Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Marah


__ADS_3

Dilah jalan menuju ruang Fina, setelah ia membuka pintu. Ia melotot tajam pada Ali dan Fina.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dilah berapi-api. Ia seperti dikhianati oleh Ali.


"Dilah.. Dilah.. Dengarkan aku," ucap Fina mendekati Dilah sahabatnya.


Dilah menggeraskan rahangnya. Rasa marah berkecambuk di dalam hatinya.


"Aku dan Ali hanya sebatas teman, kami hanya bicara santai saja."


"Iya Nona, ini salahku, aku yang salah." Ali menunduk, ia tidak ingin Dilah dan Fina bertengkar.


"Iya... Iya... Kau yang salah dan semua memang salahmu!" ucap Dilah yang masih mengeraskan rahangnya. Aura marah terpancar dimatanya.


"Dilah, kau tidak perlu semarah itu? Apakah kau sedang cemburu?" tanya Fina menahan tawanya.


"Dengar Fina, aku tidak pernah cinta dengan dia atau laki-laki manapun di seluruh dunia," ucap Dilah dengan kobaran amarah.


"Maafkan aku Nona," Ali berdiri dan memegang tangan Dilah.


"Lepaskan tanganku!" ucap Dilah membentak.


"Kau dipecat!" ucap Dilah selanjutnya. Sontak Ali kaget mendengarkannya.


"Jangan pecat aku Nona, kumohon!" Ali menangkupkan tangannya.


"Tidak.. Tidak.. Tidak Dilah. Kau tidak boleh memecatnya." Fina melarang.


"Kenapa tidak boleh?" Dilah mendengus kesal.


"Dia adalah alat agar kau cepat punya anak. Kau tidak boleh memecatnya. Kalian harus terus bersama sampai kau melahirkan anak." Fina menjelaskan.

__ADS_1


"Baik, Baik! Aku tidak akan memecatmu, tapi ini peringatan untukmu. Jauhi semua wanita kecuali aku." Dilah mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Ali kemudian, ia memalingkan wajah dan kembali keruangannya.


"Maafkan aku Nona Fina, aku yang salah," ucap Ali dengan suara lembut.


"Kau tidak salah, justru aku yang salah, cepat kembali bekerja agar istrimu tidak marah-marah lagi." Fina tersenyum dan menunjuk pintu keluar.


"Iya, permisi!" Ali menunduk dan keluar dari ruangan.


"Habis dimarahi ya?" tanya Gina ketika Ali keluar dengan wajah yang terlihat kusut, kemudian Gina tertawa meledek.


Ali hanya diam dan tidak mengubris ucapan Gina. Ali hanya berekspresi datar pada Gina.


"Aku kasihan denganmu," ucap Gina menertawakan kesengsaraan Ali.


"Aku pikir kamu baik, Gina." ucap Ali dengan nada lembut walaupun ia kecewa pada Gina.


"Aku baik? Haha.. Kau salah menilai tentangku," ucap Gina tertawa kembali.


"Hei? Kemana dia?" Gina mengernyitkan dahi ketika Ali sudah pergi menghilang darinya.


***


Jam makan siang, Dilah keluar dari ruangannya. Seperti biasanya Dilah akan pergi ke restauran yang tidak jauh dari kantor miliknya untuk makan siang.


"Kau mau kemana?" tanya Fina yang melihat Dilah yang ingin keluar.


"Makan siang, kau ingin ikut?" tanya Dilah sambil memegang tangan Fina. Agar Fina ikut dengannya.


Fina melepaskan tangan Dilah, kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Oh ya sudah," Dilah melangkah dengan satu langkah kakinya.

__ADS_1


"Kau tidak boleh makan siang tanpa Ali."


Seketika Dilah menghentikan langkah selanjutnya.


"Kenapa tidak boleh? Ini hanya makan siang." Dilah mendengus kesal dan ingin jalan keluar dari kantor.


"Kau harus terus bersama Ali agar kau cepat hamil," ucap Fina memperingati. Dilah melihat tidak suka pada Fina tapi akhirnya dia pasrah saja. Fina itu sudah seperti penasihat baginya. Jadi satu-satunya orang yang Dilah terima nasihatnya adalah Fina. Walaupun terkadang Dilah membantahnya.


"Baik, panggil dia sekarang!" pinta Dilah karena terpaksa.


Fina mencari Ali untuk menemani sahabatnya makan siang.


"Ali!" panggil Fina ketika Ali sedang meletakkan alat-alat kebersihan.


"Iya Nona," Ali menoleh dan tersenyum.


"Istrimu mengajakmu makan siang," ujar Fina menahan senyum. Kalau bukan karena saran Fina, Dilah mana mau mengajak Ali makan siang bersamanya.


Apakah dia sudah tidak marah lagi padaku?


Ali membatin.


"Benarkah itu?" Ali berbinar senang.


"Iya, aku serius dengan ucapanku."


Ali meloncat senang, ia merapikan bajunya dan menyisir rambut agar terlihat rapi. Fina menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Cinta sebelah pihak, batin Fina.


"Apakah kau sudah jatuh cinta dengan istrimu?"

__ADS_1


__ADS_2