
Aku lebih menyukai pagi untuk saat ini, mentari yang menyinari bumi mengantarkan perasaan hangat dalam diriku. Dan ketika mataku terbuka untuk menyambutnya, hilang sudah segala kesedihan ketika bergelung dengan malam.
Malam, hanya mengantarkan aku pada ingatan tentang penghianatan dan kesengsaraan hidup yang pernah aku jalani. Sesekali air mataku masih menetes di tempat sujudku. Ketika mengadukan semuanya pada pemilik hidup. ketika perih itu datang melanda.
Sudah tiga hari Rania di rawat, kondisinya sudah mulai membaik kabar gembiranya kalau hasil lab nanti menunjukkan tidak ada yang serius, hari ini Rania boleh pulang. Bersyukur sekali putriku makannya lahap. Jadi, aku bisa bernafas lega untuk bisa membawanya pulang.
Sejumlah agenda yang tertunda akan aku lanjutkan lagi, tujuanku hanya untuk berjuang demi masa depan Rania, itu saja.
aku merasa sebatang kara disini tidak ada sanak family dan teman yang aku kenal. Jadi semuanya aku kerjakan sendiri. bahkan ketika hatiku merasa lelah, diam dan hanya memendam saja yang bisa aku lakukan, tidak ada tempat untuk berkeluh kesah.
“Selamat pagi cantik, bagaimana hari ini. makannya sudah lahap ya, pinter...” suara dokter ayu, pagi ini dia datang mengunjungi Rania untuk memeriksa kondisinya.
“baik, dokter semakin cantik pasti sudah mandi. Dokter juga wangi?” jawab anakku dengan nada riang. Ah, bahagia sekali aku. Melihat Rania benar-benar bersemangat pagi ini.
“mari kita lihat, apakah hari ini princes Rania sudah bagus kesehatannya. Makannya lahap ya, minumnya juga bagus dan tidurnya sudah nyenyak” kata dokter cantik itu sambil memeriksa Rania dengan stetoskop berwarna pink karakter hello kittty.
Dokter ayu, mengambil laporan yang dibawa perawat yang mengikutinya masuk tadi. Menyerahakan kertas hasil lab Rania ke tanganku. Dokter ayu menjelaskan, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi fisik Rania, hanya saja psikisnya yang perlu dijaga, moodnya jangan sampai down.
“kalau memang ibu masih bersikeras tidak ingin mempertemukan Rania dengan Ayahnya, paling tidak berikan dia kegiatan positif yang bisa mengalihkan perhatiannya” itu pesan dokter ayu, tentu saja kami melakukan pembicaraan ini di luar ruang perawatan Rania. Takut anakku mendengar kami membicarakan ayahnya.
“baik, terima kasih dokter atas sarannya” kataku dengan semangat yang kembali menyala. Rania dulu tidak mudah sakit, bagaimana sekarang dia bisa dengan mudahnya tiba-tiba panas tinggi. apakah memang begitu parahnya psikis mempengaruhi kondisi fisik seseorang.
Aku bisa menuruti semua keinginan Rania kecuali untuk yang satu ini. aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak ingin siapapun tahu keberadaanku. Kalau pada ahirnya harus ada yang tahu biarlah itu terjadi nanti ketika hatiku sudah siap.
Hari ini aku tidak ingin kemana-mana. Ingin tidur menemani Rania setelah keluar dari rumah sakit. Rasanya badanku lelah karena kurang tidur selama menunggui anakku dirawat.
Mencari kegiatan positif apa yang bisa mengalihkan perhatian Rania, itu yang terpenting. Agar anakku bisa aktif dan memiliki banyak teman. Nanti saja aku tanyakan minatnya kalau kondisinya sudah benar-benar pulih.
Beberapa vitamin dan obat yang di resepkan dokter sudah aku tebus di apotek. Besok aku akan memikirkan lagi tentang kelanjutan usaha dan beasiswaku.
Ternyata tantangannya seberat ini. aku pikir semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana, ternyata tidak, jalanku seolah terseok untuk menggapai tujuanku. Tuhan... kuatkan aku, hanya ini satu-satunya jalan agar aku bisa membuktikan bahwa aku bukan wanita manja yang perlu dikasihani
Wanita yang akan mengemis perhatian dari laki-laki manapun. Aku yakinkan diriku bahwa tanpa suami aku bisa hidup lebih baik.
Menempelkan tulisan lowongan pekerjaan di depan ruko yang aku sewa. Pertama kalinya aku akan mencari mereka yang berpengalaman. Aku membutuhkan mereka karena sungguh tidak paham tentang apa dan bagaimana kebiasaan hidup masyarakat disini.
Ku lajukan mobil menuju kampus, mengambil jadwal mata kuliah dan daftar mata kuliah yang akan aku tempuh. Kuliah dengan status yang berbeda, kalau dulu aku hanya fokus kuliah, menunggu uang kiriman dari bapak sudah selesai. Sekarang aku harus memecah pikiranku mengurus Rania, mencari uang untuk bertahan hidup dan belajar agar S2ku selesai tepat waktu.
Karena uang yang aku dapatkan tidak mungkin selalu ada. Semua yang ada direkeningku yang lama sudah kau transfer kerekeningku yang baru. aku tidak ingin siapapun bisa melacak keberadaanku sekalipun lewat rekening tabungan. Aku sudah antisipasi itu sebelumnya.
__ADS_1
Uang dari hasil usahaku, dan perusahaan mas Amir. Aku meninggalkan rekening Bank yang beirisi gaji mas Amir. Tapi sebelum itu isinya pun sudah aku transfer ke rekening bank yang tidak ada seorangpun tahu tentang itu, sempurna bukan rencanaku.
Selanjutnya, tinggal mencari tempat les piano untuk Rania, dari sekian banyak les privat yang aku tawarkan les piano yang menarik minat Rania. Baiklah, untuk mengalihkan perhatian Rania apapun akan aku lakukan.
Cukup sudah maaf yang aku berikan untuk suamiku dan wanitanya, tapi mengapa masih ada penghianatan dibelakangku. Apakah aku terlihat bodoh dihadapan mereka. Atau memang penampilanku yang terlalu sederhana. Tidak menarik minat mas Amir. Laki-laki itu hanya berpura-pura baik padaku demi tidak memisahkannya dengan Rania.
Mungkin sudah saatnya merubah penampilanku agar dia tahu bahwa tanpanya aku mampu bahagia. Memanjakan diri di salon membeli baju yang lebih baik dan sesuai, demi menunjang penampilanku. Ketika saatnya aku sudah siap menampakkan diri dihadapan mereka setidaknya aku terlihat lebih berkelas.
Baiklah, aku akan pikirkan satu persatu. Sekarang yang lebih mendesak dari itu yang akan aku dahulukan.
Mencari tempat les piano untuk Rania aku lakukan lewat aplikasi di laptop. karena tidak menemukan iklan tentang itu dimanapun.
Membuka aplikasi yang berlambang huruf G, untuk mencari lokasi les yang terdekat dengan rumah.
Tiba-tiba aku menerima notifikasi berlambang huruf M itu di laptop. Ya Allah...nama yang tertera disana membuat jantungku berdetak lebih cepat. Keringat dingin membasahi tanganku. Badanku bergetar hebat. Bagaimana aku bisa lupa emailku yang lama masih aktif disini. Ini pertama kalinya aku menggunakan laptopku setelah menghilang, aku belum sempat menggunakannya karena kuliahku belum di mulai.
Semua akun sosial mediaku memang aku hapus di HP, emailku di laptop masih email yang lama. “amir Syarifudin” terpampang jelas disana. aku ragu untuk membukanya, bagaimana kalau dia tahu keberadaanku. Ah, kalau dipikir lagi biar saja dia tahu, toh dia sudah berbahagia sekarang dengan istrinya. Pesan apa yang ingin dia sampaikan baiklah aku akan membukanya.
“assalamualaikum istriku” cih, kalimat pembuka macam apa itu. Istri?, siapa yang dia panggil istri. Ini adalah pesan yang dia kirim tiga bulan lalu sesuai dengan tanggal yang tertera disana
“bagaimana kabarmu, dan bagaimana kabar Rania. Kalian baik bukan. Semoga saja begitu. Karena suamimu ini sedang tidak baik-baik saja” lagi-lagi dia menggunakan kata suami. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Hatiku panas setelah membaca dua kalimat pembuka surat ini.
Istriku, pada hari aku berangkat kerumah ibu, aku membawa mobil sendiri tidak menggunakan sopir. Karena aku akan menemanimu dirumah ibu berapa lamapun yang kalian mau. Ijin cutiku satu minggu disetujui, betapa tak sabar aku akan menyampaikan kabar gembira ini pada kalian. Kebahagiaan menyertaiku selama perjalanan.
Sampai dirumah ibu sepi, aku tidak mendengar apapun. Aku pikir mungkin kalian sedang tidur karena waktu aku sampai sudah larut. Kuketuk pintu perlahan sampai ucapan salamku yang ketiga bapak yang keluar menyambutku. Beliau menatapku heran, dia mencari-cari dibelakangku tatapannya bingung akupun ikut bingung. Sampai ahirnya dia bertanya mengapa aku sendirian kemana kamu dan Rania katanya.
Aku bertambah bingung. Bukankah seharusnya kalian ada disini bukan. Ada dirumah bapak dari dua hari yang lalu. Ibu menghampiri kami, beliaupun ikut bingung. Aku menceritakan kepergianmu. Bahkan aku juga sudah memastikan sopir yang mengantarkanmu selamat sampai ditujuan.
Kami baru sadar kalau kalian sudah pergi jauh, ibu menangis histeris. Bapak tak kalah kaget. Beliau bertanya ada apa. Akupun menjawab kalau kami baik-baik saja. kami terdiam hanya terdengar suara tangisan ibu yang memanggil Namamu dan Rania.
“ Aku berjanji pada mereka untuk mencarimu, dan membawa pulang kalian dengan selamat. Aku mencari kemana saja seperti orang gila. Bertanya kepada siapapun yang mengenalmu. Tapi jawaban mereka sama, tidak tahu itu katanya. Aku tidak memperhatikan diriku. Bahkan aku membawa fotomu dan Rania kemanapun aku pergi dan memperlihatkan kepada siapapun yang aku temui, tapi nihil. Aku benar-benar telah kehilanganmu.
Sayang, bagaimana kamu bisa ketempat asing, apakah kamu tersesat?, yang aku khawatirkan kamu dan Rania terlunta-lunta ditempat asing. Kamu tidak pernah ketempat baru tanpa aku. Aku membayangkan wajahmu dan Rania yang ketakutan dalam gelap. Itu pula yang menghampiri mimpiku setiap malam.
Istriku, serapi itu rencanamu untuk meninggalkan aku. Bahkan akupun tidak menyadarinya. Sopir kantor pun kamu kelabui. Seberapa besar rasa sakit yang kamu rasakan sampai tidak sanggup untuk menceritakannya padaku. Aku bingung tidak mengerti apa salahku. Sampai aku mengetahui penyebab kamu meninggalkan aku.
Surat cerai, cincin kawin, rekening bankmu sampai bukti transfer itu sudah menyadarkanku bahwa kamu memang benar-benar terluka. Dimanapun kamu berada, pulanglah aku merindukanmu juga Rania. Atau katakan saja tempatmu sekarang, aku akan menjemputmu kita kembali seperti dulu.
Aku tidak bisa menjelaskanmu disini tentang bukti transfer itu. Aku yakin kamu tidak akan mempercayainya. Aku juga tidak akan mengatakan kalau kamu egois. Semua wanita kalau ada dipihakmu juga akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Atau kalau kamu masih belum bisa pulang setidaknya kabari aku, balaslah surat ini kalau sudah kamu baca. Aku ingin mendengar suaramu juga Rania. Aku merindukan kalian puangLah!!!.
Aku rindu walau hanya mendengar suaramu, meskipun kau membenciku begitu besar, percayalah aku mencintaimu lebih besar lagi. dan kuharap suatu saat cintaku yang akan menjadi pemenangnya.
081********0 hubungi nomor Ini, jika sudah siap untuk pulang biarkan aku menjemput kalian.
Dariku...
orang yang paling terluka atas kepergianmu.
Kututup pesan pertama yang masuk. Masih ada dua lagi surat yang tertera disana. aku menarik nafas panjang. Melepaskan beban yang menghimpit.
Aku ragu apakah akan melanjutkannya atau tidak untuk membuka pesan yang kedua dan ketiga. Surat pertama kau menganggapnya hanya bualan seorang laki-laki yang egois. Yang hanya mengikuti keinginannya saja untuk menghalalkan poligami.
Dengan sedikit tarikan nafas aku membuka surat kedua, ada ragu aku takut kalau pada ahirnya nanti aku merubah pendirianku. Aku sadari rasa itu masih ada walau sedikit. Aku tidak bisa benar-benar membencinya kalau boleh jujur. Mungkin sang waktu belum mengijinkanku untuk membuang rasa ini untuknya. Aku harus lebih bersabar.
Surat ini terkirim seminggu yang lalu, masih sangat baru. jaraknya cukup jauh dari surat pertama.
“assalamualaikum kak, ini aku annisa” ada apa dengan mantan adik iparku, mengirim surat, melalui email Mas Amir. Hatiku bertanya, apakah anisa yang akan dia jadikan senjata untuk membuatku luluh?. Maaf itu tidak akan pernah terjadi.
“maafkan kesalahan abang, atas nama keluarga kami minta maaf, atas semua khilaf yang abang lakukan. Tapi bisakah kakak tidak menghukum abang seberat ini. lihatlah kak. Laki-laki yang kami banggakan harus kehilangan segalanya. Anak, istri bahkan hidupnya sekarang sudah hancur. Kalau itu tujuan kakak. Nisa ucapkan selamat. kakak berhasil.
Ini beberapa bukti foto abang untuk meyakinkan kak fira bahwa kami tidak sedang mengarang ."
Gambar pertama, Mas Amir terbaring dengan selang infus tertancap ditangan kirinya, seperti ruangan sebuah rumah sakit. Wajahnya tirus, tatapan matanya sayu jangan lupakan jenggot dan kumis yang tumbuh tidak terawat disana.
“bukan tubuhnya yang sakit tapi mentalnya, dia kehilangan semangat untuk sembuh. Bahkan lebih tepatnya abang tidak ingin sembuh. dia seperti jasad yang ditinggal rohnya.”
Keterangan yang tertulis dibawah foto. Bahkan digambar berikutnya aku melihat la duduk dengan tatapan kosong.
Ada sekitar delapan gambar yang tertera disana. jujur hatiku sedikit tersentuh. Dimana istrinya, mengapa keluarganya yang merawat Mas Amir.
Badan yang kurus, hilang kesan gagah yang selama ini aku banggakan. hanya tinggal tulang yang ringkih yang dibalut kulit saja.
Sesosok manusia yang hampir tidak aku kenali, bahkan untuk bernafaspun dipasangi alat bantu.
Ada apa dengannya?? Bukankah seharusnya dia bahagia dengan kepergianku. Bukankah mereka sudah aku bebaskan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.
Note: saya bagi jadi 2 part soalnya kepanjangan. nanti diteruskan membaca surat yang ketiga. Yang jelas isinya lebih menyayat.
__ADS_1