
Sepertinya urat malu mantan suamiku itu sudah putus. Bagaimana dia masih dengan gigihnya mengatakan aku istrinya. Sampai kehabisan akal menghadapinya. Dimarahi, dibentak dihina direndahkan sampai diancampun sudah. Tapi semua itu tidak mempan, seolah apa yang aku lakukan tidak berpengaruh apapun untuknya
Kemarahanku dianggap lelucon, ancamanku dianggap angin lalu. Satu-satunya cara menghadapinya adalah diam. Apapun yang dia katakan aku tidak pernah menjawabnya. Memikirkan kelanjutan hidupku jauh lebih penting daripada melayani bualan buaya itu.
Aku berdiri di depan sebuah bangunan besar yang baru saja diisi barang-barang retail. Yah,ini adalah hasil kerja kerasku. Tidak sia-sia aku menjalankan ini semua. Sudah ada dua gudang besar yang aku punya dikota ini. aku bangga kali ini karena ini murni hasil kerja kerasku tanpa melibatkan siapapun.
Sekarang aku sudah bisa bernafas lega, dua bulan lagi kuliahku selesai. Tinggal menunggu wisuda. Syukur yang tak terhingga aku panjatkan, meskipun dengan jalan yang tidak mudah. Banyak rintangan, kesulitan bahkan hampir menyerah berkali-kali aku alami. Lelah pasti, tapi tekadku sudah bulat bahwa hidupku aku yang menjalani jadi bagaimana kedepannya aku yang harus memperjuangkan.
Ahirnya, setelah tiga tahun aku tinggal dikota ini, aku bersyukur dengan pencapaianku. Kuliah dan karirku berjalan dengan lancar. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kerja keras, kerja cerdas dan doa yang selalu mengiringi langkahku.
Kulangkahkan kaki dengan ringan tanpa beban, berjalan dengan penuh keyakinan. Sebuah gudang, dan perkantoran yang aku desain menjadi satu. Untuk memudahkan aku mengontrol tempat usahaku, kupilih tempat ini karena jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus.
Rumahku sudah pindah, aku membeli rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Lokasi dekat dengan kantor yang baru enam bulan aku resmikan ini. cukup nyaman untuk tempat tinggalku dan Rania.
Masuk keruang kerjaku, setelah manyapa karyawanku yang berjumlah 10 orang. Duduk dikursi dengan meja dan penataan yang futuristik, aku mendatangkan khusus seorang yang ahli dalam mendesain interior kantor. Agar terlihat nyaman dan memberikan banyak inspirasi ketika pikiranku mulai buntu.
Ketukan pintu terdengar, seorang wanita cantik masuk setelah aku persilahkan.
“ini ada undangan penghargaan dari perusahaan mitra kita bu,” namanya meilani. Aku memanggilnya mei. Wanita cerdas lulusan sarjana ekonomi.
Pekerja keras,ulet dan pekerjaannya rapi. Tidak sia-sia aku mengangkatnya menjadi asisten pribadiku. Segala urusan dia yang handle, kalau aku berhalangan. Satu lagi, dia jujur. Nilai plus untuk wanita cantik berambut panjang ini.
“terima kasih mei, oiya selama ibu tinggal kemarin, apa ada kendala” yah, aku serahkan semua urusan untuk meilani selama dua minggu. Aku mengurus tesis.
“tidak ada bu, semua sudah saya tangani. Dari suplayer, dan produsen juga distributor semuanya beres, hanya ada beberapa berkas yang perlu ibu tanda tangani.”
“terima kasih mei, berkasnya bawa keruangan saya” kataku, perempuan muda itu berlalu. Sekejap kemudian datang lagi dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
__ADS_1
Konsultasi dengan dosen pembimbing. Mencari buku refrensi, revisi. Duniaku seputar itu selama dua minggu. Hingga ahirnya semua sudah aku lewati. Fokusku sekarang, beralih keperusahaan ini. lelah pasti, tapi aku menikmatinya. Ada Rania sebagai penyemangat hidupku.
Aku akan menerima penghargaan sebagai wira usaha muda terbaik tahun ini katanya. Dari sebuah bank swasta terbesar yang mengadakan event ini. masih sebulan lagi waktunya. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri. konsultasi dengan desainer butik langgananku. Untuk menyesuaikan dengan tema agar nantinya tidak salah kostum.
Ku tarik nafas panjang, tersenyum membayangkan kilas balik hidupku yang tak kalah dramatis dari sinetron.
Kalau ada yang bertanya bagaimana hubunganku dengan ayahnya Rania. Baik, sangat baik. Jurus diam aku lakukan ketika laki-laki penggombal itu merayuku, sampai ahirnya dia lelah sendiri. tersenyum sambil menahan kebencian itu ternyata sulit. Tapi demi Rania akan aku lakukan agar semuanya terlihat baik.
Kabar baiknya, Rania sekarang mulai paham, bocah kelas dua SD itu sudah mengerti tentang kondisi kami, bahwa kami bukan lagi suami istri. Tapi tetap bisa menjadi ayah dan bunda yang baik untuk Rania.
Namun tidak demikian dengan Mas Amir, laki-laki itu dengan gigihnya mengatakan kalau aku sudah menghasut Rania dengan kebohongan, bahkan dia sempat marah ketika kami berbincang via telepon. Aku biarkan dia meluapkan kemarahannya. Lagi-lagi diam adalah emas. Dan akulah pemenangnya. Dia menyerah, ketika video call dengan Rania tidak sedikitpun menanyakan tentangku, bahkan tidak ingin bicara denganku seperti kebiasaannya dulu.
Satu persatu hidupku mulai terasa ringan, rintangan itu sudah bisa aku lalui. Terkadang perasaan rindu pada bapak dan ibu menggelayut, menangis adalah jalan ketika rindu itu datang. Hanya doa yang bisa kupanjatkan agar keduanya diberikan kesehatan, sampai nanti kami dipertemukan lagi.
Pulang, sesekali pikiran itu terlintas hanya untuk melepas kerinduan ini pada orang yang mencintaiku dengan tulus, menemui ibu dan bapak. Hingga sempat terlintas dalam pikiran ingin membawa mereka tinggal bersamaku disini. Tapi, aku belum berani menampakkan wajah didepan mereka. Pelarianku pasti meninggalkan luka mendalam.
***
“syafira Aini, sebagai the best of young enterprenur if the year” suara pembawa acara lantang menyebutkan namaku di tempat perhelatan sebuah hotel bintang lima dikota ini. Tepuk tangan meriah terdengar keseluruh sudut ruangan perhelatan ini. semua undangan mencari-cari, menoleh kesana kemari. Mencari wajah wajah yang disebutkan MC tadi.
Aku berjalan anggun, dengan gaun menjuntai berwarna maroon, hiasa payet tersemat sederhana, dengan lilitan kebelakang leher dan sisa jilbabnya menjuntai kebelakang. Sepatu dengan heels setinggi 5cm menjadi pilihanku. Senyum mengembang mengiringi langkahku.
Ratusan mata para undangan yang hadir di ballroom hotel ini, mengiri langkahku menuju panggung untuk menerima trofi penghargaan.
Bangga, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu. Ini adalah bonus pencapain kerja kerasku. Tidak pernah terpikirkan bahwa aku akan berada di titik ini sekarang.
Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa tidak pernah terpikirkan untuk menjadi seorang pengusaha seperti sekarang. Ternyata peristiwa menyakitkan yang aku alami membawa hikmah tersendiri untukku. Jatuh bangun aku menjalani kehidupanku hingga berada dipuncak seperti sekarang.
__ADS_1
Seorang mengarahkanku untuk mengambil posisi berdiri diatas pentas, tepuk tangan yang tadi ramai sekarang , sudah reda. Seorang pembawa acara mengambil alih situasi.
“pada kesempatan malam yang berbahagia ini untuk memberikan trofi dan piagam penghargaan akan diserahkan oleh CEO GLOBAL GROUP selaku sponsor utama acara ini, kepada yang terhormat bapak fatih kami persilahkan” suara MC itu membuatku terkejut. Apa-apan ini
Dadaku berdebar hebat, rasa tidak nyaman seketika menyelimutiku. Hawa panas ruangan ini menyeruak masuk ke indra pernafasanku. Puluhan pendingin udara seolah tidak berpengaruh apapun.
Rasa bangga, yang dari tadi menumpuk di dada hilang seketika. Musnah berganti kecewa yang tak terhingga. Aku menunduk bagaimana aku lupa, bahwa cabang perusahaan ini ada diseluruh indonesia. Bagaimana aku tidak teliti logo perusahaan ini juga tertera disana.
Aku pikir dia hanya mensponsori, tidak akan terlibat dalam penyerahan piagam. Aku menunduk menyembunyikan wajah diantara rasa malu dan kesal yang datang bersamaan.
Kulirik melalui ekor mata, Aku menatap laki-laki gagah itu berjalan dengan langkah tegap menuju panggung. Seorang model cantik mendekat, dia menyerahkan nampan berisi trofi dan piagam kearah bang fatih.
Laki-laki itu mengambil dan menyerahkan padaku. Aku tidak berani menatap matanya, menunduk adalah caraku menghindari tatapannya.
“selamat atas kesuksesan dan pencapaian anda ibu syafira” ucapan selamat yang terlontar dari bibirnya tidak serta merta membuatku bangga. Ada nada mencibir, seolah apa yang aku dapatkan malam ini tidak ada artinya dihadapan laki-laki yang memakai jas warna navy ini.
“mungkin ada pesan yang ingin disampaikan ibu syafira atas pencapain malam ini, mari kita sambut ibu syafira” suara mc memecah pikiranku. Membangunakan ku dari lamunan tentang rasa malu.
Kata sambutan dengan penuh kebanggan yang sudah aku siapkan dari rumah menguap entah kemana. Hilang entah kemana. Pertemuan yang tidak aku rencanakan mengubah semuanya. Oh, bagaimana dunia sesempit ini seolah laki-laki ini mengikutiku kemanapun aku pergi.
Maju ke arah podium, mengambil mikrophone. Kutarik nafas panjang, menatap lurus kedepan. Laki-laki yang menyerahkan piagam itu sudah duduk kembali ketempatnya semula. Dia mentapku tajam dari barisan orang penting di acara ini. tidak ada senyuman hanya tatapan dingin.
Sedikit nyaliku menciut, aku tidak pernah mendapat tatapan begitu darinya. Didepanku dia akan selalu menjadi orang yang lemah lembut, jahil dan penuh perhatian. Tidak usah aku tanyakan bagaimana perasaannya. Dari tatapan matanya aku sudah tahu kalau dia sedang menahan amarah. Baiklah aku salah, nanti aku akan minta maaf, dia pasti akan memaafkanku. Gampang bukan.
“puji syukur kehadirat Allah, berkat limpahan rahmatNya saya bisa berdiri dengan bangga ditempat ini, terima kasih untuk kedua orang tuaku, dan juga putriku Rania. Semoga penghargaan ini bisa menjadi penyemangat untuk saya dalam berkarya kedepannya. Pesan saya jangan takut gagal, bangkit adalah tolak ukur kesuksesan seseorang dimulai. Selebihnya saya ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dalam kesuksesan saya. Yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.” Itulah kata sambutan yang hanya beberapa yang ku ingat. Untunglah gugup itu bisa segera ku kuasai.
Aku mundur beberapa langkah, setelahnya menunduk hormat, dan berlalu dari panggung. Tepukan tangan kembali terdengar. Sepanjang jalan menuju tempat duduk, ratusan pasang mata kembali menatapku bangga. Aku menunduk hormat. Dan duduk kembali di tempat semula.
__ADS_1
“setelah acara selesai ibu jangan pulang dulu, ada yang ingin bertemu” aku kaget, perempuan yang duduk disebelahku berbisik. Sejak kapan wanita ini duduk disitu dengan menggunakan seragam keamanan GLOBAL GROUP. aku yang tidak memperhatikan atau dia yang tiba-tiba ada disana.