
Hariku dipenuhi kebahagiaan, setiap saat aku dilimpahi cinta yang begitu besar. Aku pun jatuh cinta kepada laki-laki yang sama.
Laki-laki yang pernah aku benci, orang yang pernah aku cabik harga dirinya. Tapi dia masih dengan sabar mencintaiku. Memberikan perhatian lebih dengan tulus. meskipun tidak pernah aku hiraukan.
Aku pikir aku akan bahagia ketika lepas darinya, ternyata aku salah besar hatiku tetap dia pemiliknya. Sejauh apapun pergi, semua tentangnya selalu melekat dalam pikiranku.
Ternyata keputusanku benar memberinya kesempatan kedua. Cinta itu jauh lebih indah setelah Tuhan menghadirkan cobaan yang begitu besar padaku.
Betul kata pepatah akan ada pelangi setelah hujan. Aku merasa Rumah tanggaku lebih indah setelah badai besar itu menghantam.
Terkadang aku masih belum percaya dengan ini semua. Aku merasa berada dalam mimpi yang teramat indah. Aku takut ketika terbangun nanti, aku akan kembali merasakan sakit yang teramat. Tapi laki-laki kebanggannku itu meyakinkanku bahwa ini nyata. Cinta itu benar-benar sedang melingkupi hatiku.
Tuhan memberiku lebih dari yang aku minta. Cinta, perhatian dan pengorbanan suamiku terlalu besar untukku. Anak yang sehat, keluarga yang mencintaiku. Sungguh aku tidak ingin mengingkarinya. Kelancaran usaha suamiku, usahaku. Yang disini dan yang dikalimantan membuatku ingin berbagi dengan orang banyak. Sebagai tanda syukur atas nikmat yang diberika Tuhan padaku.
Sebuah kecupan mendarat di bahu telanjangku. Aku menggeliat, ciuman itu berulangkali mengganggu tidurku saja. memaksaku membuka mataku.
“selamat pagi sayang, bangun yuk. Shalat malam, berjamaah” seperti kebiasaannya mengajakku berjamaah. Biasanya aku akan bangun dengan senang hati.
Hari ini aku benar-benar lelah, pulang berlibur mempersiapkan pernikahan Anisa. Sampai acaranya selesai tadi malam.
Benar-benar menguras tenagaku. Ah, pernikahan yang aneh. Mempelai pria tersenyum bangga menyambut tamu yang hanya terdiri dari orang terdekat saja. mempelai wanita menangis pilu. Aku seperti melihat pernikahan insan yang dijodohkan paksa.
Sebenarnya aku bersyukur Nisa dapat Bang Fatih. Dua insan itu memang cocok di sandingkan. Tapi prosesnya terlalu cepat. Nisa tidak siap. Aku yakin Bang Fatih akan melakukan yang terbaik untuk Nisa hanya menunggu waktu. Pada saatnya nanti Nisa bisa menerima abang dengan bahagia. Aku harap itu secepatnya.
“mas, Nisa bagaimana?” kata pertama yang aku tanyakan pada suamiku.
“disuruh bangun malah tanya Nisa, jangan salahkan suamimu. Kamu yang memancingnya”.
“aaaa.......sakit mas” aku teriak. laki-laki itu bukannya menjawab malah menggigit bahuku gemas. Tatapannya sudah mulai tidak biasa.
“sayang...lagi ya...” aku segera berdiri, tidak bisa dibiarkan. Bisa panjang urusannya nanti. Aku berlari kekamar mandi.
“sayang buka pintunya, kita mandi bareng ya” menggedor-gedor pintu kamar mandi
“aku buru-buru lain kali saja ya” jawabku berteriak dari dalam.
“sunah lho mandi berdua” kata yang sering aku dengar. Aku tahu. tapi itu modusnya. Dia tidak akan benar-benar mandi, bisa-bisa ketinggalan waktu subuh kalau di layani.
“kapan-kapan saja sayang. Kan tadi malam sudah” aku tidak berbohong, pulang dari Acara Nisa saat aku membersihkan diri. tiba-tiba dia masuk kekamar mandi.
Memelukku dari belakang. Selanjutnya bisa ditebak. Bilangnya hanya sekali ternyata dia ingkar. Bahkan aku di gendong keluar kamar mandi. Kakiku seperti jelly. Tidak bisa berjalan.
Laki-laki itu senang di panggil bapak mesum. Dia akan tertawa bahagia mendengar panggilan itu.
***
“sayang kamu bujuk bapak dan ibu agar mau tinggal disini, mereka sudah sepuh takut ada apa-apa. Mas tidak tega membiarkan mereka pulang kampung” hari ini bapak berniat pulang setelah menghadiri pernikahan Bang Fatih.
sebenarnya aku juga berpikiran sama seperti suamiku tapi mau bagaimana lagi. orang tua akan lebih bahagia tinggal di tempat asalnya. Aku tidak bisa memaksa mereka.
“setidaknya mas lebih tenang kalau kamu dirumah ada mereka” sambungnya lagi.
“apa sih yang mas takutkan kalau fira dirumah sendirian” tanyaku, sebenarnya pertanyaan ini muncul sudah lama. Tapi baru ku utarakan sekarang.
“waktu awal kehamilan dulu mas takut kamu nekat menggugurkan, setelah itu koq hatiku rasanya nyaman dekat sama kamu, semakin lama mas ingin berdekatan sama kamu rasanya kangen terus” senyum itu ya Tuhan,,,
“ternyata naluri buayanya masih ada ya,,,” aku mencibirnya, aku tidak salah bukan. dia sering merayuku tanpa rasa malu.
“suamimu ini jadi buaya kalau ada pawangnya” jawabnya santai sambil menyendok makanan kemulutnya. Aku tertawa terpingkal, setiap hari ada saja gombalannya yang membuatku geleng kepala. Tidak tahu lagi sama ayahnya anak-anak belajar dari mana bahasa aneh gombalan begitu.
“anak-anak belum datang mas?” tanyaku. Bapak sama ibu mengajak anak-anak jalan-jalan keliling kompleks. Adam yang baru bangun juga di bawa. Kebiasaan bapak kalau dirumahku begitu. Bahkan beliau sering terlihat mengobrol santai dengan bapak-bapak sekitar rumahku. Bapak orangnya cepat akrab.
“mas suapi lagi, aaa” bersiap menyendokkan makanan lagi ke mulutku, aku hanya membuka mulut lebar. Ah, rasanya dadaku membuncah setiap saat. Laki-laki yang lembut, perhatian, sayang sama anak-anak mencintai keluargaku dengan ikhlas.
Tuhan,,,sehatkanlah laki-laki di hadapanku ini, aku tidak bisa membayangkan kalau harus berpisah lagi dengannya. Aku sudah menyerahkan semua hati ini untuknya.
“Assalamulaikum bunda Rania pulang...”terdengar suara putriku dari luar. Ibu dan bapak menyusul dibelakang, bapak yang mendorong Adam yang ada di stroller.
Kasihan bapak kalau harus menggendong adam. Bocah itu badannya montok. Pipi chubbynya sering menjadi sasaran gigitanku gemas. Kalau tahu adam selucu itu. tidak perlu dulu suamiku memasukkan obat kemakananku, dengan senang hati aku akan menyerahkan diri. Ah, dulu aku sangat membencin ayahnya. Ternyata cinta dan benci batasannya terlalu tipis.
Kebencianku pada ayahnya hanya karena aku egois. Kami sudah pernah berada dalam titik terendah dalam kehidupan berumah tangga. Cinta yang mengangkatnya kembali. Sehingga sekarang rumah tanggaku kembali naik kepermukaan. Sejauh apapun aku melangkah cinta kembali pada tempatnya.
Tidak semua wanita yang pernah di duakan akan mampu bertahan, berpisah adalah pilihan.
__ADS_1
Menemukan penggantinya adalah cara mereka melupakan kesakitan yang pernah dialami. Setiap orang berbeda,bagiku disakiti dihianati tidak akan bisa menghapus luka itu sampai kapanpun. Seandainya perpisahan adalah jalan yang aku pilih ketika itu. seumur hidup aku tidak akan mencari pengganti.
Bagiku tidak akan ada laki-laki yang benar- benar bisa menerimaku pun dengan hatiku tidak akan bisa benar-benar menerimanya.
Sendiri menjadi pilihan terbaik. Aku akan lebih bahagia. Yang aku khawatirkan dia bisa menerimaku tapi tidak bisa menerima anakku. Kalaupun ada laki-laki yang bisa menerima keduanya dengan ikhlas itu stoknya sudah habis dan aku tidak kebagian.
Aku mencari kesibukan dengan membuka usaha, melanjutkan S2. Menjadi wanita mandiri sepenuhnya. Dan aku bisa melupakan itu semua tapi tidak dengan kebencianku pada ayahnya Rania. Merasa di hianati untuk kedua kalinya membuat hatiku hancur berkeping.
Ternyata cinta yang di hadirkan suamiku membuat runtuhnya kebencian yang sempat menggunung. Aku yang membencinya dia yang mencintaiku tanpa pamrih. Ketulusannya tidak perlu diragukan lagi. kehadirannya memberiku warna indah dalam rumah tangga kami. Aku seperti manusia baru yang lahir dipenuhi dengan bunga yang bermekaran.
Mas Amir mengambil Adam dan bergegas untuk memandikannya selesai membereskan tempat makan kami, Dia lalu naik keatas.
“ibu bahagia melihat kalian sekarang. Amir benar-benar berubah, ibu bangga padanya. Kamu baik baik sama dia nak. Tidak akan ada laki-laki yang bisa memperlakukanmu seperti ini” ibuku mengusap tanganku lembut. Ada kehangatan mengalir masuk ke dalam sukmaku.
“apa sampai sekarang kamu masih disiapkan semua sama suamimu?” aku hanya bisa mengangguk. Memang mau bagaimana lagi. kenyataannya begitu bukan.
“terus apa tugasmu sebagai istri?” tanya ibuku lagi
“menyambutnya ketika pulang kantor, menemaninya makan, menyiapkan keperluannya ketika akan berangkat, Mas Amir melarang Fira melakukan semua takut fira capek katanya.” Ibuku menoleh ke bapak. Bapak menatapku dengan bibir masih terkunci.
“apa fira bahagia sekarang?” hanya itu yang keluar dari bibir bapak. Lagi-lagi aku mengangguk
“ cobaan berat itu sudah lewat. Jangan lupa bersyukur nak. Rumah tanggamu sangat bahagia sekarang. Suamimu begitu menyayangimu. Bapak tahu betul perjuangannya dulu” nasehat seorang ayah untuk anak satu-satunya.
“fira tidak akan melakukan kesalahan lagi pak. Sekarang kami sudah saling terbuka tentang apapun itu” begitulah Rumah tanggaku sekarang.
Orang lain tidak akan pernah tahu tentang badai besar yang pernah menghantam kami. Orang lain akan menilai keluargaku harmonis sejak dulu.
“bapak sama ibu tidak sarapan” suara itu memecah obrolan kami. Aku melihat Mas Amir menggendong Adam yang sudah bersih, wangi minyak telon tercium sangat menenangkan. aroma khas bayi yang tidak akan bosan siapapun menciumnya.
“Anak bunda sudah wangi. Sini gendong bunda sayang” aku mengambil Adam dari tangan suamiku.
“jangan terlalu memanjakan Fira Mir, bisa-bisa jadi pemalas dia nanti kalau kamu melakukan semuanya” itu suara ibuku
“tidak apa-apa bu saya senang
melakukannya. Lagian Fira sudah mengandung dan melahirkan Adam dengan semua pengorbanan. Perjuangannya luar biasa. Saya tidak merasakan kesakitan itu biarlah saya melanjutkan tugas. Ini hanya memandikan saja, sudah biasa” pembelaan suamiku di hadapan ibu mertuanya. Aku hanya menyimak sesekali mencium pipi Adam gemas. Anakku tertawa terpingkal ketika aku mencium bagian perutnya.
“Cuma sedikit bu, nantikan ada mbak tini yang lanjutkan. Lagi pula saya sangat bersyukur Fira mau kembali menerima saya. Dia ada disini menemani saya itu sudah lebIh dari cukup buat saya ” pembelaan suamiku.
perang ini terjadi seorang ibu yang membela menantunya dan seorang suami yang membela istrinya. Lebih dari itu aku sangat bahagia mendengarnya.
***
Selesai sarapan, ibu bersiap untuk pulang. Dia memasukkan semua keperluannya ke dalam koper. Aku sedih, seandainya mau dibujuk tinggal disini. Tapi bapak bersikeras ingin pulang. Aku tidak bisa apa-apa.
“Assalamualaikum...” kami serempak menjawab, suara laki-laki.
“biar mas yang bukain pintu sayang” suamiku sudah Rapi bersiap berangkat kekantor. Dia berjalan ke ruang tamu. Sambil memasang kancing lengan bajunya. Oh, kerennya suamiku. siapa yang tidak akan jatuh cinta kalau begini.
“tumben, masuk dulu. Ibu sama bapak sudah siap pulang hari ini” suara suamiku siapa tamunya kira-kira kok tahu bapak dan ibu.
Aku berdiri hendak menyusulnya. Tapi mereka sudah ada diruang keluarga. Dr, Angga dengan dua orang bayi dan satu perempuan yang aku tahu itu pengasuh kenzy dan keysa anak kedua angga dan Andara.
“bu, ada kenzy nih..” aku berteriak bahagia ibu keluar dengan tergesa
“nenek kangen sama kenzy” ibu memeluk kenzy dengan erat seperti seorang nenek yang tidak bertemu cucunya.
“maaf bu baru sempat bawa kenzy sekarang” Dr. Angga mencium tangan ibu dan bapak yang baru keluar dari kamar ibu dan bapak bergantian.
“tidak apa- apa” jawab ibu.
“boleh tidak Fir, saya titip anak-anak disini seminggu. Saya harus keluar kota ada seminar. Sudah ditolak tapi tidak bisa, sebenarnya berat meninggalkan mereka tapi bagaimana lagi di bawa juga tidak mungkin bukan. ibu ke singapura. Kakakku persiapan lahiran jadi bingung aku”
“tidak apa-apa nak Angga. Biar mereka disini. Kita tunda pulangnya ya pak, mumpung rame disini. Mau ya” ibuku merayu bapak. Bapak hanya mengangguk pasrah.
“cari ibu buat anak-anak lah, kasihan kan mereka juga butuh kasih sayang seorang ibu” saran suamiku ada benarnya juga.
“belum bisa. Wajah keysa mirip banget sama mamanya. Sepertinya Tuhan memang membuatnya begitu. Ketika aku kangen cukup lihat dia saja” benar juga, aku bilangnya keysa itu fotocopynya Andara.
Mata, hidung, bentuk alis bibir. Bahkan Rambut lurus dan tebalnya juga mirip.
Rambut angga sedikit bergelombang.
__ADS_1
“lagi pula sampai sekarang aku belum bisa menerima perempuan lagi. aku takut mereka tidak bisa menerima kenzy dan keysa” tiba-tiba kesedihan menyelimuti ruang keluarga.
“pelan-pelan saja. semoga suatu saat Tuhan akan mempertemukanmu dengan perempuan yang menyayangi mereka Angga” jawab ibuku dia memangku kenzy
“yey, ada kenzy sama keysa, tapi Rania mau sekolah gimana dong g bisa main kita” kenzy sam girangnya bertemu Rania yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
“sekolah dulu, mereka masih seminggu disini” jawabku memberi pengertian pada Rania
“benar om? ” tanyanya memastikan jawabanku pada Angga. Ayahnya kenzy mengangguk.
“kenzy, kakak sekolah dulu nanti pulangnya main ya”anakku berpamitan. Usia keysa hampir dua tahun. Kenzy sekarang hampir menginjak usia empat tahun. Sedang lucu-lucunya.
Aku senang ibu tidak pulang Hari ini. rumahku jadi ramai kedatangan dua mahluk mungil ini. aku semakin bahagia.
“sayang, mas berangkat dulu ya” suamiku berpamitan. Aku mencium tangannya. Demikian juga dengan Mas amir dia berpamitan sambil mencium tangan bapak dan ibu bergantian.
Kemudian dia menghampiri adam yang sibuk dengan mainan mobil-mobilannya di karpet.
“angga, saya tinggal dulu kamu ngobrol dulu jangan langsung pulang” pesannya pada Angga.
“siap, masih kangen juga sama bapak ibu” jawabnya
Kami duduk diatas sofa, mengobrol di ruang keluarga setelah aku mengantar Mas Amir sampai keluar, anak-anak dibawah ditemani pengasuh yang dibawa Angga.
“saya belum menemukan yang seperti Andara bu, wanita itu hanya memberikan saya dua tahun kebahagiaan. Tapi saya sangat bersyukur dia memberikan saya dua orang anak. Mereka mampu menghilangkan kesedihan saya ketika rindu itu sudah tidak terbendung” jawab Angga ketika ibuku bertanya alasan angga masih sendiri sepeninggal andara.
“ayah sering nangis kalau tengah malam nek. Kenzy kasihan melihatnya”bicara kenzy sudah lancar. bahkan dia tahu kesedihan ayahnya.
“semua terserah kamu angga. Pesan ibu, lakukan yang terbaik untuk kamu dan anak-anak” pesan ibu. seperti seorang ibu yang menasehati anak kandungnya
“ibu jadi pulang hari ini” suara itu mengejutkan kami. Serempak menoleh. Bang Fatih menggandeng tanga Nisa.
“di tunda seminggu lagi kasihan kenzy mau di tinggal seminar ayahnya” jawab ibuku
“bapak tidak keberatan” Bang fatih memang paling tahu kebiasaan Bapak yang tidak betah berlama-lam di tempat lain. Ibu mengiyakan
“Nisa,,,”panggilku pelan. Adik iparku itu menunduk. Bang Fatih tersenyum melihat istrinya. tatapan penuh cinta.
“pengantin baru koq begitu harusnya bahagia dong”candaku, apa dia belum bisa menerima bang fatih ya.
“kak, nisa mau bicara boleh” aku menoleh ke arah Bang fatih, aku paham maksudnya.
Aku di kamar berdua dengan Nisa, yang lain masih mengobrol dibawah
“apa nisa belum bisa menerima Abang?” tanyaku pada Nisa, sejak kedatangannya tadi aku lihat raut kesedihan tergambar jelas. ada apa sebenarnya
“Tidak ada alasan Nisa untuk tidak menerima bang fatih kak?” katanya aku heran lah,
“terus kenapa Nisa masih sedih” tanyaku penasaran
“Nisa malu, sudah berpikiran buruk sama laki-laki itu” aku masih diam menunggu lanjutannya
“dia baik, bahkan sangat baik untuk Nisa” aku hanya menarik nafas, tidak ingin menyela pembicaraannya.
“malam pertama kami, Nisa pikir dia akan meminta haknya. Aku pikir laki-laki itu arogan dan suka memaksa. Nisa nangis semaleman. Pas dia ngajak Nisa sholat berjamaah pertama kali Nisa kaget. Selesai sholat dia mencium kening Nisa. Sambil baca doa. Lagi-lagi Nisa kaget. Semua diluar pikiran buruk Nisa tentangnya” terjeda lagi-lagi aku menunggu dengan sabar
“terus dia bilang tidurlah jangan terlalu lelah. Abang tidak akan meminta kalau Nisa belum siap. Abang menikahi Nisa hanya ingin menghalalkan, tidak lebih. Jadi ketika abang menyentuh Nisa itu tidak ada keraguan lagi. Nisa terlalu berharga hanya untuk disentuh oleh laki-laki. Setelah ini abang akan menuruti keinginan Nisa meskipun tidak semua karena keadaan abang yang tidak memungkinkan. Gimana Nisa g malu kak, sudah berpikir yang tidak-tidak” aku sudah bisa menebak Bang Fatih memang orang
yang baik.
"memang apa yang ada di fikiran Nisa tentang abang" tanyaku
"laki-laki arogan yang hanya sibuk mencari uang. kejam, tidak ingat akan Tuhan, playboy dan tidak tahu perasaan. buruk sekali kan kak" wajahnya penuh penyesalan
“terus Nisa sudah malam pertama belum?” tanyaku menggoda. Wajahnya bersemu merah. Dia menggeleng sambil menyembunyikan wajah malunya.
“belum siap?” tanyaku lagi. dia mengangguk.
“tidak apa-apa. Bang Fatih tidak memaksa. Yakinkan dulu hatimu kalau sudah benar cinta itu ada. Lakukan dengan ke ikhlasan. Maka kamu akan di doakan ribuan malaikat” jawabku sambil memegang tangannya. Lagi lagi dia mengangguk.
Semua sudah mendapat kebahagiannya sendiri. aku ikut bahagia untuk Nisa dia mendapatkan jodoh yang pantas. Mereka memang pasangan yang Pas. Semoga badai rumah tangganya kelak tidak se dahsyat badai di rumah Tanggaku.
Semoga Angga dapat pengganti yang baik bisa menerima kenzy dan keysa dengan tulus.
__ADS_1