
Disinilah sekarang, disebuah cafe tengah kota suasana yang tenang membuat siapapun betah ingin berlama-lama disini. Cafe dengan nuansa tradisional dipadukan modern art dan hiasan dinding yang eksotis khas tongkrongan anak muda. Didominasi warna cokelat muda dan tua dipadupadankan dengan apik, tempat duduknya kursi berbahan kayu. Alunan musik terdengar lembut. Lemon tea dan kentang goreng sudah tersaji.
Didepanku tersaji menu yang sama. Aku berhadapan dengan perusak rumah tanggaku. Wanita yang dengan tega membuat mas amir menjadi sosok asing dihadapanku. Wanita yang dengan tegas dia bela dihapanku. Aku tidak menghubungi kontaknya, sampai sekarang aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Kuhubungi lewat pesan langsung di sosial medianya. Setelah aku stalking memakai nama aslinya.
Sudah 10 menit hawa panas kurasakan diantara kami, dia yang gugup menundukkan wajah melihat jemarinya yang saling meremas, dan aku yang berkobar marah ingin mencakar wajahnya namun aku tahan. Tak ingin kujatuhkan harga diri dengan membentaknya di tempat umum, masih sepi karna ini jam kerja. beberapa pengunjung mulai terlihat. Kupilih tempat dipojokan jauh dari jangkauan orang, mana tahu seketika aku tidak bisa menahan diri.
“Maaf mengganggu waktumu” setelah sekian lama ini kata pertama yang keluar.
“tidak apa-apa mbak santai saja, mungkin kita memang harus bicara” santai katanya mana bisa santai berhadapan dengan wanita perusak rumah tanggaku. dia memanggilku mbak sama seperti dulu karena dia lebih muda satu tahun dariku.
“aku ingin kamu membatalkan niatmu untuk menikah dengan su-a-mi-ku”kata suami sengaja kutekan biar wanita brengsek ini sadar siapa yang sedang dia goda. Agar dia sadar bahwa laki-laki itu sudah berkeluarga.
“Maaf mbak saya tidak bisa” Ingin aku robek mulut wanita ini, menjambak rambut panjangnya menyeret dihapanku hingga berlutut minta ampun. Sabar,,,sabar,,,berulang kuucapkan kata menenangkan diri. Kepalan tangan mengerat dibawah meja, sampai terlihat buku-buku memutih.
“Mengapa kamu ingin ,merebut suamiku”. Rahangku mengetat menahan amarah yang mulai memuncak.
“Maaf mbak fira sepertinya salah paham, saya tidak ingin merebut mas amir, saya hanya ingin mbak Fira berbagi”. Berbagi katanya dengan sok polosnya wanita itu mengatakannya. Oh naif sekali wanita murahan ini ada orang yang mau suaminya dibagi, salah makan apa dia dia dari rumah.
“hmm...”senyum tipis mengejek perempuan dihadapanku, dia tidak akan melihat senyum iblisku karena wajahnya masih menunduk, dia pasti mendengar suara ejekanku
“aku yakin tidak ada wanita didunia ini yang mau berbagi suami” masih dengan nada rendah. Aku tahan, disini aku penguasanya, dia yang datang ingin mengaganggu rumahtanggaku.
__ADS_1
“Saya tahu, tapi mas Amir mau, saya tidak perlu ijin mbak Fira lagi” lancang sekali mulut wanita murahan ini, dia pikir hati siapa yang akan terluka sampai mengatakan tidak perlu ijin dariku.
“mas amir punya anak dan istri” nafasku semakin cepat menahan amarah yang semakin berkobar didada aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa tahan.
“Saya juga tahu, jadi tenanglah mas amir akan tetap menjadi suami dan ayah yang baik saya bisa pastikan itu” anggun sekali ular betina ini, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti bisa yang masuk kebadan masuk mengikuti aliran darah. Muak aku rasakan sudah memenuhi segenap aliran dalam darahku.
“tidakkah kamu punya naluri sebagai wanita, saya pikir kamu akan mengerti sebagai wanita, bukankah keberdaanmu diantara kami akan menimbulkan masalah atau bahkan mungkin kami akan lebih sering bertengkar nantinya” suaraku semakin berat keinginan memaki semakin kuat.
“kalau mbak Fira tidak memancing kemarahan Mas Amir saya yakin itu tidak akan terjadi”. Entengnya kalau bicara, apa memang wanita ini berpengalaman menggoda suami orang.
“Rania butuh ayahnya yang dulu, kalau kamu tidak bisa membatalkan niatmu karena aku, lihatlah Rania, kasihanilah dia” sebisa mungkin aku mencari celah untuk membatalkan niat perempuan simpanan suamiku. Secepat itu aku menjawab berharap dia goyah dengan pendiriannya.
“maafkan saya mbak” maaf katanya, sumpah aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun, sekalipun dia berlutut dihadapanku.
Bahkan usaha mendekati wanita itupun tidak berhasil. Kedua tangan menutup wajah, aku tertunduk lebih dalam sampai menyentuh kedua paha. Memikirkan pembicaraanku dengan wanita itu membuat darahku mendidih, seandainya menganiaya orang tidak dijerat undang-undang akan aku lakukan padanya tadi. Ingin kuseret dia dilantai cafe tadi, kuinjak perutnya memukul wajah cantiknya hingga babak belur sampai sulit dikenali. Percakapanku setelahnya di penuhi oleh emosi marah tidak bisa aku tahan.
“katakan berapa uang yang kamu mau tapi tolong tinggalkan Mas Amir” emosi tidak dapat kutahan lagi. Aku tahu gaya hidup wanita murahan ini, aku yakin karena itu dia mendekati suamiku. Setelah dengan cara lembut tidak bisa maka baiklah aku akan menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita.
“saya tidak mau mbak, saya bukan wanita seperti itu” cih.ingin aku meludahi wanita sok suci ini.
“Hahaha...bagaimana dengan tas mahal,sepatu mahal, pakaian mahal, perhiasan mahal yang kamu pamerkan disosial media itu beli pakai apa” tawaku hanya ingin menghinanya
__ADS_1
“suamimu yang kamu banggakan itu sudah tidak mampu membelikannya sampai harus mendekati suami orang?” kataku sengit
“kami sudah bercerai” dia mulai menatapku, baik kita beradu pandang biar dia tahu seberapa bencinya aku pada wanita ini.
“Karena bangkrut atau pelit” lidahku sudah tajam sekarang, rasakan kau wanita laknat.
“karena aku mencintai Mas Amir” braakk,,, kupukul meja keras menumpahkan lemon tea karena meja dihapanku bergoyang. Aku tidak peduli dengan pengunjung lain, aku yakin mereka akan menatap kami.
“itu bukan cinta, tapi ambisi Kalau cinta kau akan menerima apapun keadaannya, jangan hanya datang ketika Mas Amir sudah punya segalanya, temani dia waktu susah”nadaku meninggi bodoh amat sekalipun aku jadi tontonan aku sudah tidak bisa menahannya.
Aku tinggalkan dia, sebelum minuman itu menyiram wajahnya. Aku tidak mau amarahku merendahkan harga diri.
“terimalah mbak,,,mari kita hidup berdampingan dengan damai demi Mas Amir. Laki-laki yang kita cintai”. Aku berbalik menatapnya tajam, wajahku angkat agar dia tahu kalau aku juga bisa seangkuh dia.
“aku tidak sudi” jawabku sambil berlalu
Mengingat itu membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya berharap himpitan beban didada ini berkurang. Semakin sesak sampai ke tenggorokan, airmata mengalir tanpa permisi.
Aku terlalu percaya diri. Bahkan tidak pernah menyangka badai keras ini akan menghantam biduk rumah tanggaku. Membayangkan saja aku tidak pernah. Aku berikan kepercayaan penuh pada suamiku, tidak pernah sekalipun aku mengecek handphonenya, aku tahu mas amir tidak punya sosial media, jadi apa yang perlu dicurigai. Dia bukan laki-laki genit yang gampang tergoda, bahkan aku tidak pernah mendengar laki-laki itu memuji wanita lain dihadapanku.
Ternyata itu bukan jaminan setianya seorang suami, aku kira dia akan menjaga hatinya hanya untukku seperti yang aku lakukan selama ini. Aku bodoh, jam tangan yang dia pakai itu adalah warna kesukaanya hitam ada sentuhan gold pada kacanya. Parfum yang dia pakai aku juga yakin kalau itu hadiah dari wanita biadab itu. Aku yang tidak bisa membaca situasi, sekarang sedang terpuruk merenungi nasib. Meratap dalam kepedihan.
__ADS_1
Aku tidak tahu harus apa sekarang, hidupku hancur dalam sekejap. Rumah tangga yang aku banggakan selama ini sudah diambang kehancuran, aku tidak bisa menerima aku dimadu. Sakit mengingat itu semua. Hancur berkeping tanpa sisa, ada nyeri yang tak terlihat tapi rasanya mampu meremukkan setiap sendi. Selain pasrah apalagi yang bisa aku lakukan.
Berpisahpun tidak mungkin, aku tak sanggup berpisah dengan Mas Amir. Laki-laki itu membawa semua hatiku tak menyisakan celah. Cinta ini terlalu kuat mengikatkan hati pada laki-laki yang menjadi kebanggaanku beberapa jam yang lalu. Meratap, menyesal, merutuki kebodohan hanya itu yang bisa aku lakukan. Bahkan pulang kerumah rasanya aku tak sanggup. Duduk ditaman ini melihat sekeliling bahkan keriangan anak kecil didepanku pun tak mampu menghiburku. Lara ini terlalu dalam.