Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Mengapa Baru Sekarang?


__ADS_3

"Nona, aku juga mencintaimu," teriak Ali.


"Nona, AKU JUGA MENCINTAIMU," Ali berteriak kembali. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.


Namun, Ali sudah terlambat mengatakannya. Mobil yang dikendarai Dilah telah melaju kencang.


Ali berbalik arah, tubuhnya tak berdaya. Ia berjongkok sambil meremas rambutnya dengan keras.


"Arg! Mengapa? Mengapa baru sekarang kau jatuh cinta kepadaku?" Ali bertanya seolah-olah Dilah masih ada di depannya.


"Mengapa baru sekarang kau mencintaiku?" teriak Ali sambil memukul dadanya.


Ali menghapus air matanya dan mencoba untuk tegar. Ia kembali menemui Vino yang bermain bersama Tania.


Eldo melihat Ali tak karuan. Rambutnya acak-acakan akibat diremas dengan kuat.


Apakah dia habis menangis? Batin Eldo.


"Tania kita pulang yuk. Nanti Mama nyariin kita," Eldo mendekati Tania yang sedang bermain dengan Vino.


"Oke Pa. Vino, aku pulang ya," Tania memegang tangan ayahnya.


"Iya, hati-hati Tania," ucap Vino melambaikan tangan.


"Iya Vino. Om Tania pulang." ucap Tania pada Ali.

__ADS_1


"Iya Tania," Ali mengangguk.


"Aku pulang ya. Ali." Eldo menepuk pundak Ali dua kali. Ali membalas dengan anggukan kepala.


"Papa, Tante tadi mana?" Vino heran mengapa ayahnya tidak membawa Dilah ke sini.


"Tantenya pulang Vino," Ali memaksakan senyumnya.


"Kok Tante pulang, Pa? Padahal Vino masih kangen sama Tante itu," Vino menjadi lesu.


Vino, maaffin Papa yang enggak bisa mencegah Mamamu pergi. Ali membatin.


"Sebaiknya kita pulang Vino,"


***


"Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta?" ucapnya sambil menangis.


"Jadi seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?"


Dilah menangis sesegukan. Air matanya terus membanjiri pipinya.


"Sakit sekali!" pekiknya.


"Jadi seperti ini yang dirasakan Ali selama ini?"

__ADS_1


Berbagai pertanyaan Dilah lontarkan. Tak ada yang menjawab karena ia hanya sendiri di kamar. Hanya barang-barang di kamarnya sebagai saksi bisu bahwa Dilah benar-benar mencintai Ali.


"Apakah Ali tidak mencintaiku lagi?"


"Iya.. Iya... Dia tidak mencintaiku lagi," Dilah menjawab pertanyaannya sendiri.


"Aku tidak boleh egois sekarang. Putraku butuh kasih sayang seorang ibu. Aku tidak bisa memberikannya. Aku Mama yang kejam untuk Vino. Aku harus ikhlas bila Ali menikah lagi. Aku harus ikhlas! Aku tidak akan menganggu mereka lagi."


Semenjak kejadian itu, Dilah tak lagi muncul di hadapan Ali dan Vino. Hal itu membuat Vino menjadi rindu. Vino rindu sekaligus penasaran mengapa sosok wanita yang menemaninya pada saat lomba tiba-tiba menghilang.


"Papa, mengapa Vino tidak pernah melihat Tante itu ya, Pa?" Vino bertanya sambil berkaca-kaca.


"Papa juga tidak tahu, Vino." jawab Ali.


"Sudah hampir 2 minggu Vino enggak lihat Tante itu," Vino menangis karena rindu. Vino tak bisa menyembunyikan perasaan rindunya. Anak kecil tidak pernah berbohong mengenai perasaannya.


"Vino kenapa menangis?" Ali mengusap air mata Vino.


"Vino kangen sama Tante itu Pa. Vino kangen," Vino memeluk ayahnya dengan erat.


"Papa juga kangen sama dia Vino," Ali mempererat pelukannya.


"Kita cari Tante yuk, Pa. Vino kangen banget sama Tante, Pa. Vino kangen banget, Pa." Vino berdiri dan menarik ayahnya.


"Vino, sebaiknya Vino berdoa pada Tuhan agar Tante itu kembali pada Vino," Ali menyarankan putranya untuk berdoa. Vino tersenyum sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Vino akan berdoa Pa," Vino mengangkat kedua tangannya kemudian ia memejamkan matanya dan memanjatkan doa di dalam hati.


Ini salah Papa Vino. Papa terlalu terkejut mendengar pernyataan cinta dari Mama kamu. Papa berpikir bahwa itu adalah mimpi. Papa terlalu lama menjawab pernyataan cinta darinya. Sehingga dia pergi dan berpikir bahwa Papa tidak mencintainya. Padahal Papa masih mencintainya. Bahkan cinta Papa padanya sangat besar. Ini salah Papa Vino! Ini salah Papa. Suara lubuk hati Ali.


__ADS_2