
Mulai dari mana aku akan membongkar sandiwara mereka. Aku bahkan tidak punya keahlian dalam hal ini. meminta bantuan seseorang hanya akan menimbulkan masalah baru. Karena tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya dalam menjaga rahasia.
Berpura-pura besikap seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Biarkan semuanya terlihat normal. Aku bekerja seperti biasa, mengecek laporan keuangan usahaku seperti biasa. Wanita yang menjadi target kecurigaanku juga bersikap seperti biasa.
Kecurigaanku Cuma satu, bang fatih bukan orang biasa di GLOBAL GROUP. aku tidak mungkin mendesak Reno untuk mengaku, karena dia akan lebih patuh kepada tuannya dari pada aku.
Aku tidak ingin menyelidiki apapun tentang suamiku, melihat kesungguhannya untuk berubah sedikit memberikan rasa percaya mulai tumbuh dalam hatiku. Tapi untuk melupakannya masih belum bisa.
Kejadian aku menghilang tempo hari membuat hatiku benar-benar tersentuh, begitu sayangnya dia padaku. Kekuatan cinta itu masih tumbuh subur dihatinya. Perubahan sikapnya yang lebih protectif ahir-ahir ini. setiap sejam sekali menanyakan keberadaanku, sedang apa. Atau hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum. Merupakan bukti yang cukup kuat bahwa dihatinya masih aku yang berkuasa.
Bahagia, pasti. Setiap lembur selalu memberi kabar posisinya, kegiatannya dan teman-temannya. Tidak ada alasan bagiku untuk mencurigainya lagi. Rumah tanggaku sudah kembali hangat seperti dulu.
“jangan katakan pisah aku tidak akan sanggup, jangan katakan cerai karena sampai kapanpun aku tidak akan mengabulkannya” itu katanya ketika itu, sambil memelukku erat kami sedang menikmati sore dihalaman belakang.
Sedikit beban dihati terangkat, setidaknya tidak ada alasan lagi untuk menutup kata hati untuk imamku ini.
“ada surat dari GLOBAL GROUP” suara sri, menyadarkanku dari lamunan. dia kemejaku menyerahkan amplop warna cokelat. Ku buka perlahan
“apa ini?” tanyaku sungguh aku tidak mengerti maksduny?” tanyaku pada sri
“ini beasiswa S2 dari GLOBAL GROUP, buat ibu atas pencapaian selama 6 bulan target penjualan, karena sekarang kita kan mitra dengan mereka bu, jadi saya harap ibu mempertimbangkannya, karena ini untuk kemajuan usaha kita kedepannya” penjelasan sri membuatku paham sekarang
“saya belum mempertimbangkan sri, nanti saja kasihan Rania masih kecil kalau harus ditinggal” jawabku lemah, sebenarnya ini keinginan terbesar yang belum aku capai. Melanjutkan S2 dibidang bisnis. Untuk memperdalam ilmu dan keahlianku. Sebagai penunjang kemajuan usaha dan karir.
“itu terserah ibu syafira, dari GLOBAL GROUP hanya penawarkan saja. Ditunggu kapan pun ibu siap “ katanya.
Aku terdiam, sudah dua bulan sejak pertemuanku dengan bang fatih, orang itu seperti menghilang lagi. tidak pernah menemuiku, tidak pernah menhubungiku dan akupun sama tidak pernah menghubunginya.
Mulai dari mana membuktikan kecurigaanku. ah otakku buntu sudah satu bulan lebih tapi otakku benar-benar tidak bisa mencari ide. Berpikir,,,ayo berpikir,,,,
Oh, mengapa tidak dimulai dari sri saja. kalau dia monica jelas dia akan bertemu dengan Reno dan CEO GLOBAL GROUP. ah, aku dapat ide. baiklah.
“apa yang ibu pikirkan” suara sri mengagetkanku. Hah, bagaimana dia tahu?. anak ini seperti bisa membaca pikiranku.
“tidak ada, mengapa kamu mencurigaiku sedang memikirkan sesuatu” kataku heran. Seperti punya indra keenam anak ini.
“ibu mengetuk-ngetuk kepala berulang ulang saya takut ibu stress” jawabannya mengagetkanku.
Hah, masak iya aku lihat tangan yang mengepal bertengger dikepala. Malu rasanya. Kuturunkan perlahan sambil menunduk.
“berkas dari toko yang lama dibawa semua kan kemarin, ditaruh mana. Terus yang dilaci kasir di bawa juga kan sri?”tanyaku padanya
“ada bu, sebentar saya ambilkan” jawabnya sambil berlalu.
Sebentar dia sudah kembali. Ruko yang lama aku jadikan gudang. Lantai atas tetap menjadi mess buat sri. Karena sudah nyaman disana katanya ketika aku menawarkan untuk tinggal dirumahku saja.
Membolak-balik beberapa berkas hanya ingin mencari berkas yang diberikan sri ketika melamar kerja dulu. Hanya fotokopi KTP dan copy ijazah terahir. Tapi aku belum pernah benar-benar memeriksanya. Karena dia belum pernah membuat masalah.
Aku menemukannya, sebuah fotokopian yang tidak terlalu jelas fotonya. Tapi tunggu, ijazah SMA ini mengapa wajahnya dengan sri beda, kalau dia berumur 18 tahun seharusnya tidak banyak perubahan di wajahnya.
__ADS_1
Difoto ada tahi lalat diujung hidungnya. Bentuk mukanya tidak mirip sama sekali. Dan tahun kelulusan ijazah ini dua tahun yang lalu bukan satu tahun yang lalu. Aku baru menyadarinya. Nama dan tanggal lahir yang tertera di keduanya sama. Tapi foto di KTP tidak jelas.
Ternyata benar dia menggunakan ijazah dan KTP orang lain.
“ada apa, ibu melihat saya dari tadi” tanyanya
“ah, tidak ada. hanya bersyukur kamu masih setia dengan saya sampai hari ini terima kasih ya sri” jawabku.
“bagaimana dengan rencanamu katanya mau kuliah, apakah sudah direncanakan. Saya bisa membiayaimu sekarang kalau kamu mau. Bisa mengambil kelas malam, karena kamu kalau pagi sampai sore kan kerja” tanyaku hanya ingin memancingnya
“itu,,mmm,,,saya sudah tidak ingin lagi bu” katanya. baik, sampai disini aku paham bahwa kamu bukan sri. Sekarang aku harus pura-pura percaya.
Mari kita mulai,
“sri, mungkin tiga hari kedepan saya akan mudik dulu, pulang kampung kangen bapak sama ibu sekalian mau liburan juga, kamu bisakan tangani semua?” tanyaku
“bisa bu, nikmati saja liburannya” katanya santai
“oiya, selama itu juga semua social media kau offkan dulu disana jaringan internetnya agak lemot. Kamu tetap bisa menghubungi ke nomor HP ku yang biasa. Kalau ada apa-apa”
“baik bu, selamat bersenang-senang”katanya dengan senyum tipis yang terukir dibibirnya.
Mungkin mulai besok malam aku akan memulainya. Semoga berjalan dengan lancar.
Menonaktifkan ponsel, pintar menghindari seseorang melihat lokasiku melalui GPS. Ku ambil hape yang lama. Yang hanya bisa melakukan panggilan telpon dan pesan. Sukses, untung Hpnya masih bisa dipakai.
Semua karyawan terlihat keluar hanya sri yang belum, aku tunggu lumayan lama. Sekitar setengah jam barulah sri keluar. Tapi tunggu, penampilannya. Aku ragu apakah sri atau bukan. Celana kain warna hitam kemeja warna krem, dipadu blazer warna hitam. Sempurna badannya yang mungil, tertolong dengan heels.
Dilihat dari caranya berjalan seperti wanita berkelas. Sebuah map dia pegang dia pelu didadanya. Terlihat menelpon seseorang entahlah aku tidak tahu. Aku tunggu beberapa saat. Posisiku masih seperti semula duduk diatas sepeda motor matic berjarak sekitar seratus meter di sebrang jalan.
Aku bersembunyi dibalik pohon besar yang berdiri gagah. Untung saja batangnya lumayan besar sehingga mampu melindungi badanku agar tidak terlihat orang dari seberang jalan.
Sebuah mobil dengan logo GLOBAL GROUP berhenti dipinggir jalan. Seseorang turun mungkin sopirnya membukakan pintu. Tidak lama kemudian sri masuk. Dan mobil melaju membelah jalan yang tidak terlalu ramai.
Kuikuti dari belakang, kemana mobil akan membawa sri atau monica atau siapa entahlah. Aku harus menuntaskan rasa penasaranku. Teka-teki ini harus terpecahkan. Sepahit apapun kenyataanya nanti aku harus terima.
Mobil berhenti disebuah restorant mewah, aku ikut menghentikan sepeda motor matic ku. Ah, seandainya aku bisa mengendarai mobil mungkin aku tidak perlu menjaga jarak sejauh ini.
Aku menunggu diluar, sampai wanita itu keluar. Aku ingin masuk memastikan bertemu siapa dia didalam. Tapi rasa takut ketahuan lebih besar dari rasa ingin tahuku. Bisa-bisa rencanaku bubar semua.
Dari kejauhan aku melihat monica keluar, sekarang dia tidak sendiri, ada seorang laki-laki berbadan buncit yang berjalan disampingnya. Pikiran buruk terlintas dalam benakku. Apakah sri wanita tidak benar?. Tuhan semoga saja dugaanku salah.
Mobil kembali melaju, setelah sri masuk dan laki-laki tadi mengikuti dibelakang dengan mobil yang berbeda. Jalanan yang tidak terlalu padat tidak menyulitkanku untuk mengikuti mereka. Tidak perlu khawair kehilangan jejak.
Mobil memasuki sebuah hotel mewah dikota ini, aku tertegun. Untuk apa sri mengajak laki-laki yang sudah berumur itu ke hotel. Kembali pikiran buruk menggelayuti hatiku. Kalau memang benar itu artinya aku mempekerjakan wanita murahan selama ini. tapi kuat dalam hatiku menolak bahwa sri wanita seperti itu. 8 bulan mengenalnya aku tahu. Bahwa sikapnya tidak pernah aneh, apalgi terlihat bertingkah ddepan laki-laki.
Karena aku tdak sabar untuk menunggu diluar ahirnya aku memarkirkan sepeda motorku. Tekadku bulat, ingin memergoki sri dan membongkar identitasnya yang asli.
Aku berjalan ke bagian resepsionis
__ADS_1
“ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis ini ramah, senyumnya mengembang menyambutku
“maaf mbak, apakah mbak kenal dengan wanita yang baru masuk tadi, yang berjalan dengan laki-laki berumur tadi mbak, apakah mereka suami istri atau selingkuhan” pertanyaanku panjang sekali. Biarlah aku tidak peduli. Asal pengintaianku malam ini tidak sia-sia
terlihat senyum mengembang kembali dari resepsionis tadi.
“maaf bu, kami tidak bisa memberikan informasi apapun terkait tamu yang menginap disini. Itu demi menjaga kenyamanan dan privasi mereka. Ini sudah peraturan perusahaan bu maaf” ucapnya lagi.
Ah, bagaimana ini aku tidak boleh menyerah. Putar otak ayolah,,,,cari cara....tiba-tiba sebuah ide terlintas.
“wanita itu adik saya mbak, dia bilang kuliah, tapi saya tidak tahu kalau kelakuannya jadi wanita tidak benar, kasihan bapak dan ibu saya dikampung sampai sakit memikirkan dia mbak, tolonglah saya” dengan memasang wajah memelas. Kurapatkan kedua tangan didepan dada memohon belas kasihan. Semoga berhasil, itu harapanku.
“tapi maaf bu, sekelas bu monica tidak mungkin melakukan hal yang memalukan seperti itu. Beliau bukan orang yang kekurangan uang, posisinya sebagai direktur keuangan di GLOBAL GROUP sudah bisa memenuhi semua kebutuhannya. Mungkin ibu salah orang” penjelasannya membuatku kaget. Aku terdiam sesaat. Mencerna setiap kalimat yang disampaikan wanita cantik didepanku ini.
Ini orang kesekian yang mengatakan kalau sri adalah monica. Kalau memang benar apa tujuan monica, wanita berkelas yang mempunyai kedudukan penting di GLOBAL GROUP bekerja ditoko kecilku.
“kalau boleh tahu, apa setiap malam mereka melakukan pertemuan disini, maksud saya apa bu monica bertemu petinggi GLOBAL disini” tanyaku lagi.
“tidak bu, kebetulan ada pertemuan tiga hari kedepan mereka memakai ballroom hotel disini. Untuk membahas kerja sama dengan pejabat setempat serta investor. Kalau tidak salah jadwalnya besok pagi pertemuan pentingnya semua tamu dan CEO GLOBAL berkumpul.” Jelasnya.
“mbak pernah lihat wajah CEOnya”tanyaku penasaran
“tentu, sebentar lagi beliau datang” jawab resepsionis.
Belum selesai dengan pertanyaanku, Handytalk petugas keamanan hotel berbunyi. Semua petugas berjejer rapi semua orang yang ada disini terlihat sibuk. Seperti akan kedatangan tamu penting.
Aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan
“maaf bu, bisa mundur sebentar kami harus menyambut beliau” kata resepsionis dengan nada serius. Aku mundur kesebelah meja, untuk keluar sudah tidak mungkin karena petugas keamanan sudah mensterilkan sepanjang jalan pintu masuk yang akan dilalui.
Aku ikut berdiri rapi, penasaranku akan terjawab malam ini siapa. CEO GLOBAL. Yang bahkan wajahnya tidak ada yang mengenali.
Terlihat dari kejauhan rombongan berjejer berjalan beriringan. Tampak didepan pria dengan pakian keamanan logo GLOBAL. Aku deg-degan. Sebentar lagi mereka akan melewati tempatku berdiri.
Cara mereka berjalan terlihat sangat gagah dari tempatku berdiri. Jas serba hitam mengelilingi serang laki-laki gagah ditengah, wajah mereka tampak dingin semua. Lagi-lagi seperti melihat adegan film korea.
Tepat saat mereka melewatiku, mataku terbelelak kaget. Laki-laki ditengah itu. Ya Allah,,, rasanya jantungku berhenti berdetak. Kakiku lemas, bibirku bergetar.
“bang fatih” tanpa sadar, bibirku menggumamkan nama itu. Tapi benar itu bang fatih. Air mataku menetes. Apa tujuannya membohongiku selama ini.
Jadi dia yang sudah mengatur semua ini. monica, Reno, usahaku. Dia yang mengendalikannya. Untuk apa. Sakit rasanya hati ini, aku seperti wanita bodoh.
Lagi dan lagi aku merasa seperti seseorang yang memang tidak bisa apa-apa dihadapannya. Aku pikir dalam hal ini aku sudah berhasil dengan kemampuanku sendiri.
“ibu tidak apa-apa?” suara itu menyadarkanku dari lamunan, secepatnya ku seka air mata yang membasahi pipi.
Entah mengapa perlakuannya kali ini membuatku merasa terhina, bagaimana dia bersandiwara sesempurna ini.
Note: maaf author jadikan 2. part ini terlalu panjang.
__ADS_1