
Kulakukan tugasku seperti biasa, menyiapkan sarapan, untuk mas Amir dan istrinya terutama untuk Rania. Duduk bersama dimeja makan, menikmati sarapan tanpa bersuara.
Setelah kejadian aku dibentak pagi itu, aku lebih banyak diam, hanya sesekali berbicara pada Rania selebihnya aku tidak peduli.
Ternyata bersikap masa bodoh juga sangat nyaman di situasi seperti ini. Kulakukan semua kewajibanku sebagai istri agar Tuhan tidak melaknatku. Kecuali kewajiban di atas ranjang, karena suamiku tidak pernah memintanya.
Aku sadar untuk urusan yang satu itu mungkin Andara lebih menarik, sehingga suamiku tidak membutuhkanku lagi.
Menata menu sarapan di meja makan, sendirian seperti biasanya. Menunggu penghuni yang lain keluar. Kulihat jam di ruang keluarga. setengah tujuh, Mas Amir dan istrinya baru keluar ada sakit juga cemburu disana. keberadaanku disini tidak lebih hanya pelengkap saja.
“han...nanti aku mau kesalon, setelah itu arisan sama teman-teman. Bolehkan?” maduku membuka pembicaraan. Kulirik suamiku dia mengangguk sambil tersenyum. Hebat bukan, ada aku disini, berdiri dihadapannya. Hanya dianggap patung saja. Jangankan senyum melihatku saja tidak.
Kabar gembiranya, rasa sakit ini tidak separah dulu, kekuatan kesakitan sudah berkurang meskipun hanya sedikit. Melihat kemesraan mereka memberikanku kekuatan lebih untuk melepaskan diri perlahan.
Entahlah aku merasa terjebak main rumah-rumahan di rumahku sendiri. aku sudah tidak merasakan hangatnya pernikahan. Hubunganku dengan suamiku terasa hambar. Tapi romantisme pernikahan Andara dengan Mas amir baru saja dimulai, ironisnya didepan mataku istri pertamanya.
“transfer yah,,” menatap manja suamiku, kembali suamiku menganggukk dengan senyum lembutnya.
“yeeeee...makasih ya” mencium pipi Mas Amir, suamiku membelai lembut rambut Andara. Romantis bukan.
“Hani...aku mau makan diluar ya, aku tidak suka menunya bosen” maduku merajuk wajahnya masam. Setelah melihat menu makanan yang aku masak dengan susah payah. Bagaimana perasaanku? Sakit, selain orangnya tidak dianggap keberadaanya, sekarang masakanku tidak dihargai. Lengkap sudah drama penghinaanku sepagi ini.
Mas Amir menatapku, jangan kira dia akan simpati padaku, percayalah tatapan itu hanya datar seperti menggambarkan rasa tidak enak hati saja tidak lebih. Aku diam pura-pura tidak melihat.
“ayo dong hani...kamu mau aku kelaparan” rengeknya manja, tangannya memegang lengan atas Mas Amir menggoyangnya, persis Rania ketika minta dibelikan boneka kesayangannya.
“ya sudah” setelah menjawab begitu, Mas Amir berdiri menggandeng tangan Andara, berjalan keluar tanpa berbicara apapun padaku. Luka kesekian mereka torehkan tepat didepanku. Aku hanya terpaku memandang kepergiannya.
Semoga nanti hatiku akan terbiasa dengan perlakuan mereka sehingga sakit ini berkurang atas ketidak adilan suamiku.
Tiga bulan aku dimadu, sekarang maduku itu sudah tidak malu lagi minta ini itu merengek dihadapanku. Dan semua yang diinginkannya terpenuhi.
Dari dulu memang aku tidak pernah bertanya dan meminta uang dari suamiku, karena semua uangnya aku yang pegang. Selain gajinya sebagai manajer di perusahaan BUMN, penghasilan sebagai pengusaha property pun akan dia transfer tanpa aku minta.
Itu dulu sebelum wanita pembawa huru hara ini datang. Sekarang, yang masuk kerekeningku hanya gaji, selebihnya tidak ada lagi. Aku cukup paham, keadaannya sekarang berubah. Mungkin suamiku butuh uang banyak untuk memenuhi kebutuhan Andara yang tidak biasa.
Raniaku bangun, setelah memandikan dan membersihkan badannya. Kembali keruang makan. Dia sempat bertanya ayahnya, hatiku sakit. Mereka berdua boleh menyakitiku tapi jangan Rania, putriku ini masih belum siap kehilangan figur seorang ayah.
Dia yang biasa manja, diperlakukan bak putri oleh ayahnya. Tiba-tiba harus tergantikan. Keberadaan Andara bukan hanya merampas Mas amir dariku tapi juga dari putri kecilku. Mudah-mudahan dia tidak akan membenci ayahnya.
“seperti ini perjanjian kerjasamanya bu,,,”seorang sales menyerahkan contoh lembar kerja sama dari perusahaan retail. Aku berhadapan dengan dua orang laki-laki dihadapanku mereka sales dan utusan perusahaan retail yang mau bekerja sama denganku.
“oke saya pelajari dulu nanti keputusannya saya hubungi anda” mengambil kertas dari tangannya, membuka dan membaca point-point pentingnya saja, selebihnya nanti aku pelajari lanjut.
“ini nomor Hp. Saya, hubungi nomor yang ini saja. Bu,” laki-laki yang satunya menjawab. Penampilannya lebih rapi dengan kemeja dan celana serta sepatu yang mengkilap. Usianya masih muda sekitar 20an.
“oke nanti saya hubungi yang ini saja, terima kasih penawarannya” menunjuk kertas berisi tulisan deretan nomor HP ditanganku,kemudian menjabat tangan bergantian.
“semoga ibu menjawab iya, karena nanti ibu mendapat pelatihan dan perusahaan kami. Itu sudah ada dalam SOP kami, selain itu ada bonus penjualan setengah tahunan juga bonus penjualan tahunan ” aku mengangguk mengerti. keduanya pergi setelah berpamitan.
“Aneh enggak sri, cepat sekali kita mendapatkan penawaran. Padahal toko retail yang lebih besar dari kita banyak, kenapa mereka memilih kita ya” kepalaku penuh tanda tanya.
__ADS_1
“bukan kita tapi ibu, ini kan toko ibu, sudahlah bu, namanya rejeki kan tidak ada yang tahu, mungkin tuhan mendengar doa ibu” tatapanya lurus kedepan.
“Semoga saja, amin...”kuusap wajah dengan kedua tangan. Doaku sungguh tulus dari dalam hati. Sri ada benarnya, mungkin Tuhan sedang memudahka jalanku, agar aku bisa melepaskan diri secara perlahan-lahan.
Entah mengapa aku lebih betah berlama-lama ditoko daripada dirumah sekarang. Seandainya tak takut sri curiga aku ingin menghabiskan siang dan malamku disini. Mungkin aku butuh ketenangan, hatiku terlalu lelah menerima segala kesakitan ini.
Jam 8 malam, aku menemani Rania belajar membaca di ruang keluarga, lengkap dengan buku dan pensil mewarnai. Selesai aku membereskan sisa makan malamku dengan Rania.
Terdengar langkah kaki mendekat. Ternyata suamiku, aku lihat wajah lelahnya. Aku memang tidak datang menyambut karena biasanya Andara yang melakukannya. Bukan aku tidak mau, tapi memang sepertinya Mas Amir lebih senang Andara yang menyambutnya. Sekali lagi aku cukup tahu diri.
Aku menoleh sekilas, Suamiku masuk sendiri kemana Andara? Duduk di meja makan melonggarkan dasi dan membuka kancing atas kemejanya. Menggulung kedua lengan panjangnya sampai siku.
“bunda tidak masak makan malam” tanyanya masih dengan raut wajah lelahnya
“aku sama Rania sudah makan” diam sejenak
“beberapa hari ini makan malam selalu sisa, biasanya kan makan diluar” lanjutku dengan suara pelan
“aku lapar boleh, minta tolong bikinin aku makan malam” pintanya memelas. Beranjak mendekat kearahku duduk lesehan menemani Rania dimeja belajar kecilnya. Aku jadi tidak tega, sekalipun dia sering menyakitiku. Tapi aku tidak bisa benar-benar membencinya.
“Rania sama ayah dulu yah, bunda mau bikinin ayah makan” pamitku pada Rania seraya beranjak kedapur.
“Menyalakan kompor, memasa wajan diatasnya, menuang minyak goreng sedikit. Memecah telur langsung diatas wajan karena suamiku lebih suka telor ceplok dari pada telur dadar. Menaburi sedikit garam diatasnya. Kecilkan api agar matangnya sempurna sampai kuningnya.
Untung Masih ada nasi rice cooker, cukup untuk porsi makan malam Mas Amir. Menyendok nasi keatas piring. Sambil menunggu telur matang, membolak balik kedua sisih telur bergantian. aku tinggal merendam bekas tempat nasi.
Selesai, aku taruh telur diatas nasi panas.
“iyah,,,,”dia berdiri setelah mencium kepala Rania. “mau dibikinin sambel?” tanyaku
“tidak usah, aku mandi dulu” jawabnya sambil berlalu Masuk kekamarnya dengan Andara. Bukan keatas kekamar kami. Sakit...?? tidak, untuk yang satu ini aku sudah terbiasa. Bahkan sebagian bajunya sudah ada disana.
Kulihat dia menyantap makanannya dengan begitu lahap, jelas terlihat bahwa dia memang benar-benar kelaparan, dulu aku akan menemaninya sambil bercerita. Tapi sekarang keadaannya menjadi canggung, aku tinggalkan dia dimeja makan setelah menyiapkan air minum.
“Rania ngantuk, bobok bunda” suara Rania menyadarkanku dari lamunan.
“dirapikan dulu buku-bukunya baru bobok ya” sambil membantunya merapikan meja belajar dan buku yang berserakan di lantai. Kulihat mas amir menghampiri rupanya makannya sudah selesai.
“Rania tidak mau ngobrol dulu sama ayah” tanyanya
“Rania capek ngantuk,,,” terasa ada jarak antara rania dengan Ayahnya aku tidak pernah mengajarinya. Sejak kejadian pembentakan pagi itu Rania seperti menjaga jarak dengan ayahnya.
Jam 9 aku kembali kekamar setela menidurkan Rania, aku melihat suamiku masih duduk diruang keluarga menonton TV. Tapi tatapannya kosong, sesekali aku lihat dia menarik napas berat. Aku tidak peduli saatnya, istirahat besok agendaku mempelajari berkas kerjasama, mencari toko yang lebih luas. Bismillah, mudah-mudahan semuanya lancar.
Mas Amir melihatku sekilas, ada tatapan menghiba disana aku tidak tahu. Masuk kekamar merbahkan badan. Ah, nikmatnya istirahat.
Sampai ahirnya pintu kamar terbuka, sosoknya muncul dibalik pintu.
“bisa aku tidur disini” aku duduk rasanya aneh suamiku minta ijin tidur dikamarnya sendiri.aku mengangguk pelan
“kemana Andara?”tanyaku
__ADS_1
“pergi sama teman-temannya” jawabnya singkat
“sudah beberapa hari ini dia selalu pulang larut malam” tambahnya
“oooo....” hanya itu yang keluar dar mulutku.
“boleh aku tanya sesuatu” Mas Amir menatapku sekilas kemudian menunduk
Ku anggukkan kepala.
“apakah diluar sana kamu ada laki-laki lain?” pertanyaan itu pelan bahkan terkesan hati-hati. Tapi yang ditangkap indraku bagai ada palu besar yang menghantam dadaku sakit sekaligus terkejut
“kita tidak sama, sekalipun kamu menghianatiku tapi aku tidak pernah berniat menghianatimu” suaraku tekan pelan rahangku mengeras.
“setelah kamu mengatakan aku wanita murahan, sekarang menuduhku selingkuh, sedangkan dia yang jelas-jelas tiap malam pulang larut tidak kamu curigai, hebat sekali suamiku ini” serendah itukah aku dihadapannya. ku tahan amarah agar tidak meledak, sudah jam 9 malam. Rania baru saja tidur bisa-bisa dia kaget mendengar teriakanku.
“kalau kedatanganmu kekamar hanya mau menuduhku, keluarlah” masih dengan nada rendah penuh penekanan. sesak didada atas ucapan keji suamiku.
“aku tidak bermaksud menuduhmu, hanya saja. Kita tidak pernah berhubungan selama tiga bulan, apa...”pertanyaannya menggantung. Oke aku paham maksudnya
“iya, seharusnya kita sudah jatuh talak satu karena kamu mengabaikan nafkah bathin, tapi tenang saja aku tidak mempermasalahkan. sampai saat ini kita masih sah suami istri dan aku masih bisa menjaga kehormatanku sebagai istrimu.”
Aku tidur membelakanginya bodoh amat aku tidak peduli. Dia sudah membuat sayatan diatas luka yang belum mengering. Hatiku terlalu hancur, bahkan untuk sekedar mendengar suaranya aku tidak sudi.
Jam setengah tujuh pagi aku sudah rapi dengan gamis warna tosca, dengan hijab warna senada, aku sudah sarapan telur dadar kesukaan Rania, kami hanya membuat sarapan untuk dua orang.
Melewati meja makan, aku melihat Mas Amir menatapku bingung, sepagi ini aku dan rania sudah siap berangkat.
“Mau kemana” tanyanya, jangan lupa dia duduk sendiri tidak ada istrinya disana
“mau berangkat” jawabku singkat memang apa lagi
“sepagi ini, bahkan kamu belum membuatkanku sarapan” berbicara sambil menatapku tajam dia berdiri mengahampiriku dan Rania.
“mulai pagi ini aku tidak akan memasak sarapan, makan diluar saja” jawabku kesal
“mungkin masakanku memang membosankan” lanjutku tanpa menatap suamiku. Syukur kalau dia ingat perlakuannya kemarin padaku.
“tidak bisakah kita seperti dulu”tatapannya mengiba, tapi aku tidak terpengaruh luka ini terlampau perih untuk dihapus hanya dengan kalimatnya tadi.
“maaf sudah terlambat” jawabku sambil berlalu
“aku kangen Rania” dia berteriak sebelum aku masuk ruang tamu. Kuhentikan langkahku
Menoleh sekilas, apa katanya kangen. Aneh, anak ada didepannya dia abaikan demi wanita itu, sekarang dia bilang kangen.
“Ada apa hani,,,masih terlalu pagi sudah ribut” cinderalla sudah bangun masih dengan penampilan khas orang bangun tidur. Tunggu, apa katanya tadi, terlalu pagi? Boleh aku tertawa keras disini.
Pengangguran yang kerjanya hanya menghabiskan uang suami, ternyata tidak tahu kalau sekarang waktunya orang mencari nafkah. Dia kira masih gelap paling diluar.
Kutinggalkan mereka, masih tetangkap di telinga Andara minta ijin liburan minggu depan ke korea bersama teman-teman arisannya. Sakit kembali merambat dalam dada. Aku tidak mendengar jawaban suamiku.tapi aku bisa memastikan bahwa suamiku pasti mengiyakan.
__ADS_1
Semakin jelas tujuan Andara menikah dengan suamiku. Dan bodohnya Mas Amir tertipu untuk kedua kalinya. Semakin hari maduku itu semakin menunjukkan aslinya. Dia tidak peduli suaminya. yang dia dibutuhkan hanya uangnya saja.