BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 22. KUNJUNGAN MERTUA


__ADS_3

Wanita yang melahirkan suamiku itu masuk ke ruang keluarga menghampiri kami. Dibelakangnya seorang wanita anggun mengenakan hijab berwarna warna milo. Menambah anggun wajahnya. Dia adik suamiku namanya Annisa.


“Bukan syafira yang akan keluar dari rumah ini, karena dialah menantu dan istri yang diakui dirumah ini, jadi jangan harap akan ada pernikahan yang kedua” tatapan tajam diarahkan untuk maduku. Dia tertunduk lemah


Aku bangkit mencium tangan mertuaku sebagai tanda hormat, seperti yang biasa aku lakukan.


“ibu duduk dulu, ibu hanya berdua sama nisa kesini?” aku menuntunnya duduk, dadanya naik turun menahan amarah. Suamiku bangkit mengambilkan air minum didapur. Iparku mengikuti ibu dibelakang.


“seharusnya ibu bilang kalau mau datang, saya bisa jemput” suara suamiku, duduk disebelah ibu, sambil memberikan gelas berisi air putih. Bagaimana maduku, dia duduk terpaku di tempatnya. Kepalanya masih tertunduk semakin dalam.


“kalau bukan nisa yang ngajak mampir kesini, ibu tidak sudi melihat perempuan itu disini” jawab ibu masih dengan tatapan tajam untuk Andara.


“iya kak,,,nisa kangen Rania. Tiga bulan lebih kami tidak bertemu” suara nisa lembut. Ah, dia memang lembut dalam segala hal. Beruntungnya laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.


“Rania ada dikamarnya, masuklah mungkin dia main boneka” kataku pada nisa


“permisi ya kak” Nisa meminta ijin. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.


“bawa Rania kesini nis, ibu juga kangen. Ibu tidak kuat harus naik tangga” suara ibu melunak, aku jadi sedkit lega.


Kupijit bahunya pelan, aku sudah menganggap mertuaku seperti ibuku sendiri. tidak ada jarak diantara kami. Hanya saja aku tidak pernah bercerita masalah rumah tanggaku padanya. Kasihan takut membebani. Apalagi mertuaku single parets.


Aku akan bercerita apa yang membuatnya senang. Tentang tumbuh kembang Rania dan kelancaran usaha suamiku. Kepada Nisa pun demikian.


Aku anak tunggal, senang rasanya ketika aku mendapat adik ipar seperti nisa, dia sudah aku anggap seperti adik sendiri. sebelumnya aku dan suamiku akan selalu menyempatkan diri seminggu sekali berkunjung. Kalau Mas Amir tidak sibuk, sekalipun tidak kami akan bertukar kabar lewat telepon.


Rumahku dengan mertua hanya 30 menit perjalanan menggunakan mobil. Kalau dengan sepeda motor lebih lama lagi. aku menyayangi ibu mertuaku sama dengan sayangku kepada ibu kandungku sendiri. Beliau orangnya baik, tidak pernah marah, tutur katanya lembmeut. Didikannya untuk anak-anaknya memang aku akui luar biasa.


Ketika aku melahirkan Rania, beliau menguatkan. Menggenggam tanganku erat dan mencium keningku berkali-kali. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghormatinya. Mencintainya setulus hatiku sebagai balasan atas kebaikan dan kasih sayangnya untukku juga Rania. Aku bersyukur berada ditengah-tengah keluarga yang hangat.


Entah mengapa ketika melihatnya meluapkan emosi untuk Andara aku sangat kaget. Seingatku beliau ini orang yang sabarnya seluas samudera. Tidak ada tatapan dana nada lemah lembut ketika berhadapan dengan Andara. Tatapan tajam penuh amarah, wajah yang tidak pernah ditunjukkannya padaku.


“Kalau kamu mau pisah dengan Amir, ibu orang pertama yang akan menentangmu. Ibu tidak rela siapapun menggantikan kamu” tuturnya, wajahnya masih diliputi amarah. Mas Amir menggenggam tangan ibu sambil mengusapnya lembut. Andara menunduk makin dalam, entah apa yang ada dipikiran wanita itu.


“Hanya wanita hebat yang dengan sabar menemani suaminya yang pengangguran, berjuang bersama tanpa mengeluh. Semoga kamu tidak akan lupa itu Mir...” sambung ibu mertuaku. Tatapan mertuaku lembut kewajah suamiku. Laki-laki itu hanya diam.

__ADS_1


“Perempuan yang datang ketika kamu punya segalanya, percayalah dia akan meninggalkanmu ketika dia menemukan yang lebih dari kamu. Dia hanya menganggapmu sebagai persinggahan semata” sepertinya ibu menyindir Andara. Sungguh aku tidak tega melihatnya.


Posisinya sekarang terpojok. Aku melihat bahunya bergoncang, sepertinya perempuan itu menangis. Aku semakin tidak tega melihatnya, ingin rasanya aku menenangkan dengan mengusap bahunya, tapi aku tidak sedekat itu. Sebesar apapun benciku padanya tetap saja aku merasakan kesedihannya tidak bisa diterima oleh keluarga suaminya sendiri.


Aku lihat suamiku mendekati andara dengan wajah panik. Dia mengusap bahu perempuan itu masih dengan wajahnya yang ketakutan. Aneh sekali, sebenarnya ada apa dengan pasangan ini. Orang menangis sedih kan biasa. Begitu besarkah cintanya pada perempuan berambut panjang itu sampai melihatnya menangis saja membuatnya ketakutaen.


“kenapa,,,kenapa aku tidak bisa bahagia sebentar saja. Kenapa...” itu suara maduku dari pelan semakin meninggi.


“kenapa aku tidak bisa bahagia walau sedikit saja... kenapa...!!!!!!” suaranya meninggi memnuhi semua rumahku. Aku takut melihat wajahnya yang menatapku juga ibu. Tatapannya tajam, matanya merah berlinang air mata. Dia berdiri menghampiriku dan ibu. Rambutnya tergerai acak-acakan didepan wajahnya. Aku seperti melihat sosok lain. Bukan Andara yang cantik, anggun dan berkelas seperti biasa.


“kenapa kalian membenciku apa salahku,,,!!!. Teriakannya semakin keras seperti orang kesurupan. Aku berdiri menggandeng ibu mundur beberapa langkah kebelakang,


“kalian menjauhlah...masuk kekamar kunci pintunya” itu suara suamiku, perintahnya dengan nada ketakutan. Dengan pikiranku yang masih bingung aku menarik tangan ibu pelan untuk menjauh.


“cepat...sebelum kalian menyesal” suara suamiku semakin meninggi. Suasana diruang keluarga ini semakin mencekam. Aku tarik ibu kelantai atas. Aku bingung, tidak mengerti apa yang terjadi dengan maduku itu.


Prannnggg....!!!!!


Suara meja yang terbuat dari kaca pecah berantakan. Pecahannya memenuhi lantai sampai kebawah meja TV yang berjarak 3 meter. Aku naik kelantai atas. Kulihat suamiku memeluk Andara dari belakang, tapi tenaganya kalah, suamiku sempat terpelanting kekanan. Andara semakin tak terkendali, tatapannya nyalang. Membanting apa saja yang ada didepannya.


“bunda, Rania takut... itu suara anakku” aku berlari keatas memeluknya berusaha menenangkan.


Nisa menuntun ibu masuk kekamar


“apa yang terjadi kak...”tanya Nisa padaku setelah ada didalam


“kakak juga tidak tahu.., kamu tolong jaga Rania dan ibu, jangan sampai ada yang keluar kamar sampai keadaan aman. Aku mau kebawah, membantu Mas Amir kasihan dia kewalahan sendirian” aku lihat mertuaku memijit keningnya pelan.


"tidak usah turun ke bawah dulu fir, ibu khawatir sama kamu" menahan pergelangan tanganku.


“ibu tiduran dulu. Tenang tidak akan terjadi apa-apa, percaya sama Fira ya bu” jawabku berusaha setenang mungkin. Hati ini tak kalah takutnya dari mereka. Tapi aku tidak tega membiarkan Mas Amir seorang diri.


Masih dengan pikiranku yang berkecamuk aku turun kebawah. Apa sebenarnya yang terjadi dengan maduku. Apakah dia kesurupan atau ada hal lain.


Keadaan dibawah sangat kacau, aku melihat Andara berteriak histeris sambil membanting dan melempar apa saja yang ada didepannya. Suamiku memeluknya erat dari belakang. Ada sedikit ketakutan untuk mendekat.

__ADS_1


Membulatkan tekad mendekat keruang TV. Darah segar berceceran dilantai, jejaknya mengikuti langkah kaki maduku. Teriakannya semakin tak terkendali


“apa salahku hingga semua orang memusuhiku, kenapa tidak ada yang menyayangiku...!!!” teriaknya mendekat kearah dapur.


“Andara tenang, ada aku disini, aku akan menyayangimu jangan pedulikan yang lain percayalah” kata-kata suamiku membuatku terluka. Perih rasanya hati ini, betapa beruntungnya Andara. Mendapatkan cinta sepenuhnya dari suamiku. Allah...tidak bisakah dia tahan nanti mengatakan itu ketika aku tidak ada. Tangannya melingkar erat di perut maduku.


“Fira, tolong amankan pisau dapur sekarang aku mohon...!!!!” teriakan suamiku membuyarkan lamunanku. Tanpa pikir panjang aku mengambil pisau dapur dan semua benda tajam yang ada disana. kumasukkan kegudang dan tak lupa mengunci pintu dengan segera.


Aku melihat pemandangan yang menyesakkan selanjutnya, mas amir mendekap erat maduku sambil duduk dilantai. Mendekap erat Andara yang masih meronta, suamiku memegang erat kedua tangan andara dan melingkarkan didada wanita itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang.


“tolong ambilkan, obat di meja rias kamar Andara, botol warna putih” suara suamiku lirih tangannya masih mendekap erat andara. Seperti kambing yang di cocok hidungnya aku bergegas kekamar mengambil obat yang dimaksud suamiku. Untungnya, tidak sulit menemukannya.


Jujur ini pertama kalinya aku masuk ke kamar ini setelah mereka resmi menikah. Kamar berantakan seprai yag kusut tak beraturan. Sarung yang terlepas dari bantalnya. Jangan lupakan bau keringat yang menyengat.


Pikiranku melayang, kembali rasa cemburu dan sakit bersamaan datang menyayat hati tanpa ampun. Membayangkan apa yang mereka lakukan dikamar ini.


Secepat kilat aku mengambil obat, segera keluar menghampiri Mas Amir. Tidak ada gunanya cemburu toh mereka sudah halal. Tidak lupa mengambil air dengan gelas. Aku berikan pada Mas Amir. Dia kesulitan membukanya tangannya yang masih memegang Andara sangat erat. Tidak mungkin Mas Amir melepasnya. Aku mengambil satu butir dan memberikan ke tangan suamiku.


“aku tidak mau meminumnya aku tidak mau....apa kamu tuli...!!!” teriakannya memekakkan telingaku. Suamiku dengan sedikit tenaga dan paksaan, memasukkan obat berwarna putih ke mulut Andara. Aku menyodorkan air minum kemulut maduku, tangan suamiku masih sibuk memegang mulut maduku agar terbuka setelah obatnya masuk secara paksa . Bibirku masih diam takut salah kalau bersuara.


Air tumpah sebagian ke lantai, maduku meggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Aku sempat melihat tangan suamiku terluka seperti bekas cakaran. Hatiku tersentuh, tatapan wajahnya sendu, ada gurat lelah tergambar disana. bening itu masih teduh seperti dulu.


Aku baru menyadari suamiku lebih kurus. Baru sekarang kami bertatapan sedekat ini. Aku buru-buru berdiri berjalan kedapur, mencuci gelas dan meletakkan ditempatnya. Pandangan suamiku mengikutiku.


Andara sudah tenang, suamiku menarik napas lega sepertinya maduku itu tertidur. Aku yang masih bingung melihat sekeliling.


Keadaannya porak poranda seperti baru saja kerampokan. Sofa terguling ada yang bergeser tidak pada tempatnya. Guci, meja, sofa semua berantakan. Pecahan kaca bercampur darah menghiasi lantai ruang keluarga. TV terkena lemparan gelas keramik hiasan pembatas ruang tamu dengan ruang keluarga.


***


“aku tidak pernah menginginkan ini bu, aku bersumpah tidak ada niat sedikitpun untuk menghianati istriku, percayalah” ada tetesan air mata yang menghiasi wajahnya. Aku tidak percaya, sungguh, sakit penghianatan ini masih jelas terasa.


Suamiku berbaring dipangkuan ibunya. Setelah membereskan semua kekacauan.


Aku, suamiku dibantu Nisa. Sampai semuanya kembali seperti semula hanya beberapa barang rusak yang tidak bisa digunakan lagi sementara di taruh digudang. Barulah ibu dan Rania aku ijinkan turun.

__ADS_1


Andara di tidurkan dikamarnya, setelah suamiku mengoleskan obat luka dikakinya yang terkena pecahan kaca. cukup banyak beling yang menancap disana. karena amarah dia tidak merasakan sakit sama sekali.


“shalat isya dulu, ibu mau kamu jadi imam untuk kami. Setelah tenang nanti ibu ingin mendengar ceritamu. Setelah kejadian ini ibu percaya, kamu anak ibu yang dulu. Tidak ada yang berubah.


__ADS_2