BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
HATI YANG HAMBAR


__ADS_3

Entah mengapa hatiku sedih melihat Andara berkemas, pagi ini dia sudah akan kembali kerumahnya, selesai tugasnya merawat orang tuaku, aku yang akan melanjutkan.


Aku peluk kenzy dalam gendongan, bocah gembul ini sangat lucu. Dia memelukku erat Seolah berat untuk berpisah.


Satu bulan aku mengenalnya, aku merasa punya kedekatan emosional dengan anak ini. aku sempat membencinya karena salah paham, tapi sekarang aku menyayanginya. Bahkan benar- benar menyayanginya.


“saya pamit pak...maaf kalau ada salah selama merawat bapak” Andara mencium tangan bapak, wanita itu terisak. Entah mengapa aku seperti tidak ingin berpisah darinya. Aku sudah tidak mengenal Andara yang dulu, yang ada sekarang adalah Andara yang baru, sifat keduanya seperti langit dan bumi.


Apapun kesalahannya di masa lalu aku sudah ikhlas memaafkannya. Semua orang pasti punya kesalahan. Dan setiap orang berhak atas kesempatan kedua, jika hatinya benar-benar ingin berubah. Tuhan sudah memberikan hidayah untuk Andara. Dia berubah menjadi sosok baru yang jauh lebih baik.


Dia melakukan hal yang sama untuk ibuku, memeluk erat ibuku sambil terisak.


“jaga kehamilanmu jangan sampai capek, dengarkan saran dokter, nurut apa kata suamimu. Singkirkan dulu keras kepalamu sekalipun demi kebaikan. Kesehatanmu dan bayimu yang utama. Andara dengar ibu kan nak?” sungguh, aku merinding mendengar nasehat panjang ibu untuk Andara. Haru tak dapat ku tahan.


“Andara dengar bu, terima kasih sudah menyayangi Andara. Seperti anak kandung sendiri. semoga Allah melimpahkan kesehatan untuk bapak dan ibu” mereka melepas pelukan. ibu mengusap air mata di pipi Andara. Aku bahagia melihatnya.


Wanita hamil itu beralih menatapku, air mata masih menggenang di pelupuk matanya


“Maafkan saya mbak, sudah membuat kalian menderita. Maukah mbak Fira memaafkan saya” aku tidak kuat menahan air mata ini aku peluk dia erat, bahkan sangat erat.


“apakah mbak fira memaafkan saya?” tanya nya lagi


“diamlah, menurutmu untuk apa aku memelukmu. Berhentilah minta maaf. Seharusnya mbak berterima kasih karena kamu sudah banyak membantu bapak sama ibu” kataku, kami sama terisak. Sesak dada ini seolah ada beban berat yang menindih.


“tidak bisakah kamu tinggal walau sebentar disini, mbak masih ingin bersama kenzy” aku memohon. Aku tidak berbohong aku tidak ingin berjauhan dengan bocah lucu ini.


“karena mbak Fira sudah disini. Saya ingin mengurus mas Angga, sambil persiapan menunggu lahiran.”jawabnya. kami melepaskan pelukan. Berdiri berhadapan.


“mbak, kalau terjadi apa-apa dengan saya nanti tolong jangan benci kenzy. Dia tidak tahu apa-apa. Saya ibunya yang pantas dibenci” apa yang dibicarakan Andara aku tidak paham.


“jangan bicara begitu, kamu akan melahirkan dengan selamat, dan hidup bahagia dengan keluarga kecil kalian, jadi jangan berpikiran buruk yang hanya akan mempengaruhi kehamilanmu” aku bingung dengan ucapan wanita hamil ini.


“tante, kenzy jangan di bawa Rania tidak ada temannya” Raniaku merengek


“nanti kan kenzy bisa main kesini” Angga yang jawab, pria itu dari tadi hanya menjadi penonton keharuan kami, demikian juga dengan ayah Rania.


“saya permisi mbak” suara Angga. Setelah semuanya siap. Setelah, Mas Amir membantunya, memasukkan semua barang-barang Andara ke mobil.


Kami semua melambaikan tangan sampai mobil itu hilang dari pandangan.


Kami masuk kedalam rumah, entah mengapa suasana rumah ini terasa sepi sepeninggal Andara. Ada satu hal yang mengganjal hatiku. Nasehat ibu untuk Andara. Aku penasaran.


“ibu nasehati andara panjang lebar tadi sebenarnya ada apa?” aku menggandeng tangan ibu masuk ke dalam. Wanita ini menarik nafas berat seperti ada beban yang hendak dikeluarkan


“kelahiran kenzy itu keajaiban, ibu dan anaknya selamat” berhenti sejenak


“dokter tidak menyarankan Andara untuk hamil lagi, tapi dia ngotot. Bahkan setelah kehamilannya berumur empat bulan dia baru ngaku kalau hamil lagi. takut disuruh gugurkan sama suaminya karena terlalu beresiko.”oh, ahirnya aku paham sekarang, tapi penyakit apa ya?


“sayang, hari ini kamu sama Rania ikut mas kekantor ya, kita jalan-jalan. Satu bulan disini kamu belum kemana-mana” ajakan ayahnya Rania, tapi aku malas. Sungguh, aku tidak mengada-ada. Ahir-ahir ini aku merasa badan cepat lelah.

__ADS_1


“lain kali saja hari ini aku capek” jawabku asal.


“Ayo bunda, kemarin ayah janji mau ngajak Rania kekantor Ayah. mau ya?” suaranya antusias, demi tidak mengecewakan Rania. Baiklah


“lho, bukankah perusahaan mas bangkrut?” benarkan aku. Itu juga yang diceritakan bang Fatih waktu dia mengajakku makan malam.


“itulah alasannya mas tidak langsung menjemputmu, mas mempersiapkan semuanya. Jadi ketika kamu pulang perusahaan itu sudah bangkit lagi” oh, ya... sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana bisa perusahaan itu bangkit lagi. Tapi aku yakin laki-laki ini akan besar kepala.


“baiklah, tapi ingat yang aku lakukan semuanya demi Rania” kataku tegas


“oke, mas mengerti”


Mobil berjalan pelan, aku diam tidak tertarik berbicara untuk mahluk disampingku ini.


“sayang...” panggilnya pelan


“hmmm...” hanya itu yang keluar dari bibirku


“apakah kamu masih marah?” apa alasanku marah, bukankah masalahnya sudah jelas, hanya salah paham.


Sebenarnya aku malu mengakui kalau aku salah apalagi harus minta maaf. Entahlah aku juga tidak tahu perasaanku sekarang. Hatiku biasa saja untuk ayahnya Rania.


“tidak...”tatapanku fokus keluar jendala, memperhatikan jejeran pohon dipinggir jalan.


“kamu mau berjanji satu hal” apa-apaan dia. Memang aku harus berjanji apa. tatapanku tajam kearahnya.


“jangan marah dulu, berjanjilah mulai sekarang kalau ada masalah dibicarakan bukan dihindari, kadang kan mas tidak mengerti salahnya dimana” bahasanya pelan tuturnya lembut seperti menjaga perasaanku, tapi yang sampai ditelingaku adalah sebuah sindiran yang mengarah pada penghinaan.


“bunda...pelankan suaranya” Tuhan, aku lupa kalau ada Rania dibelakang.


“iya,,,iya,,,mas minta maaf mas yang salah” aku kesal sekali. Nafasku memburu.


Dari pertengkaran ini dapat diambil kesimpulan, perempuan tidak pernah salah, dan bukan rahasia lagi yang bersalah lebih ganas. Aku akui untuk kasus tiga tahun lalu aku bersalah.


Entah mengapa melihat wajah tersiksa ayahnya Rania memberikan kepuasan tersendiri untukku.


kami turun didepan kantor suamiku, suasananya masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah.


“Ayah keren punya kantor sendiri” suara Rania.


“ berkat doa bunda dan Rania, usaha ayah berjalan lancar” jawab Mas Amir mengusap kepala Rania.


“masuk sayang” ajaknya. Rania menggandeng tangan kiri ayahnya laki-laki itu menggapai tanganku untuk digandeng, aku tepis tidak sudi aku dipegang. Wajahnya bingung menatapku, aku pura-pura bodoh.


“selamat datang ibu Syafira, serempak karyawan yang aku lewati berdiri dari kursi kerjanya menyambutku. Aku pasang senyum manis.


“terima kasih sambutannya, silahkan bekerja kembali saya hanya melihat-lihat sebentar” kataku pada mereka


Serempak duduk kembali. Aku berjalan menuju ruang kerjaku. Mas amir mendahuluiku membukakan pintu untuk kami.

__ADS_1


“wah, lebih bagus dari waktu itu bunda. Ada banyak fotonya bunda sama Rania disini. Itu juga ada, disana juga” jarinya menunjuk beberapa foto yang terpasang didinding.


Banyak sekali fotoku dan Rania disini. Ada yang berdua, sendirian. Di meja kerja foto kami bertiga yang diambil wefie waktu itu, mas amir yang memegang kamera.


“ayah memasang foto kalian disini sebagai penyemangat, kalau ayah merasa lelah, kangen, terus merasa sendiri. ayah akan duduk disini memandangi foto kalian, sambil membayangkan suatu saat kita akan hidup bahagia seperti dulu. Setelah itu semangat ayah bangkit lagi” jawab suamiku, hatiku terenyuh mendengarnya.


Aku tahu tekadnya untuk berubah sangat kuat tapi hatiku merasa hambar. Tidak ada rasa tersentuhnya dengan semua kebaikan yang dilakukannya.


Seseorang mengetuk pintu, Mas Amir membukanya. Aku lihat edo memberikan berkas ke tangan Mas Amir.


“sayang ,lihat ini laporan keuangan selama tiga tahun” menyerahkan berkas tiu ketanganku. Aku beranjak duduk di sofa.


Ku buka satu persatu, lembar demi lembar laporan ini. grafiknya enam bulan pertama kepergianku masih stabil. Enam bulan berikutnya grafiknya terjun bebas. Setelah itu mulai naik terus merangkak naik sampai di menunjukkan nominal keuntungan yang sekarang. Jujur aku kagum dengan cara kerja laki-laki ini.


Kulihat laporan setelah kolaps. Aku penasaran dapat dari mana dia sumber dana sementara waktu itu dia menolak tawaran bang Fatih. Dilaporan tertulis modal sendiri.


“kamu dapat dari mana modal usaha ketika bangkrut kemarin” sungguh aku penasaran


“uangmu sayang, maaf ya mas pakai dulu soalnya mas tidak suka pinjam modal dibank” uangku, bukankah uang yang direkeningku sudah aku kuras semua isinya”


“jadi, laba dari perusahaan ini setiap bulan mas masukkan ke rekening kamu, sampai ketika mas butuh, mas pinjam dulu untuk modal usaha. Sekarang sudah balik lagi, lebih malah. Nanti kamu lihat dirumah ya. Mas sudah cetak tiap bulan” ada wajah bangga tercetak disana. cih, aku tidak simpati sama sekali


“maaf bukannya aku sombong, uangku juga banyak. Jadi jangan sok baik simpan saja uang itu” aku tidak ingin di cap cewek matre. Sama orang nggak mau tapi sama uangnya mau.


“mas tahu, tapi kan ini perusahaanmu mas hanya menjalankan saja” kenapa dia tidak marah ya. Seharusnya dia terhina terus marah aku pasti senang melihat wajah kecewanya. Baik aku akan pancing dengan cara lain.


“kamu tahu apa yang membuatku bahagia”.wajahnya berbinar, percaya diri sekali dia ketika aku mengatakan itu


“apa katakan”senyum cerah muncul diwajahnya.


“kamu dipecat dari kantor BUMN, padahalkan itu cita-citamu dari dulu” aku puas mengatakannya.


“oh ya, sama dong. Mas juga bahagia. Jadi bisa lebih fokus mengurus perusahaan ini, coba lihat grafik keuntungan sebelum dan sesudah Mas tidak bekerja lagi” aku benci lihat wajah bahagianya aku ingin dia terkuka, kecewa karena ucapanku tadi.


“sudahlah nggak penting juga di bahas”jengkelnya aku, gagal usahaku membuat dia sengsara.


“sayang kenapa? ” tanya Ayah Rania heran melihat perubahan sikapku.


“kenapa bunda kalau sama ayah marah-marah terus” aku diam, karena itu lebih baik sekarang. aku juga bingung dengan ayahnya Rania ini bawaannya pengen marah saja.


aku tidak benci Mas Amir, hatiku tidak lagi sama. perasaan ini benar-benar tidak bisa ku paksakan.


" boleh aku jujur? " kataku perlahan, aku harus mengatakan ini aku tidak mau Mas Amir berharap lebih


"katakanlah Mas akan mendengar kan" senyumnya tulus, dia duduk d isofa sebelahku. Rania duduk di meja kerja ayahnya.


"hatiku tidak lagi sama, aku tidak berharap banyak dari hubungan ini. kalau suatu saat Mas ada perempuan yang jauh lebih baik, aku akan ikhlas melepaskan. karena aku tidak mungkin memaksakan kita untuk selalu bersama aku tidak lagi mencintai mu." kataku perlahan. inilah kejujuran ku


dia mendekat ke arahku menggenggam kedua tanganku. menatap kedua bola mataku.

__ADS_1


"Mas tidak akan melakukan kesalahan lagi, Mas berjanji tidak akan memaksa, karena hatimu berhak bahagia. tetaplah disampingku tidak perlu kau mencintai ku. biarkan aku yang mencintaimu. Aku tidak ingin sengsara lagi karena kehilanganmu" yang biasanya berbicara seperti buaya. sekarang dia berkata dengan tulus. matanya berkaca-kaca. dia memelukku erat, mengusap bahuku sesekali dia mencium kepalaku yang tertutup hijab.


Aku pasrah, biarkan jalan hidupku Tuhan yang mengaturnya.


__ADS_2