BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
APA KABAR ANDARA?


__ADS_3

“bu, besok dari perwakilan perusahaan rokok mau datang, mau sewa space iklan didepan toko” itu suara sri.


“jam berapa katanya” memastikan takut aku tidak ada di tempat.


“mungkin jam 8 pagi” katanya lagi


“ bisa” jawabku singkat.


Suara telepon genggamku terdengar dari dalam tas. Setelah kulihat nama suamiku tertera disana. ahir-ahir ini dia selalu rajin menelponku dari tempat kerjanya. Apapun kegiatannya selalu dilaporkan padaku. Apakah aku senang? tidak. Perasaanku biasa saja. Bahkan Kadang aku merasa terganggu.


“assalamualaikum mas...”sapaku membuka pembicaraan


“waalaikum salam....video call aja ya, mas kangen” katanya manja dari seberang. Percayalah itu kebiasaan anehnya sekarang. Tidak mau telpon biasa, maunya panggilan video.


Menggeser gambar telepon warna hijau. Mengubah pengaturan dari panggilan suara, Ke panggilan video . Wajah suamiku nampak jelas disana dia tersenyum. Akupun balas tersenyum. Setelah berbasa-basi sejenak ahirnya suamiku mengungkapkan maksudnya.


“sayang mau tidak kita jenguk andara. Jangan salah sangka dulu. Tante kamila ngasih tahu katanya Andara pengen ketemu kamu. Ada yang mau disampaikan.” Diam sejenak


“tapi kalau keberatan tidak usah, nanti aku sampaikan. Pasti tante kamila mengerti”lanjutnya lagi


“kapan?” tanyaku


“Besok kalau kamu bisa, tapi kalau tidak ya kita cari kapan kamu bisanya” sekarang semua keputusan mas amir terserah aku. Sikapnya semakin manis, seharusnya itu mampu membuatku luluh. Tapi mengapa hatiku masih belum bisa menerimanya. Semoga waktu bisa menyembuhkan luka ini.


“maaf, kalau besok aku ada janji dengan perwakilan perusahaan rokok. Nanti kita cari waktu lagi ya”


“iya, terserah permaisuriku saja, hamba hanya ikut” candanya dari seberang. Aku tertawa, ini kedengarannya sangat lucu. Mas Amir pun tertawa lepas.


“sudah dulu ya,,,aku masih banyak kerjaan” pintaku, tatapan suamiku kecewa. Aku berusaha tersenyum manis.


“kamu enggak kangen atau gimana gitu sama suamimu yang tampan ini” suaranya menggodaku. Tersenyum sambil mengangkat alisnya turun naik.


“nanti kan kita ketemu dirumah” jawabku


“oke sayang, kerjanya jangan capek, kesehatanmu diperhatikan juga, jangan lupa istirahat. assalamualaikum” sederet nasihat dia ucapkan. Apakah aku tersentuh. Tidak. pikiranku masih buruk tentangnya.


Apakah hatiku sudah mati rasa? Aku tidak tahu. Perhatiannya, sikap manisnya, tidak memberikan perubahan apapun pada hatiku. Aku tidak pernah merasakan debaran di jantungku ketika suamiku bersikap diluar kebiasaannya. Memanjakanku, memelukku atau apapun itu.


Berangkat pagi pulang sore, sebisa mungkin selalu makan malam dirumah. Kebiasaan itu sudah kembali seperti semula. Tapi hatiku tetap tertinggal dimana kenangan buruk itu terjadi.


Tiga bulan pernikahannya dengan Andara, tiga bulan juga suamiku menyiksaku dengan sikapnya.


Benciku memang tidak lagi menggunung. Sakit ini memang sudah sedikit berkurang. Tapi hati tidak bisa merasakan bahagia ketika bersamanya.


Cinta yang dulu hanya untuknya kini sudah tidak ada lagi. hanya ada Rania dalam hatiku. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Sekarang, mas amir bukan lagi pusat atensiku. Usahaku, Rania dan kedua orang tua ku yang mengambil alih.


***


“mbak tini tolong baju-baju yang ada dikamar Andara di packing kedalam tas, sekalian baju bapak yang disana kembalikan ke tempatnya. Saya mau mengembalikan semua ke pemiliknya. Takut masih dibutuhkan” ucapku pada mbak tini.


“oiya, jangan sampai ada yang tertinggal mbak, barang-barang yang lain juga” lanjutku


“iya bu” perempuan itu masuk kekamar yang pernah ditempati Andara.


“baunya g enak bu, koq bisa bu Andara betah tinggal dikamar ini” itu suara mbak tini dari kamar Andara.


“lho, mbak tini g pernah bersihkan” tanyaku heran. Aneh orang ini. Perintahku kan sama seperti dulu. Bersihkan semua kamar. Tanpa terkecuali


“ini bajunya semua sudah saya masukkan, perhiasan, jam tangan. Ini kunci mobilnya bu” aku tersentak. Sampai lupa kalau ada mobil itu di garasi.


“taruh dikamarnya dulu. Oiya mbak emang kamarnya Andara tidak pernah dibersihkan” penasaran menggelayut di benakku


“bu Andara itu melarang keras saya masuk kekamarnya. Apalagi membersihkannya bu” kenyataan yang baru aku tahu. Selama wanita itu tinggal dirumahku, aku tidak pernah tahu apa yang dia lakukan disini. Pantas saja baunya tidak wajar ketika aku masuk. Itu artinya seprainya tidak pernah diganti


“tidak ada baju bapak di kamar bu Andara” suara asistenku menyentak aku dari lamunan.


“masak mbak, coba di cek lagi” perintahku kalau tidak ada dikamar andara, terus kemana. Separuh bajunya dilemariku dia bawa ketika itu.


“tidak ada bu, saya sudah memeriksa semua lemari dan lacinya juga” jawabnya dari dalam.


Aku susul mbak tini hanya untuk memastikan. Memang benar-benar tidak ada.


“coba saya cek kamar sebelah bu, soalnya saya sering lihat bapak keluar dari sana”

__ADS_1


lebih tahu pembantuku daripada aku istrinya sendiri. selama dia menikah dengan Andara memang aku sudah tidak memperhatikannya lagi. apapun yang dia lakukan aku tidak peduli.


Rasa sakit sudah membuatku masa bodoh. Lupa pada kewajibanku, tidak juga, aku ingin membagi tanggung jawab itu pada istri kedua suamiku.


mbak tini keluar, aku meyusulnya dibelakang.


Membuka lemari dikamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempat Andara. Benar saja, Baju suamiku tertata rapi disana.jadi selama ini?


Beragam dugaan meliputi hatiku. Apakah mas amir pisah kamar dengan Andara. Entahlah...


***


“ini ibu Syafira pak, silahkan masuk” suara sri, membuat fokusku dari komputer beralih menatapnya.


Dua orang laki-laki berbadan berisi dengan kulit putih bersih mata sedikit sipit. Aku berdiri menyambutnya. Setelah memperkenalkan diri kupersilahkan mereka duduk. Mereka perwakilan perusahaan rokok.


“jadi ini berkas perjanjiannya bu kita akan sewa selama 5 tahun” laki-laki yang memakai kacamata memberikanku dokumen dalam map yang bergambar logo perusahaannya.


“iya, saya baca dulu ya pak..” mengambil map yang diletakkan dimeja kerjaku.


“lho, ini nominal yang tertera disini tidak salah pak?” tanyaku heran.


bagaimana tidak, angka ini hampir menyamai sewa bangunan toko dan ruko kemarin untuk 5 tahun


“memang kenapa bu, uang sewanya kecil ya...baik saya ganti berkas nanti saya tambahi”


“bukan,,,bukan terlalu sedikit ini kebanyakan pak” mengapa orang kaya mau menghamburkan uang hanya untuk iklan di space yang kecil ini


“ooo...jadi begini bu, saya melihat toko ini porspeknya bagus. Jadi saya akan sewa untuk jangka panjang, sehingga ketika toko ini sudah ramai, saya tidak perlu memperpanjang dan tentu saja uang sewanya juga naik” penjelasan bapak yang berkacamata panjang lebar.


Aku mengangguk


“tapi tetap saja ini terlalu banyak saya ambil separuhnya saja, bagaimana pak”tanyaku. Karena ini memang benar-benar tidak bisa masuk akal


“mohon maaf bu, terima saja jangan mempersulit saya” jawaban bapak yang lebih gendut dengan perut buncitnya. Membuatku terperangah


“saya tidak ingin mempersulit, saya hanya ingin bapak tidak rugi nantinya” jawabku meyakinkan


“jadi bapak ini harus mendapatkan tanda tangan ibu untuk sewa space iklan dengan nominal yang tertera tidak boleh kurang, kalau tidak dia akan dipecat, begitu kan pak?” aku mengangguk bersamaan dengan anggukan bapak tadi.


Ternyata sri paham maksudnya. Mengapa ahir-ahir ini aku bertemu orang-orang yang aneh. ya Allah...kuusap wajah dengan kedua tangan. Aku benar-benar kurang paham pemikiran orang yang banyak uang.


***.


Sabtu pagi, setelah waktu yang disepakati antara aku dan suamiku. Ahirnya kami berangkat menjenguk Andara. Setelah selesai urusan pembukaan swalayan yang kau beri nama “F&R Mart”.


Berbagai karangan bunga tertata rapi. Tentu saja GLOBAL GROUP yang paling pertama dan paling besar serta paling mencolok dari karangan bunga lain. Perusahaan suamiku juga tak lupa memberi karangan bunga ucapan selamat atas pembukaan swalayanku.


Kami ada dua mobil beriringan. Satu mobil andara yang akan aku kembalikan nanti. Entah mengapa melihat mobil itu membuat hatiku seperti tercabik. Marah dan kecewa, rasanya masih nyata ketika suamiku membelikan mobil itu tepat di hari ulang tahunnya.


Suamiku tidak keberatan aku mengembalikannya. Semua yang terjadi dirumah sepenuhnya dia serahkan kepadaku keputusannya.


Setelah menempuh 4 jam perjalanan ahirnya kami disini sekarang. Tinggal menunggu petugas yang akan mengantarku keruangan maduku itu.


“silahkan masuk bu” petugas yang mengantar mempersilahkan. setelah kami berada didepan ruangan milik andara. Jujur rasa takut itu masih ada, bagaimana kalau dia tiba-tiba mengamuk.


“assalamualaikum...”ucapku dan suami bersamaan. Terdengar jawaban dari dalam. Andara terlihat lebih segar. Wajah polos tanpa make up, rambutnya masih sama tergerai indah, baju yang dia kenakan begitu enak dilihat tidak seperti biasanya baju kurang bahan.


Setelah berbasa-basi ahirnya atas kesepakatn mas Amir menungguku diluar karena Andara ingin berbicara berdua denganku. Wajahny lebih tenang, senyum tidak lepas terukir diwajahnya.


“maafkan saya mbak” maduku membuka pembicaraan


“tidak apa-apa” jawabku pelan. Rasa takutku sudah hilang berganti simpati yang teramat dalam


“saya sudah egois, menghancurkan keluarga mbak syafira” air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Bahunya berguncang. Kuusap perlahan hanya untuk menenangkan


“aku sudah memaafkan, tidak ada yang perlu dipikirkan. Yang penting kamu sehat. Oiya mbak bawa hadiah buat kamu” matanya melotot tidak percaya. Genangan air itu masih terlihat di pelupuk matanya. Pada dasarnya wanita ini baik. entah apa yang membuatnya begitu


Kuberikan bungkusan kado yang memang sudah aku persiapkan dari rumah. Wanita ini menerimanya dengan wajah bingung.


“boleh dibuka mbak” tanyanya memnita ijin


“boleh, buka saja semoga kamu suka” jawabku tulus.

__ADS_1


Air mata itu kembali tumpah ketika dia tahu isi kadonya.


“terima kasih mbak, sudah mengingatkan saya untuk lebih dekat pada sang pencipta” jawabnya. Hanya sebuah mukenah. Yang aku berikan tapi ekspresi wajahnya seperti aku membelikannya berlian.


Tatapannya menerawang, kami duduk berdua dipinggir ranjang.


“saya terbiasa dimanja dari kecil, orang tua saya bercerai, saya ikut mama. mama akan menikah lagi dengan laki-laki kaya. Dengan catatan dia tidak mau ada saya didalam rumah tangganya. Mama menikahkan saya dengan mas Riko. Karena mama pikir dia tidak akan bisa mengurus saya lagi. dia lebih memilih tikut suaminya dan meniggalkan saya.” Menarik napas berat seperti ada beban hidup yang ingin dia tuntaskan


“awal pernikahan semuanya terlihat sempurna. Suamiku memanjakanku. Apapun yang saya inginkan semuanya dipenuhi. Dia begitu menyayangi saya. Tapi tidak dengan orang tuanya. Mertua saya itu semakin lama semakin membenci saya. Dia benci dengan gaya hidup saya yang dianggapnya suka foya-foya” berhenti sejenak tatapannya masih menerawang.


“Dia menginginkan anak dari saya, setiap hari yang dia bicarakan anak dan anak. Hingga membuat saya tertekan. Bagi saya keberadaan anak hanya akan menjadi penghalang saya untuk bisa bebas keluar” dia menatapku


“bahkan dia mendesak Riko untuk menceraikan saya, saya marah, bagaiman tidak diinginkan oleh keluarga saya sendiri sekarang keluarga suami juga tidak menginginkan saya. Seperti orang yang dibuang. Perasaan saya hancur.”


“hingga ahirnya saya bertemu dengan Mas Amir. Yang terlihat lebih mapan, kami bertukar kontak. Aku mencari berbagai cara agar suami mbak jatuh kepelukan saya. Hingga ahirnya lewat postingan sosial media teman. saya tahu kalau mas amir ada Bali dan saya pastikan kalau mbak tidak ikut. Semuanya saya rancang agar mas amir menikahi saya. Mulai dari membuat cerita bohong tentang KDRT dan juga setingan makan malam romantis. Serta kado ulang tahun sudah saya siapkan. Bahkan saya sudah menyiapkan lengarie paling sexy yang saya punya”


“Usaha saya berhasil, kami melakukannya. Saya pikir dia sudah jatuh cinta. Ternyata saya salah. Laki-laki itu begitu mencintai keluarganya. Tidak ada cara lain agar dia mau menikahi saya. Dengan ancaman keselamatan mbak dan Rania. Ternyata berhasil. Semua yang saya impikan terwujud.kami menikah dibawah tekanan” tatapannya mengarah kedepan


“ Saya benar-benar manusia paling jahat mbak. Sungguh mbak bisa melampiaskannya sekarang saya rela” ucapnya lagi.


“ketika mbak pulang kampung satu minggu. Dia tidur dikamar mbak fira, bahkan mbak tini dilarang mebersihkan kamar Rania Dan mbak Fira. Dia ingin mengobati rindunya dengan mencium aroma tubuh yang tertinggal di kasur. Saya marah tidak bisa berbuat apa-apa. saya tidak bisa mengancam karena tidak ada kalian sebagai senjataku”


“Dari awal menikah kami tidak tidur satu kamar. Tekad saya bulat harus punya anak dari mas amir agar dia tidak meniggalkan saya sewaktu-waktu. Cara licik saya lakukan. Membeli CD dewasa. Ketika mbak fira undangan saya menelponnya suruh pulang dengan ancaman yang sama keselamatan kalian akan jadi taruhannya. Kejam memang, tapi tidak ada pilihan saya harus hamil”


“semua yang terlihat diruang keluarga ketika mbak fira pulang undangan itu semua kemauan saya bukan mas Amir. Laki-laki mana yang tidak terpancing. Setelah sebelumnya memberikan obat p*******g kedalam minumannya. Ada adegan dewasa dan saya yang menggoda disebelahnya. Dia terpancing kami hampir melakukannya. Sampai ahirnya mbak syafira pulang” aku kaget mendengar penuturannya benarkah yang dia katakan.


“percayalah mbak mas Amir laki-laki baik. dia begitu mencintai mbak fira juga Rania. Dia akan menjadi penurut ketika ada kalian dirumah. Ancaman saya menjadi alat untuk bisa mendapatkan apapun termasuk mobil, perhiasan bahkan liburan keluar negeri”


Ku tarik nafas panjang mendengar penuturan maduku. Bebanku semakin menghimpit yang aku pikirkan ternyata tidak semuanya benar. Jujur aku percaya dengan ceritanya. Yang jadi masalahnya kejujuran suamiku. Hati yang terlanjur sakit. Benci yang terlanjur menggunung. Luka yang terlanjur membekas tidak bisa merubah perasaanku untuk suamiku saat ini.


Dia sudah melanggar janjinya untuk jujur sepahit apapun itu. Tapi apa, bahkan perselingkuhannya dengan Andara dia tutup dengan rapi. Apakah dia tidak akan melakukan kebohongan lagi setelah ini?, pertanyaan itu terus menghantui


bicara tentang mobil aku jadi ingat.


“mbak datang kesini, mau mengembalikan ini”. Aku ambil kunci mobil dari tas. Memberikannya ketangan Andara.


“apa ini mbak” tatapannya bingung


“ambillah ini punyamu” jawabku tulus ku tatap wajahnya. Hanya ingin meyakinkan kalau aku benar-benar tulus.


Airmata itu mengalir deras nafasnya sesenggukan. Tiba-tiba dia memelukku erat. Dadanya berguncang. Ada haru menyeruak dalam diriku. Kubalas pelukannya sesekali mengusap punggungnya lembut.


“seharusnya mbak bisa membenci saya atau bahkan memukul saya, karena kejahatan yang saya lakukan. Tapi apa, mbak malah mengembalikan mobil ini yang jelas-jelas dibeli dengan uang suami mbak” bicaranya patah-patah karena tangisnya tak juga reda.


“kamu berhak karena kamu masih sah istri suamiku sampai detik ini. Mbak senang kamu mau berubah semoga hadiah yang mbak berikan bermanfaat, membawa Andara kejalan yang benar” ucapku sambil melepaskan pelukannya. Kuusap air mata yang mengalir dipipinya


“jadilah perempuan baik, karena sebrengsek apapun laki-laki dia akan tetap menginginkan wanita baik untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk anaknya” kataku menasehati.


“Aku ingin jadi seperti mbak fira nanti. Jadi wanita sholehah dan bisa sabar menghadapi ujian” jawabnya.


Pembicaraan kami terputus tiba-tiba suamiku masuk


“maafkan saya mas...”andara mengubah nama panggilannya wajahnya tertunduk tidak menatap suamiku. Kuusap bahunya pelan.


“bagaimana keadannya?” tanya suamiku lagi


“baik,,,sangat baik, saya sudah boleh pulang. Tapi tetap memilih disini. Saya ingin menjadi relawan dirumah sakit ini. Memberikan semangat untuk orang yang mengalami masalah seperti saya. Saya ingin bermanfaat untuk orang lain” ya Allah...terharu aku mendengarnya.


“Saya tidak ingin menjadi duri dalam hubungan kalian. saya mohon kesediaan mas amir untuk mentalak saya” kata-katanya membuatku terkejut. Betapa banyak perubahan yang dia tampakkan sekarang. Wanita ini benar-benar tulus.


“baiklah, Felicia Andara binti hendra gunawan, mulai hari ini saya talak kamu dengan talak tiga. Mulai hari ini dan seterusnya saya bebaskan kamu dari tanggung jawab sebagai istriku” jatuhlah airmata mantan maduku ini. Suara mas amir yang tenag seperti tidak ada beban. Bagaimana hatiku. Masih belum tersentuh. Hanya iba melihat nasib yang menimpa Andara.


“ini ambillah sebagai nafkah terahir dariku atau hadiah atas perceraian kita semoga, bermanfaat” suamiku mengeluarkan buku tabungan dan kartu ATM tasnya. aku tahu itu memang punya Andara yang ada dikamarnya..


“terima kasih, kalian memang manusia luar biasa tetap bisa memaafkan meskipun perbuatanku tidak layak mendapatkannya.”tangisnya kembali,


“hiduplah dengan baik setelah ini, kami pamit” ucapaku sambil memberikan koper berisi bajunya.


“terima kasih sayang” ucap suamiku sambil memelukku dan menciumku ketika kami sudah di dalam mobil. Hatiku masih hambar. Sampai detik ini apapun yang dilakukan suamiku masih belum berpengaruh apa-apa. Seandainya dia jujur dari awal mungkin aku masih bisa menerima. Tapi dia lebih memilih menutupi semuanya.


Note : setelah bercerai suami wajib memberikan mantan istrinya mut’ah atau hadiah. Bisa berupa perhiasan, baju uang. Atau barang lainnya sesuai kesenangan mantan istrinya.


balikan atau moveon? Jangan lupa komen ya...

__ADS_1


__ADS_2