BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 24. JALAN TERBAIK


__ADS_3

Setelah mendengar suara Andara aku bergegas kekamarnya. Mesikupun Mas Amir menghalangiku, aku tetap bersikeras. Dari suaranya yang lemah aku yakin dia sudah tenang. Setelah meyakinkan ibu aku masuk kekamar maduku.


Pemandangan yang kulihat begitu pilu. Tubuh andara meringkuk di atas kasur dengan posisi miring badannya bergetar terlihat dari getaran halus selimut yang dipakai untuk menutupi badannya.


Aku meletakkan kepala andara di pangkuanku, maduku ini menggigil hebat. Badannya panas, matanya terpejam rapat. Aku tidak tega melihatnya. Sungguh. Mulutnya menyebut suamiku lirih hampir tak terdengar.


“mas....” suaraku keras karena panik. Aku takut terjadi sesuatu dengan Andara. Kurapatkan selimut sampai keleher untuk menghalau rasa dingin ditubuhnya. Bibirnya masih memanggil suamiku dengan lirih. Suara lemah seperti orang menggumam. Mas Amir masuk kedalam kamar disusul ibu dan Annisa.


“sepertinya luka dikakinya yang menyebabkan badannya panas mir...” suara ibu terdengar lembut. Aku tahu wanita ini memang dasarnya baik. maka, ketika melihat kondisi Andara tak berdaya, rasa belas kasih nya muncul.


“bawa kerumah sakit, takut ada pecahan kaca yang tetinggal didalam, nanti infeksi” lanjutnya lagi. setelah mendengar penuturan Mas amir tadi. Entah mengapa kami sudah melupakan perbuatan Andara.


“tidak usah, biarkan saja tidak akan ada yang peduli lagi padanya” suamiku menahan amarah


“apa kamu akan membiarkan Andara mati disini?” mertuaku tegas menatap lekat suamiku.


Tapi ada benarnya juga


“cepat angkat kemobil mas...aku yang akan menemanimu ke rumah sakit” pintaku pada suamiku itu.


Dengan ragu Mas Amir mengangkat tubuh andara dan membawanya ke mobil


“bu, aku titip Rania, malam ini ibu nginap disini dulu, takut Andara disuruh rawat inap” itu suara suamiku


“hati-hati, kabari ibu kalau ada apa-apa” pesan ibu, dia mengantar kami ke luar


“ibu hati-hati dirumah, kami berangkat dulu” aku cium tangan mertuaku dengan takzim begitupun suamiku.


Kami masuk kedalam mobil, aku duduk dibelakang memangku kepala Andara, sampai kami keluar garasi ibu menutup pintu. Sebelum ahirnya beliau masuk kedalam.


“assalamualaikum...” ucap kami bersamaan.


Mas amir menjalankan mobilnya pelan, tidak nampak wajah panik seperti biasanya. Lelah tergambar jelas di wajahnya. Kasihan suamiku.


“mas...mobilnya dicepatkan sedikit biar cepat sampai” tegas ku katakan, kasihan andara kalau terlalu lama dijalan


“kenapa kamu harus peduli, wanita ini hampir mencelakaimu “ nadanya terdengar kesal.


“kalau andara meeninggal di mobil kesayanganmu ini bagaimana” ucapku menakuti mas Amir, aku tahu seberapa berharganya kendaraan roda empat ini baginya. Bagaimana perjuangannya dulu untuk membeli mobil yang menjadi cita-citanya sejak dulu.


Tanpa berkata apa-apa, Mas Amir mempercepat mobilnya. Caraku berhasil bukan.


***


“ini hanya infeksi ringan, tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan” laki-laki muda didepanku ini menatap kami serius. Seketika aku cemas takut kakinya harus di amputasi, bagaimana aku akan merawatnya. Maduku merepotkan sekali.


Tatapanya kosong. Kearah langit-langit ruang perawatan maduku. Kondisinya memprihatinkan. Jauh dari kata modis yang selama ini melekat padanya.


“mari ikut keruangan saya” kami berjalan kesebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dengan cat warna biru langit. Setelahnya kami duduk berhadapan dengan dokter muda ini.


“apakah anda keluarganya?” tanya dokter menatap kami bergantian


“saya keluarganya dokter” ucap suamiku santai saja.


“begini pak, saya melihat kondisi ibu Andara tadi. Melihat tatapannya yang kosong dan bibirnya yang menyebut satu kata berulang-ulang. Saya memastikan bahwa ada hal serius dari pasien. setelah nanti kondisinya membaik, mungkin dalam dua hari kedepan sebaiknya bapak dan ibu membawanya kerumah sakit yang memang khusus menangani penyakit keluarga bapak” ucap dokter itu hati-hati.

__ADS_1


“apa ada yang harus dioperasi dokter” kalau yang aku takutkan terbukti benar, apa yang harus aku lakukan


“maaf bu, bukan raganya tapi jiwanya yang perlu penanganan khusus” oh,,,aku bernafas lega.


“saya sudah tahu dokter, dia punya gangguan kejiwaan, sampaikan saja tidak perlu merasa sungkan” perkataan suamiku tidak ada lembutnya sekarang.


“oh, jadi bapak sudah tahu” laki-laki dengan baju serba putih itu bernafas lega, mungkin dari tadi dia menyampaikan perlahan takut menyinggung perasaan kami.


“baik pak, ini nama rumah sakitnya, semakin cepat semakin baik agar cepat ditangani” dia menyerahkan kartu di tangannya.


“nanti saya berikan surat rujukannya , mungkin besok atau lusa sudah bisa dibawa, nunggu pemberitahuan dari rumah sakit” ujarnya lagi


“terima kasih pak, kalau begitu kami permisi dulu” kami berdiri, setelah suamiku menyalami dokter angga. Itu nama yang tertera di dadanya.


“hah, merepotkan sekali dia” keluhnya. Secepat itu dia membenci Andara


“sabar, kan kamu yang membawanya kerumah. Padahal cantik, sayang sekali ya” sindirku. Dia menatapku tajam aku menunduk tidak berani menatapnya


“ayo pulang kasihan ibu takut cemas nunggu kita” dia menarik tanganku hendak berlalu dari tempat ini.


“lho, Andara bagaimana” aku tahan tangannya.


“biarkan dia, aku ingin pulang, terus tidur sambil meluk kamu, lelah aku seharian mengurusnya” begitu cepat laki-laki ini berubah, seolah baru saja terlepas dari beban berat.


“ ga bisa gitu mas, kasih tahu keluarganya biar ada yang menunggui dia” saranku, semoga diterima


“iya,,,apa pun perintah nyonya akan saya laksanakan”senyum manis terbit dari bibirnya, mulai kembali ke asal suamiku. Terima kasih Ya Allah....semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kami.


***


Seorang wanita paruh baya berjalan dengan tergesa menghampiri kami, gurat cemas tergambar disana. kami memang sengaja menunggu diluar ruangan, taku tante kamila salah kamar.


“dia ada di dalam” jawab suamiku santai. kami menunggu di luar kamar paviliun nomor 27


“terima kasih, saya masuk” tante kamila berjalan ke pintu.


“tunggu tante” itu suara suamiku, mencegah mamanya Andara yang hendak masuk


“dokter menyarankan Andara dirawat di Rumah Sakit jiwa, saya harap tante tidak keberatan, karena demi kebaikan Andara”


Tatapan wanita yang melahirkan andara ini seketika menunduk. Ada kesedihan dan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Mas Amir membimbingnya duduk disebelahku.


Kebencianku pada wanita angkuh ini seketika sirna, berganti rasa iba. Hati ibu mana yang tega mendengar anaknya akan dibawa kerumah sakit jiwa. Hancur pasti. tapi, tidak ada jalan lain. Demi kesembuhannya meskipun ini berat


“maafkan saya nak, sudah membuatmu harus menanggung semua ini” isak tangisnya tidak dapat dibendung lagi. aku iba, ku genggam tangannya, sekedar menguatkan. Dia menatapku sendu. Kesedihan jelas tergambar, air matanya terus mengalir menganak sungai. Menggambarkan tumpahan luka yang tidak terperi.


Aku seorang ibu jangankan sampai mengalami penyakit berat seperti Andara. Rania panas karena mau flu saja aku bisa panik.


Menjadi ibu memang tidak mudah. Ada pengorbanan, kesabaran dan keikhlasan yang harus dipertaruhkan. Ada waktu dan tenaga yang kita korbankan ada hati yang perlu keikhlasan agar tidak ada kata mengeluh. Pandai dalam menuruti kemauan anak mana kebutuhan dan keinginan agar tidak salah asuhan sejak dini.


“maafkan ibu syafira, aku pikir cintanya pada Amir akan mampu menyembuhkannya secara perlahan, ternyata tidak. Maafkan ibu sudah membuat keluarga kalian menghadapi kesulitan karena kelakuan anak saya” ujarnya lemah. Air matanya masih mengalir.


Entah sudah berapa kali kata maaf meluncur dari bibirnya. Jujur aku ingin menjawab. Seandainya aku perempuan bar-bar ingin rasanya berkata “sudah tahu rongsokan kenapa ditaruh dirumah” tapi tidak tega. aku tahan, waktunya tidak tepat.

__ADS_1


“kalau ada yang harus disalahkan dari kejadian ini. Ibulah orangnya” suaranya lirih penuh penyesalan


Dari sini mengalirlah cerita


“ketika melahirkan Andara, kandungan tante bermasalah, rahim tante harus diangkat. Hancur rasanya hati ini. Wanita mana yang tidak pilu, bagian tubuh kebanggaan kita sebagai wanita harus diangkat ketika usia masih muda, ” tatapan matanya menerawang kedepan


“sejak kecil saya memanjakannya, apapun yang dia inginkan akan saya turuti. Karena dia harapan satu-satunya. Semakin lama keinginannya semakin tidak seperti anak seusianya. Tapi saya berusaha memenuhi bagaimanapun caranya”


“Rumah tangga saya hancur karena itu, saya tidak pernah mendengar nasehat suami saya untuk tidak menuruti semua kemauan anaknya. Hingga kami bercerai karena selalu berselisih paham” tangis yang sempat reda, kembali pecah. Bulir bening itu mengalir tak dapat dibendung. Genggaman tanganku semakin erat sekedar menguatkan sebagai perempuan. Aku mengerti kesedihannya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Dari penuturan tante kamila, Andara sekolah di sering bolos keluyuran dengan temannya. Membeli barang branded sudah dilakukannya sejak SMA. Beberapa kali dapat surat teguran dari sekolah.


Kuliah disemester awal pun sama sering jalan dengan temannya. Tidak mengikuti mata kuliah. Hingga kembali mendapat surat panggilan dari kampus.


Semester tiga dia pacaran dengan suamiku. Tapi mamanya tidak mersetui karena suamiku dianggap tidak akan mampu memenuhi keinginan tak wajar andara. Sampai ahirnya dia menjodohkan andara dengan Riko, pengusaha sukses dibidang property.


“dia bukan tidak bisa memberikan keturunan, tapi Andara tidak ingn punya anak. Keberadaannya dianggap hanya akan mengekang kebebasannya” ini pengakuan yang paling mengejutkan buatku. Ada ya perempuan seperti itu. Sementara banyak perempuan menempuh berbagai cara untuk mendapatkan keturunan. Mulai dari suntik hormon, mengkonsumsi jamu, obat hingga program bayi tabung. Lha, ini.


telepon genggam suamiku berbunyi,


“Assalamualaikum bu,,,”suamiku membuka percakapan


“.................”


“sudah, keadaannya baik, hanya infeksi ringan, ada pecahan kaca yang masih tertinggal” suamiku menjalaskan.


“.................”


“nanti Amir ceritakan semuanya di rumah, ibu istirahat saja, assalamualaikum”


Mas amir menutup pembicaraan dia menaruh benda pipih itu kesaku celananya.


Jam menunjukkan angka 3 dini hari, astaghfirullah,,,lima jam kami dirumah sakit.


Ahirnya kami berpamitan.


Kejadian hari ini benar-benar menguras energi. Lelah lahir bathin.


***


“Ahirnya benang kusut sudah terurai aku ingin kita kembali seperti dulu. Menata kembali hubungan yang sempat terburai. Apakah kamu bersedia” suamiku membuka pembicaraan pagi ini. Setelah ibu dan anisa pamit pulang aku mengantar Rania kesekolah. Aku ingin menunggu mbak tini, ada hal penting yang ingin dibicarakan.


“Butuh waktu untuk menyembuhkan luka. Bau busuk penghianatan itu masih tercium jelas. Tidak ada yang bisa menjamin kalau kamu tidak akan mengulanginya lagi


Apa yang tertinggal dari perselingkuhan. Bekas lukanya yang mampu membuat hilangnya kepercayaan. Kita begini saja dulu sampai hatiku bisa menerima.


Kalau mau berubah buktikan, aku ingin lihat seberapa besar pengorbanmu untuk berubah. Andara sudah menerima takdirnya dia harus menanggung akibat keserakahannya. Tapi ingat, masih banyak Andara-Andara lain diluar sana.


Kamu tampan dan sukses, aku tidak memungkiri itu, cukup memenuhi syarat untuk dijadikan objek wanita pemuja materi. Mereka hanya cukup membuka sel*ngk*ngan urusan akan beres. Sekarang bagaimana kamu menyikapinya” mas amir matanya terbuka lebar, mendengar penuturanku. Kaget pasti. Istri yang dia kenal penurut, berubah hanya dalam satu malam.


Aku syafira, wanita yang sudah matang karena ditimpa kerasnya masalah perselingkuhan. Aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Untuk kedua kalinya.


Aku bisa memaafkan tapi tidak untuk melupakan penghianatan. karena Merubah keadaan seperti semula. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.


... note: pernah mendengar kata bijak, jodohmu adalah cerminan dirimu. Syafira akan bertemu orang yang tepat pada saatnya nanti. Tunggu ya., ...

__ADS_1


... ...


... Terima kasih...


__ADS_2