BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
Bab 11. TINGGAL SATU ATAP


__ADS_3

Mertuaku membawaku pulang kerumah tempat tinggalku dengan mas amir. Dari sini mengalirlah cerita bahwa dua bulan yang lalu mas Amir sudah memperkenalkan wanita itu pada ibunya. Orang tua mana yang tidak terkejut mendapati fakta putranya yang dari kecil dididik dengan baik, diajari tatakrama dan agama yang baik, dengan enteng tanpa beban mengatakan bahwa dia ingin menikahi wanita itu.


Pengakuannya yang lain bahwa dia tidak ingin menumpuk dosa karena hubungan mereka itu sudah terlalu jauh dan sudah lama terjalin. Ngilu rasanya hati ini mendengarnya, ternyata sudah lama mas Amir membohongiku.


Sungguh murka mertuaku kala itu, bahkan adiknya Nisa juga ikut memarahi kakaknya. Dengan jelas Nisa mengatai wanita itu tidak berperasaan, pelakor dan banyak sekali caci maki lainnya.


Namun bukannya membatalkan bahkan mereka terang-terangan meminta Ibu dan adiknya nisa untuk membujukku agar mau dimadu.


Dengan lantang mereka menolak. “kalau masih ngotot mau menikahi wanita ini pergi dan urus masalahmu sendiri ibu tidak akan ikut campur. Kamu sudah dewasa sudah mengerti tugas dan tanggung jawabmu sebagai suami. Dan ingat, sekali suami menyakiti istri maka berdosalah dia kepada Tuhannya”. Kata ibu mertuaku kala itu. Tapi cinta seolah telah membutakan hati mas Amir.dia tetap dengan pendiriannya.



Dengan syarat mas Amir tidak boleh menikah secara sah, cukup nikah agama saja, jangan ada perayaan besar-besaran. Syarat yang diajukan mertuaku. Sekarang aku mengerti mengapa tadi tidak terlihat ada berkas-berkas dimeja akad disana.



Aku terkejut sudah pasti. Rasa sakit merasa dicurangi dan dibohongi selama ini jauh lebih menyayat. Pengorbananku seolah tidak dihargai. Pertanyaanku tetap sama, mengapa mas Amir mau kembali pada orang yang pernah membuangnya seperti sampah di masa lalu.



Air mataku tetap mengalir mendengar cerita mertuaku. Kata sah dari para saksi masih berdengung ditelinga. Seolah menyiram lukaku dengan air cuka, perih yang teramat.


“Jangan tinggalkan Amir, jangan sekalipun kamu meminta pisah darinya. Percayalah Amir membutuhkan kamu dia hanya tersesat, sekarang ibu yakin kamu mampu melewati ini semua” itu suara mertuaku, netranya tak berhenti mengelirkan bening. Menggenggam tanganku dengan erat. Akupun tak kalah rapuhnya bibirku terkunci hanya airmata yang semakin deras mengalir.


“Nisa marah dia tidak mau datang kepernikahan kakaknya, cerita tentang wanita itu sudah dia ketahui, tentang masa lalunya. Entahlah ibu tidak mengerti apa yang membuat anakku jadi begitu” suaranya lirih .


“Nasehat om pun tidak dia hiraukan. Sebagai pengganti ayahnya om ini berhak memberitahu yang terbaik buat Amir. Tapi seolah cinta telah membutakan hatinya. Betul kata mertuamu fira, jangan tinggalkan Amir dia hanya sedang dimabuk cinta sesaat. Ketika pengaruhnya hilang dia akan tetap mencarimu. Om tahu betul bagaimana dia mencintai kalian. Kamu dan Rania” itu suara om herman adik dari ibu mertuaku terdengar lirih memohon.


Bahkan tak sempat menyapanya dari tadi. Ada Rania yang tertidur digendongannya. Kasihan anakku mungkin dia kelelahan menangis sampai tertidur. “Taruh dikamar om nanti capek” aku antar om herman sambil menggendong Rania.



Baru selesai menutup pintu kamar Rania terdengar keributan di bawah, ibu mertuaku seperti sedang marah. Aku dan herman bergegas keruang tamu. Pemandangan ini, aku melihat mas amir memeluk ibu yang menangis, dibelakangnya didepan pintu yang tertutup wanita yang baru saja menjadi maduku itu berdiri tertunduk dengan koper besar disampingnya.


__ADS_1


“Tidakkah kamu sedikit saja melihat luka syafira, biarkan dia tinggal disini dengan anaknya jangan ada wanita itu” terbata ibu mertuaku mengatakannya karena tangisnya yang tak juga mereda. “kalian berdua manusia tidak perperasaan” dengan amarah yang meledak wanita paruh baya itu mendorong putranya dengan kasar. “Bawa pergi wanita penggoda itu dari sini ibu tidak sudi melihatnya.” Telunjuknya mengarah ke Andara.



Wanita itu tertunduk semakin dalam. Tidak terelihat wajah sedih atau kecewa disana mukanya datar. “mulai sekarang dan seterusnya Andara sudah menjadi tanggung jawabku, dia akan tinggal disini karena dia juga istriku” ngototnya suamiku membela wanita murahan ini.


“kamu boleh melakukan apa yang menurutmu benar tapi ingat jaga perasaan syafira, dia juga istrimu” dengan emosi mertuaku membelaku.


“biarkan saja bu” menenangkan mertua, membelai bahunya pelan berharap emosinya mereda. “lakukan yang kamu mau sesukamu mas tidak usah pedulikan aku” aku menyerah? tidak. Percuma berhadapan dengan dua orang keras kepala dihadapanku untuk saat ini hanya akan menguras emosi.



“suatu saat kamu akan menyesal dengan perbuatanmu, om berharap saat itu terjadi Syafira masih sudi menjadi istrimu, om pamit kami kecewa sama kamu.” Om Herman melangkah keluar sambil merangkul bahu ibu, tangisnya belum mereda. mungkin bukan sakit hati. Kecewanya seorang ibu terhadap putra kebanggaannya. Panggilanku tak dihiraukan memohon jangan pulang dulu. Setidaknya sampai aku tenang, tapi mertuaku memelukku erat deraian air matanya makin menganak sungai. Melepas kepergian mereka dengan tangis yang tak kalah menyayat hati.



Masuk rumah melewati dua mahluk yang paling aku benci saat ini. “Andara akan tinggal disini” suara mas amir menghentikan langkahku.


“aku tahu lakukan sesukamu jangan pedulikan aku” jawabku pandanganku jauh kedepan aku berdiri mengacuhkan dua sejoli yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“ tanpa kamu menjelaskan pun dia akan tetap tinggal disini. Jadi lakukan sesukamu”


“Satu permintaanku dia akan tidur di kamar tamu” jawabku berlalu menjauh. Berdiam diri di kamar jauh lebih menyenangkan saat ini. Berhadapan dengan mereka membuatku muak.


Mengunci pintu menangis lagi, meratapi nasib. Mampukah aku bertahan dengan ini semua. Sampai kapan?. Berbagai pertanyaan muncul dikepala. Kebahagiaanku sudah hancur bersama dengan kedatangan wanita pembuat kerusuhan di keluargaku. Dimana aku akan meletakkan wajahku. Keluarga harmonis yang aku banggakan sudah karam. Tuhan, seandainya aku punya kekuatan aku ingin saja berpisah. Tapi ikatan tali cinta ini terlalu kuat menjeratku.



Terlalu banyak alasan untukku pergi dari kehidupan mas Amir tapi hanya satu alasanku untuk tetap bertahan, terlalu kuat cinta ini dan status janda yang akan disematkan orang untukku menjadi ketakutanku yang lain.


Bayangan seperti apa biduk rumah tanggaku kedepannya aku tidak tahu. Mengapa tega mas Amir melakukan ini semua bahkan aku yang tidak siap pun harus menerima kesakitan yang bertubi-tubi.


Menikahi wanita itu sudah cukup membuatku terluka dan sekarang dia mengajaknya tinggal diatap yang sama denganku. Mau tidak mau aku akan melihat mereka setiap hari dan waktu. Apakah memang sengaja mereka melakukan itu untuk melukaiku teramat dalam rasanya aku sudah tidak sanggup.


__ADS_1


Ketukan pintu terdengar, suara suamiku. Aku tidak sudi membuka pintu, aku tidak perduli. Apapun yang akan dia katakan hanya akan menambah lukaku. Ketukan berulang, rupanya suamiku masih belum menyerah. “sayang tidak bisakah kita bicara sebentar saja?”. Apakatanya sayang. Hah, terdengar manis tapi perutku tiba-tiba mual mendengar kata-kata manis suamiku.



Mempersiapkan hati dan pikiran sampai ahirnya aku membuka pintu kamar, dua orang didepanku akan melangkah masuk, sebelum ahirnya aku tutup kembali. Raut muka terkejut tergambar disana. Saling berpandangan dan jangan lupakan tangan yang saling menggengam erat. Cih, jijik sekali aku melihatnya.



“bisa kita bicara tanpa emosi, berbicara baik-baik sebagai keluarga” suamiku menatapku memohon.


“kita bicara dibawah” tanpa menoleh aku menuruni tangga dua sejoli mengikutiku dibelakang memang apa yang mau dibicarakan.


“Sekarang Andara sudah menjadi istriku” Suamiku memulai setelah duduk disofa ruang keluarga.


“terus...” Itu suaraku ketus sekali, tanpa menoleh pastinya. Dan perempuan itu diam disebelah suamiku


“Aku harap kamu baik-baik padanya, kita akan tinggal disini bersama-sama sampai nanti menua bersama” nadanya pelan namun tajam sampai ketelingaku lebih bik diam mendengarkan saja.


“kamu sebagai istri pertama, mas harap bisa membimbing Andara, anggaplah dia adikmu”


“maaf aku tidak punya adik” aku memotong dengan cepat enak saja anggap adik, Pelakor iya.


Suamiku tertunduk dalam sesaat dia mengatur nafasnya, menoleh pada istri barunya tatapan mereka bertemu ingin rasanya aku mencakar muka mereka muak aku, sungguh.


“dengarkan dulu sampai selesai” itu perintah kepala keluarga yang dzalim pada salah satu istrinya.


“beri tahu dia tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri, apa yang boleh dan yang tidak boleh dia lakukan dirumah ini. Ajari dia memasak, membersihkan rumah”


“aku g bisa han... memasak membersihksn rumah aku tidak bisa..”uuuuhhhh... manja sekali suara maduku ini. Seketika mas amir menghentikan petuahnya melihat julietnya tiba-tiba merajuk sambil memegang tangan yang sudah melingkar di lengannya. Semakin membuatku benci saja.


Hani itu nama panggilan andara untuk suamiku, panggilan itu sudah mulai dari mereka pacaran dulu ternyata masih dipakai.


“dia bukan orang yang baru menikah, sudah pernah menikah. Itu artinya tidak usah diajari tentang itu semua, seharusnya sudah berpengalaman, kalau hanya hal yang tidak penting ini dibicarakan tak perlu sok formal.dia janda kan?” suaraku meninggi. Tak sudi mendengar rengekan membuat kupingku panas saja.


Untuk kesekian hatiku bagaikan diremas, kuucapkan selamat untuk kalian berdua yang telah berhasil membuat luban luka yang baru diatas lukaku yang belum kering.

__ADS_1


__ADS_2