
Tidak pernah mempersiapkan untuk hal terburuk dalam hidup, kalau boleh jujur sebesar apapun benciku pada mas Amir, lebih besar lagi rasa cintaku padanya, semudah itu memaafkan lagi dan lagi untuk kesalahan berulang yang dia perbuat.
Genap sebulan aku di poligami dan selama itu juga tidur terpisah, aku dikamarku dan dia dikamarnya dengan istri barunya. Sakit merasa diabaikan sudah pasti begitu kuatnya pengaruh wanita itu dikehidupan kami.
Setiap malam aku berharap dia datang kekamar, bercerita apa saja sebelum tidur, sampai ahirnya aku tertidur didadanya dengan nyaman, tangannya yang membelai lembut rambutku. Rindu pasti, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak berniat menagih janjinya untuk adil, biar dia melakukannya karena kemauannya sendiri.
Meja makan hening, hanya terdengar suara denting sendok beradu dengan piring. Aku menyuapi Rania. Seperti biasa Mas amir duduk disebelah Andara. Siapa yang masak, tidak mungkin Andara bukan, dia hanya akan keluar kamar kalau dipanggil mas Amir untuk makan.
“Mas, minggu depan olip menikah. Baru tadi pagi kurir mengantarkan undangannya” suaraku memecah keheningan sambil membereskan sisa makan malam kami.
“Ahirnya menikah juga dia” jawab suamiku sambil senyum tipis tercetak dari bibirnya.
Andara membantuku meletakkan piring kotor ke tempat cuci, setelahnya dia duduk menonton TV, aku hanya mendesah menatapnya dari ekor mata.
“kita datang kan” itu pertanyaanku
“tentu”. Suamiku mengambil buah dan memasukkan kemulut.
Aku bergabung duduk didepan TV setelah selesai membereskan meja makan. Beginilah kami setiap malam, Mas Amir akan bercerita banyak hal aku yang hanya mendengarkan,sesekali menimpali seperlunya. Yang aku tahu cerita itu lebih banyak untuk Andara dia duduk berdekatan. Sedangkan aku disofa disebelah dengan Rania sesekali duduk dikarpet menemaninya bermain.
Aku bergegas masuk kekamar setelah menidurkan Rania, kudapati Mas Amir tidur dikasur, aku canggung. Masuk setelah menutup pintu kamar. Entah mengapa laki-laki ini seperti orang asing. Sebulan dia mengabaikanku sudah cukup membuatku canggung berhadapan dengannya.
Kekamar mandi membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi aku masih mendapati dia diatas kasurku. “tidur disini fir, kenapa berdiri?” aku yang terkejut perlahan membaringkan diri disebelahnya. Dia menoleh kearahku tatapan kami bertemu sesaat, sampai ahirnya aku berbalik membelakanginya.
“kamu tidak ingin tidur didadaku?” tangannya menarik bahuku untuk menghadapnya
“tidak usah, terima kasih” formal sekali jawabanku
“apa kamu tidak rindu tidur denganku” tatapannya lembut kerahku
“Kemana Andara, apa tidak kasihan dia tidur sendiri” ini hanya mengalihkan pembicaraan
“kamu cemburu aku tidur dengan Andara”
“tidak” aku berbohong, istri mana yang tidak cemburu mendapati suaminya tidur dengan wanita lain sekalipun itu istrinya.
“aku hanya berharap terbiasa hingga lama-lama aku tidak membutuhkan kamu disisiku.” Jawabku jujur, itu harapanku agar rasa sakit dihatiku bisa berkurang.
“kamu ingin berpisah” dia menatapku tajam, rahangnya mengetat.
“tidak, hanya ingin membiasakan diri, agar tidak terlalu berharap kamu selalu ada buat aku karena aku sadar, Andara juga butuh perhatianmu” ngilu rasanya hati ini ada sayatan luka kecil yang tak nampak.
“ternyata waktu sebulan membuat kamu banyak berubah, bahkan tidurpun kita seperti orang asing” suaranya melemah mungkin
“bukan aku tapi kita, kita sudah tidak sama seperti dulu”
“aku seperti kehilangan syafira yang penurut, tidak pernah membantah. Tapi sekarang setiap kalimatku dijawab”. Suaranya lirih sekali. Lebih baik diam tidak usah menimpali.
Kami masih berhadapan sampai ahirnya aku berbalik, tidur untuk menghindari ketegangan.
Lelah jiwa dan raga seharian beraktifitas. Sebanyak mungkin aku menyibukkan diri di toko, antar jemput rania sekolah. Ingin rasanya cepat pagi ke toko lagi bertemu pembeli. Disana hidupku seolah tanpa beban, bercerita banyak hal dengan Sri pelayan tokoku. Pengecualian untuk masalah keluargaku. Ternyata wanita itu pengetahuannya luas meskipun hanya lulusan SMA.
***
“aku tidak akan lama ada mbak tini yang menemani kamu” Mas Amir membujuk istrinya, dia tidak mau ditinggal. Hari ini kami akan menghadiri undangan pernikahan olip. Berangkat jam 8 pagi acaranya jam 10. Membutuhkan waktu dua jam perjalanan ke tempat olip.
Kulihat jam tangan sudah sepuluh menit perempuan itu merajuk. Jengah aku melihatnya.
“Mas aku sama Rania nunggu dimobil, jangan lama takut terlambat” gamis biru motif batik kukenakan sekarang, begitupun Mas Amir dan Rania. Baju lebaran tahun kemarin, masih bagus. Kami memesan khusus dibutik langganan.
“tapi janji jangan lama ya” maduku memeluk manja lengan suamiku pemandangan ini ya Allah... aku istrinya tak bisakah mereka mengerti perasaanku. Berjalan bergandengan dari arah pintu.
“iya janji, selesai acara aku langsung pulang” mengusap kepala Andara kemudian mencium keningnya. sebelum ahirnya Mas Amir masuk kedalam mobil. Seingatku tidak pernah aku merajuk kalau mau ditinggal. Perempuan ini seperti anak kecil saja benci aku melihatnya.
“Ternyata seperti itu wanita impianmu aku baru tahu”membuka pembicaraan sedikit kesal setelah mobil meniggalkan rumah.
“seingatku belum pernah aku seperti itu dari awal kita menikah sampai sekarang, karena cukup tahu diri” senyumku sinis.
“Itulah bedanya Andara sama kamu, dia perempuan yang manja sangat bergantung pada suami, didekatnya aku merasa dibutuhkan”
“bahkan kekurangannya pun menjadi sempurna dimatamu, segila itukah cinta” kesal sekali aku, padahal sudah tahu kalau pembicaraan tentang Andara aku akan kalah.
“tidak usah dibahas kamu dan Andara punya tempat sendiri dihatiku, tinggal terima dia di kehidupanmu maka segalanya akan berjalan dengan baik” pandangannya lurus menatap jalan kedepan. Kualihkan pandangan ke kaca mobil disampingku, menyandarkan kepala ke jok. Lebih baik melihat jejeran pohon akasia dipinggir jalan, dari pada harus berdebat tentang maduku, percuma.
Gedung ini sangat luas, jejeran mobil rapi terparkir. Aku masuk kedalam gedung suara bising musik terdengar. Hiasan bunga indah tertata rapi. Mulai dari pintu masuk terdapat hamparan karpet merah memanjang kedalam terhubung kepelaminan, dimana kedua mempelai sedang menyalami tamu, sesekali foto bersama.
Senyum tidak pernah lepas dari wajah kedua mempelai, melangkah mendekati pelaminan. Rania digandeng Mas Amir kami berjalan bertiga, berhenti sejenak karena ada sesi foto disana. Melambaikan tangan ke Olip, subhanallah,,, cantiknya, riasan wajahnya sangat cocok, polesan soft sangat cocok denagn olip yang putih.
__ADS_1
Dekor pelaminan didominasi warna ungu warna kesukaan olip. Dia balas melambai, sesi foto selesai, bergegas naik untuk memberikan ucapan selamat. Hadiah dengan bungkus kado warna ungu yang sudah kusiapkan dari rumah kuberikan padanya tidak lupa kami menyalami kedua mempelai.
“selamat ya lip, semoga langgeng, sakinah mawaddah warahmah.” Sambil berpelukan kubisikkan sebaris doa padanya. Kami menitikkan airmata tanda bahagia
“sahabat terbaikku sekarang sudah bukan lajang lagi, apa nanti kita masih bisa chatingan?” tanyaku pada olip
“bisa, suamiku orangnya santai” saling melepas pelukan kulirik kesebelah, ternyata suaminya ganteng badannya tinggi lebih tinggi dari mas Amir. Dan aku meyalami mempelai pria tak lupa memberikan ucapan selamat.
“Selamat ya lip, ahirnya menemukan tambatan hati” mas amir menyalami olip setelah menyalami suaminya.
“terimakasih kalian sudah datang jauh-jauh, aku senang” olip tersenyum, tergambar kebahagiaan diwajahnya.
“Hai Rania, cantik banget sih, boleh tante cium?” olip menunduk memegang pipi Rania
“jangan nanti bedaknya nempel” kami terbahak, jawaban polos Rania,membuat kami tidak bisa menahan tawa
“lucu anakmu fir, wajahnya amir banget kamu Cuma kebagian warna kulit” Raniaku wajahnya memang mirip ayahnya hanya warna kulitnya yang putih bersih sumbangan dariku.
“semoga kalian disegerakan dapat momongan. Punya anak itu seru lip terasa punya boneka hidup” kataku antusias
“amin...”olip dan suaminya serempak mengamini.
“saya turun dulu tamu yang lain mau menyalami kalian” suara mas amir sambil menunjuk kebelakang kami, terlihat antrian sudah banyak.
“oiya, nikmati hidangannya. Jangan buru-buru pulang aku masih pengen ngobrol banyak sama kamu fir.” Olip seperti keberatan
“foto dulu dong”pintaku pada olip
“oiya sampai lupa” kami berpose mengikuti arahan fotografer.
Turun kebawah menikmati hidangan, suara ponsel mas amir dari tadi bunyi. Dia tidak menghiraukan. Duduk dikursi yang disediakan setelah mangambil makanan lengkap dengan es buah. Sesekali aku menyuapi Rania, anakku lahap mungkin kelparan karena perjalanan jauh.
“aku angkat sebentar ya,” ijinnya padaku sambil berlalu setelah meletakkan piring di kursi kosong disebelahnya.aku hanya mengangguk. Sambil kulanjutkan menyuapi es buah ke mulut Rania.
“fira, maaf ya mas pulang duluan. Kamu tidak apa-apakan ditinggal, mungkin kamu masih mau bertemu olip” ucapnya pelan dan terbata entah menggambarkan apa wajahnya itu.
“nanti aku pulang naik apa mas, tidak bisakah tunggu sebentar lagi tidak enak sama olip” aku memelas aku tahu hanya satu orang yang bisa membuat mas amir begini. Tidak bisakah dia mengerti sedikit saja.
Ponsel ditangan Mas Aamir terus berbunyi. Dia berlalu dari hadapanku menjauh untuk menjawab panggilan dari maduku. Ada perih didada, tidak bisakah dia bersikap adil hanya untuk hal sepele begini. Allah....bagaimana suamiku bisa bersikap begini padaku.
Ponselku bergetar, segera aku mengambilnya dari tas tertera nama suamiku disana.
“maaf fira, mas pulang duluan Andara menangis menyuruh mas pulang, kamu nanti pulang naik taksi online saja sekali lagi maaf” itu suara suamiku tanpa rasa bersalah dia meninggalkanku dengan Rania disini. Dimana nuraninya sebagai suami. Ya Allah...sakit sekali rasanya. Kutahan air mata yang mau keluar.
Tanpa berkata aku masukkan ponselku kedalam tas warna cokelat ini. Hancur perasaanku, teganya suamiku berbuat begini padaku. Kulanjutkan menyuapi Rania. Dosakah hamba kalau membenci suami hamba yang tidak bisa adil ya Allah...
“hai minah...” suara kencang itu aku mengenalnya. Hanya satu mahluk didunia ini yang memanggilku dengan nama ibuku. Ku putar kepala kebelakang benar saja orang keberadannya aku tunggu, sungguh aku merindukan mahluk ini. Rindu sebagai sahabat
“abang...” tanpa sadar suara itu keluar dari bibirku mataku panas sebentar lagi air mataku tumpah biar saja aku tidak peduli.
Dia mendekat duduk dikursi tempat mas amir tadi. Tumpah sudah air mataku menumpahkan rinduku padanya.
Kalau tidak takut dosa ingin aku menghambur kepelukannya menangis didadanya menumpahkan kesalku pada Mas Amir dan rinduku pada laki-laki tampan didepanku ini.
Yah dia terlihat lebih tampan sekarang. Badannya lebih atletis. Kemeja abu-abu yang dikenakan sangat pas mencetak tubuh idealnya kulitnya makin bersih.
“kamu masih cengeng minah, tidak berubah tidak malu sama anakmu” sampi lupa kalau ada Rania. Rania melihatku dengan tatapan bingung, tatapannya berpindah ke Bang fatih.
Yah. Laki-laki yang tidak pernah muncul dihadapanku semenjak aku menikah dengan suamiku. Menghilang bagai ditelan bumi.
“Abang masih hidup rupanya, sehat lagi. Kemana saja bahkan hari pernikahanku tidak datang sementara hari pernikahan olip abang datang itu tidak adil namanya” kutumpahkan amarahku, kutatap tajam pemilik mata tajam dihadapanku ini.
“waktu kamu nikah Abang sibuk, sekarang tidak sibuk makanya sempat datang” kebiasaan lamanya, selalu menjawab seenaknya.
“sesibuk apa, sampai ke hari bahagiaku abang tidak datang”
“ tanpa abang hadirpun pernikahanmu berjalan lancar, kamu hidup bahagia punya anak lucu” Dasar, kupukul bahunya pelan saja, tapi dia meringis seolah habis kena tinju yang keras.
“Mana suamimu, aku tidak melihatnya” menoleh kekanan dan kekiri mencari mas amir.
“dia pulang duluan, ada keperluan ma,endadak katanya” berusaha menutupi kemelut rumah tanggaku dihadapanny. Harapanku semoga dia percaya. Sebersit luka masih terasa atas perlakuan mas Amir hari ini. Perih, sungguh teramat perih menyayat hati ini, tapi aku tidak mau menunjukkan pada pria didepanku ini.
“kamu pulangny gimana” tanyanya menyelidik
“naik taksi online lah,,,jaman sekarang kan sudah canggih” senyum kupaksakan.
“sesibuk apa, sampai anak sama istri ditinggal”diam sejenak
__ADS_1
“perjalanan dari sini kerumahmu 2 jam lho” suaranya berat seperti menahan kesal.
“tidak usah dipikir, fira ketemu abang seneng banget, abang koq istrinya g dibawa” mengalihkan pembicaraan yang hanya menambah emosi saja.
“hhhh,,,kamu menghina ya” senyum sinis tergambar disana
“mana ada yang mau sama abang” lanjutnya
“hanya wanita bodoh yang tdak mau sama abang” jawabku.,tampan, mapan, baik, Apalagi.
“Abang....olip kangen, makasih sudah datang ya,” olip berlari kecil kearah kami. Mengangkat rok berbahan batik yang membuatnya susah berjalan.
“eh, koq disini, tamunya gimana” kataku pada olip
“sudah tidak banyak tinggal kerabat dekat saja, aku sudah ijin sama suamiku. Dia juga ketemu teman-temannya.” Jawabnya dengan nafas memburu. Jarak dari pelaminan ke tempatku duduk agak jauh.
“nih, kado buat olip” bang fatih menyodorkan amplop berwarna cokelat
“apa ini, makasih ya bang, g usah kado juga g apa-apa, abang datang saja olip senang, itung-itung reunian kecil-kecilan” senyumnya masih mengembang mengambil amplop dari bang fatih sambil membolak-balik.
“g apa-apa terima saja, itu tabungan abang memang sngaja dipersiapkan buat olip, semoga suka” ada nada tulus tertangkap disana.
“boleh dibuka” tanya olip
“boleh buka saja”
Seketika mata olip terbelalak, tanyannya reflek menutup mulutnya. Dia melihat bang fatih dengan tatapan tidak percaya. Apa sih isinya, sampai olip heboh begitu.
“ini beneran bang”tanyanya meyakinkan
“beneran” bagng fatih meyakinkan
“tiket bukan madu ke Turki fir” olip menunjukkan kertas ditangannya ke arahku
“wah,,,beneran turki lip” aku ikut senang mendengarnya. Berdiri memeluk olip.
Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang bang fatih, dan yakin olip mengetahui semuanya. Akan aku tanyakan nanti sepulang dia bulan madu. Ah, beruntungnya olip. Tidak apa-apa aku akan ikut bahagia kalau sahabatku bahagia.
Mobil berjalan sedang, tatapanku keluar jendela. Rania di jok belakang mobil bang fatih pajero sport warna putih keluaran terbaru. Nyaman, itu yang kurasakan. Tapi tidak dengan hatiku.
Rasa sakit ditinggal begitu saja, kalau tidak ada bang fatih dengan apa aku pulang. Allah,,,bagaimana harus menghadapi suamiku nanti sesampainya dirumah. Bolehkah aku membentaknya, memarahinya, meluapkan segala kesakitan atas perlakuannya padaku. Sumpah demi apapun aku akan tetap membenci maduku yang tidak tahu diri itu.
Harga mobil suamiku, setengah harga mobil bang fatih. Bukan maksud membandingkan, hanya saja sampai sekarang bagaimana bang fatih bisa sesukses sekarang.
“bang apa yang fira lewatkan” pertanyaanku memecah keheningan, aku mengalihkan pandangan. Bang fatih masih menatap lurus kedepan.
“tidak ada” aku tahu dia berbohong
“mobil bagus, hadiah mewah buat olip. Apalagi yang fira tidak tahu” menegakkan posisi duduk menatap tajam kearah laki-laki berkulit bersih ini.
“abang masih seperti yang dulu” jawabnya lirih, tanpa melihat kearahku.
“boleh fira tanya?”
“apa yang mengganjal pikiran fira, tanya saja” melirik kearahku sekilas tidak ada senyum.
“kenapa abang membatalkan pertunangan, bibi kecewa sampai sekarang abang belum menceritakan alasannya.”cerita bibi rukayyah sebulan yang lalu sebelum masuk ke mobil jemputan mas Amir.
“merasa kurang cocok saja, dari pada dari pada dipaksakan lebih baik jangan, demi kebaikan” satu hal yang belum aku ceritakan tentang orang ini. Dari dulu sampai sekarang di tertutup tentang kehidupan pribadinya. Aku tidak mungkin memaksa. Bukan kapasitasku mencampuri urusan pribadi bang fatih.
Turun dari mobil, kugendong rania setelah dibantu bang fatih. Sementara dia membawakan barang-barangku. Kami berjalan beriringan aku didepan. Jam enam sore baru tiba dirumah. Setelah mengobrol lama dengan olip. Aku tahu banyak yang olip tahu tentang mas Amir dan bang fatih dia meyembunyikannya dariku entah apa aku tak tahu. Sempat berhenti sejenak di masjid untuk sholat.
Ku buka pintu ternyata tidak dikunci. “masuk bang, duduk dulu aku mau nidurkan Rania sebentar. Abang mau minum apa?”Tawarku
“tidak usah abang masih kenyang” pandangannya memutari seluruh ruang tamu menatap foto pernikahanku yang terpajang disana.
Aku berlalu membawa rania digendongan dan tas ditangan kananku.
Sepi, hanya terdengar suara TV memasuki ruang keluarga menuju tangga kekamar Rania.
“Asataghfirullah hal adzim” pekikkku keras, bagaimana aku tidak berteriak pemandangan didepan mataku ya Allah...apa yang kedua orang ini lakukan diruang keluarga.
Mas Amir menoleh ke arahku matanya terbelalak kaget, Andara dengan cepat menutup tubuh bagian atas yang terekspose sempurna. Aku bahkan sempat melihat buah dadanya. Yah, mas
Amir bercumbu dengan istrinya, bukan hanya ciuman bibir, tapi buah dada Andara yang menjadi sasarannya. Diruang keluarga.
Sakit, hati ini sudah tidak bisa dibendung lagi. buru-buru pulang hanya untuk menuntaskan syahwatnya.
__ADS_1
Dan jangan lupakan gambar yang tayang di TV. Mereka sedang mempergakan apa yang mereka tonton. Setan apa yang merasuki kedua mahluk ini. Kamar banyak tapi mengapa ruang keluarga yang jadi pilihan.