
Setelah mendapatkan kontrakan baru, Ali dan Hannum sibuk mengemas barang-barang.
"Ali, mengapa kau tidak memberi bukti pada mereka?" Hannum ingin tahu alasan putranya memilih bungkam.
"Bu, untuk apa Ali memberikan bukti pada mereka. Ibu tahu kan Dilah Wiranata itu siapa? Orang paling kaya sedangkan kita hidup seperti ini. Mana mungkin mereka percaya aku sudah menikah dengannya. Nona Dilah bahkan tidak pernah mempublikasikan pernikahannya. Waktu dia hamil juga dia menutupi semuanya. Jika yang lahir anak perempuan baru ia mempublikasikannya tapi ternyata Tuhan berkendak lain."
"Tapi kamu punya bukti kan, Nak?"
"Aku punya bukti, Bu. Tapi apa mungkin mereka percaya. Mereka akan mengatakan bahwa buku nikah ini palsu. Mereka akan menudingku pria tidak waras."
Mendengar penjelasan Ali, Hanmun tidak bergeming. Semua yang dikatakan putranya ada benarnya juga. Tidak mungkin orang sekaya Dilah menikah dengan Ali.
***
Fina merasa heran, belakangan ini dia tidak menemukan sosok Ali. Satu-satunya karyawan Dilah yang berjenis kelamin laki-laki dan sekaligus merangkap menjadi suami sahabatnya itu. Setiap kali Fina bertanya pada Dilah mengenai Ali selalu saja Dilah mengalihkan pembicaraan seolah-olah Dilah tidak ingin membahas Ali. Akan tetapi, Fina tidak tinggal diam ia menyelidiki semuanya. Sungguh mencengangkan kenyataannya, ternyata Ali telah diusir oleh sahabatnya itu.
"Dilah, aku ingin minta penjelasan," mata Fina memancarkan kemarahan.
"Kejelasan apa yang ingin kau minta?" Dilah menanggapi dengan santai.
"Kemana Ali sebenarnya?" tanya Fina mendesak.
"Dia di rumah mengurus bayinya," ucap Dilah datar.
__ADS_1
"Kau berbohong! Kau mengusir Ali, kan?" Fina sudah membara, amarahnya berkecambuk di hatinya. Kesalahan sahabatnya tidak akan di toleransi olehnya.
"Iya aku mengusirnya," akhirnya Dilah mengatakan sejujurnya pada Fina setelah lama menyembunyikan kebohongannya.
"Kau kejam, Dilah. Kau jahat! Bisa-bisanya kau mengusir Ali dan putramu sendiri. Kau tidak punya hati dan perasaan," ucap Fina murka, mata Fina memerah ingin sekali ia memukul sahabatnya itu.
"Kau tahu tujuanku menikah dengan Ali. Bukankah kau yang mengusulkannya? Bukankah kau pemilik ide itu?"
"Aku pikir... Aku pikir setelah kau menikah dengan AIi kau akan jatuh cinta. Kau akan bahagia bersamanya. Tapi dugaanku salah! Kau terus menyakitinya." tubuh Fina gematar dan rasanya ia ingin pingsan. Fina merasa ia yang paling berdosa atas tersiksanya Ali.
"Sudahlah Fina, tidak ada gunanya kita berdebat. Kau seharusnya sudah memahamiku. Memahami karakterku, kebencianku kepada semua laki-laki telah mendarah daging," jelas Dilah spontan.
"Kau kejam Dilah, mulai sekarang aku bukan sahabatmu lagi, aku berhenti bekerja di perusahaanmu," ucap Fina dengan nada tinggi.
"Kau mau kemanan, Fina?" tanya Dilah berteriak. Ia tidak rela sahabatnya pergi.
"Aku mau mencari Ali dan menjadi ibu pengganti untuk anaknya," ujar Fina terisak.
"Argh, mengapa ini semua terjadi padaku? Fina meninggalkanku, ini semua karena Ali dan anaknya itu. Laki-laki memang jahat, dia mengambil sahabatku," tangisan Dilah pecah mendengar ucapan Fina.
"Untuk apa semua kekayaan ini? Aku hidup sendiri. Ibu meninggalkanku, Fina juga. Aku tidak punya siapa-siapa lagi," ujar Dilah sambil menangis dan memberantakkan berkas-berkas di mejanya.
Menir tiba-tiba datang ke ruangan Dilah. Ia memiliki segudang cara agar bisa masuk ke ruangan Dilah.
__ADS_1
"Wah... Wah... Wah..." Menir bertepuk tangan ketika Dilah sedang merasa hancur.
"Untuk apa kau datang kemari?" perasaan Dilah bercampur aduk melihat Menir.
"Aku pikir... Aku pikir hanya aku yang jahat. Aku pikir hanya aku yang kejam tapi nyatanya putriku tidak kalah kejam," ucap Menir menyeringai.
"Berhenti memanggilku, putrimu!" teriak Dilah marah.
Menir menggeret kursi, ia melipat kakinya dan mendongak angkuh.
"Kau sangat kejam, Nak. Kau meninggalkan putramu ketika putramu baru kau lahirkan dan tidak menganggapnya anakmu."
"Kau tahu dari mana?' tanya Dilah meninggi, suaranya memenuhi ruangan.
"Aku menyelidikimu, kau pesaing perusahaanku jadi aku menyelidiki semua tentang dirimu. Ini berita bagus untuk meruntuhkan kekayaanmu."
Dilah mengepal erat tangannya. Ingin sekali ia memukul ayahnya dan mengacak-acak wajah ayahnya itu.
"Tapi, aku datang kesini sebagai seorang Ayah bukan sebagai seorang pesaing. Aku hanya ingin menasihatimu, kau meninggalkan putramu dan suamimu. Itu adalah tindakan buruk, Dilah. Tidak seharusnya ibu menginggalkan anaknya. Kau ibu yang tidak punya perasaan. Hanya karena dia berjenis kelamin laki-laki kau menghukumnya dengan kejam, kau tidak mengakuinya."
Dilah masih diam, ia hanya mendengarkan ucapan ayahnya tapi tidak memilih untuk menanggapinya.
"Ah! Tidak ada gunanya aku menasihati putriku yang hatinya sudah seperti batu." Menir pergi tanpa mendengar sepatah kata pun dari putrinya.
__ADS_1