BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
KLINIK AZ-ZAHRA


__ADS_3

Aku turun kebawah setelah tertidur selesai sholat subuh, sudah jam enam pagi.


Ini terlalu siang untukku. Bukan kebiasaaanku.


Rania dan Ayahnya sudah ada dapur. Laki-laki itu terlihat sangat sibuk, sementara Rania duduk di meja makan.


“bunda sudah bangun” suara anakku.


Aku tersenyum, ayah Rania melihatku sambil tersenyum.


“sudah enak badannya?” tanya nya. Aku mengangguk. Jujur melihat diamnya dan kata-katanya tadi malam membuatku sedikit tidak tega. Mungkin memang aku keterlaluan


Makanan sudah terhidang dimeja makan, jus buah, susu hangat, potongan buah segar. Menu sarapan nasi goreng sozis. Sial, dia masih ingat makanan kesukaanku.


sejak kapan dia bisa memasak. aku merasa malu. aku seperti Ratu dirumahku sendiri. bangun segala hidangan sudah tersedia.


"mulai sekarang aku yang akan melayani kalian" ucapya dengan penuh percaya diri.


Ku tatap tajam tidak percaya ke arahnya, aku curiga Jangan-jangan beli makanan direstoran via online.


“ayah membuat sesuai dengan yang ada di buku resep bunda” katanya seolah laki-laki ini bisa membaca pikiranku. Aku menunduk


“ayah,,, nasi gorengnya enak, sama kayak bikinan bunda” Rania wajahnya cerah, sungguh aku tidak yakin.


“oh, ya,,, termakasih” jawab sang ayah. Aku hanya menonton. aku bahkan tidak tertarik untuk mencicipi nya.


Ayah Rania terlihat keren pagi ini. aku tidak berbohong. Bajunya yang sudah rapi kemeja hitam lengan panjang di gulung sampai siku dan celana hitam yang pas di badannya. Jangan lupakan rambutnya yang terisisr rapi. Celemek yang menempel di badannya seolah menambah sempurnanya laki-laki itu pagi ini.


“sayang, mau minum jus atau susu dulu” suara itu mengagetkanku


“mmm...terserah” aku bingung mau jawab apa. jujur aku tidak siap dengan pertanyaan.


“kenapa melihat suamimu seperti itu, ada yang salah” aku hanya menggeleng pelan sambil memegang tengkuk. Aku salah tingkah. bisa-bisanya aku mengagumi laki-laki yang telah menanamkan benih dengan paksa dalam rahimku


“minum susu dulu ya” katanya menghampiriku dengan segelas susu hangat di tangannya.


“aku mau buah” membawa susu dan buah dikedua tangannya.


“mau di suapi?" tanyanya lagi.


“aku sedang tidak sekarat sampai makan buah saja harus dibantu” jawabku ketus.


Kalau boleh jujur aku tidak membenci ayahnya Rania, entah mengapa setiap melihat dia baik-baik saja aku tidak suka. Ingin membuatnya sengsara sepertinya obsesiku ahir-ahir ini.


“nasi gorengnya mas ambilin, dimakan ya” tatapanku tajam kearahnya.


Dia diam


“tidak apa-apa nanti ambil sendiri ya. Tapi harus makan” perintahnya. Aku tidak ingin merendahkan harga diriku dengan memakan masakannya.


“mas boleh bicara?” tanyanya. Aku tidak peduli masih fokus makan buah kupas, rasanya sangat segar. Ayah Rania Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


‘kalau boleh, untuk sementara sekolahnya Rania pindah kesini dulu” diam.

__ADS_1


Aku terkejut, apa-apaan. Aku baru berencana mau kembali lagi karena Rania sudah terlalu lama ijin tidak sekolah


“aku mau pulang besok, Rania sudah banyak ketinggalan pelajaran mengurusi hal-hal tidak penting disini" aku tidak pernah berbicara dengan nada sopan dengan laki-laki ini


“aku khawatir kamu disana tidak ada yang menjaga, mengingatkanmu minum susu , minum vitamin. Istirahatmu juga akan berkurang karena kamu akan sibuk mengurus kantor dan Rania sendirian” .


penjelasannya membuatku mengernyitkan dahi. Sejenak tatapan tidak suka beralih kearahnya.


“kamu pikir aku tidak bisa melakukan itu sendiri. aku mau minum vitamin atau tidak apa pedulimu toh anak ini hadir bukan atas keinginanku.” Lagi-lagi dia menganggapku lemah.


“mas tahu, sebenarnya mas tidak ingin memberatkanmu dengan kehadiran bayi itu. Seandainya bisa dipindahkan mas dengan senang hati menampungnya”


aku tidak suka jawaban itu. Seharusnya dia mendebatku setelah itu aku yang menang. Kalau seperti ini sepertinya aku menang karena musuhku mengalah. Tidak terlihat keren sama sekali.


“mas sudah memikirkan, setelah anak ini lahir akan memberikan kebebasan padamu untuk memilih jalan hidupmu sendiri. mungkin aku laki-laki egois yang suka memaksakan kehendak. Tapi percayalah dari dulu sampai sekarang apa yang mas lakukan demi kalian” nadanya lemah, dia menunduk.


“aku ingin membebaskanmu sekarang, tapi tidak bisa, agama mengharamkan itu karena kondisimu. Jadi tunggulah sampai adiknya Rania lahir” diam lagi.


“biarkan mas melihat wajahnya sebelum kamu membawanya pergi jauh” mataku panas mendengar penuturan ayah Rania.


Hatiku seperti diremas, sakit namun bukan sakit karena dendam. Justru aku sakit atas keikhlasannya.


“baiklah lakukan yang ingin kamu lakukan” aku tidak punya pilihan. Hanya sementara bukan,,,sampai anak ini lahir.


“kamu setuju?” tatapan bahagia itu. Dia beranjak hendak memelukku. Aku pasang muka dingin


“terima kasih” mundur beberapa langkah.


“ada syaratnya” tidak ada yang gratis untuk kebahagiaannya. Harus ada pengorbanan untuk menebus itu semua.


“aku mau minta mobil” kataku. Tapi wajah itu tidak terkejut sama sekali justru binarnya semakin senang. aku tidak berbohong. aku ingin berjalan-jalan menikmati hidup. untuk menghilangkan suntuk karena memikirkan bayi Mas Amir dalam kandungan ku.


“anak ayah ngidam mobil yah” katanya mengusap perutku yang masih rata. Ku tepis tangannya kasar.


“tapi, tidak boleh pakai uang perusahaan, tidak boleh memakai uangku. Tidak boleh pinjam bang fatih. Apalagi memakai uang ibu. pokoknya tidak boleh pinjam siapapun. Jangan lupa Uang halal” wajah bahagianya berganti kaget. Dia menggaruk kepalanya. sepertinya dia Frustasi.


Aku puas melihat wajah itu. Tersenyum penuh kemenangan menyambut keruwetan pikiran ayah Rania. Jangan panggil aku syafira kalau tidak bisa membuatnya menderita.


“berusaha ayah, Rania tidak mau pisah dari ayah. Rania doakan ayah berhasil” cih, senang sekali dia dapat pendukung. Wajahnya kembali bersemangat.


“terima kasih sayang” ayah dan anak itu berpelukan. Biar saja aku yakin aku akan menang. Aku tahu dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah punya tabungan di bank manapun. semua uangnya masuk ke rekening atas namaku.


***


Mas Amir mengajakku kesuatu tempat. Ada yang ingin bertemu katanya. Entahlah.


Laki-laki ini selalu penuh teka-teki. Aku ikuti maunya. Rania tidak ikut karena ini hari pertamanya disekolah yang baru. setelah satu minggu mengurus kepindahan Rania via online. Dan bantuan wali kelas Rania di sekolah yang lama.


“beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu. Kalau setelah ini hatimu masih tidak bisa denganku. Aku akan belajar ikhlas. Karena mungkin sebesar apa pun cinta ini, sebesar itu juga kamu akan menderita kalau kamu belum bisa menerimaku” ucapnya pelan memecah kesunyian didalam mobil, tatapannya lurus kedepan fokus pada jalan sambil menyetir.


“jujur, aku tidak membencimu. Kenyataan bahwa kepergianku hanya salah paham sudah menghapus benci itu seketika. Tapi perasaan itu sudah hilang tidak ada lagi kebahagiaan jika kita bersama” tatapanku sama lurus kedepan kami berbicara tanpa saling menatap.


“aku tahu, dan tidak memaksa . Aku punya waktu delapan bulan sebelum hari itu tiba. Boleh kah aku melindungi dan mencintai kalian sebelum aku menepati janjiku” suaranya melemah.

__ADS_1


“lakukanlah, tapi jangan berharap banyak aku tidak bisa menjanjikan apapun” aku benar bukan. hati ini benar-benar tidak punya rasa. Mungkin hidup sendiri itu jauh lebih menyenangkan.


suasana kembali sunyi, kami hanyut dengan pikiran sendiri.


Tiba-tiba mobil berhenti, laki-laki memakai kemeja kotak itu keluar membuka pintu mobil disebelahku


“mas bantu, tangannya menggapai hendak menggendongku.


“aku bisa sendiri” aku segera turun. Hanya ingin membuktikan kalau aku tidak butuh bantuannya.


Berdiri di depan sebuah gedung berlantai satu. Suasananya cukup nyaman. Halaman yang luas banyak ditanami rumput hijau, pagar besi berwarna putih . luas lahan ini kira-kira 20x25 meter. Bangunan megah ditengahnya dengan nama tertulis “KLINIK AZ-ZAHRA”. Dia menggandeng tanganku masuk.


Aku hanya pasrah dia membawaku masuk ke dalam. Di pintu masuk karyawan perempuan berjejer. Aku bingung kutatap ayah Rania. Dia tersenyum.


“selamat datang ibu syafira, senang bertemu ibu ” menyalamiku satu persatu. Aku masih bingung ini apa sebenarnya.


“perkenalkan nama saya Dokter irawan. dokter spesialis kejiwaan. Kebetulan saya kepala di klinik ini. saya diberikan kepercayaan oleh dokter angga dan pak amir untuk mengemban tugas itu” laki-laki berperwakan tinggi. kulitnya terlihat bersih pun dengan wajahnya. dia ikut menyambut kami. berbicara dengan ramah.


“bapak Amir sudah mengabari kami kalau hari ini ibu akan berkunjung, mari saya antar berkeliling bu” tetap dengan tidak tahu malunya laki-laki ini menggandeng tanganku. Berjalan berkeliling dari ruangan satu ke ruangan yang lain.


Terdapat beberapa ruangan yang berisi pasien yang didampingi orang dewasa mungkin orang tua atau kerabatanya, usianya sekitar 6 sampai 12 tahun, dan beberapa ruangan terlihat masih kosong.


“penyakit ocd sekarang tidak hanya menyerang orang dewasa bu, anak-anak juga dan kasusnya selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. saya bersukur dengan berdirinya klinik ini banyak sekali membantu mereka. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah dampak lebih parah yang ditimbulkan di masa yang akan datang.”


Penjelasan dokter ini semakin membuatku paham bahwa ini adalah klinik yang menyebabkan kesalah pahaman tiga tahun yang lalu.


“ini adalah anak dari perusahaan PT. DUA MUTIARA. Idenya memang tercetus dari dokter angga, tapi karena kondisi nyonya Andara waktu itu ahirnya semua dana klinik ini atas nama ibu syafira” terhenyak aku dengan penjelasan dokter ini. memang kenapa Andara. Dan mengapa harus atas namaku.


Selesai berkeliling, kami pamitan pulang. Rasa penasaran menghantuiku. Apakah Andara belum sembuh sepenuhnya


“ketika melahirkan kenzy andara sempat koma, dokter angga disuruh menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa dokter tidak bisa menyelamatkan keduanya. Angga disuruh memilih salah satu” penjelasan ayah Rania ketika kami berada didalam mobil.


"semua uang investasi yang di tanaman kan angga dia tarik untuk biaya pengobatan Andara, sehingga klinik ini murni dengan dana PT. DUA MUTIARA dan atas namamu" aku melirik ayah Rania, aku terharu tapi sedikit.


Aku menarik nafas berat ternyata Andara pernah menerima cobaan seberat itu.


“kehamilannya yang sekarang juga beresiko yang sama itulah sebabnya ibu menasehati andara panjang lebar waktu itu. Dia menderita inkompetensi serviks atau rahim lemah. Penyakit itu diturunkan dari ibunya.


Masih ingatkan waktu beliau cerita dirumah sakit” aku masih ingat. Proses kelahiran andara yang harus menyebabkan rahimnya diangkat.


Kenapa aku merinding mendengar cerita ini, aku juga sedang hamil bagaimana kalau aku mengalami hal yang sama. Ya Allah...selamatkan aku dan bayiku.


"apa kenzy tidak ada sumbangan dari mu?" ayah Rania menatapku tak percaya. tatapanya tajam.


"mengapa menatapku begitu, apakah dugaanku benar" jangan sampai dia mengiyakan. lihat saja


menarik nafas panjang hendak menjalankan mobil aku menahannya. aku butuh jawaban. aku tahu dia marah.


"sejak aku sakit sampai sembuh aku tinggal dirumah ibu, beliau dan Nisa yang mengurus ku dengan sabar. bahkan aku tidak tahu kabar ibu dan bapakmu. kadang aku sedih seharusnya ada kamu dan Rania disampingku. tapi apa boleh buat kenyataan mengatakan kalau kita tidak bisa bersama" raut wajahnya sendu.


"ketika aku pulang ingin melihat ibu dirumah , aku melihat Andara mengurus mereka dengan sabar, dengan perut yang sudah membesar. kondisi ibu dan bapak ketika itu sangat menderita. dia juga mendapat pendampingan psikis dari dokter angga" Dia menunduk dalam sedang menyembunyikan kesedihan nya.


"aku kembali lagi kerumah ibu sampai ahirnya kamu pulang. dan Nisa mengembalikan bajuku. kamu tahu sendirikan"

__ADS_1


"mungkin dimatamu aku laki-laki brengsek yang tidak akan pernah berubah, percayalah cukup satu kali aku melakukan kesalahan. dan kenzy itu anak dokter angga kalau kamu masih tidak percaya. adakah diwajah kenzy mirip denganku? " aku terdiam. tidak ada alasan untuk aku mencurigainya lagi. karena wajah kenzy mirip andara dan suaminya


mengapa aku malu dengan pertanyaanku sendiri.


__ADS_2