
Ketika bertahan sudah bukan pilihan, mundur adalah jalan terbaik. Bukan untuk mengakui kekalahan. Tetapi mengambil ancang-ancang agar bisa melompat lebih jauh.
Meninggalkan luka bersama dengan kenangan manis yang akan aku kubur agar tak meninggalkan jejak.
“ini berkasnya sudah selesai mbak, apa tidak ingin dipikirkan lagi” Amirah, seorang pengacara yang aku mintai bantuan membantu mengurus surat ceraiku dengan mas Amir.
Tidak ada pilihan lain, aku tidak ingin menambah sakit hatiku dengan bersamanya. Melihat dia membagi cintanya untuk kedua kali.
“Terima kasih, saya tidak mengambil keputusan ini secara tiba-tiba. Ada alasan kuat saya memang harus menjauh darinya” kataku dengan tatapan menerawang. Sakit dihati ini tak akan ada obatnya. Aku tak ingin terpuruk untuk kedua kali.
“saya harap ini keputusan yang terbaik buat mbak dan juga Pak Amir terlebih juga buat Rania” nasehat Amirah, dari nadanya ada iba yang aku tangkap. Aku paham ini akan berat untuk Rania. Putriku begitu dekat dengan ayahnya. Mungkin Rania yang paling tersakiti dalam hal perpisahanku dengan Mas Amir.
“saya yakin ini yang terbaik. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya” aku menjabat tangannya. Usai sudah kisahku dengan laki-laki ini. laki-laki yang telah membuatku jatuh cinta pertama kalinya, yang memberikan rasa sakit karena diduakan untuk pertama kalinya dan merasakan patah hati yang teramat dalam untuk pertama kalinya.
Kulajukan motor maticku menuju toko tempatku menyibukkan diri ahir-ahir ini. menahan diri untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Termasuk pada sri sekalipun. Aku tidak ingin rencanaku gagal begitu saja.
“ibu syafira, saya lihat ahir-ahir ini sering murung, melamun, kalau ada apa-apa ibu bisa cerita ke saya, siapa tahu bisa membantu. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri nanti sakit lho” suara sri. Dengannya pun aku tidak ingin bercerita. Bisa berubah rencanaku kalau dia tahu.
“mungkin hanya kecapean ngurus dua perusahaan sekaigus sri. Oiya, berkas yang untuk bea siswa sudah jadi?” tanyaku. Kepergianku hanya untuk menunggu selesainya kepengurusan bea siswa dari GLOBAL. Tekadku sudah bulat, pergi menjauh mengembangkan diri. Hidup bahagia bersama Rania dan melanjutkan cita-citaku memperdalam ilmu bisnis.
“sudah, ini berkasnya, ini ada beberapa pilihan universitas yang bisa ibu ambil. Nanti selebihnya urusan saya”jawab sri. Dia menyerahkan berkas lengkap ketanganku. Aku buka dan membaca beberapa universitas pilihan.
Ternyata ini adalah beberapa kampus terbaik disetiap kota yang ada di Indonesia. Baiklah, semua berkas sudah siap, hatiku sudah mantap tidak akan ada orang yang menghalanginya sekarang.
Pilihanku jatuh pada kampus terbaik yang jauh dari kotaku. Pulau kalimantan yang menjadi pilihan. Pergi menjauh, sejauh jauhnya meninggalkan luka yang mulai membusuk. Penghianatan yang mereka lakukan telah membakar semangat dalam diriku. Bangkit berlari mengejar mimpi yang belum tercapai. Hingga tak seorangpun yang bisa mengendus keberadaanku.
“ahir-ahir ini aku lihat kamu sepertinya banyak diam. Sayang, capek ya?” itu suara suamiku, berpura-pura baik-baik saja didepannya tinggal menunggu esok hari. Semua berkas sudah lengkap. Dan persiapanku sudah matang. Apapun yang akan dia lakukan dengan perempuan itu setelahnya aku tidak peduli.
Urusanku sekarang membahagiakan diriku dan juga Rania.
“tidak ada, mungkin hanya perasaan mas saja” jawabku tanpa semangat.
“apa kamu mau liburan, rutinitasmu terlalu padat harus mengurus dua perusahaan, bagaimana kalau minggu depan kita ke jepang, memenuhi keinginan Rania untuk melihat salju, dia pasti senang” suamiku antusis sekali. Aku menggeleng lemah. Tapi maaf, hatiku sudah tidak ada untuknya lagi. simpatiku sudah hilang. Apapun yang dikatakanya tidak akan merubah perasaanku.
Bagaimana dia bisa bersikap biasa didepanku. Pandai sekali dia menyimpan kebusukan dibelakangku,mungkin dia pikir aku Syafira yang dulu yang dengan mudahnya dibohongi. Menutup bau busuk perselingkuhannya dibelakangku. Maaf, kesempatan itu datangnya satu kali.
Mari kita mainkan peran kita masing-masing. sampai perpisahan itu datang
“aku kangen bapak sama ibu, besok aku boleh pulang kampung. Hanya 3 hari, bapak sering nanyain Rania” jawabku
__ADS_1
“oh, gitu...gimana kalau minggu besok sekalian mas ngurus surat cuti dulu” jawabnya. Laki-laki ini benar-benar pandai bersandiwara. Muak aku rasanya. Sudah cukup dia berpura-pura baik didepanku, aku tidak ingin tersentuh lagi.
“tapi aku inginnya besok, kalau nunggu mas cuti terlalu lama mumpung Rania libur” kataku, tidak ingin laki-laki ini mengikutiku bisa berakibat fatal nanti.
“oh, gitu. Ya udah tidak apa-apa kamu pulang duluan nanti mas nyusul gimana” katanya memberikan saran
“itu lebih baik, besok aku berangkat pagi jam 10an”
“biar diantar sopir kantor jangan naik bis, kasihan Rania takut kecapean”katanya sambil memelukku.
Silahkan puas-puasin memelukku. Lakukan apa yang mau dilakukan. Aku akan menganggap ini adalah pelukan terahirmu. Pelukan perpisahan dariku.
Aku mengangguk lemah, sakit hati ini kembali menderaku. Ada airmata yang meleleh dipipiku aku mengusapnya pelan, takut suamiku curiga.
Aku bersikap seperti biasa membuatkan sarapan, mengantarnya kepintu. Mencium tangannya sebelum pergi.
“jaga diri baik-baik mas, jangan makan sembarangan selama aku pergi. Jaga asam lambungnya jangan telat makan. Jangan terlalu capek kerja dan jangan stress” sederet nasehatku untuk suamiku. cinta ini ternyata masih ada. Ini akan menjadi hari terahirku melakukannya.
“ada apa, seperti orang yang akan pergi lama saja, besok lusa mas kan nyusul kesana. Kenapa sedih gini” suamiku menatapku bingung. Dia menangkup kedua pipiku mencium keningku lembut.
“tidak apa-apa kita belum pernah berajuhan selama ini maafkan fira kalau ada salah” entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku
“kamu kenapa sayang, minta maaf segala. Lho kamu nangis ya” tanyanya lagi, tangannya mengusap air mataku lembut. kemudian memelukku erat
“tidak apa-apa. Berangkatlah nanti mas terlambat” mengalihkan pembicaraan takut dia curiga.
Meletakkan surat cerai yang sudah aku tanda tangani, yang hanya tinggal tanda tangan suamiku. setelah itu kami bukan lagi suami istri. Ada perasaan sakit yang menyerang. Kamar ini, rumah ini, menyimpan banyak kenanganku dengannya. Setiap sudut menyimpan memori yang tidak akan mudah aku lupakan.
Tak terasa airmataku menetes. Ada perasaan hampa dalam diriku. Perasaan kehilangan yang teramat dalam. Suamiku sudah jadi mantan sekarang. Setiap perceraian akan meninggalkan luka, sekalipun kita yang menginginkan. Kenangan kebersamaan, bahagia, sedih, tertawa menari dibenakku.
Angka tujuh tahun bukanlah sebentar. Kami memulainya dari nol berjuang bersama sampai pada titik ini sekarang. Hingga ahirnya aku tidak menyangka bahwa kami akan menyerah sampai disini. Ketika semua tujuan telah tercapai.
maafkan aku mas. Mungkin ini akan membuatmu kaget, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Aku harus mencari kebahagiaanku sendiri. kita akan melanjutkan hidup masing-masing. Aku menyerah karena tidak mampu untuk menanggung sakit karena keegoisan suamiku yang dengan teganya menjalin hubungan dibelakangku. Sudah cukup perjuanganku selama ini.
Aku letakkan juga bukti transfer sejumlah uang ke rekening Andara. Agar dia tahu alasan kepergianku. Cincin kawin, Surat nikah. Aku letakkan berjejer di nakas. Suatu saat dia akan menyadari bahwa aku bukan wanita lemah yang akan mengemis cinta darinya.
Berbahagialah bersama wanita yang kamu perjuangkan, biar aku yang mengalah karena tidak akan mampu merebutmu darinya. Biar waktu yang membunuh perasaan ini. mungkin suratan takdir memang tidak mencantumkan nama kita untuk bersama selamanya.
__ADS_1
Kutarik koper perlahan menuju pintu keluar, sempat berhenti diruang keluarga. Terdengar canda dan tawa suamiku disana. Rania yang memeluk ayahnya manja, Mas Amir memelukku kemudian mencium keningku. Tergambar jelas seperti slide-slide film yang tergambar nyata. Suara tawa kami jelas terdengar ditelingaku. Tanpa terasa air mataku membasashi pipi.
Ada perih yang tiba-tiba menyusup. Sesak nafasku karena menahan tangis yang tak mungkin kulepaskan. Tidak ada yang lebih sakit dari penghianatan. Satu kali aku sudah memaafkan, tapi kali ini aku yang akan menentukan kebahagiaanku
Rania menggandeng tanganku dia memeluk boneka kesayangannya. Menatapku penuh tanya.
Maafkan bunda nak, kalau pada ahirnya Rania yang akan terluka. Tapi untuk saat ini kamulah harta paling berharga yang bunda punya.
Berjalan keluar, sopir suruhan suamiku sudah menunggu diluar. Menutup pintu dan menguncinya. Kisahku benar-benar usai. Rumah tanggaku sudah berahir. Aku letakkan kunci di bawah guci. Tempat biasanya aku menaruhnya ketika suamiku keluar tidak membawa kunci cadangan.
“pak, tolong bilang sama pak amir kuncinya saya letakkan dibawah guci” kataku pada sopir yang akan mengantarkanku pulang kampung.
“tapi bapak sudah bawa kunci cadangan bu” jawab laki-laki yang baru ikut suamiku 3 bulan lalu ini.
“tidak apa-apa, mulai sekarang mungkin saya tidak akan menginjakkan kaki disini” kataku lagi. tatapannya bingung aku tidak peduli. Aku masuk kedalam mobil dengan langkah gontai.
Memandangi rumah yang penuh kenangan ini berlama-lama. Berat. sungguh itu yang aku rasakan, bagaimana perjuangan kami untuk mendapatkannya dulu. Tapi ketika mengingat bagaimana nanti suamiku akan menempatinya dengan wanita itu. Kembali kebencian itu melanda. Membakar semangat untuk segera pergi.
Selamat tinggal mas, terima kasih atas tujuh tahun kebersamaan kita. Aku yang tidak mungkin bertahan memilih menjauh demi hati yang tidak mampu menahan sakit yang kesekian kalinya. Semoga kita bahagia dengan pilihan hidup yang akan kita jalani.
***
Disinilah aku sekarang, disebuah rumah sewa dipinggiran salah satu kota dipulau kalimantan, dengan suasana pegunungan yang asri, rumah sederhana dengan model minimalis modern. Dominasi catwarna abu muda. Hanya ada 3 kamar tidur dan dua kamar mandi. Dan terdapat satu lantai saja. cukup untukku tinggali bersama Rania.
Bagaimana aku bisa sampai kesini.
Setelah sopir mengantar. Aku kembali menaiki taksi menuju bandara. Membohongi sopir suamiku tidak ingin diantar sampai rumah khawatir bapak dan ibu menanyakan mas Amir itu alasanku, sementara tinggal dirumah saudara menunggu mas Amir datang, setelah itu kami akan kerumah ibu bersama. Untunglah laki-laki itu percaya.
Aku membohongi banyak orang tidak apa-apa. Hanya aku yang tahu bagaimana aku harus bersikap. Aku tak ingin mempedulikan perasaan mereka sekarang. Perasaan ku sendiri jauh lebih penting.
Menghapus semua akun social media, Mengganti HP dan simcard, sudah au lakukan. Aku tidak ingin seorangpun mengetahui keberadaanku disini. Aku ingin hidup sebagai manusia baru, meninggalkan luka yang masih terasa berdenyut.
Aku bingung harus berbuat apa, sudah satu minggu aku dan Rania disini. Berdua tanpa mengenal siapapun. Aku orang asing yang tersesat. Sebelumnya kau belum pernah datang ketempat baru tanpa di dampingi suamiku. sejak aku menikah dengannya. Dia selalu mengantarku kemana saja.
Ah, mangapa ingatanku kembali pada laki-laki itu. Mungkin dia sedang berbahagia sekarang. Kepergianku akan membuat hidupnya lebih bebas bersama Andara. Atau mungkin mereka sedang malangsungkan pernikahan resminya setelah menandatangani surat cerai dariku.
Hatiku seperti diiris perih mengingat penghianatan itu, tidak mudah untuk dihapuskan. Seminggu ini aku hanya menghabiskan dengan berdiam diri dan menangis. Membayangkan senyum bahagia suamiku dipelaminan dengan istrinya. Membayangkan dia memadu kasih di kamar yang kami tempati dulu.
Aku tidak sanggup Ya Allah...
__ADS_1
Mengapa rasa ini masih menyiksaku,
Ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku.