BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
SURAT ELEKTRONIK PART 2


__ADS_3

Jangan pikir aku akan tersentuh dengan cerita sedihmu, itu tidak akan merubah apapun. Sungguh aku tidak akan tersentuh. Akan aku lakukan semua cara agar aku bisa terbebas dari rasaku padamu.


Kembali,,, pulang,,, atau apapun istilahnya. Hanya akan menambah luka yang pernah bertahta. Jadi biarkan saja semua berjalan dengan caranya masing-masing. Kalau bersama pada ahirnya akan saling menyakiti. Maka perpisahan, adalah jalan terbaik.


Membaca surat kedua membuatku sedikit tidak percaya, benarkah itu suamiku. lebih tepatnya mantan suamiku, ayahnya Rania?. Aku tarik nafas berat. Menghalau rasa sesak di dada, apa yang telah terjadi selama enam bulan terahir?.


Apakah kebiasaan istri baru suamiku belum berubah?. Pulang larut, menghabiskan uang, membeli semua keinginannya, dan bergaya hidup mewah bak wanita sosialita. Bahkan Mas Amir sakitpun keluarganya yang merawat. Dasar wanita tidak tahu malu, dimana tanggung jawabnya sebagai istri.


Dan Mas Amir masih seperti dulu, selalu menuruti keinginan istrinya. Kalau dulu ada aku dan Rania sebagai ancaman agar semua keinginan Andara dipenuhi, aku yakin sekarang laki-laki itu memenuhi keinginannya karena saling mencintai. Oh, mengingat itu hatiku hancur rasanya. Aku yang menemaninya berjuang orang lain yang menikmati hasilnya.


Aku buka surat yang ketiga dengan hati yang masih berdebar, apa yang akan disampaikan lewat surat ini, mengklik lambang amplop. sebuah video?, hatiku bertanya. Tertanggal tiga hari yang lalu, berarti ketika Rania masih dirumah sakit. Ku buka dengan mengarahkan kursor tepat di tanda play.


“Assalmualaikum syafira, ini ibu, maaf mungkin pesan ini akan mengganggumu. Ibu harap kamu bisa membaca secepatnya dan ibu harap ini belum terlambat” wajah ibu, ada apa?. kalau sampai ibu yang mengirim video aku pastikan ini keadaanya sudah tidak baik-baik saja.


“selama kalian menikah ibu tidak pernah mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi maaf, sekarang ibu harus melakukannya. Ibu mengirim pesan bukan sebagai ibu mertuamu. Tapi sebagai orang tua yang ingin menyelamatkan anaknya.” Tiba-tiba rasa sedih menyusup dalam dadaku.


Melihat air mata yang menetes diwajah ibu, menunduk untuk menghapus air matanya menggunakan tisu. Kemudian mengangkat wajahnya memandang kamera lagi.


“fira, kita adalah seorang ibu yang sama-sama menyayangi anak kita. Ibu tahu kesalahan amir tidak akan termaafkan. Tapi tolong hari ini ibu memohon dengan segala keikhlasan fira bantulah ibu, kembalikan anak ibu. lihatlah keadaaannya”


kamera beralih, gambar seorang laki-laki dengan selang infus dan alat bantu pernafasan serta beberapa alat lagi yang tertancap disana. sebuah monitor pendeteksi detak jantung dan kadar oksigen juga terlihat.


Seperti sebuah ruangan perawatan khusus. Dari wajahnya sekilas aku lihat itu adalah ayah Rania, terlihat lebih kurus dengan mata yang terpejam rapat. Kembali kamera mengarah ke wajah ibu.


“itu Amir anak ibu, kebanggaan kami. Harus menderita karena didera penyesalan yang tak berujung, setiap hari, setiap waktu hanya ada penyesalan dalam dirinya.penyakit asam lambungnya memang sudah sembuh, tapi semangatnya untuk sehat sudah tidak ada. Hatinya yang terluka menyebabkan psikisnya yang sakit. Jiwanya kosong, dia kehilangan semangat hidupnya”


perkataan ibu mengingatkan aku pada diagnosa dokter tentang penyakit Rania waktu itu. Mengapa bisa sama, begitu kuatkah kontak bathin antara ayah dan anak ini.


“kalau memang Syafira belum bisa memaafkan anak saya, setidaknya bantulah saya sebagai seorang ibu yang menginginkan kesembuhan anaknya. Pulanglah nak, hanya itu satu-satunya cara yang disarankan dokter. Atau kalau belum bisa pulang biarkan ayahnya Rania mendengarkan suara puterinya. Harapan ibu semoga menyadarkan Amir dari komanya”


Seketika badanku tersentak kaget, kata “koma” yang baru saja keluar dari bibir ibu membuat tubuhku terasa lemas seketika.


Aku tidak punya kekuatan apapun, dada ini berdebar dengan hebatnya. Keringat dingin tiba-tiba menggenang di dahi. Badan bergetar. Separah apa penyakit mantan suamiku sampai dia harus koma.


Aku terdiam beberapa saat. Tak kudengarkan lagi kata-kata ibu setelahnya. Mengusapa air mata yang mengalir tanpa terasa dipipi. Ada rasa iba yang menyeruak masuk tanpa permisi.


“itu eyang ya, Rania kangen” aku menoleh tak kalah kagetnya. Sejak kapan anakku ada dibelakang. Dia duduk disebelahku menatap layar laptop, dan melambaikan tangan seraya memanggil eyangnya. Mungkin dia pikir ini adalah panggilan video.


aku ambil HP Rania secepatnya. Membantu seorang ibu tidak ada salahnya bukan. aku juga seorang ibu yang baru saja merasakan takut kehilangan anak ketika Rania dirawat dirumah sakit. Ibu mertuaku tidak pernah menyakitiku. Dia wanita baik yang memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.


membuka surat pertama karena disana tertera nomor mantan suamiku. memanggil dengan aplikasi berlambang telpon warna hijau. Aku atur untuk panggilan video. Semoga belum terlambat. Itu harapanku.


Berbagai harapan aku rapalkan sambil menunggu panggilan dijawab. Rania yang ada dipangkuanku melihatku dengan heran, aku taruh HP bersandar ke laptop, dan kuarahkan layarnya ke wajah Rania.

__ADS_1


“assalamualaikum Rania...alhamdulillah...engkau menjawab doaku ya Allah...” terdengar sapaan disebrang.


Ku lihat wajah ibu bercucuran air mata. Alhamdulillah, aku belum terlambat. Wajah tua yang penuh harapan. hari menyeruak masuk.


“eyang kangen sayang, ayo Rania panggil ayah nak” ibu mertuaku mengarahkan kamera ke wajah suamiku.


Dengan terburu-buru dan wajah cemas yang tidak mampu lagi ku gambarkan. Betapa terlukanya wanita ini.


“waalaikum salam,,,Rania kangen eyang” jawab putriku.


“bunda, ayah kenapa?” tanyanya memandang wajahku heran.


“ayah sakit, sekarang Rania Panggil ayah ya,,,suaranya yang keras” kataku memberi pengertian padanya. Kuusapa air mata yang masih setia mengalir dipipiku.


“ayah....ayah....ayah....” tiga kali panggilan anakku tidak juga mendapat respon ayahnya.


“ayah bangun,,,,tidak apa-apa kan bunda Rania bangunin ayah” tanyanya lagi. aku hanya mengangguk. Tiba-tiba rasa takut menhantuiku melihat tidak ada respon dari Mas Amir.


“panggil lagi sayang, sampai ayah bangun” jawabku, badanku gemetar rasa gugup tidak bisa kusembunyikan.


“ayah....ayah...ayah bangun....Rania kangen ayah” bertambah deraslah air mataku mendengar suara putriku. Allah... apakah aku berdosa menjauhkan mereka. Seandainya Mas Amir dan wanita itu tidak melakukannya lagi setelah maaf yang aku berikan. Mungkin tidak akan begini ceritanya.


“ayah...ayah...ayah....”. suara Rania bertambah keras, nafasnya ngos-ngosan.


“panggil ayah lagi sayang, eyang mohon Rania jangan menyerah ya,,,”suara ibu mertuaku terdengar memohon. Dan dilayar masih terlihat wajah suamiku.


Pemandangan ini terlalu menyayat hatiku.


“alhamdulillah.....panggil ayah lagi sayang, tangan ayah gerak barusan, ayo Rania suaranya lebih keras”


itu suara mertuaku mengalihkan pandanganku menatap layar HP. Terlihat Mas Amir mulai bergerak pelan.


“ayah,,,ayah,,,ayah...ayo bangun, cepetan...”suara Rania beteriak keras memenuhi ruang tamu rumah tinggalku.


“alhamdulillah,,, mir ini Rania, Panggil Rania nak” suara mertuaku terdengar bersemangat, ada bahagia yang bercampur haru tertangkap indraku.


“ra...ni...aa” suara mas Amir terbata. Kulihat kelopak matanya bergerak. Sampai ahirnya membuka meskipun tidak sempuran.


Tiba-tiba ruangan itu menjadi sangat sibuk, layar menangkap gambar yang tidak beraturan bergerak kesana kemari secara acak. Sepertinya dokter sedang menangani Mas Amir.


“terima kasih Rania, terima kasih Syafira”suara mertuaku sudah tenang meski terdengar nada cemas, tapi tidak secemas tadi ketika aku melakukan panggilan.


seperti terlihat lorong rumah sakit. Ada nada bahagia tertangkap jelas dari rautnya.

__ADS_1


“dokter menangani amir, sudah tiga hari dia koma. Ibu tidak tahu harus melakukan apalagi. Terima kasih nak, kamu langsung merespon pesan ibu. tadinya ibu sudah tidak yakin kamu akan menjawab pesan ibu” kata-kata mertuaku seperti cambuk, aku seolah orang yang kejam tidak mengenal perasaan.


“tidak apa-apa bu, saya yang harusnya minta maaf. Karena ibu harus ikut menanggung ini semua, badai rumah tangga saya memang sudah tidak bisa diselamatkan. Saya memilih pergi dari pada tersakiti untuk kedua kalinya.” Jawabku lirih.


Tak ingin membeberkan permasalahan ku dengan Mas Amir pada ibu, kalau pada ahirnya dia tahu biarlah Mas Amir yang menceritakannya.


“ounty...” tiba-tiba suara Rania mengagetkanku ternyata annisa yang terlihat dilayar dengan wajah tegang.


“Rania, ounty kangen kapan pulang, nanti ounty ajak beli eskrim” wajahny tiba-tiba menampakkan binar bahagia menatap layar.


“kapan bunda?”tanya Rania, dia menoleh ke arahku meminta jawaban. Aku hanya mampu menggeleng.


“sebentar kak, kita dipanggil dokter” kata-kata anisa kembali membuatku takut. Apakah ayah Rania tidak tertolong, seketika pikiran buruk menghantuiku.


“jangan dimatikan teleponnya nis, kakak mau dengar apa kata dokter” bagaimanapun dia tetap ayah Rania. Aku tidak ingin Rania bersedih apabila terjadi hal buruk pada ayahnya.


“iya kak” terdengar suara nisa ngos-ngosan sepertinya dia juga mengalami ketakutan yang sama.


“syukurlah bu, ini sebuah kajaiban. Kita mendapatkan anugerah di detik-detik terahir. Kami tim dokter sudah hampir menyerah, seandainya sampai besok pasien tidak menunjukkan respon. Kita harus membawanya kerumah sakit pusat” sekilas terdengar suara dokter berbicara dengan ibu. aku tidak melihat wajahnya. Gambar yang tertangkap dilayar mengarah ke lantai.


“terima kasih atas kerja kerasnya dokter, terima kasih sudah menolong anak saya” itu suara ibu, kelegaan tergambar seperti baru saja terbebas dari beban berat.


“kakak sibuk nggak, nisa mau ngomong?” layar kembali menampilkan wajah nisa. Iparku yang anggun.


“kakak sedang santai bicaralah, kakak siap mendengar” jawabku.


“dari tiga hari yang lalu, sejak ibu mengirim video itu ke email kakak. Ibu tidak berhenti memegang hape bang amir, kemanapun ibu pergi selalu dibawa, takut sewaktu-waktu kakak nelpon tidak terjawab katanya. Nisa sudah ngasih tahu, kalau itu mustahil. Email abang yang tiga bulan lalu saja tidak dibaca dan pesan nisa dua minggu lalu juga tidak dibuka. Kata nisa waktu itu.” Cerita nisa berhenti wanita cantik itu mengangkat wajahnya dan mendongak keatas seperti menahan air mata yang hendak tumpah.


“ibu bilang, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berdoa. Untuk saat ini hanya Allah, yang bisa menolong. Begitu yakinnya ibu bahwa kakak akan membaca email kami”


tumpah sudah air mata mantan adik iparku itu. Kamera yang dipegang bergetar. Seiring dengan getaran di bahunya yang kencang.


Dan Allah menunjukkan kekuatan doa itu hari ini. Allah yang menggerakkan hatiku untuk membuka laptop, hingga aku tahu kalau ada email yang masuk. Tidak ada doa yang lebih mustajab selain doa ibu untuk anaknya.


“ibu tidak pernah pergi dari sisi bang Amir, dia selalu menunggu dengan tasbih ditangan kanan dan HP abang ditangan kirinya, kami tidak punya siapa-siapa kak, nisa bagian mengurus ini itu. Ibu yang mendampingi abang. Kami hanya berdua. Bang Amir adalah harapan kami sejak kepergian bapak”


Allah...hancur sudah hatiku mendengar penuturan nisa, tangisku pecah tidak bisa dicegah, air mata ini sangat deras mengalir. Bahuku berguncang. Membayangkan ibu berjuang sendiri dirumah sakit. Menunggu ayah Rania itu sadar. Betapa kuatnya wanita paruh baya itu.


Seharusnya aku bahagia karena mantanku mendapat balasan atas sakit yang aku rasakan karena perbuatannya. Tapi ternyata aku tidak bisa, sekejam apapun perbuatannya padaku, melihat kondisinya saat ini aku merasa iba. Itu saja. bahkan hatiku mempertanyakan keadaan istri barunya itu. Mengapa seolah tidak peduli sama sekali.


“bunda, ayah sakit apa. koq Rania disuruh manggil ayah” pertanyaan polos Rania semakin menambah pilu dalam dadaku. Aku peluk dia erat. Aku menyayangi anakku apapun yang terjadi.


Panggilan video itu sudah berhenti, anisa yang menutupnya karena isaknya bertambah keras, semoga kesehatan ayah Rania semakin membaik. Bukan apa-apa. Kalau terjadi sesuatu dengan mantanku itu semua orang akan menyalahkan aku, tanpa mereka tahu persoalan yang sedang terjadi.

__ADS_1


Aku hanya titip salam buat ibu karena setelahnya ibu masih sibuk konsultasi dengan dokter yang menangani Mas Amir. Tak apa akan aku biarkan Rania menyimpan nomor ayahnya. Toh mereka punya hubungan darah yang tak mungkin terpisahkan. Tidak ada mantan anak yang ada hanyalah mantan istri dan mantan suami.


Ku tatap anakku dalam pelukan. Mata, hidung bentuk bibir bahkan bulu mata lentiknya seperti melihat fotokopian ayahnya. Ku kecup Rania, harta berhargaku sampai kapanpun.


__ADS_2