BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
MENYINGKAP TABIR PART II


__ADS_3

Kita tidak bisa memilih kemana takdir akan membawa hidup ini. selain sabar menjalani ikhlas juga sangat penting. Tak ada kata menyesal karena semua ketentua sudah ada yang mengatur. Aku memilih bertahan demi menjaga banyak hati agar tak terlukai.


Untuk kebanyakan orang mungkin pilihanku terdengar bodoh, tapi tidak denganku. Ketika bibir berkata tidak tapi hati masih tersentuh dengan perilakunya, dengan perubahan sikapnya. Aku tidak mungkin pergi.


Ikatan suci dalam ikrar janji atas nama Tuhan dihadapan para saksi dengan sepenuh hati. Aku tak ingin menodai itu.


Pernikahan cukup satu kali tidak ada kedua dan ketiga, itu prinsipku. Kemana jalan takdir akan membawaku aku tidak tahu. Sungguh sakit hati ini sesekali masih berdenyut. Tak ku hiraukan biarlah, semua berjalan seperti ini dulu.


Kami duduk ditaman belakang rumah yang ditempati bang fatih. Halaman yang sangat luas. Entah rumah siapa ini, aku belum menanyakannya


Taman yang ditata dengan rapi, rumput gajah bak permadani terhampar luas menyejukkan mata yang memandang.


Bunga-bunga kecil yang bermekaran menambah keindahannya. Disudut terdapat kolam ikan dengan berbagai jenis ikan yang berwarna warni membuat siapapun betah berlama-lama disini.


“hai...”seseorang menepuk pundakku dengan suara lembutnya memaksaku untuk menoleh kearahya.


“ceritakan yang ingin fira ceritakan abang siap mendengarnya” sapaan lembut menyadarkanku dari lamunan tentang arah pernikahanku ini.


“fira sudah kehilangan kepercayaan pada mas Amir” jawabku singkat. Tanpa menoleh kepadanya. Duduk dikursi sebelahku yang di batasi sebuah meja keci.


“hhmmm...”hanya itu yang terucap dari laki-laki ini. kami saling menatap lurus kedepan sibuk dengan pikiran masing-masing.


“apa yang fira takutkan” pertanyaan bang fatih tanpa menoleh kearahku


“kejadian yang sama terulang, fira tak sanggup untuk menanggung sakit untuk kedua kalinya” jawabku lemah. Memang itu kenyataannya bukan.


“berikan waktu pada hatimu untuk menjawab. Berikan jarak untuk sementara waktu.


Jangan mengambil keputusan pada saat amarah menguasai. Kalau tidak ingin menyesal nantinya” masih dengan petuah yang sama. Dari dulu hingga sekarang nasehatnya tak pernah sia-sia.


Pemikirannya yang matang, selalu menjadi tempat curhat teman-temanku dikampus dulu.


Tidak ada yang berubah dari sikapnya, tuturnya yang halus, nada bicaranya yang tegas berwibawa. Tapi mengapa Tuhan belum mengirimkannya jodoh. Takdir memang tidak ada yang tahu.


“fira bersyukur masih punya usaha, sehingga tidak terlalu kaget ketika Mas Amir mendua. Bahkan fira sudah siap dengan kemungkinan terburuk ketika itu” jawabku. kutarik nafas perlahan. Dan menghembuskannya, dengan cara yang sama. Memberi jeda sejenak.


“fira sudah siap berpisah, kalau saja bapak-dan ibu tidak melarangku, menjadi janda dikampung kita masih dilnilai sebuah aib bang” kataku dengan tatapan yang menerawang jauh.


“dia memang berubah, yang fira takutkan perubahannya itu hanya untuk menebus kesalahan. Bukan karena Mas Amir masih mencintai fira” lanjutku lagi. laki-laki ini masih mendengarkannya dengan seksama.


Bibirnya terkunci, tatapannya lurus kedepan. Entah apa yang ada dibenaknya


“maaf, seharusnya fira tidak menambah beban abang” kataku, tiba-tiba perasaan bersalah itu muncul.


“tidak ada yang terbebani, abang sunguh menyesal harus memblokir nomormu. Abang pikir laki-laki itu akan menyayangi fira, ternyata,,,” kalimatnya terhenti. Dia tarik napas dalam. Bebannya terlalu berat.

__ADS_1


Bang Fatih anak pertama, kedua adiknya perempuan. Ayahnya punya penyakit asma. Tidak bisa bekerja terlalu berat. kalau kecapean penyakitnya bisa kumat. Jadilah dia yang membantu bibi Rukayah berjualan nasi dirumahnya. Mulai dari belanja kepasar sampai memasak.


Untuk hasil masakannya memang aku acungi jempol. Aku saja yang perempuan kalah dengan Bang Fatih. Hidupnya yang terbiasa mandiri mengharuskannya bekerja keras demi membiayai kuliahnya dikota. Penghasilan bibi rukayyah tidak bisa menutupi tingginya biaya kuliah.


Waktu kuliah dulu dia kerja paruh waktu, mulai dari jadi kuli angkut disebuah pabrik, hingga menjadi menjadi sales sebuah produk makanan.


“Bang, boleh fira tanya?” kataku seraya menoleh kearahnya.memastikan takut dia merasa tidak nyaman


“hmm...” jawaban itu yang kudengar


“bagaimana perempuan itu bisa tahu alasan abang meniggalkan rencana pertunangannya”tanyaku lagi.


“abang yang jujur, kalau laki-laki yang aku temui tadi berselingkuh. Aku bilang dia kakak iparku. Dia tidak percaya. Setelah itu dia mencari tahu siapa suamimu dan apa hubungannya denganku. Semua fakta dia ketahui, termasuk kita yang tidak punya hubungan saudara.” Jawabnya.


“perempuan itu mencari tahu tentangmu. Tepatnya apapun tentang fira”jedah sejenak


“abang sudah peringatkan berkali-kali jangan mendekatimu atau dia akan menyesal. Wanita itu tidak peduli.aku berikan apa yang dia mau asal jangan menganggumu dan juga Rania, dia setuju. Aku pikir semuanya sudah selesai, kita putus baik-baik dia tidak pernah datang lagi, hingga beberapa bulan ini dia datang lagi dengan ancaman yang sama. Meminta abang untuk kembali padanya melanjutkan yang dulu katanya, tapi abang sudah tidak peduli” tatapannya masih menerawang seolah sedang membayangkan kejadian itu dimasa lalu.


“abang ancam balik, abang pikir dia menyerah, ternyata tidak. Sampai ahirnya kejadian memalukan itu terjadi”sambungnya lagi.


“mengapa abang melakukan ini semua?”tanyaku penasaran


“kewajiban abang untuk meindungi fira, karena satu-satunya orang yang fira punya Cuma abang dikota ini” jawabnya melihat kearahku lekat


“tentu tidak, justru abang bersyukur lepas darinya. Setelah putus, baru abang sadari ternyata dia tidak jauh berbeda dengan Andara. Didepanku dia baik, seperti kucing penurut. Ternyata dibelakang, seperti macan betina. Wanita liar itu pandai bersandiwara” jawab bang fatih dengan nada yang sangat kesal.


Aku tahu dia menyimpan kemarahan yang luar biasa. Nada suaranya yang tertekan sedikit gemetar. Rahangnya yang mengeras. Bagaimana bisa laki-laki tampan dan mapan didepanku ini mendapatkan wanita seperti itu.


Iba, itulah yang kurasakan pada laki-laki ini. diumurnya yang seharusnya dia sudah berumah tangga. Tapi, dia masih sendiri. bahkan mengorbankan kebahagiannya demi kebahagiaanku.


Laki-laki yang baik, semoga kelak di dipertemukan dengan orang yang baik juga. Hanya doa yang bisa kulakukan untuk kebaikan hidupnya.


“mengapa abang tiba-tiba ada dijalan terus mambantu fira” tanyaku, sungguh aku penasaran seolah-olah hidupku dibayang-bayangi laki-laki ini


“abang kebetulan lewat” jawabnya singkat. Seperti ada yang ingin disembunyikan.


“Mengapa Reno yang nyetir, bukannya abang yang sopir” tanyaku lagi. seperti polisi yang menanyakan pada tersangka tentang kejahatan yang baru saja dilakukan. Aku lakukan karena aku mecurigai sesuatu.


“kita sudah akrab, sesekali bertukar peran kan tidak apa-apa” katanya lagi santai sekali dia.


“abang tidak takut dipecat”sungguh aku penasaran. Jawabannya tidak bisa diterima akal. Dengan sekilas mata, dia nampak jujur tapi syafira orang yang paling tahu dengannya. Sekecil apapun rahasia yang dia sembunyikan pasti tahu. Tunggu saja.


“hal seperti itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memecat orang seenaknya, ada ketentuan dan undang-undang ketenaga kerjaan yang mengatur” jawabnya lagi. betul juga.


Baiklah untuk sementara aku percaya

__ADS_1


“apa ada yang fira tidak tahu tentang abang?” lanjutku lagi


“tidak ada, semua tentang abang fira sudah ketahui abang tidak menutupi apapun” katanya. Entah mengapa dia tidak berani menatapku. Semakin kuat kecurigaanku. Sikapnya yang mulai salah tingkah. Tidak tenang.


Akan aku buktikan nanti, aku tidak akan menuduh. Tapi akan aku buktikan dengan mata kepelaku sendiri.


Reno, Sri alias Monica. Bang fatih dan CEO GLOBAL GROUP. Aku yakin mereka saling mengenal dibelakangku. Anggaplah kita sedang bermain teka teki. Aku yang akan memecahkannya.


Pada saatnya nanti mereka terbukti. Aku tidak akan pernah memaafkanmu bang. Maaf sebesar apapun pengorbanan abang buat fira. Tetap abang sudah berbohong. Tidak akan ada maaf untuk kebohongan. Abang dengan Mas amir sama saja.


Gumamku dalam hati. Kutatap tajam kearahnya. Laki-laki itu tetap tidak bergeming posisinya


“fira harus pulang bang, kasihan Rania” ucapku pada bang fatih


“kamu mau pulang kemana?” tanyanya


“pulang kerumah mau kemana lagi?” jawabku sambil berdiri


“sudah siap bertemu suamimu”tanyanya lagi. seolah ingin menahan langkahku


“siap tidak siap, dia masih suamiku, kewajibanku untuk berbakti padanya. Maaf sudah merepotkan abang. Fira pulang” jawabku sambil berlalu meninggalkannya.


“abang tidak bisa mencegahmu, tapi setidaknya biarkan Reno mengantarmu pulang”. ucapnya


“mengapa bukan abang, abang kan sopir” kutatap wajahnya lekat. Ingin tahu reaaksinya. Dia menunduk lagi.


“baik abang yang antar, kalau suamimu salah paham abang tidak bertanggung jawab” katanya.


Dia memang tahu betul karakter suamiku. tiga tahun persahabatan mereka selama kuliah cukup untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi entah mengapa mereka seperti saling membenci setelah sekian lama.


Apakah ketidak hadiran bang fatih dalam pernikahanku ada hubungannya dengan mas Amir.


“kalau begitu tidak perlu biar fira pulang naik mobil online saja” kataku lagi


“sudah hampir malam tidak baik perempuan pulang sendiri” katanya lagi


“terserah abang maunya bagaimana fira nyerah” kataku pasrah


“biar Reno yang antar untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan” kali ini aku ikuti kemauannya, memang cukup beralasan kekhawatirannya.


“Abang percayakan, sepandai pandainya tupai melompat pada ahirnya akan jatuh juga?” kataku sebelum masuk kedalam mobil yang siap menungguku didepan


“Abang percaya, pulanglah hati-hati dijalan” ucapnya padaku. Tidak ada keraguan dalam dirinya.


Dia yang mengenalku lebih dari siapapun mengapa berani sekali menutupi kebohongan ini. aku tak ingin menuduhnya. Aku akan mengungkap kebenarannya beserta bukti.

__ADS_1


__ADS_2