
“Janda” status yang aku takutkan selama ini ahirnya aku sandang juga. Disini, ditempat ini tidak akan ada yang tahu tentang masa laluku. Jadi akan kunikmati kebebasanku tanpa beban.
Tidak peduli bagaimana jalan ceritaku selanjutnya, biar Tuhan yang menentukan, tugasku hanya berdoa dan meminta. Itu saja.
Enam bulan sudah aku disini, sudah cukup waktuku menyendiri, saatnya melanjutkan hidup. Mendaftar kekampus yang aku inginkan. Tidak ada yang mengenaliku disini jadi aku lebih leluasa tanpa takut untuk bertemu orang baru.
Mencari tempat untuk membuka usaha itu rencanaku selanjutnya . aku tipe perempuan yang tidak bisa diam, harus ada yang aku kerjakan untuk mengisi kekosonganku.
Kesibukan menjadi salah satu cara agar aku bisa melupakan kepahitan hidup selama ini.
Selamat datang hidup baru, kan kusambut bahagia bersama orang-orang dan lingkungan yang baru. Adaptasiku sudah cukup untuk mengenali seluk beluk kota ini. aku sudah bisa mengendarai mobil sendiri setelah melalui kursus satu bulan. Setelah menemukan iklan di pinggir jalan
Berterima kasih untuk mereka yang sangat kreatif mempromosikan usahanya. Dengan cara menempel brosur di tiang perempatan jalan. Teknik pemasaran yang cukup sederhana, tapi banyak membantu. Terutama untukku orang yang baru belajar mengenal lingkungan baru.
Rania sudah ada yang pengasuhnya maryam namanya. orangnya sudah berumur tapi sangat sabar menjaga Rania.
Aku sudah melewati kesulitan di tiga bulan pertama, Rania sempat sakit karena merindukan ayahnya. Itu kata dokter anak yang aku datangi. Lemahnya fisik anakku karena psikisnya kehilangan semangat, dia memanggil ayahnya setiap kali suhu tubuhnya naik. Aku tidak menyerah, aku berikan dia pengertian bahwa kami sudah tidak bisa lagi bersama.
Apakah itu sudah selesai, belum. Aku tahu anakku setiap kali mau tidur dia memeluk foto ayahnya. Aku tidak mempermasalahkan anakku melakukan itu. Asalkan dia tetap tinggal bersamaku sebagai penyemangat hidup. Dialah alasan satu-satunya aku untuk bangkit.
Rania mulai aktif disekolah barunya setelah melewati masa sulit karena anakku tidak mudah tinggal dilingkungan baru. tidak betah, sering menangis sendiri, tidak mau bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Itu menurut laporan wali kelasnya.
Sedih pasti, sebenarnya aku tidak tega mendengar cerita gurunya. Tapi mau bagaimana lagi. kembali kehidupan yang lama, sama saja kembali membuka luka yang mulai mengering. Beribu maaf aku ucapkan ketika putriku terlelap. Kupeluk dia dan kuucapkan kata-kata menguatkan bahwa kita mampu melewati ini semua.
Sepertinya doa ku terkabul, dia bukan saja mulai akrab dengan lingkungan barunya disekolah, tapi juga sudah mulai akrab dengan anak tetangga dilingkunganku tinggal.
Ternyata Tuhan mengabulkan doaku dengan begitu cepat, sekarang batu sandungan untukku melanjutkan cita-cita sudah mulai mengecil, beribu syukur aku ucapkan.
“ini berkas pendaftarannya, selamat datang dan selamat bergabung dalam keluarga besar civitas akademi kampus kami” ucap seorang petugas tata usaha di kampus tempatku mendaftar seraya menangkukan tangan didepan dada sebagai ganti berjabat tangan.
“terima kasih pak, mohon bimbingannya karena saya orang baru disini” jawabku, dengan melakukan hal yang sama
“itu sudah pasti” jawabnya dengan tersenyum ramah, aku membalas dengan senyum yang tak kalah ramahnya juga.
“kalau begitu, saya permisi dulu. Saya mau melihat tempat saya akan belajar nanti”kataku pada laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tahunan itu. Irangnya ramah senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.
“oh, silahkan” ia mengulurkan tangannya mempersilahkan.
Aku berlalu dengan map ditangan, setumpuk berkas pendaftaran dan persyaratannya ada didalam. Kampus ini cukup besar. Gedung rektorat terpampang dengan gagahnya di pintu masuk kampus seolah menyambut dengan ramah setiap tamu yang datang.
Setelah berjalan cukup lama dengan mengikuti petunjuk yang tertera, sampailah aku disebuah gedung berlantai tiga. Dengan dominasi cat berwarna gading, halaman parkir yang sangat luas.terpampang tulisan FAKULTAS EKONOMI dengan kokoh.
Halaman yang sejuk karena terdapat banyak pohon rindang yang terawat. Entah mengapa aku merasa betah untuk belajar disini. Lingkungan yang nyaman dan bersih.
__ADS_1
Kulajukan mobilkku pelan, sambil mengenali arah jalan yang aku lewati. Hari ini aku ada janji bertemu dengan pemilik ruko yang akan aku sewa. Aku memilih lokasi yang tidak jauh dari kampus tempatku melanjukan S2 ku nanti.
Memarkirkan mobil berjejer dengan mobil yang lain, berjalan sambil mengenali ruko yang akan disewakan. Sepasang suami istri berdiri didepan ruko yang kemarin bertuliskan dikontrakkan, masih muda umurnya sekitar empat puluh tahunan.
“apakah mbak yang akan mengontrak tempat ini?” tanya sang istri ramah
“iya betul, apa ibu pemiliknya?” tanyaku kembali dengan senyuman yang tidak kalah ramahnya.
“iya, saya dan ini suami saya. Senang sekali bisa bertemu, silahkan lihat dulu kedalam mungkin ada sesuatu yang mbak butuhkan nanti akan saya perbaiki” jawabnya lagi
Kami berkeliling, bangunan ini cukup luas, dari keterangan sang istri ukurannya 6x10. Lantai atas terdiri dari 3 kamar tidur satu kamar mandi, dan dapur yang cukup nyaman. Semuanya terlihat bagus. Tidak ada yang perlu diperbaiki.
Kulihat setiap sudut bangunan, terlihat cat dan temboknya masih baru,dengan aroma khas yang menyengat. Kusen yang terbuat dari kayu juga masih mengkilap terlihat baru saja di pasang.
“karena ini dekat dengan lingkungan kampus, sebaiknya mbak buka usaha mini market sekalian dengan fotocopyannya. Soalnya dibelakang ruko ini juga terdapat perumahan warga dan kos kosan mahasiswa. Itu sepertinya cocok” ide bagus juga bisa diterima, tapi untuk fotocopyan aku tidak punya pengalaman sama sekali.
Pelan-pelan saja tidak usah buru-buru. Aku sudah pernah memulainya dari awal. Semua memang butuh proses apalagi aku disini baru, tidak mengerti apapun tentang kebutuhan mereka, apakah sama dengan ditempatku dulu.
“sesuai dengan harga yang kita sepakati saya mau untuk dua tahun kedepan bu, sekalian uangnya saya transfer via mobile banking” kataku kepada ibu yang memaki kerudung biru langit ini.
Kemana suaminya, ada disampingnya setia mendampingi kemanapun kami pergi. Entahlah, aku merasa kurang nyaman berbicara dengan laki-laki untuk saat ini. apalagi orang asing, mungkin status baruku juga ikut andil membentuk perasaanku.
Selesai urusan kontrakan, tinggal menemui perusahaan retail yang akan aku ajak kerja sama. Aku sudah menghubungi mereka dari seminggu yang lalu, ditetapkalah hari ini karena atasannya bisa hari ini katanya. Aku hanya mengikuti saja.
Untunglah hari ini orang yang aku temui perempuan, mungkin umurnya sama denganku. Jadi tidak terlalu canggung. Orangnya ramah, kami cepat sekali akrab. Aku merasa nyaman berbicara dengannya.
Oke, cukup untuk hari ini saatnya pulang bertemu Rania, melihat senyumnya untuk menghilangkan penatku satu hari penuh.
Kubuka pintu perlahan, seperti biasa aku masuk kerumah anakku akan menyambutku dengan senyuman dan berlari menghambur ke arahku. Tapi mengapa rumah terlihat sepi hari ini. hanya ada mbak maryam didapur membuat sesuatu.
Aku hampiri dia, perempuan dengan hidung mancung ini menatapku, tatapannya seolah menyiratkan kesedihan.
“ada apa mbak, apa Rania hari ini membuat ulah?”tanyaku perlahan sambil memegang bahunya pelan. Tiba-tiba aku melihat lelehan air mata di pipinya. Dia menangis, tapi dengan cepat menghapus air bening itu. Ada apa ini?
Aku bingung, perempuan dihadapanku ini hanya menunduk lemah
“dimana Rania” persaanku tidak enak, ini diluar kebiasaan. Tidak terdengar tawa riang putriku itu.
“ada dikamarnya bu, Rania panas dari tadi dia tidak mau makan” terkejut dengan pernyataan wanita ini, tentu saja karena tadi sebelum aku tinggal Rania baik-baik saja.
Aku bergegas masuk kekamar anakku, pemandangan memilukan yang tertangkap netraku. Rania berbaring dengan selimut yang menutupi sampai bagian dadanya. Kepalanya terlihat keluar. matanya terpejam rapat.bibirnya menggumamkan satu nama. Badannya menggigil. Terlihat dari selimut yang dipakinya terlihat bergetar.
“Ayah...” hanya satu kata yang keluar dari bibir anakku tapi sudah mampu mengahancurkan hatiku. Bagai ada belati yang menyayat. Tiba-tiba aku merasakan pedih yang tak terperi. Sungguh, hal yang aku takutkan terjadi, tentang Rania kesedihannya mampu melumpuhkan kekuatan dalam diriku.
__ADS_1
Aku menghapirinya, duduk dipinggir ranjang. Kusentuh keningnya dengan punggung tanganku, panas. Bahkan sangat panas. Mengambil termometer yang terdapat dikotak obat. Aku selalu menyediakan ini dari dulu. Untuk mengukur suhu tubuh Rania jika sewaktu-waktu demam.
39.5 angka yang tertera disana. oh, apa yang terjadi dengannya Ya Allah,,,melihat tubuh putriku menggigil, aku panik. Aku angkat badannya menuju ke mobil kugendong sambil memeluk tubuh anakku.
Kuucapkan maaf yang tak terhitung jumlahnya. Atas ke egoisanku memisahkan putriku dengan ayahnya. Tapi aku sungguh tidak sanggup membayangkan suamiku membagi kasih sayangnya dengan wanita lain.
Bagaimana kalau suatu saat dia dan permpuan itu punya anak, bagaimana Rania akan kehilangan sosok ayahnya. Kupejamkan mata, membayangkan kesakitan itu seolah nyata kurasakan. Biarlah hati ini memberikan jarak agar pada saatnya aku dipertemukan lagi tidak akan ada lagi luka yang tergores.
Ku lajukan mobil pelan, Rania dibelakang di pangku mbak maryam. Kasihan melihat wajah wanita ini, kesedihan tergambar jelas disana. kulirik dari kaca depan mobil. Pengasuh Rania itu memeluk dan sesekali mengusap keningnya. Perhatiannya seperti anak sendiri, itulah yang aku suka darinya. Dia begitu tulus mencintai Rania.
***
“ini sudah ketiga kalinya bu, mau sampai kapan ibu membiarkan putri ibu harus menanggung semua ini. dia masih kecil belum mengerti apa-apa. Dan dia harus menanggung sakit karena ke egoisan kalian” kata dokter yang menangani Rania.
Dokter ayu namanya, sesuai dengan namanya wajahnya sungguh cantik, tutur katanya lembut siapapun akan betah konsultasi dengannya. Penjabarannya tentang hasil diagnosa bisa cepat dimengerti oleh orang awam sepertiku.
“saya belum siap dokter, hati saya masih belum bisa menerima perlakuan suami saya” yah, dia adalah satu-satunya orang yang mengerti tentang rumah tanggaku.
Ketika Pertama kali wanita berambut panjang ini mendesakku untuk mempertemukan Rania dengan Ayahnya. Aku terpaksa menceritakan semuanya. Berharap dia akan mengerti dan tidak memaksaku lagi.
“tapi bu, tidak ada cara lain untuk kesembuhannya selain itu. Mengalah lah demi Rania sebentar saja. turunkan dulu harga diri kalian demi Rania. Saya tidak tega mendengarnya memanggil ayahnya berulang-ulang” katanya dengan nada mengiba.
Sungguh hatiku pun sama sakitnya bahkan lebih. Tapi aku tidak sanggup menatap wajah laki-laki itu untuk saat ini karena hatiku masih terlalu rapuh.
“begini saja bu, bagaiman kalau dipertemukan lewat video call, siapa tahu dengan mendengar suaranya bisa membantu putri ibu” itu sarannya ada binar harapan diwajah itu.
“tapi maaf dokter saya sudah membuang semua kontaknya di HP saya, bahkan saya sudah mengganti HP baru untuk menghilangkan jejak ketika keputusan saya sudah bulat untuk menetap dan tinggal dikota ini” jawabanku menghilangkan binar harapan diwajah dokter cantik itu seketika.
Obrolan kami sudahi , sang dokter anak ini mengalah, dia tidak tahu harus memberi saran apalagi untukku yang keras kepala ini.
untuk beberapa hari kedepan putriku akan dirawat disini. Aku datangi ruang tempat Rania dirawat. Dia tidur ketika aku tinggal untuk konsultasi dengan dokter yang menangani Rania.
hanya ada kami berdua diruangan ini, mbak maryam sudah aku suruh pulang, karena aku yang akan menunggui Rania aku ingin selalu didekatnya apapun yang terjadi.
“bunda....” suara Rania parau memanggilku, bergegas aku hampiri, kukecup keningnya lembut dan kupegang tangannya yang lemah. tangan yang Sebelah masih ada selang infus terpasang disana. kembali aku ucap maaf dalam hatiku.
“kapan Rania bisa bertemu Ayah?” pertanyaan itu sukses membuatku lemah, air mata ini tak bisa lagi kutahan. Ada perih yang menyerang hatiku tiba-tiba. Aku tertunduk lemah mencari jawaban apa yang pantas untuknya.
“nanti kalau Rania sembuh, bunda akan bawa Rania bertemu ayah, sekarang makan dulu terus minum obatnya, agar cepat sembuh, nanti bisa ketemu ayah” lagi-lagi kata itu aku lontarkan. Harapan yang tidak mungkin aku kabulkan. Hanya agar putriku semangat untuk sembuh, dan secepatnya keluar dari rumah sakit ini dengan sehat.
“ Kenapa bukan ayah saja yang suruh kesini menemui Rania, pasti ayah juga kangen sama Ranai” kembali sakit ini menyerang, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Air mataku semakin deras mengalir.
Aku memang ibu yang egois, memisahkan Rania dengan Ayahnya. Tapi membayangkan suamiku sedang menikmati kebahagiaannya dengan wanita itu. Membuat hatiku tidak ingin bertemu. Terlebih mempertemukan Rania dengan Mas Amir. Aku takut Rania lebih memilih ikut ayahnya dari pada aku ibunya.
__ADS_1
Biarlah begini dulu untuk sementara, sampai aku siap. Untuk mempertemukan mereka.
Maafkan bunda sayang, bunda lakukan ini karena sungguh hatiku tidak sanggup menanggung kesakitan ini untuk kedua kalinya.