
Menepuk bahunya pelan.
Hadiah kesakitan demi kesakian dari suamiku, memaksaku untuk mengencangkan bahu.
Hidup harus terus berjalan. Mandiri secara financial tujuanku saat ini. Belajar melepaskan diri pelan-pelan saja. Pada saatnya nanti aku akan berlari kencang meninggalkan kepedihan, menyongsong masa depan yang lebih bahagia.
Mengharapkan suamiku berubah seperti menggarami air laut. Siapapun tahu, Andara adalah wanita yang diinginkan Mas Amir, dulu sekarang. Mungkin untuk selamanya.
Aku hanya sebagai pelarian dari kekecewaanya dulu.
__ADS_1