BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 19. BANGKIT


__ADS_3

Dalam kasus perselingkuhan selalu ada sebab yang dijadikan alasan pembenaran. Entah suami yang bosan dengan istrinya, karena sudah tidak cantik lagi, atau istri yang mengaggap suaminya kurang perhatian atau bisa juga karena faktor ekonomi.


Tapi apapun alasannya perselingkuhan tetap tidak dibenarkan dalam suatu hubungan yang berkomitmen untuk saling setia satu sama lain.


Namun apa yang terjadi dalam rumah tanggaku sampai detik ini aku tidak tahu, apa yang menjadi sebab suamiku berpaling dariku, dan kembali pada cinta pertamanya. Sifat manja Andara atau kekanak-kanakannya, itu yang selalu mas Amir bilang, rasanya tidak masuk akal.


Justru aku berpikir kalau sebenarnya memang dari awal Mas Amir masih mencintai Andara. Kalau begitu mengapa harus ada aku?.


Keinginannya untuk menikahiku dulu memang terkesan tiba-tiba, aku pikir memang kami tidak ingin pacaran. Ternyata itu hanya pelarian menurut sangkaanku. Tapi mengapa harus aku?. Pertanyaan itu terus berputar dikepalaku. Sakit, Pasti. Menyesal jelas ada, Mengapa terlambat menyadari.


Selama tujuh tahun menjalani rumah tangga dengan Mas Amir, tidak ada yang ada yang aneh. Kami menjalani rumah tangga penuh kehangatan. Dia suami yang baik, perhatian penuh tanggung jawab.bahkan selama ini tidak pernah sekalipun membahas tentang Andara.


Sampai ahirnya wanita pembawa petaka dalam rumah tanggaku itu muncul. Mengambil semuanya bahkan membuat Mas Amir berubah menjadi sosok lain yang tidak bisa kukenali lagi.


Aku baru sadar ternyata aku adalah korban dari cinta Mas Amir. Sekarang aku yang terluka, hanya bisa meratap tanpa tahu harus berbuat apa. Pilihannya hanya dua, berlari atau bertahan. Sementara aku memilih bertahan demi kebaikan semua. Biarlah aku yang menanggung luka ini sendirian.


Tidak ingin terpuruk lebih jauh, saatnya menata diri. Bangkit demi masa depanku dan Rania. Masa depan lebih penting dari pada masa lalu. Mungkin memang takdirku sudah tertulis begitu, mau apa lagi. Tuhan mengirimkan cobaan ini padaku karena aku sanggup pastinya.


“Maaf pak, saya ingin memperpanjang kontrak ruko saya untuk 2 tahun kedepan” ucapku pada laki-laki tua didepanku. Rambutnya mulai memutih, dia baru empat bulan yang lalu pensiun dari salah satu instansi pemerintah.


Aku bertandang kerumahnya. Inilah tujuan pertamaku setelah menitipkan Rania pada Kirana, karena mungkin urusanku akan memakan waktu seharian diluar. Setelah menjemputnya dari sekolah aku langsung mengantar kerumah kirana. Aku biasa mempercayakan pada istri bang Raihan. Karena dia memang benar-benar sayang pada Rania.


“Maaf mbak syafira, ruko itu sudah bukan milik saya lagi. saya sudah menjualnya” ucapnya sambil menatapku. Namanya pak Rudi orangnya tinggi berperawakan kurus.


“hahh...???” hanya itu yang keluar dari mulutku, terkejut.


“terus, siapa pemiliknya yang sekarang pak?” tanyaku lebih lanjut. Bagaimana kalau sewaktu-waktu pemilik barunya tidak mau mengontrakkan lagi. pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku.


“oiya, sebentar saya ambilkan nomor telponnya” Pak Rudi berdiri masuk kedalam kamarnya, dia kembali dengan secarik kertas ditangannya.


“saya lupa namanya. ini nomornya hubungi saja, mudah-mudahan orangnya masih mau mengontrakkan” Dia memberikan kertas itu kepadaku.

__ADS_1


“terima kasih pak, kalau begitu saya permisi dulu” ucapku setelah berbasa-basi sebentar


Allah...ternyata tidak semudah yang dibayangkan, sepertinya perjalanan ini akan panjang. Semoga setelah ini urusannya dimudahkan.


Aku tidak boleh menyerah. Tidak ada pilihan lain. Kalau aku tidak bisa mandiri, selamanya aku akan tergantung dengan suamiku. Itu artinya hari-hariku akan diwarnai luka kesedihan karena ketidak adilan.


Bismillah...kupacu sepeda motor matic ini ke toko, meninggalkan kediaman Pak Rudi. Pikiranku tak menentu. Sayang usahaku kalau harus berhenti. Sudah banyak punya pelanggan, omsetku sudah mulai meningkat berkali-kali lipat sejak kedatangan Sri.


“bagaimana bu,,,”tanya sri setelah aku duduk dimeja kasirku. Kutarik nafas dalam, ku hembuskan perlahan demi menghalau pikiran buruk.


“Ruko ini bukan milik pak Rudi lagi Sri, dua bulan lalu beliau sudah menjualnya” jawabku pelan


“tapi ada nomor pemilik barunya, mudah-mudahan orangnya masih bersedia mengontrakkan untuk kita sri” itu harapanku. Mengambil HP dan kertas dari Pak Rudi tadi. Sri mengangguk paham.


“Halo,,,ad yang bisa saya bantu?” suara laki-laki disebrang, setelah aku memanggil nomor hapenya yang diberikan pak Rudi


“halo, iya pak,,,apa betul ini bapak pemilik ruko yang ada di depan perumahan “BERLIAN INDAH” tanyaku pada orang diseberang sana


“Maaf sebelumnya, saya yang mengontrak ruko bapak dari pemilik sebelumnya apa bapak sudah tahu”


“oiya, saya sudah tahu”


“saya berniat untuk memperpanjang kontraknya, karena perjanjiannya berahir bulan ini, apa bapak masih bersedia mengontrakkannya” tanyaku harap-harap cemas


“kalau itu saya kurang tahu bu, sebenarnya pemilik aslinya bukan saya, saya hanya dipasrahi saja, atau begini saja besok saya ke sana, sekalian saya juga mau melihat kondisinya. Bagaimana bu?”


“iya, terima kasih. Saya tunggu besok ya pak, assalamulaikum?” menutup pembicaraan. Aku belum bisa bernafas kalau orangnya belum memberikan kepastian lanjut atau putus kontrak


“Bagaimana bu,” tanya sri dengan muka sama cemasnya denganku


“doakan kontraknya diperpanjang ya, besok orangnya mau kesini ngasih kepastian sekalian mau melihat ruko ini” jawabku lemah.

__ADS_1


Aku bergantian melayani pembeli dengan sri, melihat antusiasnya pelanggan yang datang untuk berbelanja, hatiku sedih, sayang rasanya kalau usahaku harus berhenti ditengah jalan. Memikirkan usaha apalagi yang harus aku jalani agar tidak tergantung sama Mas Amir.


Melamar pekerjaan kantoran rasanya tidak tega harus meninggalkan Rania dirumah. Allah...aku pasrahkan semua padaMu berikan yang terbaik apapun itu hamba ikhlas. Menyandarkan kepala keatas meja dengan tangan sebagai bantal.


Berhenti dari pekerjaanku dulu aku tidak pernah menyesal, menjadi ibu rumah tangga full itu sangat menyenangkan. Selain sebagi bentuk bhaktiku pada suami, waktuku lebih banyak buat Rania.


Tapi sekarang, melihat cara Mas Amir memperlakukanku dengan Andara sangat jauh berbeda. Tinggallah sayatan luka kepedihan mewarnai hatiku. Tidak berdarah memang, tapi rasanya hampir memporak porandakan sabarku. Setidaknya masih ada Rania yang menjadi alasanku bangkit.


“Rania mana” tanyaku pada Kirana. Setelah aku duduk disofa ruang keluarganya. Aku menjemput Rania jam 7 malam. Setelah mempelajari berkas kerjasama. Bertukar pikiran dengan Sri. Mencari cara lain seandainya pemilik Ruko yang baru tidak mau menyewakan. Lelah memang tapi aku tidak boleh menyerah.


“tidur mbak, kecapekan tadi sore main sama tetangga depan. Seneng banget dia


Malah nggak mau disuruh pulang” kirana menjelaskan. Sebenarnya tidak enak menitipkan Rania terlalu lama. Karena hari ini urusanku keluar tidak mungkin membawanya naik sepeda motor panas-panasan.


“maaf ya ki, ngerepotin kamu”


“Nggak apa-apa mbak, saya seneng koq Rania anaknya g manja, pinter lagi” wajah kirana berbinar, mungkin karena belum punya anak makanya dia sayang sama Rania.


“boleh saya kasih saran nggak mbak” dia menatapku dalam


“sarannya yang enak lho ya” ucapku bercanda, aku tersenyum menatap kirana


“Apa mbak tidak sebaiknya pisah saja ya dari Mas Amir, maaf jangan tersinggung”ucapanya perlahan takut menyakiti perasaanku barangkali


“maksud saya, dari pada Mbak Syafira terus-terusan tersakiti tinggal sama Mas Amir. sekarang saja dia sudah begitu, bagaimana kalau Andara punya Anak. Bagaimana dengan Rania mbak” kirana memegang tanganku, dari awal dia orang yang tahu tentang kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Amir.


“Sebenarnya Mbak pernah membayangkan kearah sana, tapi Mbak tidak bisa berbuat apa-apa ki. Harga diri kedua orang tuaku jauh lebih penting sekarang, biarlah begini dulu” ada rasa sakit menyusup ketika mengingat kedua orang tuaku.


“ Aku anak tunggal, kalau aku bercerai sama saja aku melempar kotoran ke muka mereka, Mbak belum pernah membuat mereka bahagia selama hidupnya, di kampung mereka bilang aku beruntung rumah tanggaku bahagia. Kebayang tidak kalau tiba-tiba aku cerai” tatapanku menerawang. Tiba-tiba terlintas wajah kecewa bapak dan ibu dihadapanku. Kutarik nafas panjang untuk menghalau sesak didada


“iya juga ya mbak” kirana melepas tangannya dari genggamanku, menyandarkan bahunya dibelakang tatapannya menerawang jauh kedepan. Suasana tiba-tiba hening, Kami saling diam larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2